Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Terlalu Dekat untuk Disebut Kebetulan
Elora mulai merasa bahwa ruang pribadinya perlahan tidak lagi benar-benar miliknya. Bukan karena Arshaka memaksanya secara langsung, bukan juga karena ada larangan yang diucapkan dengan keras, tapi karena setiap kali ia mencoba mengambil jarak, selalu ada cara halus yang membuat jarak itu kembali mengecil tanpa ia sadari. Dan yang paling membingungkan adalah fakta bahwa Arshaka tidak pernah terlihat ragu saat melakukannya, seolah semua ini sudah menjadi sesuatu yang wajar, sesuatu yang memang seharusnya terjadi di antara mereka sejak awal.
Malam itu, hujan turun cukup deras di luar hotel. Elora berdiri di dekat jendela kamarnya, menatap lampu kota yang terlihat kabur di balik kaca yang mulai berembun. Tidak ada jadwal malam ini, tidak ada pertemuan, tidak ada kamera. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, dunia terasa sedikit lebih lambat. Tapi justru di saat seperti itu, pikirannya malah menjadi lebih berisik. Karena tanpa kesibukan, ia justru terlalu sadar bahwa seseorang di luar sana—atau lebih tepatnya, di lantai yang sama—selalu tahu di mana ia berada.
Ketukan pintu terdengar pelan.
Tidak terburu-buru.
Tapi cukup untuk membuat Elora tidak terkejut lagi saat membukanya.
Arshaka berdiri di sana, rambutnya sedikit lebih rapi dari biasanya, jasnya sudah dilepas, hanya kemeja putih yang tersisa dengan beberapa kancing atas yang terbuka. Tidak berlebihan, tidak juga terlihat santai sepenuhnya, tapi cukup berbeda dari citra CEO yang selalu ia tampilkan di depan publik. Dan entah kenapa, perbedaan kecil itu justru membuat Elora merasa suasana di antara mereka berubah sedikit lebih… pribadi.
“Aku cuma mau pastikan kamu baik-baik saja,” kata Arshaka pelan.
Elora mengangkat alis sedikit. “Karena hujan?”
Arshaka tidak langsung menjawab. Matanya sempat melirik ke luar jendela di belakang Elora, lalu kembali ke wajahnya. “Karena kamu sendirian.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi cara Arshaka mengucapkannya tidak pernah benar-benar sederhana.
Elora menyingkir sedikit, memberi ruang untuknya masuk, meskipun sebenarnya ia tidak yakin apakah itu ide yang bagus. Tapi Arshaka tidak langsung duduk atau berdiri terlalu jauh. Ia hanya berhenti di dekat pintu, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan terlalu cepat.
“Kamu terlalu sering datang tanpa alasan jelas,” kata Elora akhirnya, mencoba menjaga nada tetap normal.
Arshaka menatapnya. “Aku selalu punya alasan.”
“Yang mana kali ini?”
Ada jeda kecil.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Arshaka tidak langsung menjawab dengan jawaban yang rapi.
“Aku tidak suka kamu terlalu lama sendiri,” katanya akhirnya.
Elora tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya. “Itu bukan alasan normal.”
Arshaka melangkah sedikit lebih dalam ke ruangan.
Lebih dekat.
Tidak banyak.
Tapi cukup untuk membuat Elora sadar bahwa jarak di antara mereka sekarang hanya tinggal beberapa langkah saja.
“Aku tidak pernah bilang ini normal,” jawabnya pelan.
Hening.
Tapi bukan hening yang kosong.
Lebih seperti hening yang penuh sesuatu yang tidak diucapkan.
Elora bisa merasakan napasnya sendiri sedikit melambat tanpa ia minta. Ada sesuatu di cara Arshaka berdiri di sana—tenang, stabil, tapi terlalu fokus—yang membuat ruangan terasa lebih sempit dari sebelumnya. Dan ketika ia sadar Arshaka sedang menatapnya tanpa berpindah ke arah lain, Elora tiba-tiba merasa bahwa percakapan ini sudah tidak lagi hanya tentang “menjaga”.
“Kamu selalu berdiri terlalu dekat akhir-akhir ini,” kata Elora pelan.
Arshaka tidak menyangkal.
Tidak juga menjauh.
Sebaliknya, ia justru melangkah sedikit lagi.
Sekarang jarak mereka hanya tinggal sangat dekat.
Terlalu dekat untuk disebut biasa.
Elora menatapnya, mencoba mencari batas yang dulu selalu ada di antara mereka, tapi malam itu batas itu terasa kabur. “Arshaka…”
“Kenapa?” suara pria itu lebih rendah dari biasanya.
Elora tidak langsung menjawab.
Karena untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa yang membuatnya ragu bukan hanya kehadiran Arshaka…
tapi cara Arshaka menatapnya seperti sedang menahan sesuatu yang tidak diucapkan.
Hujan di luar semakin deras.
Dan di dalam ruangan itu, udara terasa jauh lebih hangat dari yang seharusnya.
Arshaka mengangkat tangannya sedikit—tidak menyentuh, hanya berhenti di udara dekat bahu Elora, seperti sedang menahan diri di batas terakhir yang ia buat sendiri.
“Aku tidak akan memaksamu,” katanya pelan.
Elora menatapnya cukup lama. “Tapi kamu juga nggak mundur.”
Arshaka tidak menjawab langsung.
Tapi jarak itu tidak bertambah.
Tidak berkurang juga.
Hanya diam di titik yang membuat semuanya terasa semakin tidak jelas.
Beberapa detik berlalu seperti itu.
Sampai akhirnya Elora menunduk sedikit, menarik napas pelan, lalu berkata dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya, hampir seperti bisikan yang tidak ditujukan untuk dunia luar.
“Kalau ini terus begini… kita akan kehilangan batas.”
Arshaka menatapnya lebih lama dari sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya, suaranya terdengar sedikit berbeda saat ia menjawab.
“Sudah mulai hilang.”
Elora tidak langsung menjawab.
Karena di titik itu, ia menyadari sesuatu yang lebih berbahaya dari semua skandal yang pernah ia hadapi.
Bukan kamera.
Bukan media.
Bukan juga rumor.
Tapi fakta bahwa orang di depannya ini—yang seharusnya hanya bagian dari kontrak—mulai bertindak seperti seseorang yang tidak lagi berniat menjaga jarak sama sekali.
Dan Elora tidak tahu apakah ia harus takut…
atau justru sudah terlambat untuk mundur.
⸻
Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌
See you di bab selanjutnya...