"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEMURUH DI DALAM NADI
Malam di Hutan Kematian biasanya penuh dengan suara lolongan serigala dan gesekan dahan pohon yang menyeramkan. Namun di sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik air terjun, suasana begitu hening hingga suara tetesan air pun terdengar seperti dentuman.
Han Feng duduk bersila di atas batu datar. Di depannya, Rumput Penelan Jiwa yang ia temukan kemarin telah layu, sarinya telah ia ekstrak menggunakan teknik panas internal yang ia pelajari dari Sutra Dewa. Cairan hitam pekat itu kini mengalir di dalam perutnya, menyebarkan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum.
"Hancurkan untuk membangun. Matikan untuk menghidupkan," mantra dari Sutra Dewa bergema di kepalanya.
Tiba-tiba, tubuh Han Feng bergetar hebat. Dantiannya, yang selama bertahun-tahun dianggap "mati" dan "tersumbat", mulai retak. Ini adalah proses yang paling menyakitkan dalam kultivasi—menghancurkan pondasi lama untuk membangun Dantian Emas.
Krak!
Suara itu hanya terdengar di dalam kesadarannya. Energi Qi dari alam sekitar tersedot secara brutal, membentuk pusaran kecil di atas kepala Han Feng. Jika ada Tetua Sekte yang melihat ini, mereka akan jatuh pingsan; kecepatan penyerapan energi ini ribuan kali lipat lebih cepat daripada teknik tingkat tinggi mana pun di Daratan Bawah.
Dalam satu tarikan napas panjang, Han Feng membuka matanya. Sepasang pupil keemasan menyala di kegelapan sebelum kembali memudar menjadi hitam jernih.
"Pengumpulan Qi Level 3," bisik Han Feng. Tangannya terkepal, dan ia bisa merasakan aliran energi yang begitu padat merayap di bawah kulitnya. Dengan bantuan Rumput Penelan Jiwa, energi ini terbungkus rapat di dalam nadinya. Secara kasat mata, ia masih terlihat seperti orang biasa tanpa tenaga dalam. Inilah teknik "Penyamaran Dewa" yang sempurna.
......................
Keesokan paginya, suasana di barak pelayan dan murid luar sangat riuh. Han Feng sedang memikul nampan berisi bubur gandum menuju meja makan murid luar ketika seorang Diaken Sekte berdiri di atas panggung kayu dengan gulungan emas di tangannya.
"Dengarkan semua!" suara Diaken itu menggelegar. "Turnamen tahunan 'Pedang Embun Pagi' akan diadakan bulan depan! Tahun ini, Master Sekte memberikan kesempatan istimewa. Untuk menguji ketahanan dan mentalitas para murid, kita membuka slot untuk para pelayan sebagai peserta pendukung!"
Para murid luar mulai berbisik-bisik dan tertawa sinis.
"Peserta pendukung? Maksudmu samsak hidup?" celetuk salah satu murid sambil melirik ke arah Han Feng yang sedang meletakkan mangkuk bubur.
"Benar," lanjut Diaken dengan senyum dingin. "Pelayan yang bisa bertahan selama tiga ronde di atas panggung melawan murid luar akan langsung dipromosikan menjadi Murid Luar resmi dan mendapatkan satu Pil Pemurni Nadi. Namun... sekte tidak bertanggung jawab atas cedera yang terjadi di atas panggung."
Han Feng tetap tenang, wajahnya menunduk seperti biasa. Namun, otaknya bekerja dengan kecepatan luar biasa. Pil Pemurni Nadi? Itu sampah bagi pengetahuanku, tapi Gua Energi sekte yang dijanjikan sebagai hadiah tambahan... itu yang aku butuhkan untuk mempercepat Dantian Emas ke level selanjutnya.
Siang itu, Han Feng bertugas di dapur alkimia—bukan untuk meracik obat, tapi untuk membuang limbah herbal. Murid-murid alkimia Sekte Pedang Langit sangat ceroboh; mereka sering membuang akar Ginseng Bumi yang patah atau kelopak Bunga Api yang dianggap hangus.
Bagi mereka, itu sampah. Bagi Han Feng, itu adalah bahan baku tingkat tinggi.
