Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Saat Dia Tahu, Semua Tidak Akan Sama Lagi
Arshaka tidak pernah menyukai hal-hal yang berada di luar kendalinya. Bukan karena ia tidak mampu menghadapinya, tapi karena ia terbiasa memastikan segala sesuatu berjalan sesuai perhitungan—terstruktur, rapi, dan tidak menyisakan ruang untuk kejutan yang tidak perlu. Dunia bisnis mengajarkannya itu sejak awal. Dan selama ini, prinsip itu selalu bekerja dengan sempurna.
Sampai malam ini.
Ponselnya bergetar untuk ketiga kalinya dalam beberapa menit terakhir.
Bukan panggilan penting.
Bukan dari investor.
Bukan dari siapa pun yang biasanya ia prioritaskan.
Tapi dari satu nama yang seharusnya tidak membuatnya berpikir terlalu jauh—
Elora.
Atau lebih tepatnya…
ketiadaan respons dari Elora.
Arshaka menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya menurunkannya kembali ke meja. Di sekelilingnya, ruangan meeting masih berjalan seperti biasa. Suara presentasi terdengar stabil, grafik ditampilkan, angka-angka dibahas dengan serius. Semua berjalan sesuai rencana.
Tapi pikirannya tidak lagi berada di sana.
Karena ada sesuatu yang tidak sesuai.
Dan Arshaka selalu sadar ketika sesuatu tidak berjalan seperti seharusnya.
“Pak?” salah satu staf memanggil pelan, menyadari fokusnya mulai terlepas.
Arshaka tidak langsung menjawab.
Tapi beberapa detik kemudian, ia berdiri.
Tenang.
Tanpa penjelasan panjang.
“Kita lanjutkan nanti,” katanya singkat.
Dan itu cukup.
Tidak ada yang berani menahan.
Langkahnya keluar dari ruangan cepat, tapi tetap terkontrol. Tidak tergesa-gesa seperti orang panik. Tidak juga santai seperti biasanya. Tapi ada sesuatu di antara keduanya—ketegangan yang ditahan, yang hanya bisa dikenali oleh orang yang sudah terbiasa mengendalikan emosinya sendiri.
Ponselnya kembali ia angkat.
Satu pesan.
Tidak terkirim.
Satu panggilan.
Tidak diangkat.
Arshaka berhenti sejenak di lorong gedung.
Dan di titik itu, sesuatu di dalam dirinya berubah.
Bukan panik.
Bukan takut.
Tapi sesuatu yang jauh lebih dingin.
Lebih tajam.
“Cari lokasi terakhir Elora,” katanya saat menghubungi seseorang.
Suaranya rendah.
Tidak keras.
Tapi tidak memberi ruang untuk salah paham.
Beberapa menit kemudian, mobilnya sudah melaju di jalan yang lebih sepi dari biasanya. Malam mulai turun, lampu kota menyala, tapi semua itu tidak benar-benar ia lihat. Fokusnya hanya satu—arah yang sedang ia tuju.
Dan semakin dekat ia ke lokasi terakhir Elora…
semakin jelas satu hal.
Ini bukan kebetulan.
Sementara itu—
Elora masih berdiri di jalan yang terasa terlalu sunyi untuk ukuran kota sebesar ini. Napasnya tidak lagi stabil, pikirannya mulai berpacu dengan kemungkinan-kemungkinan yang tidak ingin ia bayangkan. Sosok di belakangnya tidak bergerak mendekat, tapi juga tidak menjauh. Dan justru itu yang membuat situasi terasa semakin tidak pasti.
Ia mencoba mundur satu langkah.
Lalu satu lagi.
Tapi ruang di sekitarnya terasa semakin sempit.
“Kenapa kamu ikut aku?” suara Elora akhirnya keluar, pelan tapi jelas.
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan.
Dan suara mesin mobil di ujung jalan yang masih menyala.
Jari Elora akhirnya berhasil membuka layar ponsel.
Nama itu langsung ia tekan.
Arshaka.
Panggilan pertama tidak terhubung.
Kedua juga.
Tapi di percobaan ketiga—
tersambung.
“Arshaka…” suara Elora sedikit pecah, lebih rendah dari biasanya.
Di sisi lain, Arshaka langsung berhenti bicara dengan siapa pun yang ada di mobilnya.
“Ada di mana?” tanyanya singkat.
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada penenang.
Hanya fokus.
Elora menoleh cepat ke sekelilingnya, mencoba membaca papan jalan, gedung, apa pun yang bisa ia gunakan sebagai petunjuk.
