Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1: Kehangatan sementara
Waktu punya cara yang aneh untuk berlalu. Saat kau kecil, satu jam rasanya seperti satu abad. Tapi saat kau beranjak remaja, satu tahun rasanya hanya seperti satu kedipan mata.
Aku menatap layar ponselku. Aplikasi Ibis Paint X terbuka di sana, menampilkan sketsa kasar komik yang sedang kukerjakan. Jemariku bergerak lincah di atas layar kaca, memoles bayangan pada rambut karakter manhwa buatanku. Namun, fokusku terpecah. Kepalaku sering menoleh ke arah jendela kamar yang menghadap ke halaman depan rumah.
Suara knalpot motor yang akrab itu—suara yang sudah hafal di luar kepala—tiba-tiba memecah keheningan sore yang malas.
Vroom...
Jantungku berdegup kencang, sebuah refleks yang tidak pernah hilang meskipun aku sudah SMP. Aku segera mematikan ponsel, merapikan rambutku yang berantakan, dan memastikan aku tidak terlihat seperti orang yang baru saja bangun tidur.
Pintu depan terbuka dengan suara dentuman yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu.
"Andrea! Mana es teh manis? Kita haus banget!"
Suara Kak Hazel menggelegar ke seisi rumah. Aku menghela napas panjang, mencoba memasang wajah datar sebelum keluar dari kamar. Ini adalah rutinitas akhir pekan. Kak Hazel dan teman-temannya—terutama Luq—selalu menjadikan rumah kami sebagai markas besar.
Aku berjalan keluar, melewati lorong rumah, dan menemukan mereka sudah bersantai di sofa ruang tamu. Kak Hazel, seperti biasa, sudah menyampirkan tasnya sembarangan di atas meja, sementara Luq...
Luq sedang duduk di sudut sofa, ponsel di tangannya, wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan Kak Hazel. Dia tidak lagi bocah kecil yang memberiku permen jeruk di balik sofa dulu. Dia sudah tumbuh menjadi seorang pemuda yang... oke, Andrea, fokus.
"Berisik, Kak," kataku datar, mencoba bersikap acuh tak acuh.
Kak Hazel tertawa, lalu menunjuk ke arah dapur. "Ambilkan minum dong, Dek. Luq jauh-jauh dari tempat latihan ke sini, masa nggak dikasih jamuan?"
"Luq punya tangan sendiri, Kak. Suruh dia ambil sendiri," jawabku, meski jujur saja, kakiku sudah melangkah ke dapur bahkan sebelum Kak Hazel membalas.
Aku menyiapkan dua gelas es teh di dapur, tanganku sedikit gemetar. Ini konyol. Aku sudah bukan bocah yang mengintip di balik sofa lagi, tapi berada di ruangan yang sama dengan Luq masih memberikan efek yang sama pada sistem sarafku.
Saat aku kembali ke ruang tamu, mereka berdua sedang sibuk membicarakan pertandingan game atau apalah yang tidak kupedulikan. Aku meletakkan gelas di meja.
"Makasih ya, Andrea," suara itu masuk ke telingaku. Berat, tenang, dan sopan.
Aku mendongak. Luq menatapku. Matanya—mata yang dulu sering menatapku dengan rasa ingin tahu saat aku kecil—kini menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Apakah itu tatapan kakak kepada adiknya? Atau hanya tatapan seorang tamu kepada tuan rumah?.
"iya," jawabku singkat, tidak berani menatapnya terlalu lama. Aku segera berbalik untuk kembali ke kamar.
"Tunggu, Andrea," panggil Luq tiba-tiba.
"Itu gambar buatan mu, boleh liat?" tanya Luq tiba-tiba, suaranya berat dan tenang.
Aku ragu sejenak, tapi akhirnya menyodorkan ponsel ku. Luq menerima ponsel itu dengan hati-hati. Dia menggeser layar, melihat panel-panel komik yang kubuat. Dia diam cukup lama, dan aku merasa detik demi detik itu berlangsung selamanya.
"Bagus," katanya singkat. Dia menatapku lagi, kali ini dengan senyum kecil yang tipis. "Kamu jago banget sekarang. Dulu perasaan kamu cuma coret-coret di buku sekolah."
Wajahku terasa panas. "Itu... cuma hobi, Kak."
"Hobi yang serius," sahutnya lagi, lalu mengembalikan tablet itu kepadaku. Jari-jarinya sempat bersentuhan dengan jemariku saat dia memberikan tablet itu, dan aku bisa merasakan sengatan listrik yang nyata.
Tanpa membuang waktu, Luq menoleh ke arah Kak Hazel yang sedari tadi sibuk sendiri. "Zel, mumpung kita lagi santai dan Andrea juga lagi nggak sibuk, gimana kalau kita push rank bareng? Gue perhatiin win rate lo lagi turun, butuh support atau mage yang jago nih."
Kak Hazel mendongak, matanya berbinar. "Wah, ide bagus! Gue butuh banget temen mabar yang beneran jago. Andrea, ayo ikut! Kamu kan jago main Mage."
Aku mengerjap, tidak percaya. "Sekarang? Mabar bertiga?"
"Iya, ayo" Luq menepuk tempat kosong di sofa, tepat di sampingnya. "Sini, duduk sini biar gampang koordinasinya. Kita push sampai Andrea rank Glory hari ini." ucapnya dengan nada Bercanda.
Aku melangkah dengan ragu namun antusias, duduk di sela-sela antara Kak Hazel dan Luq. Kami bertiga membuka aplikasi Mobile Legends. Suasana yang tadinya canggung berubah menjadi medan pertempuran yang seru.
"Andrea, cover gue! Gue mau farming dulu," perintah Kak Hazel dengan nada santai.
"Iya, Kak, tenang aja. Ultimate aku udah ready," jawabku, fokus sepenuhnya pada layar ponsel.
Luq yang duduk di sebelahku sesekali melirik layar ponselku, memberikan arahan taktis yang membuat permainanku jauh lebih efektif. "Jangan maju sendirian, Andrea. Tunggu Aku dulu. Nah, sekarang!"
Suasana di ruang tamu itu terasa sangat hangat. Tawa Kak Hazel, teriakan seru saat kami berhasil mendapatkan Lord, dan pujian-pujian kecil dari Luq setiap kali aku berhasil mendapatkan kill. Semua itu membuatku merasa benar-benar menjadi bagian dari dunia mereka.
Aku bukan lagi "adik kecil" yang harus mengintip di balik pintu. Aku adalah rekan satu tim mereka.
Saat permainan berakhir dengan layar Victory yang terpampang megah, aku bisa melihat senyum puas di wajah Luq. Dia menoleh ke arahku, tatapannya jauh lebih hangat daripada biasanya.
"Gila, combo kita tadi mantap banget," puji Luq. "Besok-besok kita mabar lagi ya? Ternyata main sama kamu lebih seru daripada main sama Hazel doang."
Kak Hazel memutar bola matanya, tapi dia tertawa. "Wah, lo beneran lebih pilih adik gue dibanding sahabat lo sendiri, ya?"
Luq hanya terkekeh, tapi matanya tetap menatapku sebentar sebelum dia kembali fokus pada ponselnya.
Di balik layar ponsel, aku menyembunyikan senyumku. Sepuluh tahun aku menyukainya dalam diam, dan sore ini, aku baru saja mendapatkan "perhatian" yang lebih dari sekadar permen strawberry di balik sofa.
Aku tahu, ini baru awal. Dan aku tidak sabar untuk mabar lagi—atau mungkin melakukan hal lain—bersama Luq lagi di masa depan.