NovelToon NovelToon
Love In Chaos

Love In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
​Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Proyek "Hati di Jalanan"

Matahari Jakarta pagi itu terasa lebih menyengat, seolah-olah ikut memanaskan atmosfer di markas besar Alfarezel Group. Zeva berdiri di depan jendela kaca raksasa di ruang kerja Adrian, menatap kemacetan yang merayap di bawah sana seperti barisan semut besi. Ia mengenakan kemeja batik sutra berwarna cokelat tanah yang dipadukan dengan celana kulot hitam—pilihan Siska yang menurut Zeva "cukup sopan untuk kantor tapi nggak bikin gue sesek napas."

​Di tangannya, terdapat sebuah tablet yang menampilkan draf rencana kerja untuk Alfarezel Urban Care, sebuah divisi baru di bawah Yayasan Alfarezel yang Adrian percayakan padanya.

​"Adrian, lu beneran yakin?" tanya Zeva tanpa menoleh. "Lu liat nggak muka direktur-direktur tadi? Mereka kayak pengen nelen gue idup-idup pas gue bilang kita bakal hapus sistem denda buat pedagang kecil di pasar kita."

​Adrian, yang sedang sibuk menandatangani berkas di mejanya, mengangkat kepala. Ia meletakkan pena emasnya dan berjalan menghampiri Zeva. "Zeva, mereka itu pebisnis. Pikiran mereka cuma angka. Tapi bisnis yang nggak punya akar di masyarakat itu kayak gedung tinggi tanpa pondasi; gampang roboh kalau ada gempa skandal. Kau adalah pondasi itu."

​"Tapi gue bukan ahli ekonomi!" seru Zeva, berbalik menghadap Adrian. "Gue cuma tahu kalau harga cabai naik, Mpok Leha pusing. Kalau preman minta jatah, abang bakso nggak bisa bawa pulang uang buat sekolah anaknya. Itu ilmu pasar gue, bukan ilmu makro-mikro yang lu pelajari di Harvard."

​"Justru itu yang kita butuhkan," balas Adrian tenang. Ia mengambil tablet dari tangan Zeva dan menggeser layarnya. "Analisis lapanganmu soal distribusi bahan pokok di Pasar Tanah Merah itu lebih akurat daripada laporan konsultan yang harganya milyaran. Sekarang, ayo kita buktikan. Hari ini kunjungan lapangan pertama."

Kunjungan lapangan itu bukan dilakukan dengan limusin atau pengawalan ketat. Atas permintaan Zeva, mereka menggunakan mobil operasional yayasan yang sederhana—sebuah minibus putih tanpa logo mencolok. Adrian melepas jasnya, menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku, dan melepaskan jam tangan mewahnya.

​"Lu mau nyamar jadi kernet atau gimana?" goda Zeva saat melihat Adrian berusaha tampil "merakyat."

​"Aku hanya mencoba untuk tidak terlihat seperti sasaran empuk pencopet," jawab Adrian datar, meski ada kilat geli di matanya.

​Tujuan mereka adalah Pasar Tanah Merah, salah satu aset properti Alfarezel yang paling bermasalah. Pasar ini kotor, dikuasai oleh ormas lokal, dan para pedagangnya tercekik oleh biaya sewa yang tidak masuk akal.

​Begitu turun dari mobil, aroma khas pasar—perpaduan antara ikan asin, sayuran busuk, dan asap knalpot—langsung menyambut mereka. Zeva menghirup napas dalam-dalam, merasa seperti pulang ke habitat aslinya. Sementara itu, Adrian tampak sedikit tegang, meski ia berusaha menyembunyikannya dengan wajah datar khas bosnya.

​"Zevanya! Ya ampun, ini beneran si Zeva yang di TV itu?"

​Seorang wanita paruh baya dengan daster batik dan handuk kecil di lehernya berlari menghampiri mereka. Itu adalah Mpok Minah, penjual sayur langganan Zeva dulu.

​"Mpok! Apa kabar?" Zeva langsung menyalami wanita itu tanpa canggung, kontras dengan dua bodyguard berpakaian sipil yang berjaga di jarak lima meter.

