Allyssa harus meninggalkan hidup nyamannya di Bandung dan memulai semuanya dari awal di Jakarta. Di sekolah barunya, ia mencoba menjalani kehidupan remaja seperti biasa, meski perlahan ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di sekitarnya.
Pertemuan dengan orang-orang baru, termasuk sosok misterius yang sulit dipahami, membuat hidup Allyssa berubah. Kejadian demi kejadian datang tanpa ia duga, seolah membawanya masuk ke dalam rahasia yang lebih besar.
Di tengah semua itu, ia hanya berpegang pada satu hal yang paling berarti—saudara kembarnya. Namun sebuah kejadian di malam yang seharusnya biasa saja, mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Allyssa menyadari bahwa tidak semua cerita berjalan sesuai harapan. Ada yang harus berhenti di tengah jalan—dan tak pernah sempat selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aynaaa12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 18
Di kelas Allyssa duduk di bangkunya. Pandangannya melihat sekilas ke arah isi kelas. Hanya beberapa orang di ruangan itu. Termasuk Gabriel yang memperhatikan Allyssa yang sejak tiba kelas dengan wajah menahan kekesalan. Ia tahu pasti, apa yang membuat gadis itu merasa kesal.
Tak lama, sesorang membuka pintu cukup keras. Laki-laki itu buru-buru menghampiri Allyssa yang sedang duduk di bangkunya.
“Lo punya pacar?” Tanya laki-laki itu pelan, tapi masih didengar oleh orang-orang yang ada di kelas itu.
Allyssa bingung. “Gue? Lo ngomong sama Gue?” sedikit memastikan. Ia tak dekat dengan laki-laki itu. Dia juga tak perlu menjelaskan apapun.
“Iya, Gue ngomong sama Lo!”
“Ngapain Lo nanya gitu? Gak jelas!”
“Karena Gue-....
“Apaan sih! Gak jelas tahu gak!"
“Lo masih gak ngerti! Gue-“ Ucapan laki-laki itu terhenti saat beberapa siswa masuk.
“Nanti istirahat temuin Gue di taman belakang.” Lanjutnya lagi, lalu berjalan ke luar kelas. Allyssa acuh. Dia tidak peduli.
‘Ogah banget Gue harus berurusan sama dia!’ Batin Allyyssa setelah melihat kepergian Althan.
Allyssa kemudian beralih melihat ke arah Gabriel yang juga menatapnya datar. Ia hendak menghampiri Gabriel namun niat itu ia urungkan. Dia akan berbicara dengan laki-laki itu nanti saja.
Beberapa siswa yang memang masih dalam kelas berbiik-bisik. Sementara kedua siswi yang baru masuk dan berpapasan dengan Althan tadi kaget saat Althan ke luar dari kelas itu.
“Kira-kira siapa yang Althan temuin ya?”
“Hebat banget tuh orang bisa disamperin most wanted sekolah!”
“Pengen disamperin Althan juga”
“Gak usah ngayal deh Lo!”
“Sewot amat Lo! Siapa tahu Althan diam-diam suka sama Gue!”
“Lagian khayalan Lo ketinggian Les! Mana mau Althan modelan kayak Lo!”
“Lun! Ko jahat bangat sih! Bukannya ngedukung malah bikin gue patah semangat!”
“Gue cuman gak mau Lo sakit hati Les!”
“Ah udahlah! Malas Gue ngomong sama Lo!” Ujar Valeska langsung duduk di bangkunya. Sementara Aluna hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya.
Siswa yang masuk barusan adalah Valeska dan Aluna.
...****************...
Setelah dipaksa oleh Aluna dan Valeska, di sini lah Alyssa berada. Kantin sekolah yang selalu ramai. Hal yang paling Allyssa benci, keramaian. Pusing, rasanya ingin menghilang. Ia tidak suka dengan bisikan-bisikan yang mebuat kepalanya berdenyut.
‘Sial! Ngapain lagi tuh orang!’ Batin Allyssa tak sengaja melihat Althan yang dari jauh berjalan dan sepertinya akan menghampiri mejanya.
Allyssa sungguh tidak suka membuat kehebohan. Tapi yang Althan lakukan membuat seisi kantin menatapnya. Ada yang menatapnya dengan penasaran. Ada juga yang menatapnya seolah ingin menelan dirinya hidup-hidup. Pasti setelah ini Allyssa akan semakin dibenci.
“Gue bilang temuin Gue di taman belakang!”
“Gue gak mau! Lagian Gue gak perlu jelasin apapun!”
“Gue gak suka ditolak Lysa!”
“Gue juga gak suka dipaksa!”
“Lo siswi baru, tapi berani sama Gue!”
“Gue gak takut!”
“Lo tuh ngeyel banget ya!” Ujar Althan menarik lengan Allyssa.
Allyssa tidak bisa menyeimbangi tenaga laki-laki itu. Keduanya pergi meninggalkan kantin dengan penghuninya yang sedang menatap tidak percaya.
“Apa-apan sih! Jangan maksa gitu dong!”
“Makanya kalau Gue bilang itu, nurut!”
“CKCKC. Gue benci Lo!”
“Gue bener-bener pengen ngomong sesuatu sama Lo.”
“Buruan!” Allyssa tidak bisa lagi menolak. Apa yang membuat laki-laki itu melakukan hal sampai seperti itu.
“Tapi, gue mau mastiin satu hal. Apa Lo bener-bener udah punya pacar?”
“Lo kenapa sih?! Kalaupun Gue punya pacar, urusannya sama Lo apa!?”
“Berarti dia saingan Gue!”
“Maksud Lo apaan sih?!”
“Gue tertarik sama Lo.”