NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUDUK BERSAMA

Ana mencoba berkonsentrasi pada bukunya. Setidaknya… itu rencananya. Namun kenyataannya, sosok di depannya terlalu sulit untuk diabaikan. Tangannya masih memegang gelas kopi. Uap tipis naik dari permukaannya, tapi perhatian Ana justru berkali-kali melayang ke pria yang duduk di seberang meja. Adi sudah duduk santai membuka bukunya, seolah situasi canggung beberapa menit lalu bukan hal besar. Dalam hati Ana masih berdebat dengan dirinya sendiri.

Pergi aja!.

Cari meja lain!.

Kenapa harus duduk sama dia?.

Coba keliling sedikit, pasti ada kursi kosong!.

Namun setelah ia melirik sekeliling kafe, harapannya langsung runtuh. Beberapa meja sudah dipenuhi mahasiswa yang sibuk dengan laptop, ada juga dua pasangan yang sedang ngobrol serius seperti sedang menyelesaikan masalah hidup. Sepertinya memang tidak ada kursi kosong yang benar-benar tenang. Satu-satunya meja yang relatif sepi… ya meja ini. Ana menghela napas pelan. Ya sudahlah. Anggap aja ini latihan kesabaran.

Beberapa menit berllau, ia membalik halaman bukunya, mencoba sekuat tenaga untuk benar-benar membaca. Namun, suasana ini tetap terasa... aneh. Sangat aneh.

Selama ini, interaksinya dengan Adi hanya sebatas di ruang kelas atau lorong kampus—selalu dalam koridor dosen dan mahasiswa yang kaku dengan jarak formal yang membentang lebar. Mengingat sifat dosennya yang hobi mengintimidasi mahasiswa lewat diskusi berat nan panjang, Ana bahkan tidak pernah membayangkan, apalagi menginginkan, berada dalam situasi seperti ini.

Duduk berdua di sebuah kafe, jauh dari papan tulis dan tumpukan jurnal, sungguh merupakan sebuah anomali yang tidak masuk akal dalam semesta hidupnya.

Ana mencoba membaca satu paragraf. Dua paragraf. Namun, usahanya sia-sia karena radarnya justru sibuk menangkap hal-hal kecil di depannya secara mendetail. Cara Adi duduk bersandar dengan santai, kemeja putihnya yang digulung hingga ke siku—yang harus Ana akui, terlihat sangat... ehm, seksi!—hingga kacamata tipis yang membingkai wajah seriusnya. Adi tampak sangat fokus, seolah-olah dunia di sekitarnya sudah melebur ke dalam barisan kalimat di bukunya.

Ana langsung mengumpat dalam hati, kesal pada pengkhianatan matanya sendiri.

Ngapain sih merhatiin dia? Baca buku, Ana! Fokus! Ingat, dia itu sumber penderitaan nilai-nilaimu, bukan model katalog kemeja pria! batinnya sambil berusaha keras mengalihkan pandangan, meski otaknya tetap saja memutar ulang visual lengan kemeja yang tergulung itu secara slow-motion.

Di seberang meja, tiba-tiba sebuah suara menginterupsi tanpa pemiliknya perlu repot-repot mengangkat kepala. “Kamu nggak baca bukunya?”

Ana tersentak, menatap dosennya dengan pipi yang mendadak terasa panas. Astaga... jangan-jangan dia sadar aku nggak fokus dari tadi? Apa kegelisahanku sekentara itu?.

Adi membalik halaman bukunya dengan gerakan santai yang menjengkelkan. “Sudah lima menit kamu buka buku itu, tapi baru membalik satu halaman. Itu pun sepertinya cuma karena ditiup angin.”

Ana terdiam sejenak, lalu mendengus pelan demi menyelamatkan harga dirinya. “Bapak sendiri nggak baca bukunya? Kok malah sibuk jadi CCTV yang mengamati orang?”

Adi akhirnya mengangkat kepala. Tatapannya begitu tenang, seolah tidak terganggu sama sekali. “Saya cuma mengamati hal yang menarik.”

