NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cat Biru

Lucien menegang. Ia menarik tangannya dengan cepat, seolah-olah kulit Aurora baru saja berubah menjadi es yang membakar jemarinya.

Intensitas di matanya lenyap seketika, digantikan oleh tatapan dingin yang sudah sangat dikenal. Ia melangkah mundur, kembali ke postur tubuhnya yang kaku dan sempurna. Dinding es itu kembali tertutup dengan presisi yang mematikan.

"Jangan konyol," jawabnya datar. Suaranya kembali menjadi dengungan tanpa emosi.

"Aku tidak mabuk. Kau saja yang salah mengartikan kejujuranku tadi."

Lucien membalikkan badan, suaranya kembali berupa perintah mutlak. "Mobilnya sudah menunggu. Ayo pergi."

Aurora tetap diam di tempatnya. Tatapannya tertahan pada titik di mana Lucien baru saja berdiri. Jantungnya menabuh irama yang terasa sangat asing.

Apa itu tadi? Kilatan panas, getaran rendah suaranya... itu terasa seperti sebuah retakan kecil di atas permukaan berlian yang keras.

Apa dia benar-benar mampu menginginkan sesuatu?

Aurora bertanya-tanya, keningnya berkerut dalam.

Atau itu hanya trik baru untuk membuatku bingung?

Rasa bingung itu terasa pahit di lidahnya; menggelisahkan dan begitu nyata.

Batu yang bergerak, Aurora mengingatkan dirinya sendiri. Dia tetaplah sebuah batu.

"Aku datang," bisiknya pelan, lalu melangkah mengikuti Lucien menuju kegelapan malam.

......................

Limusin itu meluncur membelah kota, menjadi sebuah kepompong sunyi yang dilapisi kulit dan cahaya remang.

Di luar, pendar neon kota Aurelia kabur menjadi garis-garis perak. Namun di dalam, keheningan terasa begitu berat, masih membawa sisa-sisa ketegangan dari balkon tadi.

Aurora menyandarkan kepalanya pada jendela yang dingin. Gaun zamrudnya berkilau di balik bayang-bayang. Ia mencuri pandang ke arah Lucien. Pria itu duduk dengan sangat tenang, menatap lurus ke depan—sosok tangguh yang telah kembali menguasai dirinya sendiri.

Namun, cara rahangnya mengatup rapat mengisyaratkan adanya badai di bawah permukaan yang tenang itu.

Batu itu telah retak, dan tak satu pun dari mereka tahu bagaimana cara memperbaikinya.

Keheningan itu membentang selama beberapa menit sebelum akhirnya Lucien bersuara. Suaranya membelah kesunyian tanpa pria itu perlu menoleh sedikit pun ke arahnya.

"Warna biru itu terhapus saat kau sedang mengurasi lukisan ketiga di sayap timur. Kau melewatkan satu titik di sudut kiri."

Aurora mengerjap, tertegun. Lucien tidak hanya memperhatikannya—pria itu memperhatikan detail mikroskopis dari pekerjaannya yang bahkan ia sendiri lewatkan.

Aurora menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. Presisi pengamatan Lucien hampir terasa mengerikan, namun ada kehangatan aneh yang berdesir di dada Aurora.

"Kau... kau benar-benar melihat karya seninya," bisik Aurora, suaranya dipenuhi rasa terkejut yang tulus. "Kupikir kau hanya melihat daftar aset yang harus diperiksa."

Lucien akhirnya menoleh. Mata abu-abunya mengunci tatapan Aurora. Untuk sesaat, dinginnya tatapan itu melunak menjadi sesuatu yang menyerupai rasa hormat.

"Aku tidak pernah mengabaikan sebuah kualitas. Terlepas dari apa pun medianya."

Aurora kembali mengerjap. Pujian yang tiba-tiba itu membuatnya merasa seolah kehilangan arah. Ia bergeser di kursinya, membuat kain beludru gaunnya berdesir keras di dalam mobil yang sunyi.

Percakapan ini telah bergeser dari kontrak strategis menuju gairahnya pada seni dengan cara yang terasa... sangat natural. Dan itu berbahaya.

"Oh......" gumam Aurora, suaranya berakhir dengan nada canggung yang kaku.

Ia segera memalingkan wajah kembali ke jendela. Aurora bisa merasakan pipinya memanas.

Keheningan kembali datang. Namun kali ini, suasana itu tidak lagi terasa berat—ia terasa kikuk, bergetar dengan ketegangan baru yang tak bisa mereka beri nama.

Lucien tidak menanggapi kekakuan Aurora. Ia kembali menatap jalanan di depan, meski sebuah bayangan samar melintas di wajahnya.

Saat limusin itu memasuki jalan berkerikil menuju mansion, lampu depan mobil menyinari keheningan rumah besar yang selalu terasa menyesakkan itu.

"Istirahatlah," ucap Lucien. Suaranya kembali menjadi perintah yang steril saat ia membuka pintu mobil.

"Besok, aku harap kau membereskan lukisannya. Itu merusak pemandangan."

Aurora menghela napas, melangkah keluar dari mobil sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Kau ini benar-benar tidak bisa ditebak," gumamnya pelan.

Namun, nada tajam dalam suaranya telah hilang, digantikan oleh rasa penasaran yang tertinggal.

Ia melangkah masuk ke dalam mansion menuju kamarnya.

Kali ini, kesunyian di rumah besar itu tidak lagi terasa seperti ruang kosong yang hampa, melainkan terasa seperti sebuah permainan yang baru saja dimulai.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!