NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Fajar Keadilan dan Rantai yang Terputus

BAB 29: Runtuhnya Menara Gading

​Cahaya putih kebiruan dari menara telekomunikasi itu membelah kabut malam Bukit Timah seperti pedang cahaya yang menghujam jantung kegelapan. Di bawah siraman cahaya yang menyilaukan itu, dunia seolah berhenti bernapas. Suara statis dari transmisi satelit beradu dengan deru angin badai, menciptakan simfoni kekacauan yang mengerikan sekaligus membebaskan.

​Aku berdiri mematung, menatap barisan layar monitor milik Vincent yang kini menampilkan peta dunia yang berpendar merah. Jutaan paket data telah terlepas, meluncur melalui serat optik bawah laut dan memantul di satelit-satelit luar angkasa, membawa rahasia paling busuk dari Dirgantara Group ke seluruh penjuru bumi.

​"Transmisi selesai. Seratus persen," suara Vincent terdengar lirih namun tajam, seperti dentingan lonceng kematian.

​Wijaya Dirgantara berdiri membeku. Alat kendali di tangannya perlahan-lahan merosot, seolah-olah benda itu tiba-tiba menjadi beban seberat gunung. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini tampak seperti topeng porselen yang retak seribu. Lampu indikator di ponselnya berkedip tanpa henti—ratusan notifikasi dari dewan direksi, bursa saham yang anjlok, dan mungkin, panggilan dari otoritas internasional yang kini menuntut kepalanya.

​"Kau..." Wijaya mendesis, suaranya parau oleh amarah yang membara di balik kerongkongannya. "Kau baru saja menghancurkan tatanan yang menjaga dunia ini tetap stabil, Anya. Kau pikir dengan menghancurkanku, dunia akan menjadi lebih baik? Kau hanya mengundang kekacauan."

​"Aku tidak menghancurkan tatanan, Wijaya," balasku, melangkah maju dengan kaki yang gemetar namun hati yang teguh. "Aku hanya meruntuhkan menara gading yang kau bangun di atas mayat-mayat orang yang kau hapus ingatannya. Dunia tidak butuh stabilitas yang didasari pada kebohongan."

​Tepat saat itu, Devan bergerak. Ia menyerbu seperti bayangan yang haus darah. Dua tentara bayaran Wijaya mencoba menembak, namun Devan lebih cepat. Ia menendang kaki salah satu dari mereka hingga terdengar bunyi tulang yang patah, lalu menggunakan tubuh pria itu sebagai tameng saat peluru lainnya menyalak.

​DOR! DOR!

​Bau mesiu dan belerang menyerbu inderaku. Aku bersembunyi di balik panel kontrol bersama Vincent, menutupi telingaku saat suara tembakan memekakkan ruang sempit di puncak menara itu. Devan bertarung dengan keganasan yang tidak pernah kulihat sebelumnya—ia bukan lagi pemuda yang hanya ingin menyelamatkanku, ia adalah manifestasi dari dendam sepuluh tahun yang akhirnya menemukan jalannya untuk meledak.

​"DEVAN, AWAS!" teriakku saat melihat salah satu tentara bayaran mencabut pisau taktis dan mengarahkannya ke leher Devan.

​Devan menghindar dengan gerakan yang hampir mustahil dilakukan manusia biasa. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya hingga pisaunya terjatuh, lalu menghantamkan kepalanya ke pilar baja menara dengan suara dentuman yang keras. Pria itu jatuh terkulai, menyisakan Wijaya yang kini berdiri sendirian, terpojok di tepi tebing yang terbuka.

​Wijaya menatap Devan dengan tatapan yang penuh dengan penghinaan terakhir. "Anak montir yang gigih. Kau seharusnya sudah mati di selokan Jakarta tiga tahun lalu."

​Devan berdiri tegak, napasnya memburu, wajahnya basah oleh darah dan air hujan. Ia menodongkan pistolnya tepat ke dahi Wijaya. "Nama ibuku adalah Ratna Mahendra. Dan kau adalah orang yang memberikan perintah untuk menyuntikkan zat itu padanya sampai dia tidak ingat lagi siapa anaknya. Hari ini, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melupakan wajahku, biarpun di neraka sekalipun."

​Tangan Devan yang memegang pistol bergetar hebat. Aku bisa melihat pertempuran di dalam matanya—antara keinginan untuk menarik pelatuk dan janji yang ia buat padaku untuk tidak menjadi monster seperti mereka.

​"Devan, jangan!" aku berlari keluar dari persembunyianku, mencengkeram lengan Devan yang bebas. "Jika kau membunuhnya sekarang, kau hanya akan memberinya jalan keluar yang mudah! Biarkan dia hidup dan melihat kerajaannya terbakar habis! Biarkan dia membusuk di penjara internasional dengan sisa-sisa ingatannya sendiri!"

​Devan menoleh padaku. Matanya yang merah perlahan mulai melunak. Air mata bercampur hujan mengalir di pipinya yang kasar. Di bawah cahaya menara yang berkedip, aku melihat seorang anak laki-laki yang hanya ingin ibunya kembali, bukan seorang pembunuh.

​Perlahan, Devan menurunkan pistolnya.

​"Kau beruntung, Wijaya," desis Devan. "Anya adalah satu-satunya alasan kenapa kau masih bernapas detik ini."

