Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Kabut dan Sorotan Mematikan
Dari ruangan kedua yang diselimuti relief kuno dan obor yang berkedip-kedip, tim inti dipimpin oleh Kieran, diikuti Aura dan Jack yang berhati-hati, Falix yang tenang, dan sekelompok kecil tentara elit mulai menuruni tangga batu yang curam menuju tingkat kedua. Udara di sana terasa jauh lebih berat, dingin, dan kental, membawa serta aroma lumut purba dan sesuatu yang tajam, hampir metalik. Langkah kaki mereka, yang biasanya mantap, kini terdengar ragu-ragu di lorong bawah tanah yang sepi ini.
Mereka belum sepenuhnya menginjak anak tangga terakhir ketika komandan regu memberi isyarat kepada seorang prajurit di barisan depan untuk melakukan pemeriksaan awal. Tentara itu, Sergeant Mikael, adalah veteran yang dikenal berhati-hati. Mikael melangkah maju, senter di tangannya membelah kegelapan. Tepat saat ia mencapai permukaan lantai ketiga, ia tersentak keras.
Mikael mencengkeram lehernya, matanya membelalak kaget dan ngeri. Wajahnya, dalam hitungan detik, berubah menjadi ungu kebiruan yang mengerikan. Ia berusaha mengeluarkan suara, tetapi hanya desahan tercekik yang terdengar. Tubuhnya ambruk ke lantai batu dengan bunyi gedebuk yang memecah keheningan. Senter di tangannya terlepas, sinarnya berputar liar sebelum padam.
Di sekeliling ruangan kedua, terlihat jelas kabut kehijauan tipis yang bergerak perlahan, hampir tidak terlihat, seolah-olah kabut itu bernapas. Kabut itu memancarkan aura mematikan yang terasa sangat dingin, membuat udara di sekitar mereka terasa seperti kawat berduri.
Aura, yang berdiri di anak tangga paling atas, langsung bereaksi. Ia tidak berteriak atau panik. Matanya menyipit, fokus pada kabut dan tubuh Mikael.
"Semua naik! Sekarang! Jangan ada yang melangkah ke tingkat itu!" perintah Aura, suaranya dingin dan penuh otoritas, memotong kepanikan yang mulai menjalar di antara para tentara. "Ada kabut beracun yang sangat pekat di bawah!"
Kieran, yang menyaksikan kematian cepat Mikael, langsung mengangguk, rasa hormat pada insting Aura terpancar di matanya. "Kita kembali ke ruangan sebelumnya! Cepat! Sebelum kabutnya naik!"
Para tentara segera mundur, langkah mereka berantakan. Mereka bergerak naik, meninggalkan kegelapan dan ancaman kematian di bawah.
Setelah mencapai ruangan kedua yang dianggap aman, Aura tidak membuang waktu. Ia mengeluarkan alat pendeteksi canggih berukuran kecil, sebuah perangkat yang tidak dimiliki oleh tentara biasa, dari saku jaket taktisnya.
"Kieran, pasang ini di ambang tangga. Kita perlu tahu jenis racun, sumbernya, dan kadar bahayanya."
Kieran menerima alat itu dengan sigap dan meletakkannya di bibir tangga, membiarkan sensor-sensor kompleks mulai menganalisis udara di bawah. "Racunnya bekerja terlalu cepat, Aura. Aku belum pernah melihat yang seperti ini. Bahkan masker gas tidak sempat dipakai."
"Tentu saja," jawab Aura tanpa menoleh. "Ini bukan racun kimia biasa. Ini pertahanan kuno, disempurnakan oleh sihir atau teknologi yang tidak kita kenali. Jangan anggap remeh labirin ini."
Suasana di ruangan kedua terasa sangat tegang. Para tentara tampak gemetar, saling berbisik ketakutan. Kieran fokus membaca data yang ditampilkan di layar detektor.
Namun, Falix, yang menyandarkan punggungnya ke dinding batu dengan santai, tidak menatap ke arah kabut atau data. Matanya terpaku pada Aura.
Falix memperhatikan sikap aneh wanita itu. Aura berdiri tegak, memancarkan ketenangan yang hampir tidak manusiawi. Raut wajahnya datar, fokus, dan sama sekali tidak menunjukkan jejak rasa takut, bahkan setelah melihat seorang pria mati dalam hitungan detik. Keheningan batinnya terasa kontras dengan kekacauan di sekitarnya.
"Dia tidak gentar sama sekali. Tidak ada sedikit pun rasa takut di matanya, bahkan setelah melihat tentara mati begitu cepat. Semua wanita akan berteriak, mundur, atau setidaknya menunjukkan kepanikan," batin Falix, rasa ingin tahu yang kuat memunculkan senyum tipis di sudut bibirnya. "Sangat menarik. Apa dia tidak memiliki saraf? Atau... dia sudah terlalu sering melihat kematian?"
