NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Pendakian Berdarah

Jalur setapak menuju ketinggian 1800 meter bukanlah jalur pendakian biasa. Tidak ada penunjuk arah, tidak ada bekas tenda. Hanya akar-akar pohon raksasa yang menjulur seperti ular, lumut tebal yang membuat setiap pijakan licin, dan kabut yang semakin pekat seiring bertambahnya ketinggian.

Aditya sudah berjalan selama empat jam. Otot-otot pahanya terbakar, tapi Pil Pemurnian Tubuh yang dulu ditelannya membuat pemulihan berjalan lebih cepat. Ia berhenti sejenak di sebuah batu besar, menyeka keringat, dan membuka perkamen Kakek Wijaya.

Lokasi saat ini: 1400 meter. Air terjun: 400 meter lagi ke arah timur laut.

"400 meter," gumamnya. "Seharusnya sudah dekat."

Ia meneguk air dari botol, lalu mengedarkan pandangan. Sesuatu terasa salah.

Hutan terlalu sunyi.

Beberapa menit terakhir, suara burung dan serangga menghilang. Hanya angin yang berdesir di antara daun-daun pinus. Aditya mengepalkan pedang kayunya—kebiasaan baru yang mulai terbentuk.

All-Seeing Eye diaktifkan.

Area terdeteksi: Hutan Pinus Gede.

Ancaman: 2 makhluk terdeteksi pada radius 100 meter.

· Target 1: Pemimpin Kartel (Level 8—turun dari 9 akibat racun). Kekuatan: 98. Kecepatan: 72. Status: Dendam.

· Target 2: Kultivator tidak dikenal. Level 6. Skill: Manipulasi Akar, Kamuflase Hutan.

Aditya menelan ludah. Pemimpin topeng logam itu sudah sembuh—setidaknya sebagian. Dan dia membawa teman yang punya skill manipulasi alam.

"Mereka menguntitku sejak dari bawah," bisiknya. "Atau... mereka sudah menunggu di sini."

Kreeeek!

Akar-akar pohon di sekitarnya tiba-tiba bergerak. Bukan tumbuh—tapi menyerang. Satu akar membelit pergelangan kaki Aditya, menariknya jatuh. Akar kedua mengarah ke leher.

Aditya menghantam akar itu dengan pedang kayunya. Bilah yang menyala jingga memotong akar seperti mentega—putus, lalu layu dalam sekejap.

"Ini pedang kayu?!" Suara dari balik pepohonan—target 2, kultivator Manipulasi Akar.

"Aneh, kan?" Aditya melompat bangun, mengaktifkan Silent Step. "Kayu melawan kayu."

Ia menghilang di balik kabut. Langkahnya tanpa suara. Matanya memindai—di mana target 2?

Target 2: Di atas pohon pinus, cabang ketiga dari kiri. Sedang berkonsentrasi mempertahankan kamuflase.

Aditya memanjat batang pohon di sebelahnya. Dengan Silent Step, gerakannya senyap total. Kultivator itu masih sibuk mencari-cari dari atas—tidak sadar bahwa mangsanya sudah ada di belakangnya.

"Permisi," bisik Aditya.

Kultivator itu menoleh—terlambat. Pedang kayu menghantam pelipisnya dengan sisi tumpul. Bukan tusukan, bukan sayatan—hanya pukulan keras yang membuatnya kehilangan kesadaran dan jatuh dari pohon.

"Dua lawan satu lebih adil sekarang," Aditya turun dari pohon.

Tapi Pemimpin Kartel sudah menunggu di bawah. Topeng logamnya retak di satu sisi, memperlihatkan rahang penuh bekas luka. Matanya masih merah—tapi kini lebih buas, lebih marah.

"Kau membuatku kehilangan markas, anak buah, dan reputasi," suaranya bergetar menahan amarah. "Tapi yang paling parah... kau membuat wajahku terluka."

"Itu bukan salahku. Salah sendiri pakai topeng."

Pemimpin itu meraung. Pressure Barrier diaktifkan—tapi kali ini lebih kecil, lebih terfokus. Levelnya yang turun dari 9 ke 8 membuat kemampuannya berkurang.

Tapi tetap saja, kekuatan 98 melawan 9 adalah jurang yang tidak bisa dijembatani.

Aditya melompat mundur, menghindari serangan pertama—sebuah pukulan yang menghancurkan batu sebesar mobil. Pecahan batu beterbangan, satu mengenai bahunya.

Stamina: 78%. Luka ringan.

