NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Bedah Siasat di Ruang Rapat

​Pintu ruang rapat dewan direksi yang terbuat dari kayu mahoni berat terbuka lebar. Davit Jacob melangkah masuk dengan wibawa yang tak tergoyahkan, diikuti oleh Vanya di belakangnya. Di dalam, Devan dan Karlo sudah duduk berseberangan, dikelilingi oleh para manajer senior dan direktur divisi.

​Suasana seketika menjadi senyap. Devan hampir saja menjatuhkan pulpen peraknya saat melihat Vanya mengambil kursi tepat di sebelah kanan Davit—kursi yang biasanya dibiarkan kosong atau ditempati oleh penasihat hukum senior.

​"Pah, kenapa Vanya ada di sini? Ini rapat internal strategi kuartal kedua," Devan memprotes dengan suara rendah namun tajam. Matanya menatap Vanya dengan pandangan meremehkan.

​"Vanya adalah bagian dari keluarga ini, dan dia punya hak untuk tahu bagaimana bisnis ini berjalan," sahut Davit dingin. "Lagipula, aku butuh perspektif baru. Karlo, silakan mulai presentasimu."

​Selama satu jam berikutnya, Karlo dan Devan bergantian memaparkan laporan pencapaian mereka. Karlo terlihat percaya diri dengan proyek propertinya, sementara Devan menunjukkan angka-angka pertumbuhan di divisi teknologi dan investasi. Semua tampak sempurna di atas kertas, hingga Davit melirik Vanya.

​"Vanya, ada yang ingin kau tanyakan?"

​Vanya perlahan membuka berkas laporan yang sejak tadi hanya ia bolak-balik. Ia menyesap air mineralnya sejenak, lalu menatap Devan dengan pandangan yang begitu tenang—tatapan yang belum pernah Devan lihat sebelumnya di rumah.

​"Tuan Devan," suara Vanya terdengar merdu namun memiliki ketajaman yang membuat para direktur menegakkan punggung. "Di halaman empat belas, Anda mencantumkan pertumbuhan laba sebesar 15% dari investasi di sektor logistik. Tapi, jika saya bandingkan dengan beban piutang tak tertagih di lampiran belakang, angkanya tidak sinkron."

​Devan mengerutkan kening, rahangnya mengeras. "Itu hanya masalah teknis akuntansi, Vanya. Kau tidak akan mengerti kerumitan arus kas perusahaan sebesar ini."

​"Oh, benarkah?" Vanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat sangat elegan namun mematikan. Ia mengeluarkan tablet pribadinya dan menyambungkannya ke layar proyektor besar di ruangan itu, membuat semua orang terkejut. "Saya sudah melakukan analisis perbandingan sederhana pagi ini. Pertumbuhan 15% itu hanyalah angka 'di atas kertas' karena Anda memasukkan pinjaman jangka pendek sebagai pendapatan operasional untuk menutupi kerugian di proyek pembangunan gudang di kota hegar(nama di samarkan) yang mangkrak selama tiga bulan terakhir."

​Ruangan itu mendadak sedingin es. Karlo tampak menahan napas, sementara para manajer senior mulai saling berbisik dengan wajah pucat. Mereka tidak menyangka "istri adiknya" yang selama ini dianggap hanya tahu cara menghabiskan uang, bisa menemukan celah yang bahkan coba disembunyikan oleh tim audit internal.

​"Vanya! Jaga bicaramu!" Devan berdiri, wajahnya merah padam karena malu sekaligus marah. "Kau tidak punya otoritas untuk memeriksa laporanku!"

​"Duduk, Karlo!" bentak Davit Jacob. Suaranya menggelegar hingga membuat seluruh ruangan bergetar. Davit menatap layar proyektor, lalu menatap putranya dengan kekecewaan yang mendalam. "Apa yang dikatakan Vanya benar? Kau mencoba memanipulasi laporan keuangan untuk menutupi kegagalanmu?"

​karlo terdiam, napasnya memburu juga tampak tak berdaya di pojok ruangan.

​Vanya kembali bicara dengan nada yang sangat profesional, seolah ia sedang memimpin rapat di perusahaannya sendiri. "Bukan hanya itu, Pah. Karlo juga memiliki masalah yang sama di proyek apartemen The Heights. Ada penggelembungan biaya material sebesar 20% yang masuk ke vendor tidak dikenal. Jika ini terus berlanjut, Jacob Group akan mengalami krisis likuiditas dalam enam bulan ke depan."

​Karlo kini ikut pucat pasi. Ia menatap Vanya dengan tatapan tak percaya. "Vanya... dari mana kau tahu cara membaca data seakurat ini?"

​Vanya menutup tabletnya dengan gerakan anggun. Ia menoleh ke arah Davit Jacob, mengabaikan tatapan tajam dan penuh benci dari suaminya sendiri. "Pah, Jacob Group butuh restrukturisasi segera. Jika tidak, citra perusahaan yang sudah dibangun berpuluh-puluh tahun akan hancur saat audit publik bulan depan."

​Davit mengangguk pelan, ia merasa bangga sekaligus terkejut. Instingnya benar; Vanya adalah berlian yang selama ini ia sia-siakan.

​"Rapat selesai," ucap Davit tegas. "Karlo, Devan... temui aku di ruang kerja pribadiku sepuluh menit lagi. Dan Vanya... kau tetap di sini. Kita perlu bicara soal bagaimana kau bisa membantu memperbaiki kekacauan yang dibuat oleh anak-anakku yang tidak becus ini."

​Satu per satu direktur meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Devan yang masih berdiri mematung di kursinya. Ia menatap Vanya yang sedang merapikan tasnya.