Rasa ketertarikan Falix semakin menjadi-jadi. Ia merasa ini adalah misteri yang jauh lebih menarik daripada labirin itu sendiri. Ia ingin tahu, apa yang membuat wanita ini begitu dingin, begitu tenang?
Tepat ketika pikiran Falix memuncak, tepat saat ia menganalisis setiap detail ketenangan Aura, Aura menoleh. Gerakannya sangat halus, namun tatapannya langsung menusuk Falix, seolah ia bisa mendengar setiap pikiran yang berputar di kepala pria itu.
Mata mereka bertemu di tengah ruangan yang remang-remang. Itu adalah kontak mata yang dingin, tegang, dan tak terhindarkan.
Sorot mata Aura sedikit waspada, namun tetap tenang. Ia meneliti Falix dari atas sampai bawah mulai dari cara Falix bersandar di dinding dengan santai, bentuk rahangnya yang tegas, hingga bagaimana ia menahan ketegangan dalam situasi kritis ini. Tatapan itu terasa seperti pemindaian profesional, bukan sekadar tatapan biasa.
Aura merasakan ada aura yang sangat tua dan kuat dari pria di hadapannya.
"Garis keturunan itu tidak mungkin salah. Energi spiritualnya begitu murni, aura kekuasaannya begitu kental. Keturunan Bani dan Harits ada di sini," kata Aura dalam hati, sebuah pengetahuan yang hanya dimiliki oleh segelintir orang di dunia. “Mereka datang. Ini bukan kebetulan."
Rasa curiga Aura semakin mendalam. “Tapi, mengapa hanya dua garis? Di mana keturunan Baki? Mengapa mereka tidak bersama? Apakah mereka berpisah? Tebakan hatiku semakin mengarah pada fakta bahwa kedatangan dua tamu yang diundang oleh negaranya sendiri ini adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan tiga garis keturunan kuno itu.”
Aura memutuskan kontak mata itu, kembali menatap monitor pendeteksi racun. Namun, ketegangan di antara mereka sudah terukir.
Kieran menyelesaikan pemeriksaan dan menoleh pada Aura dengan wajah pucat. "Kadar racunnya... hampir seratus persen mematikan. Ini bukan racun biasa, Aura. Analisis menunjukkan kombinasi gas beracun dan energi spiritual kuno. Sulit diurai. Kita tidak bisa melewatinya kecuali kita mematikan sumbernya."
"Tentu saja kita tidak bisa melewatinya," jawab Aura, melipat tangan di dada. "Ini labirin. Kita harus mencari cara lain. Apakah ada ventilasi, jalur air, atau bypass tersembunyi?"
Kieran menggeleng frustrasi. "Semua tertutup rapat. Kita harus memecahkan kode pintu berikutnya di ruangan ini untuk menemukan jalur alternatif. Atau... kita kembali ke atas."
Aura menatap tangga yang gelap itu. "Kembali ke atas berarti gagal. Kita fokus pada kode."
Ia lalu menoleh ke Falix, yang kini berdiri tegak, ekspresinya kembali netral, seolah-olah obrolan mata mereka tak pernah terjadi.
"Dan Falix," ujar Aura, suaranya sedikit mencibir.
Falix menoleh, mengangkat satu alisnya. "Ya, Nona Aura?"
"Jangan hanya bersandar di dinding dan mengamati," lanjut Aura dengan senyum tipis, penuh makna yang hanya dimengerti mereka berdua. "Mungkin kau bisa membantu dengan indra keenammu. Racun ini memang tidak bisa membunuh orang mati, tapi sayangnya, kita semua masih hidup dan punya misi yang harus diselesaikan."
Falix menyunggingkan senyum misterius. Senyum itu menunjukkan bahwa ia tahu Aura sedang menggodanya. "Tentu saja, Nona Aura. Setelah melihat aksi cepatmu tadi, aku yakin bantuanku mungkin tidak diperlukan. Tapi jika kau bersikeras melibatkan tamu kehormatan, aku akan coba," katanya, lalu melangkah ke depan, di samping Kieran.
"Ingat," tambah Aura, suaranya kembali dingin. "Setiap detik yang terbuang di sini bisa berarti hilangnya nyawa. Jangan coba-coba mencari rahasia yang bukan urusanmu."
Falix hanya tertawa kecil, suara tawa yang tenang namun memecah kesunyian. "Nona Aura, di labirin ini, semua hal adalah urusanku. Terutama rahasia yang berjalan dan berbicara..."
Aura menatapnya tajam, sementara Kieran hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa ekspedisi ini baru saja berubah menjadi pertarungan kecerdasan dan rahasia yang jauh lebih pribadi dan rumit, diselimuti bahaya yang mematikan.