NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan Setengah Hati

BAB 22 — Pengakuan Setengah Hati

Malam itu, Alena baru saja sampai di kamarnya, tubuhnya lemas, hatinya hancur berkeping-keping. Dia melempar tasnya sembarangan, lalu langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur, membenamkan wajah ke bantal dan menangis sejadi-jadinya.

Kata-kata "Aku bukan mainanmu" masih terngiang di telinganya, dan rasanya perih sekali harus mengucapkan itu pada orang yang paling dia cintai.

Dia pikir semuanya sudah berakhir. Dia pikir Adrian akan membiarkannya pergi, membiarkan mereka berdua dingin-dinginan seperti yang biasa pria itu lakukan.

Tapi...

Belum genap setengah jam berlalu, terdengar suara ketukan pintu yang panik dan berulang-ulang.

Tok! Tok tok tok!

Alena mengangkat wajahnya, matanya bengkak dan merah. "Siapa?" tidak ada jawaban, hanya ketukan yang terus datang, semakin keras dan semakin mendesak.

Dengan langkah berat dan malas, Alena berjalan mendekati pintu, mengintip dari lubang intip, dan jantungnya seakan berhenti berdetak.

Di luar sana, berdiri Adrian Vale.

Pria itu tampak berantakan. Jasnya sudah tidak dikenakan, kemejanya terbuka dua kancing teratas, rambutnya acak-acakan karena sering ditarik-tarik sendiri, dan wajahnya... wajahnya terlihat panik, cemas, dan sangat lelah.

Alena menghela napas panjang, mencoba menguatkan hati. Dia tidak mau membuka. Dia tidak mau mendengar alasan lagi. Tapi tangan itu bergerak sendiri, seolah tubuhnya tidak bisa menolak kehadiran pria itu.

Pintu terbuka sedikit, hanya cukup untuk melihat wajah satu sama lain.

"Apa lagi kesini?" tanya Alena dingin, suaranya parau karena habis menangis. "Bukan sudah selesaikah pembicaraannya?"

Adrian tidak menjawab langsung. Matanya menatap wajah gadis itu yang bengkak, dan tatapan itu seolah ada rasa sakit yang menusuk hatinya sendiri.

"Buka pintunya, Len. Kumohon..." suaranya terdengar putus asa, sangat berbeda dari Adrian yang angkuh dan dingin selama ini. "Aku tidak bisa membiarkan kau tidur dengan pikiran buruk seperti itu tentangku. Aku tidak bisa pergi sebelum bicara."

 

🚪 Di Ambang Pintu

Akhirnya Alena mengalah, membuka pintu lebar dan membiarkan pria itu masuk. Begitu pintu tertutup, suasana kembali hening namun tegang.

Adrian berdiri di tengah ruangan kecil itu, tangannya terkepal kuat di samping badan, seolah sedang berperang hebat dengan dirinya sendiri, dengan egonya, dengan logikanya.

"Kenapa kau ke sini?" tanya Alena lagi, berdiri membelakangi jendela, menjaga jarak aman. "Mau marahin aku lagi? Mau bilang aku tidak mengerti apa-apa lagi?"

"BUKAN!" Adrian memotong cepat, lalu menghela napas panjang mencoba menenangkan diri. Dia menoleh menatap Alena, matanya menatap dalam, sangat dalam.

"Aku ke sini... karena aku tidak bisa membiarkanmu pergi dengan kesalahpahaman itu. Aku ke sini... karena aku sadar aku salah. Aku salah bicara, salah sikap, dan salah cara mencintai."

Alena menunduk, air matanya siap jatuh lagi. "Kalau tahu salah, kenapa dilakukan?"

"Karena aku TAKUT!"

Teriak itu meledak lagi, tapi kali ini bukan teriakkan marah. Itu teriakkan frustrasi dan keputusasaan.

Adrian melangkah maju, berhenti tepat di hadapan Alena, jarak hanya beberapa senti.