“Aku nggak tahu pasti… tapi—”
Langkah di belakangnya bergerak.
Lebih dekat.
“Jangan tutup telepon,” kata Arshaka langsung.
Nada suaranya berubah.
Lebih rendah.
Lebih tajam.
“Ada yang ikut aku…” bisik Elora.
Dan kalimat itu—
cukup.
Arshaka tidak menjawab selama beberapa detik.
Tapi keheningan itu bukan kosong.
Itu adalah keheningan seseorang yang sedang menahan sesuatu agar tidak keluar dalam bentuk yang tidak bisa ia kendalikan.
“Dengerin aku,” katanya akhirnya, lebih pelan, tapi jauh lebih serius.
“Jangan lari. Tetap di tempat yang terang. Aku di jalan.”
Elora menelan pelan.
Tangannya sedikit gemetar, tapi ia mencoba tetap berdiri.
Karena entah kenapa—
cara Arshaka bicara barusan membuatnya merasa sedikit… tidak sendirian.
Mobil di ujung jalan tiba-tiba mematikan lampunya.
Dan dunia di sekitar Elora terasa semakin gelap.
“Arshaka…” suaranya kembali keluar, lebih kecil.
“Aku di sini,” jawab Arshaka cepat.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak terdengar dingin.
Beberapa menit berikutnya terasa lebih lama dari yang seharusnya. Setiap detik berjalan seperti ditarik perlahan, membuat Elora semakin sadar akan setiap suara kecil di sekitarnya. Langkah di belakangnya tidak lagi terlalu jauh. Tidak juga terlalu dekat. Tapi cukup untuk membuat napasnya semakin tidak teratur.
Dan di sisi lain—
Arshaka sudah tidak lagi berpikir dalam skema biasa.
Mobilnya berhenti dengan suara yang tidak terlalu keras.
Tapi cukup untuk memecah keheningan.
Arshaka keluar tanpa menunggu siapa pun.
Langkahnya langsung terarah.
Matanya mencari.
Dan dalam hitungan detik—
ia menemukan Elora.
Dan juga—
orang itu.
Tidak ada kata pertama.
Tidak ada peringatan.
Hanya tatapan.
Tajam.
Dingin.
Dan penuh sesuatu yang tidak lagi ia sembunyikan.
Arshaka berdiri di depan Elora.
Sedikit di depannya.
Menutup jarak antara Elora dan sosok asing itu.
Seperti refleks.
Seperti sesuatu yang sudah ia putuskan bahkan sebelum sampai di sana.
“Pergi,” katanya singkat.
Tidak keras.
Tapi cukup untuk membuat udara di sekitar mereka berubah.
Orang itu tidak langsung bergerak.
Tapi ada jeda.
Dan itu sudah cukup bagi Arshaka untuk melangkah satu kali ke depan.
Lebih dekat.
Lebih mengintimidasi.
“Aku tidak akan mengulang,” suaranya lebih rendah sekarang.
Dan kali ini—
tidak ada ruang untuk salah paham.
Beberapa detik kemudian, sosok itu akhirnya mundur.
Pelan.
Lalu pergi.
Tanpa kata.
Keheningan kembali.
Tapi berbeda.
Elora masih berdiri di tempatnya.
Tubuhnya belum sepenuhnya tenang.
Tapi matanya langsung mencari satu orang.
Arshaka.
Dan untuk pertama kalinya—
ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Bukan hanya protektif.
Bukan hanya posesif.
Tapi sesuatu yang lebih dalam.
Lebih gelap.
“Kamu kenapa sendirian?” suara Arshaka akhirnya keluar.
Masih tenang.
Tapi ada tekanan di dalamnya.
Elora tidak langsung menjawab.
Karena sekarang, ia sadar—
yang berubah malam ini bukan hanya situasinya.
Tapi juga cara Arshaka melihatnya.
“Aku cuma—” Elora berhenti.
Karena jarak di antara mereka tiba-tiba terasa terlalu dekat.
Arshaka menatapnya lebih lama dari biasanya.
Lalu berkata pelan—
“Tadi kamu takut.”
Bukan pertanyaan.
Elora terdiam.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—
Arshaka tidak mencoba menyembunyikan apa pun lagi.
“Aku nggak akan biarin itu kejadian lagi,” katanya.
Lebih pelan.
Lebih dalam.
Elora menatapnya.
Dan di titik itu—
ia mulai mengerti sesuatu yang lebih berbahaya dari ancaman di luar sana.
Bahwa sejak Arshaka tahu—
semuanya tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya.
⸻
Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌
See you di bab selanjutnya...