​"Kabar buruk, Zev! Ini nih, orang-orang kantor pusat Alfarezel itu makin gila. Masa sewa lapak naik lagi? Mana atap bocor nggak dibenerin. Kita mau ngadu ke siapa? Eh, ini..." Mata Mpok Minah tertuju pada pria tinggi di samping Zeva. "...ini si Mas Ganteng yang tunangan kamu itu ya?"

​Zeva nyengir. "Iya, Mpok. Kenalin, ini Adrian. Bosnya Alfarezel yang paling gede."

​Mpok Minah melotot. Ia hampir menjatuhkan ikat kangkungnya. "Aduh, Pak Bos! Ampun Pak, saya tadi nggak maksud ngatain Bapak gila, cuma anak buah Bapak aja yang... aduh!"

​Adrian tersenyum kecil—sebuah senyum yang jarang ia tunjukkan pada kolega bisnisnya. "Tidak apa-apa, Mpok. Saya ke sini justru mau dengar langsung apa yang salah dengan tempat ini."

​Selama dua jam berikutnya, Zeva membawa Adrian berkeliling ke sudut-sudut paling kumuh dari pasar itu. Zeva menunjukkan kabel listrik yang semrawut, saluran air yang tersumbat, dan wajah-wajah lesu para pedagang. Adrian mencatat semuanya di ponselnya. Ia tidak lagi melihat angka-angka di layar komputer, ia melihat manusia.

Setelah berkeliling, Zeva mengajak Adrian duduk di sebuah warung kopi (warkop) di pojok pasar. Bangkunya kayu panjang yang sudah goyang, dan mejanya dilapisi taplak plastik bermotif bunga yang sudah pudar.

​"Pesen kopi item dua, Bang! Yang satu jangan pake gula, yang satu manis kayak janji mantan," teriak Zeva pada penjaga warkop.

​Adrian duduk dengan hati-hati, kakinya yang panjang terasa sempit di bawah meja kecil itu. "Jadi, ini cara kau bernegosiasi?"

​"Di sini, orang lebih jujur kalau perutnya anget sama kopi, Adrian. Lu nggak bisa bawa mereka ke ruang rapat ber-AC dan ngarep mereka bakal ngomong jujur. Mereka bakal takut," jelas Zeva.

​Benar saja, beberapa tokoh pedagang pasar mulai mendekat. Mereka awalnya ragu, namun karena ada Zeva yang mereka kenal sebagai "anak bengkel yang jujur," mereka mulai berani bicara.

​"Masalahnya bukan cuma sewa, Pak Adrian," ujar Pak Haji Usman, ketua paguyuban pedagang. "Tapi ada pihak ketiga yang narik uang keamanan setiap hari. Katanya itu instruksi dari manajemen pasar. Kalau nggak bayar, barang kita dirusak."

​Adrian mengernyit. "Saya tidak pernah mengizinkan ada pungutan liar atas nama Alfarezel."

​"Nah, itu dia masalahnya," sela Zeva. "Manajemen lu di bawah itu banyak yang 'main'. Mereka lapor ke lu semua baik-baik aja, tapi di sini mereka jadi raja kecil. Ini yang mau gue beresin di proyek Hati di Jalanan ini."

​Adrian menatap Zeva dengan tatapan baru—penuh kekaguman. "Kau ingin aku melakukan pembersihan besar-besaran di manajemen properti?"

​"Iya. Tapi bukan cuma pecat-pecatin orang. Gue mau lu kasih mereka sistem digital yang nggak bisa dimainin. Biar pedagang bayar langsung ke pusat lewat aplikasi, nggak lewat tangan orang. Dan uang itu sebagian harus balik lagi buat benerin atap pasar ini," usul Zeva semangat.

Saat mereka sedang asyik berdiskusi, suasana mendadak berubah tegang. Sekelompok pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam masuk ke area warkop. Pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka di pipi, menatap Adrian dengan sinis.

​"Wah, ada tamu agung rupanya. Bos besar Alfarezel turun gunung," ujar pria itu. Ia adalah Bang Jago, kepala preman yang selama ini memeras pasar tersebut.

​Adrian berdiri perlahan, auranya berubah menjadi dingin dan mengintimidasi. "Dan kau siapa?"

​"Gue yang punya aturan di sini. Lu punya gedungnya, tapi gue punya napasnya orang-orang di sini," tantang Bang Jago.