Ana langsung menyipitkan mata, memasang mode siaga. “Menarik apanya?”

Adi menutup bukunya pelan, lalu menatap Ana lurus-lurus. “Kamu.”

Ana hampir saja menjatuhkan gelas kopinya. Jantungnya mendadak melakukan maraton tanpa pemanasan. Namun, Adi mengucapkan itu dengan nada sedatar orang yang sedang membahas ramalan cuaca.

Ana langsung memutar mata, berusaha menetralisir rasa mulas di perutnya yang mendadak penuh kupu-kupu liar. “Maksud Bapak apa?”

Adi tersenyum tipis—senyum maut yang bisa bikin mahasiswi lain pingsan berjamaah. “Nggak apa-apa. Kamu menarik karena... unik.”

Beberapa detik mereka saling menatap dalam keheningan yang canggung.

“Unik?” Ana mengulangi dengan nada penuh selidik. “Maksud Bapak unik itu alias aneh, ya? Atau kode kalau nilai tugas saya bakal unik juga angkanya?”

Tatapan Ana kembali tajam, persis seperti saat dia sedang dikuliti di kelas. Namun, justru tatapan itulah yang selalu membuat Adi ingin tersenyum. Adi tidak langsung menjawab. Ia mengetuk-ngetuk sampul bukunya sebentar, menatap Ana dengan ekspresi santai seolah sedang memilih diksi paling tepat dalam kamus besarnya.

“Ya, unik saja,” jawabnya akhirnya dengan nada misterius yang sukses membuat Ana semakin ingin melemparkan buku setebal lima ratus halaman itu ke arahnya.

Ana menyipitkan mata. “Penjelasan Bapak selalu gitu ya? Setengah-setengah.”

Adi tertawa kecil. “Oke, kalau mau dijelasin…”

Ia menunjuk sedikit ke arah Ana dengan ujung bukunya. “Kamu satu-satunya mahasiswa yang tiap saya panggil di kelas selalu kelihatan pengen debat sama saya.”

Ana langsung menyilangkan tangan. “Karena Bapak nyebelin.”

Adi mengangguk santai. “Nah itu.”

“Itu apa?”

“Itu yang bikin kamu menarik.” Ana mendengus pelan.

“Logikanya aneh.” Adi tersenyum lagi.

“Mahasiswa lain biasanya kalau saya tanya langsung gugup, jawab cepat, terus duduk lagi.” Ia berhenti sebentar. “Kamu beda....”

Ana mengangkat alis.“Bedanya?”

“Kamu berdiri, jawab… terus tatap saya kayak lagi nantang duel.”

Ana hampir tertawa, tapi ia menahannya. “Itu bukan nantang duel.”

“Itu apa?”

“Itu tatapan orang yang kesel.”

Adi tertawa lagi, kali ini sedikit lebih jelas. “Ya, itu sama aja.”

Beberapa detik mereka kembali diam. Ana meneguk kopinya. Lalu berkata santai, “Bapak tahu nggak, saya dulu benci banget sama Bapak.”

Adi mengangkat alis. “Dulu?”

Ana baru sadar ucapannya terlalu provokatif. Ia langsung memperbaiki, “Maksud saya… ya masih.”

Duh, bukannya memperbaiki situasi, malah menyiram bensin.

Adi tersenyum tipis. “Oh gitu.”

Ana memandangnya sedikit curiga. “Bapak kok santai banget dibilang gitu.”

Adi membuka bukunya lagi. “Saya dosen.”

“Maksudnya?”

“Saya sudah biasa dibenci mahasiswa.”

Ana mendengus. “Tapi saya yakin saya termasuk yang paling benci.”

Adi meliriknya sekilas. “Belum tentu.”

“Kenapa?”

Adi mengangkat bahu ringan. “Kalau kamu benar-benar benci…” ia berhenti sebentar lalu menatap Ana lagi, “kamu pasti sudah pindah meja dari tadi.”

Ana langsung terdiam. Ia melirik meja lain di kafe. Memang ada beberapa yang kosong sekarang. Ana kembali menatap Adi. Beberapa detik mereka saling pandang. Lalu Ana mendengus kecil sambil membuka bukunya lagi. “Bapak terlalu pede.”