Saat suasana sepi, Han Feng mengambil sisa-sisa herbal itu dan memasukkannya ke dalam sebuah kuali kecil di sudut dapur yang jarang digunakan. Ia tidak butuh api tungku. Ia hanya meletakkan telapak tangannya di bawah kuali, menyalurkan energi Qi emasnya yang memiliki atribut panas murni.
Sssss...
Uap beraroma harum namun tajam menguar. Han Feng mencampurkan jelaga tungku dan sari herbal tersebut menjadi sebuah cairan kental berwarna perunggu. Inilah "Cairan Penguat Tulang Besi".
Tanpa ragu, ia meminum cairan itu. Rasanya seperti menelan besi cair yang membara. Tubuhnya terasa panas, dan ia bisa merasakan tulang-tulangnya menjadi lebih padat, lebih berat, dan lebih kuat. Setiap pori-porinya mengeluarkan kotoran hitam yang berbau busuk—limbah dari tubuh manusianya yang dulu lemah.
"Sekarang, bahkan pedang baja biasa tidak akan bisa menggores kulitku," gumamnya sambil membersihkan diri di sumur belakang.
Sore harinya, saat Han Feng sedang membawa keranjang cucian melewati lapangan latihan, sebuah langkah kaki yang berat mencegatnya. Li Wei berdiri di sana dengan senyum kemenangan, memegang sebuah kertas kuning yang sudah dibubuhi cap jempol darah.
"Sampah, aku punya kejutan untukmu," ucap Li Wei sambil melemparkan kertas itu ke dada Han Feng.
Han Feng menangkapnya. Itu adalah formulir pendaftaran turnamen. Di kolom nama peserta pendukung, tertulis jelas: Han Feng.
"Aku sudah mendaftarkan namamu. Sebagai pelayan pribadiku, kau punya 'kehormatan' untuk menjadi lawan latihanku di babak penyisihan," Li Wei tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh kawan-kawannya. "Jangan coba-coba melarikan diri. Jika kau tidak muncul, kau akan dianggap berkhianat pada sekte dan akan diburu. Jika kau muncul... yah, mungkin aku hanya akan mematahkan semua tulangmu sebagai hiburan untuk Kakak Senior Su Yan."
Li Wei mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Han Feng dengan nada penuh kebencian. "Aku ingin melihat wajah tampanmu itu hancur di bawah kakiku di depan ribuan orang. Mari kita lihat apakah 'pangeran' sepertimu masih bisa tenang saat gigimu rontok semua."
Li Wei menepuk pipi Han Feng dengan kasar lalu melenggang pergi dengan penuh kesombongan.
Han Feng berdiri diam di tengah lapangan. Murid-murid lain yang lewat menatapnya dengan tatapan kasihan, seolah mereka sedang melihat orang mati yang berjalan.
Han Feng melihat ke arah formulir di tangannya. Perlahan, sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum yang sangat tipis dan sangat licik—senyum yang tidak pernah dilihat oleh siapa pun.
"Kalian ingin aku menjadi hiburan?" batin Han Feng.
Ia meremas kertas formulir itu hingga menjadi debu di dalam genggamannya.
"Lucu sekali. Kalian mengundang serigala ke dalam kandang domba, dan kalian pikir kalianlah yang memegang kendali."
Han Feng kembali berjalan, memikul keranjang cuciannya dengan langkah yang santai. Di dalam dirinya, energi emas Qi Gathering Level 3 berputar dengan riang, siap untuk melahap siapa pun yang berani mengusik ketenangannya. Turnamen "Pedang Embun Pagi" bukan lagi tentang promosi status baginya. Itu adalah pengadilan. Pengadilan bagi mereka yang terlalu lama berdiri di atas penderitaan orang lain.
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang dingin, Han Feng berlatih satu gerakan tunggal: sebuah pukulan sederhana tanpa nama. Namun, setiap kali tinjunya meluncur, udara di depannya seolah-olah terkoyak, menciptakan suara ledakan kecil yang teredam oleh suara angin malam.
"Li Wei, persiapkan dirimu," bisik Han Feng ke arah kegelapan. "Karena di atas panggung nanti, tidak akan ada Tetua yang bisa menyelamatkanmu dariku."
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