​Zeva berdiri di depan Adrian, menghalangi pria itu. "Bang Jago, jangan cari ribut. Kita ke sini mau benerin pasar, bukan mau ganggu urusan Abang. Tapi kalau Abang terus-terusan meras pedagang, itu urusan gue juga."

​"Wah, si Zeva sekarang udah jadi nyonya ya? Lupa sama asal-usul?" ejek Bang Jago sambil mencoba menyentuh bahu Zeva.

​Belum sempat tangan pria itu menyentuh Zeva, Adrian sudah mencengkeram pergelangan tangan Bang Jago dengan kecepatan yang mengejutkan. Kekuatan cengkeramannya membuat pria itu meringis.

​"Jangan pernah sentuh dia," desis Adrian. Suaranya rendah namun penuh ancaman yang mematikan. "Dan mulai hari ini, kekuasaanmu di pasar ini berakhir. Aku sudah merekam pembicaraan kita sejak tadi, dan tim hukumku sudah menunggu di depan bersama polisi."

​Sirine polisi terdengar dari kejauhan. Bang Jago dan anak buahnya mencoba kabur, namun dua bodyguard Adrian yang tadinya bersembunyi langsung bertindak. Dalam hitungan menit, area itu bersih.

​Para pedagang terdiam, lalu pecahlah sorak-sorai. Mpok Minah bahkan sampai menangis haru.

Kembali ke kantor saat matahari terbenam, Zeva dan Adrian duduk di sofa ruang kerja yang luas itu. Zeva tampak kelelahan, sementara kemeja Adrian sudah basah oleh keringat dan bau pasar.

​"Gila, lu tadi keren banget pas megang tangan Bang Jago," puji Zeva sambil menyandarkan kepalanya. "Gue pikir lu cuma jago megang pena."

​Adrian menatap tangannya sendiri. "Aku dulu pernah belajar bela diri saat tinggal di London. Ayahku bersikeras aku harus bisa melindungi diri sendiri karena posisi keluarga kita. Tapi baru hari ini aku merasa ilmu itu berguna untuk sesuatu yang benar."

​Adrian menoleh ke arah Zeva. "Terima kasih, Zeva. Hari ini kau membukakan mataku. Selama ini aku menganggap properti-properti itu cuma deretan angka di laporan tahunan. Aku lupa ada ribuan mimpi yang bergantung di sana."

​"Sama-sama, Bos Robot," sahut Zeva pelan. "Sekarang lu percaya kan kalau gue bisa jalanin yayasan ini?"

​"Aku tidak pernah ragu," jawab Adrian. Ia mengulurkan tangan, mengusap pipi Zeva yang masih sedikit kotor karena debu pasar. "Tapi kau harus janji satu hal. Jangan pernah melakukan aksi nekat seperti berdiri di depan preman tadi sendirian. Aku hampir jantungan melihatnya."

​Zeva tertawa. "Kan ada lu yang jagain gue."

​Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka. Di luar sana, lampu-lampu Jakarta mulai menyala, namun di dalam ruangan itu, ada cahaya yang lebih terang yang mulai tumbuh di antara mereka. Sebuah rasa yang bukan lagi sekadar kontrak bisnis, melainkan kemitraan jiwa yang saling melengkapi.

​"Besok kita ke pasar mana lagi?" tanya Adrian dengan nada bercanda.

​"Wah, jangan kapok ya! Besok kita ke pemukiman kumuh di pinggir rel. Kita bakal bahas soal air bersih," jawab Zeva semangat.

​Adrian menghela napas panjang, tapi ada senyum di bibirnya. "Baiklah, Nona Direktur. Aku akan siapkan sepatu ketsku."

​Namun, di balik kegembiraan itu, Adrian melihat sebuah notifikasi di ponselnya. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal yang berisi foto Adrian dan Zeva di warkop tadi dengan tulisan: “Nikmati waktumu di lumpur, Adrian. Karena sebentar lagi kau akan tenggelam di sana.”

​Adrian menutup ponselnya rapat-rapat. Ia tidak ingin merusak momen ini, namun ia tahu, badai besar sedang bersiap menerjang dari arah yang tidak terduga.

1
Desy Bengkulu
hooo begitu rupanya
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
Desy Bengkulu
ceritanya bagus , awalnya kek membosankan tapi pas mulai masuk rasa penasaran semakin merota🤣🤣
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣

semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!