Adi tersenyum tipis sambil kembali membaca. Dan entah kenapa—senyum itu muncul lagi. “Oh ya ada hal yang saya pengen tanyain dari dulu. Apa Bapak juga sering memanggil mahasiswa lain seperti di kelas?” tanya Ana. Adi sedikit mengangkat alis. “Maksud kamu?”

“Sering nanyain, sering manggil, terus senyum jahil dulu sebelum manggil.” Adi tertawa pelan mendengar jawaban Ana yang diluar ekspektasinya. Tawa yang singkat tapi tulus. “Kamu memperhatikan itu?”

Ana langsung sadar ia keceplosan. “Nggak juga sih, tapi emang kelihatan banget,” jawabnya cepat.

Adi bersandar di kursinya. “Kalau kamu merasa sering dipanggil…” ia berhenti sebentar, “…itu karena kamu sering punya jawaban yang menarik.”

Ana menatapnya tidak percaya. “Bapak serius?”

“Serius.”

Ana meneguk kopinya. Masih sedikit kesal. “Menurut saya Bapak cuma suka ngerjain saya.”

Adi tertawa kecil, sebenarnya ini sangat lucu untuk Adi, namun dia menahan diri. “Sedikit.”

Ana langsung menatap tajam. “Tuh kan.”

Adi mengangkat bahu ringan. “Tapi diskusi di kelas jadi lebih hidup.” Adi langsung membela diri.

Ana tidak menjawab, hanya mentap sinis ke arah Adi, lalu ia kembali membuka bukunya, mencoba membaca lagi. Namun beberapa detik kemudian ia berkata tanpa melihat ke atas,

“Pak.”

“Ya?”

“Kalau di kampus Bapak dosen saya.”

Adi menunggu. Ana melanjutkan,

“Di sini… kita pura-pura tidak saling kenal saja.”

Adi memandangnya beberapa detik. Lalu tersenyum kecil. “OK”

Ia membuka bukunya lagi. “Kalau begitu, Nona yang tidak saya kenal… silakan membaca dengan tenang.”

Ana hampir tersenyum. Tapi ia cepat-cepat menunduk agar tidak ketahuan. Beberapa detik ia mencoba membaca lagi.

Satu baris.

Dua baris.

Lalu ia menutup bukunya pelan. Ia menghela napas kecil, lalu menatap Adi. “Kalau gitu saya pamit aja ya, Pak,” katanya santai. Adi mengangkat pandangan dari bukunya.

“Kenapa?”

Ana berdiri sambil mengambil gelas kopinya. “Saya nggak bisa konsen baca di depan orang yang saya benci.”

Adi tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Ana sebentar. Lalu tersenyum kecil. Senyum tipis yang sama seperti di kelas. Ia bahkan sedikit menaikkan alisnya, seperti memberi tanda silakan. “Silakan,” katanya santai.

Ana mendengus pelan, lalu berbalik meninggalkan meja itu. Langkahnya cepat menuju pintu kafe. Beberapa detik kemudian pintu kaca terbuka dan ia keluar. Suasana di meja sudut itu kembali tenang. Adi menutup bukunya sebentar. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, memandang ke arah pintu tempat Ana baru saja pergi. Dalam hati ia membatin,

Gila juga ini cewek.

Bisa-bisanya ngomong benci langsung di depan orangnya. Apalagi orang itu dosennya sendiri. Kebanyakan mahasiswa bahkan tidak berani menatapnya terlalu lama. Tapi Ana? Bukan cuma menatap tajam. Ia juga mengatakannya langsung.

Adi menggeleng kecil sambil tersenyum sendiri. Harusnya sikap seperti itu terasa kurang ajar. Tapi entah kenapa justru terasa… lucu.

Dan semakin ia memikirkan ekspresi kesal Ana barusan— semakin jelas satu hal di kepalanya. Mahasiswi itu memang berbeda. Dan karena itu…

Ana terasa semakin menarik di matanya.

- - -

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!