"Ya, aku takut! Aku takut setengah mati, Len!" suaranya bergetar hebat, tangannya terangkat ingin menyentuh wajah gadis itu tapi urung, menggantung di udara. "Selama hidupku, aku selalu memegang kendali penuh atas segalanya. Hidupku teratur, rencanaku jelas, emosiku terkunci rapat. Tidak ada yang bisa mengguncang aku."

Dia menatap mata Alena, dan untuk pertama kalinya, Alena melihat ketidakberdayaan di sana.

"Tapi sejak kau datang... semuanya berantakan. Kau membuatku kehilangan kendali, Len. Aku jadi pria bodoh yang tidak bisa berpikir jernih. Aku jadi cemburu buta, aku jadi posesif, aku jadi ingin selalu dekat, aku jadi takut kehilangan... dan perasaan-perasaan liar ini... itu menakutkan bagiku!"

 

🛡️ Dinding yang Mulai Retak

"Jadi selama ini kau dingin... karena kau takut?" tanya Alena pelan, suaranya pecah.

Adrian mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Aku membangun tembok setebal mungkin. Aku bersikap dingin, aku bersikap seolah tidak peduli... karena aku berharap dengan begitu aku bisa melindungi diriku dan melindungimu. Aku pikir kalau aku tidak terlalu dalam mencintai, sakitnya tidak akan terlalu parah kalau sesuatu buruk terjadi."

Dia tertawa getir, suara tawanya terdengar sangat menyedihkan.

"Tapi nyatanya... semakin aku coba menahan, semakin aku jatuh. Sekarang aku sadar... aku sudah terlalu jauh. Aku sudah terlalu peduli. Aku sudah terlalu menyayangimu sampai rasanya sakit sekali rasanya di sini."

Tangan besar itu akhirnya turun, menunjuk tepat ke dadanya sendiri, ke arah jantungnya.

"Kau bilang aku menginginkanmu hanya saat nyaman? Itu salah besar, Len. Aku menginginkanmu... SETIAP DETIK! Tapi aku bodoh! Aku tidak tahu caranya menunjukkannya! Aku terbiasa menjadi pria yang kuat dan tidak butuh siapa-siapa, jadi saat tiba waktunya aku harus menjadi pasangan yang baik... aku bingung! Aku kaku! Aku malah menyakiti orang yang paling aku sayangi!"

Adrian meremas rambutnya sendiri frustrasi.

"Lihat aku, Len. Lihat betapa buruknya aku. Sophia benar dulu... aku ini pria yang kering perasaannya. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi romantis, tidak tahu caranya menenangkan wanita, tidak tahu caranya membuatmu bahagia seperti yang pantas kau dapatkan."

 

❤️ Pengakuan yang Menyakitkan

Air mata Alena sudah mengalir deras lagi mendengar semua itu. Dadanya terasa sesak campur aduk antara marah, sedih, dan haru.

Jadi selama ini pria itu bukan tidak cinta... dia hanya takut. Dia hanya tidak tahu caranya.

"Kenapa tidak bilang dari dulu?" bisik Alena menangis. "Kenapa harus menyiksa aku diam-diam?"

"Karena gengsi! Karena aku pria bodoh yang merasa mengakui rasa takut itu adalah kelemahan!" Adrian menatapnya lagi, wajahnya sangat dekat, napas mereka bercampur.

"Dengar aku, Alena. Aku tidak minta kau maafkan aku sekarang. Aku tahu aku banyak salah. Aku tahu aku menyakiti hatimu berkali-kali."

Adrian mengambil tangan Alena, menempelkan telapak tangan itu tepat ke dada kirinya sendiri, agar gadis itu bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu kencang dan tidak beraturan.

"Rasakan ini. Ini jantungku. Berantakan karenamu. Hancur karenamu. Dan hidup juga karenamu."

Dengan suara sangat pelan, sangat lembut, dan penuh kerendahan hati yang belum pernah dia tunjukkan pada siapapun, Adrian berbisik lirih.

"Aku tidak tahu cara mencintai dengan benar..."

"Tapi tolong... jangan tinggalkan aku. Ajari aku. Tunggu aku. Aku berjanji akan belajar. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi lebih baik. Hanya... tolong jangan pergi."

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!