​"Kau sengaja melakukan ini untuk mempermalukanku, kan?" desis Devan saat ruangan sudah kosong.

​Vanya menoleh, menatap Devan dengan tatapan datar yang menusuk. "Aku melakukannya untuk menyelamatkan nama Jacob yang kau bawa, Devan. Nama yang sekarang juga menjadi namaku. Berhentilah menganggapku bodoh, karena saat kau sibuk dengan urusan pribadimu, aku sibuk memastikan rumah yang kita tinggali tidak runtuh."

​Vanya melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan Devan yang mulai menyadari bahwa wanita yang ia remehkan selama ini memiliki kekuatan yang sanggup meruntuhkan dunianya dalam sekejap.

​Ruang kerja Davit Jacob masih terasa panas meski pendingin ruangan bekerja maksimal. Davit berdiri di balik meja besarnya, menatap kedua putra kandungnya dengan pandangan yang sanggup menciutkan nyali siapa pun. Amarahnya sudah di ubun-ubun setelah mendengar analisis tajam Vanya di ruang rapat tadi.

​"Dua putra mahkota Jacob Group... dan kalian dikalahkan oleh seorang wanita yang kalian sebut pajangan?" suara Davit rendah namun bergetar hebat.

​"Pah, itu hanya kesalahan teknis—" Karlo mencoba membela diri.

​BRAK!

​Davit menendang kaki meja dan kursi di depannya dengan kasar hingga menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga. Ia bahkan sempat menendang kaki kedua anaknya dengan sepatu pantofelnya yang keras, sebuah luapan emosi yang jarang ia tunjukkan.

​"Pergi! Keluar dari sini sebelum aku mencabut semua fasilitas kalian!" bentak Davit. "Benahi kekacauan itu atau jangan pernah panggil aku Papa lagi!"

​Devan dan Karlo keluar dengan wajah pucat pasi dan rahang mengeras. Devan sempat melirik Vanya yang berdiri tenang di sudut ruangan, namun Davit segera memanggil menantunya itu.

​"Vanya, ikut Papa pulang," perintah Davit, suaranya mendadak melunak saat bicara padanya.

​Vanya duduk di kursi belakang mobil Bentley bersama ayah mertuanya. Sepanjang perjalanan keluar dari pusat kota, suasana hening. Davit tampak termenung menatap ke luar jendela.

​"Vanya, temani Papa yang tua ini ke sebuah tempat, bisa?" tanya Davit tiba-tiba saat mobil mulai menanjak menuju daerah perbukitan yang menjauh dari hiruk-pikuk gedung pencakar langit.

​"Baik, Pah," jawab Vanya patuh.

​Mobil itu berhenti di sebuah restoran tersembunyi yang terletak tepat di atas bibir tebing. Tempat itu sangat eksklusif, hanya ada beberapa meja yang diatur sedemikian rupa agar pengunjung bisa langsung menatap ke arah pegunungan yang berderet di kejauhan. Saat mereka tiba, matahari mulai tenggelam, menciptakan gradasi warna jingga dan ungu yang memukau di cakrawala.

​"Kau suka tempat ini?" tanya Pak Davit sambil menuntun Vanya ke meja paling ujung.

​Vanya terpaku sejenak, membiarkan angin gunung yang sejuk menerpa wajahnya. "Iya, Pah. Bagus banget. Tenang sekali di sini."

​Davit menarik napas dalam, bahunya yang biasanya tegap kini tampak sedikit merosot karena beban pikiran. "Ini satu-satunya tempat di mana aku bisa melepas semua bebanku. Di sini, aku bukan pemilik Jacob Group. Aku hanya seorang pria tua yang merindukan kedamaian."

​Vanya terdiam. Ia tidak menyangka sosok Davit yang selama ini ia kenal sebagai pria bertangan besi memiliki sisi serapuh ini.

​"Vanya..." Davit menatap menantunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Maafkan aku."

​Vanya terkesiap. "Pah, kok bilang begitu?"

​Davit menggeleng pelan, tangannya yang mulai keriput menggenggam tangan Vanya di atas meja. "Andai aku tidak serakah... andai aku tidak memaksamu masuk ke dalam keluarga yang berantakan ini demi keuntungan bisnis, mungkin saat ini kamu sedang bahagia di luar sana. Mungkin kamu sudah menikah dengan pria yang benar-benar mencintaimu, bukan dengan anakku yang buta itu."

​"Pah, sudahlah. Semua sudah terjadi," bisik Vanya, hatinya ikut berdenyut nyeri mendengar pengakuan jujur itu.

​"Tidak, Vanya. Aku melihat caramu di kantor tadi. Kamu berlian yang terlalu terang untuk diletakkan di sudut rumah yang gelap," Davit menghela napas panjang. "Aku melihat bagaimana anak-anakku memperlakukanmu, bagaimana Olivia merendahkanmu... hatiku sakit melihatnya, tapi aku juga yang menjebakmu di sini."

​Matahari benar-benar menghilang di balik gunung, menyisakan kegelapan yang mulai menyelimuti tebing itu. Di bawah cahaya lampu meja yang temaram, Vanya menyadari bahwa di balik kemewahan dan kekuasaan keluarga Jacob, ayah mertuanya adalah orang paling kesepian yang pernah ia temui.

​"Aku menjanjikanmu perlindungan, tapi aku justru memberimu penjara," lanjut Davit dengan suara serak. "Katakan padaku, Vanya... apa yang bisa dilakukan pria tua ini untuk menebus kesalahannya padamu?"

​Vanya menatap pegunungan yang kini hanya tampak seperti bayangan hitam besar. Ia teringat akan perusahaannya, teringat akan Devan, dan teringat akan cintanya yang tak terbalas

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!