Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Kebangkitan Jiwa Naga dan Bayang-Bayang Abadi
Kemenangan di Gunung Merapi bukan sekadar kemenangan biasa. Itu adalah titik balik yang mengguncang seluruh Nusantara. Berita tentang hancurnya Raja Kegelapan menyebar seperti api liar — dari ujung Sumatra hingga Papua. Paviliun Naga Emas kini bukan lagi sekte baru, melainkan kekuatan nomor satu yang ditakuti dan dihormati.
Arkan Wijaya berdiri sendirian di puncak Gunung Merapi yang masih mengeluarkan asap tipis tiga hari setelah pertempuran. Tubuh kekarnya terpapar cahaya matahari pagi, jubah hitam keemasannya berkibar ditiup angin gunung. Foundation Establishment Tingkat 9 puncak-nya sudah sempurna. Cincin Naga Emas di jari telunjuknya kini bersinar terang, seolah hidup dan bernapas bersama dirinya.
Tiba-tiba, cincin itu bergetar hebat. Arkan merasakan tarikan jiwa yang kuat. Tanpa ragu, ia duduk bersila dan membiarkan kesadarannya tersedot masuk ke ruang jiwa cincin.
Di dalam sana, dunia bukan lagi padang emas biasa. Ia berdiri di tengah lautan bintang emas yang tak berujung. Di hadapannya muncul sosok lengkap Naga Emas Agung — bukan bayangan, melainkan jiwa asli yang tertinggal di cincin selama ribuan tahun.
“Pewaris… kau telah melewati ujian kedua,” suara naga itu bergema seperti guntur di langit. “Sekarang, aku akan tunjukkan kebenaran yang sesungguhnya.”
Lautan bintang berubah menjadi gambaran masa lalu yang epik. Arkan melihat perang besar ribuan tahun lalu. Langit Nusantara terbelah, ribuan kultivator mati, darah membanjiri lautan. Naga Emas Agung bertarung sendirian melawan Raja Kegelapan yang berwujud naga hitam raksasa dengan tiga kepala.
“Dia bukan sekadar musuh… dia adalah saudaraku yang jatuh ke sisi kegelapan,” jelas Naga Emas Agung dengan suara sedih. “Kami berdua lahir dari inti bumi Nusantara. Tapi ia haus kekuasaan mutlak. Aku menyegelnya dengan mengorbankan tubuh fisikku. Cincin ini adalah hatiku yang tersisa. Setiap pewaris adalah harapan terakhirku untuk menjaga keseimbangan.”
Arkan merasakan emosi naga itu — kesedihan, penyesalan, dan harapan yang sangat dalam.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Arkan tegas.
Naga Emas Agung membuka sayap emasnya yang luas. “Segel ketiga akan terbuka saat kau mencapai Nascent Soul. Tapi sebelum itu, kau harus membersihkan tiga titik kegelapan tersisa di Nusantara: Gua Abadi di Kalimantan, Istana Bawah Laut di Flores, dan Altar Terlarang di Papua. Hanya setelah itu kau layak mewarisi kekuatanku sepenuhnya.”
Visi berakhir dengan ledakan cahaya. Arkan kembali ke dunia nyata dengan tubuh bergetar hebat. Seluruh Qi di sekitarnya tersedot masuk ke dantiannya. Langit di atas Gunung Merapi berubah warna menjadi emas cerah. Petir emas menyambar tubuh Arkan tanpa menyakitinya.
**BOOM!**
Arkan breakthrough ke **Half-Step Nascent Soul**. Tubuhnya mengeluarkan cahaya emas menyilaukan. Sisik naga samar muncul di kulitnya sesaat sebelum menghilang. Kekuatannya melonjak berkali-kali lipat.
Saat ia membuka mata, Sela sudah berada di depannya dengan wajah cemas dan kagum. Gadis itu langsung memeluknya erat.
“Kamu… kamu hampir membuat aku takut,” kata Sela, suaranya agak bergetar. “Cahaya emas itu terlihat hingga puluhan kilometer.”
Arkan membalas pelukan itu, mencium kening Sela dalam-dalam. “Aku baik-baik saja. Bahkan lebih dari baik. Cincin akhirnya menunjukkan jalan yang sebenarnya.”
Mereka turun gunung bersama. Di perkemahan, seluruh pasukan menyambut Arkan dengan sorak sorai penuh kekaguman. Aura Half-Step Nascent Soul-nya membuat semua orang berlutut secara naluri.
Malam harinya, di tenda utama yang mewah, Arkan menceritakan seluruh wahyu kepada Sela, Juanda, dan para tetua senior. Suasana menjadi hening sejenak.
“Jadi… ini bukan hanya perang antar sekte,” kata Juanda serius. “Ini adalah perang takdir antara cahaya dan kegelapan yang sudah berlangsung ribuan tahun.”
Arkan mengangguk. “Benar. Kita akan mulai dari Gua Abadi di Kalimantan. Tapi sebelum itu, kita harus memperkuat Paviliun hingga tak terkalahkan.”
Dua minggu kemudian, Paviliun Naga Emas menggelar Festival Kultivasi Besar. Ribuan kultivator dari seluruh Nusantara datang. Arkan memberikan ceramah tentang Dao Naga Emas di depan puluhan ribu orang. Suaranya yang dominan dan penuh wibawa membuat banyak orang terinspirasi.
Di puncak festival, Arkan dan Sela melakukan demonstrasi kekuatan bersama. Mereka bertarung secara simulasi di arena utama. Kombinasi serangan mereka begitu indah dan mematikan — Arkan sebagai kekuatan destruktif, Sela sebagai kontrol dan dukungan sempurna. Penonton bertepuk tangan meriah.
Malam penutupan festival, Arkan dan Sela menghabiskan waktu di puncak menara kultivasi pribadi. Bulan purnama menerangi wajah mereka.
Arkan menarik Sela ke pangkuannya. “Tanpa kamu, aku mungkin sudah gila karena beban cincin ini.”
Sela mencium bibirnya lembut lalu semakin dalam. “Maka biarkan aku menjadi kekuatanmu, seperti kamu adalah segalanya bagiku.”
Mereka menyatu di bawah bulan, gerakan penuh cinta, hasrat, dan kekuatan. Naga Qi mereka bercampur begitu kuat hingga membentuk bayangan naga emas kecil di atas menara. Arkan naik ke Half-Step Nascent Soul pertengahan, sementara Sela mencapai Foundation Establishment Tingkat 9.
Di akhir malam, saat mereka berpelukan dalam kelelahan yang manis, cincin di jari Arkan berkilau sekali lagi. Suara Naga Emas Agung bergema pelan di benaknya:
“Kasih sayang adalah kekuatan terbesar pewaris sejati…”
Arkan tersenyum, mencium rambut Sela yang wangi.
Perjalanan mereka masih panjang. Tiga titik kegelapan tersisa menanti. Musuh abadi masih mengintai di kegelapan. Tapi dengan Sela di sisinya, Arkan merasa tak ada yang mustahil.
Raja Naga Nusantara telah bangkit sepenuhnya.
Dan dunia akan segera menyaksikan kejayaannya yang sesungguhnya.
cerita bagus dan menarik, kak.
semangat🐳