NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hubungan Makin Rumit

Email itu Zahra kirim jam sepuluh malam. Bukan karena mepet deadline, tapi karena dia habiskan tiga jam memastikan catatannya rapi, analisanya masuk akal, dan tak ada satu pun poin yang terlihat seperti asal tulis. Kalau Rafandra mau lihat cara berpikirnya dia akan tunjukkan cara berpikir orang dewasa.

Klik kirim.

Zahra menutup laptopnya dan rebahan di kasur. "Gue baru kirim analisis bisnis ke suami gue jam sepuluh malam."

"Hidup gue enjoy banget."

Balasannya datang jam sebelas lewat dua puluh. Tak panjang. Rafandra tak pernah panjang lebar.

"Lebih baik dari yang aku kira. Tapi poin ketiga analisismu salah arah, bukan karena datanya keliru, tapi karena asumsi awalnya perlu dikaji ulang. Besok kita bahas."

Zahra membaca pesan itu dua kali. Lebih baik dari yang aku kira dari mulut Rafandra itu setara dengan "luar biasa, gue kagum, lo jenius" dari mulut orang lain.

"besok kita bahas." bukan "aku perbaiki" atau "biar aku yang urus." Tapi kita.

Zahra meletakkan HP ke dada. Menatap langit-langit. "ini makin rumit."

.

.

.

Keesokan paginya mereka bahas poin ketiga itu di meja sarapan. Dua puluh menit, kopi masing-masing, laptop Zahra terbuka di antara piring yang belum disentuh. Rafandra menunjukkan di mana logika Zahra melompat terlalu jauh, Zahra mendebat dua poin sebelum akhirnya mengakui yang satu lagi memang lemah.

"Oke, Om gue setuju soal yang itu," kata Zahra sambil mencoret sesuatu di buku catatannya. "Tapi yang poin kedua gue tetap nggak setuju."

"Jelaskan."

Zahra menjelaskan. Rafandra mendengarkan dengan cara yang sangat khasnya tak menyela, tak mengangguk basa-basi, hanya mendengarkan sampai selesai baru bicara.

"Argumenmu valid," katanya akhirnya. "Tapi butuh data pendukung yang lebih kuat."

"Gue bisa cari."

"Aku punya di arsip. Nanti aku kirimkan."

Zahra mengangguk, mencatat. Lalu mendongak dan menemukan Rafandra sedang menatapnya, bukan memindai seperti biasanya.

Zahra menaikkan alis. "Ada yang salah?"

"Tidak." Rafandra kembali ke kopinya. "Makan dulu sebelum dingin, kamu pasti udah laper."

Zahra menatapnya sebentar. Lalu menatap piringnya yang memang belum disentuh.

"Om Rafa ingetin gue makan, wajar ga sih gue kan istrinya. But I'm happy. Xixixix." Shock plus kegiranagan.

"Sebenarnya Om Rafa orangnya peka kok, pura-pura ga peduli aja. Hal yang tak ingin dia perlihatkan."

Zahra mengambil sendoknya, memakan makanaannya dengan lahap dan mencoba tak terlalu memikirkan kenapa itu membuatnya bahagia.

.

.

.

Siangnya Kiara menelepon Rafandra. Zahra tidak sengaja tahu dia lewat di depan studio waktu pintu setengah terbuka dan nama itu disebut Rafandra dengan nada yang berbeda untuk ngobrol sebagai rekan bisnis.

"Kiara, ini bukan waktu yang tepat untuk—" Hening. Rafandra mendengarkan. "Aku sudah bilang keputusanku. Itu tak akan berubah."

Hening lagi.

"Jangan hubungi nomor ini untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan." Singkat. Final. Seperti pintu yang ditutup tanpa dibanting tapi tidak bisa dibuka lagi dari luar.

Zahra sudah berjalan menjauh sebelum menguping lebih banyak. Naik ke kamarnya. Duduk di kursi baca. Ia tidak tahu keputusan apa yang dimaksud. Tapi nadanya... tidak ada ruang negosiasi membuat sesuatu di dada Zahra yang tidak mau dia beri nama mengendur sedikit.

HP bergetar.