​Wijaya Dirgantara tertawa kecil—sebuah tawa yang kosong dan menyedihkan. Ia menatap ke arah laut lepas di bawah tebing Bukit Timah. Di kejauhan, sirene dari Singapore Police Force (SPF) mulai terdengar mendekat dari berbagai arah. Helikopter dengan lampu sorot raksasa mulai membelah kabut, mengarah tepat ke posisi kami.

​"Polisi Singapura tidak akan bisa melindungimu dari jaringan yang kau khianati, Anya," Wijaya berbisik, seolah-olah ia sedang memberikan nubuat terakhir. "Kau sudah membuka kotak pandora. Sekarang, kau akan melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali."

​Tanpa peringatan, Wijaya melangkah mundur. Ia menjatuhkan dirinya ke kegelapan tebing sebelum Devan sempat menangkapnya.

​"TIDAK!" teriakku, berlari ke tepi tebing.

​Kami hanya melihat kegelapan dan deburan ombak yang menghantam karang di bawah sana. Wijaya Dirgantara telah memilih jalannya sendiri—sebuah pelarian terakhir dari penghakiman dunia yang baru saja ia saksikan di layar monitor.

​"Kita harus pergi sekarang! Polisi akan sampai di sini dalam dua menit!" Vincent berteriak sambil merampas hard drive utamanya dan memasukkannya ke dalam ransel.

​Kami berlari menuruni jalur setapak yang tersembunyi, menghindari lampu-lampu sorot helikopter yang menyapu hutan Bukit Timah. Devan memimpin di depan, menebas semak-semak yang menghalangi jalan kami. Setiap langkah terasa seperti maraton melawan maut. Paru-paruku terasa terbakar, dan gejala putus obat yang mulai menyerang kembali membuat duniaku terasa goyang.

​"Bertahanlah, Anya! Sedikit lagi!" Devan merangkul pinggangku, menyeretku saat aku hampir terjatuh di atas tanah yang licin.

​Kami mencapai jalan aspal di kaki bukit tepat saat mobil-mobil polisi pertama memblokade jalan masuk utama. Vincent menunjuk ke sebuah perahu motor kecil yang disembunyikan di bawah jembatan kanal yang menuju ke arah Johor Bahru.

​"Naik! Kita harus menyeberang selat sebelum mereka menutup perbatasan laut!" Vincent menyalakan mesin perahu itu.

​Kami meluncur di atas air yang gelap, membelah selat yang memisahkan Singapura dan Malaysia. Di belakang kami, lampu-lampu kota Singapura masih berkilauan, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Namun aku tahu, di setiap ruang berita, di setiap kantor pemerintahan, dan di setiap layar ponsel di kota itu, dunia sedang bergejolak.

​Elegi yang selama sepuluh tahun ini terbungkam di dalam kepalaku kini telah menjadi lagu kebangsaan bagi perubahan.

​Aku bersandar pada bahu Devan yang masih basah. Ia memelukku erat, memberikan perlindungan terakhirnya di tengah pelarian kami yang belum usai. Kami tidak punya rumah untuk pulang, kami tidak punya identitas resmi, dan kami dicari oleh orang-orang paling kuat di dunia.

​Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar bebas.

​"Anya," bisik Devan di tengah deru mesin perahu.

​"Iya?"

​"Kau ingat janji kita di bawah pohon beringin? Bahwa kita akan lari sampai ke ujung dunia?"

​Aku tersenyum, menatap bintang-bintang yang mulai terlihat di balik awan yang menipis. "Sepertinya kita sudah sampai di sana, Van."

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​INT. RUANG PERPUSTAKAAN RUMAH KUSUMA - SORE HARI (10 TAHUN LALU)

​ANYA kecil (9 tahun) sedang duduk di lantai, membaca buku tentang petualangan. IBU ANYA (Melati) datang membawakan segelas susu hangat. Wajah Melati tampak sangat damai, meski di matanya tersimpan rahasia yang berat.

​IBU ANYA

"Anya, jika suatu hari nanti kau harus memilih antara hidup yang mudah tapi penuh kebohongan, dan hidup yang sulit tapi penuh kebenaran... mana yang akan kau pilih?"

​ANYA KECIL

"Anya mau pilih hidup bersama Ibu dan Devan. Apapun itu."

​IBU ANYA

(Tersenyum sedih, mengusap kepala Anya)

"Jawaban yang bagus, sayang. Ingatlah satu hal: menara gading yang megah seringkali dibangun di atas pondasi yang rapuh. Jangan pernah takut untuk meruntuhkannya jika itu artinya kau bisa membebaskan orang-orang yang terperangkap di dalamnya."

​Melati mengeluarkan lencana perak tua dari sakunya dan memberikannya pada Anya.

​IBU ANYA (CONT'D)

"Ini adalah kunci untuk membuka mata dunia. Suatu hari nanti, kau akan tahu kapan harus menggunakannya."

​Kamera fokus pada lencana perak di tangan kecil Anya yang berkilau terkena cahaya matahari sore, sebelum layar perlahan-lahan memudar menjadi warna hitam yang pekat.

​FADE OUT.

​Kapal motor kami terus melaju menembus kabut laut, meninggalkan Singapura yang kini sedang gempar. Di tanganku, aku menggenggam lencana perak itu—warisan terakhir Ibu yang kini telah menjalankan fungsinya.

​Elegi ini mungkin telah selesai dinyanyikan, namun hidup kami yang sebenarnya... baru saja dimulai.

​[BERSAMBUNG KE BAB 30]

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!