"Aku akan mencabut liontin itu dari dadamu!" Pemimpin itu melesat maju.

Aditya mengaktifkan Basic Combat Mastery. Pola serangan lawan mulai terbaca: serangan lurus, mengandalkan kekuatan, lambat di sisi kiri karena bekas luka racun.

Hindari kanan. Serang kiri.

Aditya melangkah ke samping—ke arah sisi lemah musuh. Pedang kayunya menusuk ke arah pinggang.

Tapi Pemimpin itu menangkap pedangnya. Dengan tangan telanjang.

"Kau pikir Level 8 tidak bisa menangkap pedang kayu?"

Krak!

Pemimpin itu meremas pedangnya. Aditya menunggu pedangnya patah—tapi tidak terjadi. Pedang Kayu Matahari tetap utuh, bilahnya malah menyala lebih terang.

"APA?!"

"Saya bilang tadi," Aditya menarik pedangnya dengan paksa, membuat telapak tangan musuhnya terbakar, "ini bukan pedang kayu biasa."

Pemimpin itu mundur selangkah, memegangi tangannya yang melepuh. Kemarahannya mencapai puncak. "CUKUP!"

Ia menghantamkan kedua tangan ke tanah. Bukannya gelombang kejut—tapi lantai hutan retak dan batu-batu beterbangan ke atas. Aditya kehilangan pijakan.

"Ini akhir ceritamu!"

Pemimpin itu mengangkat batu sebesar kepala manusia, siap menghantamkannya ke Aditya yang terjatuh.

TING!

Sebuah panah bambu melesat dari balik pepohonan dan mengenai tangan Pemimpin itu. Batu terlepas. Darah hitam menetes.

"SIAPA?!"

Dari balik kabut, sesosok tubuh pendek berjubah anyaman daun melangkah keluar. Seorang pria tua dengan rambut putih sepinggang, membawa busur bambu yang diukir dengan simbol matahari—simbol yang sama dengan liontin Aditya.

"Kakek tua?" Pemimpin itu menggeram. "Siapa kau?!"

"Penjaga tempat yang ingin kau cari," suara pria tua itu tenang tapi berwibawa. "Dan orang yang sangat tidak suka melihat tamu dianiaya di hutannya."

Pria tua itu menarik busurnya lagi. Kali ini, tiga anak panah muncul sekaligus—masing-masing berpendar dengan cahaya keemasan.

"Itu... energi kultivator Alam Master!" Pemimpin itu mundur. "TIDAK MUNGKIN! Manusia Alam Master sudah punah!"

"Punah?" Pria tua itu terkekeh. "Kami hanya bersembunyi. Dan kau baru saja menemukan salah satu dari kami."

Anak panah melesat. Pemimpin itu mengaktifkan Pressure Barrier—tapi panah emas menembusnya seperti kertas. Satu mengenai bahu, satu mengenai kaki, satu sengaja meleset.

"PERGI DARI HUTANKU," suara pria tua itu menggelegar, "sebelum aku lupa kalau dulu aku pernah bersumpah tidak membunuh!"

Pemimpin itu tidak menunggu peringatan kedua. Ia menghilang—bukan dengan skill, tapi dengan berlari sekuat tenaga ke arah bawah gunung. Satu tangannya menjinjing rekannya yang pingsan.

Hening.

Aditya bangkit, memegangi bahunya yang memar. "Terima kasih, Tuan..."

"Panggil saja Kakek Seno." Pria tua itu menurunkan busurnya, lalu menatap Aditya dari ujung kepala ke ujung kaki. Matanya berhenti di liontin yang bergelantungan di dada. "Liontin Surya. Sudah lama aku tidak melihatnya."

"Kakek tahu liontin ini?"

"Tahu? Aku yang menjaganya sebelum diserahkan ke keluarga Pradipa, 60 tahun lalu." Kakek Seno tersenyum, giginya yang ompong membuat senyumnya lebih lucu dari menyeramkan. "Dan dari penampilanmu, kurasa kau mencari Ruang Pelatihan Matahari."

"Betul. Saya Aditya Pratama, Kakek."

"Aku tahu. Aku sudah mengawasimu sejak kau masuk hutan." Kakek Seno berbalik, melangkah ke arah air terjun. "Ikuti aku. Perjalananmu masih setengah lagi. Dan bagian tersulitnya... baru dimulai."

Aditya mengikuti pria tua itu, pedang kayunya masih menyala pelan. Kabut di depan mereka terbuka seolah memberi jalan.

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!