Sinta: eh lo masih hidup? udah lama nggak curhat nih, mentang-mentang mentang udah punya suami gue di lupakan well.

Zahra mengetik:

Zahra: gue baik-baik aja

Sinta: itu bukan jawaban orang yang beneran baik-baik aja Zah. orang yang beneran baik-baik aja biasanya nggak perlu bilang. Jadi artinya lo sekarang lagi kenapa-kenapa. ada apa cerita sini.

Zahra menatap pesan itu.

Lalu mengetik lagi:

Zahra: gue bingung, Sin.

Sinta: bingung soal apa

Zahra: gue nggak tau apa yang gue rasain sekarang, ambur adul. dan itu yang bikin gue bingung.

Tiga titik muncul, Sinta mengetik.

Sinta: lo ngerasa ada yang janggal soal 'ice king' itu kan.

Zahra tidak langsung menjawab.

Zahra: gue nggak tau

Sinta: itu artinya iya

Zahra: itu artinya gue nggak tau, SINNN. Sejak kapan ga tau, jadi iya?

Sinta: Zahraku sayang. gue bestie lo dari SMA. "gue nggak tau" dari lo tuh artinya lo udah tau tapi belum siap ngomongnya! benerkan?

Zahra meletakkan HP. Menatap taman belakang dari jendela ruang baca.

'Belum siap ngomongnya.' Sinta tidak salah. Zahra memang sudah tahu sudah tahu sejak beberapa hari lalu, mungkin lebih lama dari itu. Tapi mengetahui dan mengakuinya adalah dua hal yang sangat berbeda.

Karena kalau diakui, itu nyata dan kalau nyata, ada konsekuensinya.

.

.

.

Malam itu makan malam berlangsung berbeda. kKarena ada yang berubah secara kasat mata. Makanan sama, meja sama, posisi duduk sama.

Udaranya dan Zahra tidak yakin apakah hanya dia yang merasakan. Di tengah makan, Rafandra berkata tanpa mendongak:

"Kamu tadi lewat depan studio."

Zahra berhenti mengunyah sebentar. "Iya. Mau ke dapur."

"Kamu menguping lagi?"

"Sedikit." Jujur. "Gue nggak sengaja suer Om." Jelasnya mengangkat dua jari speeding orang yang sedang berpose minta foto.

Rafandra mengangguk pelan. Tak mempermasalahkan.

"Kiara akan berhenti menghubungi aku," katanya. Langsung. "Aku sudah sampaikan dengan jelas."

Zahra menatapnya. "Om nggak perlu jelasin itu ke gue."

"Aku tahu." Rafandra mendongak matanya ke Zahra. "Tapi aku ingin kamu tahu."

Ruangan itu sunyi. Aku ingin kamu tahu.

Bukan karena kewajiban. ataupun karena ada yang tanya. Tapi karena dia mau Zahra tahu.

Zahra mengangguk pelan. "Makasih, Om."

Rafandra kembali ke makanannya. Zahra juga.

Tapi di antara mereka, di atas meja panjang yang dulu terasa terlalu besar untuk dua orang ada sesuatu yang diam-diam sudah mengisi ruangnya sendiri.

Bukan cinta, mungkin tapi belum. Atau mungkin sudah, tapi belum ada yang berani menyatakannya duluan.

Kebiasaan tak membuat jantung berdegup lebih cepat waktu seseorang menyebut namamu dengan nada yang berbeda.

Sesuatu di antaranya. Yang makin hari makin sulit diabaikan dan makin sulit diabaikan makin rumit jadinya.

Karena Zahra masih belum tahu apa yang ada di kepala pria yang duduk di ujung meja itu. Masih belum tahu apakah dinding-dinding tinggi yang sudah mulai retak itu, retak untuk semua orang, atau hanya untuk dia saja.

Sampai ia tahu perasaan ini akan terus tinggal di tempat yang paling aman yang Zahra punya. Di dalam. Diam-diam. Sendiri.

.

.

.

Finally udah di bab ini juga, bab di mana author bisa ajuin kontrak, tolong ya dukungan kalian, author cuma penulis pemula baru mencoba. Dukungan kalian semangat author, tinggalin jejal. CMWW

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!