Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Luka di lutut Adella berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang belum juga melambat. Ia memaksakan diri untuk berdiri di bayang-bayang gang sempit, menjauh dari cahaya lampu jalan yang seolah-olah berubah menjadi mata mata-mata Pak Adwan. Pesan singkat di ponselnya tadi adalah peringatan sekaligus teror: Pak Adwan tidak hanya memburunya secara fisik, tapi juga secara sistemik.
Adella menghapus air mata yang sempat menggenang karena rasa perih di matanya akibat sisa partikel merica. Ia harus berpikir. Jika ia ke rumah sakit, catatan medisnya akan sampai ke keluarga Adwan. Jika ia ke polisi, ia akan dijebak.
"Aku tidak bisa lari," bisik Adella pada dirinya sendiri. "Aku harus masuk kembali."
Satu-satunya keuntungan yang dimiliki Adella saat ini adalah Pak Adwan mengira dia sedang ketakutan dan bersembunyi. Pria itu tidak akan menyangka bahwa mangsanya akan kembali ke sarang predator di malam yang sama. Adella tahu, kakak Nadia masih ada di gudang bawah tanah perpustakaan itu. Jika pria itu dibunuh, maka bukti hidup terakhir akan hilang.
Adella menggunakan sisa uang di sakunya untuk membeli sebuah hoodie hitam kebesaran dan topi di pasar kaget pinggir jalan guna menutupi seragam sekolahnya yang sudah kotor. Ia juga membeli sebotol air mineral untuk membersihkan luka di lututnya secara darurat di toilet umum SPBU.
Pukul 21.00 WIB, Adella kembali ke area perpustakaan kota.
Gedung itu kini tampak seperti kastil tua yang angker. Lampu-lampu taman dinyalakan, namun area pintu belakang—tempat kejadian tadi—dijaga oleh dua pria berbadan tegap dengan seragam safari hitam. Bukan satpam biasa. Mereka adalah orang-orang bayaran keluarga Adwan.
Adella mengamati dari balik rimbunnya pohon tanjung di seberang jalan. Sisi pandainya mulai memetakan rute. Ia teringat penjelasan Pak Adwan di Bab 4 tentang restorasi gedung. Jika ada bagian bawah tanah yang tidak ada di peta, pasti ada akses utilitas atau saluran udara lama yang terhubung ke sana.
Ia mengitari gedung menuju sisi barat, tempat pipa-pipa AC besar dan jalur pembuangan air berada. Di sana, ia menemukan sebuah jendela basement kecil yang tertutup jeruji besi yang sudah berkarat.
"Tolong, semoga ini jalannya," gumam Adella.
Dengan tenaga yang tersisa, ia menggunakan potongan besi tua yang ia temukan di sekitar sana untuk mengungkit jeruji tersebut. Keberuntungan berpihak padanya; karena proyek restorasi yang belum tuntas, baut jeruji itu belum terpasang sempurna. Dengan susah payah, Adella menyelipkan tubuh kecilnya masuk ke dalam celah sempit itu.
Brukk.
Ia mendarat di lantai semen yang dingin dan berdebu. Ruangan itu gelap gulita, hanya ada cahaya bulan yang masuk tipis-tipis dari jendela atas. Bau di sini sangat berbeda dengan ruang referensi yang wangi kayu cendana; di sini baunya apak, lembap, dan amis.
Adella menyalakan senter kecil dari ponsel rahasianya. Cahaya redup itu menyapu ruangan, dan seketika Adella membeku.
Di dinding ruangan itu, terdapat puluhan foto yang ditempel dengan rapi. Bukan foto pemandangan, melainkan foto-foto siswi berseragam SMA Persada dan SMA Tunas Bangsa. Semua foto itu diambil secara diam-diam—dari balik pohon, dari dalam mobil, atau dari celah pintu kelas.
Dan di tengah-tengah dinding itu, terdapat sebuah bingkai besar yang masih kosong. Di bawah bingkai itu, tertulis sebuah nama dengan tinta emas yang elegan: ADELLA.
"Jadi ini... 'perpustakaan' yang dia maksud," bisik Adella ngeri.
Adella menyadari bahwa dia bukan sekadar murid yang disukai. Dia adalah proyek utama. Pak Adwan telah merencanakan setiap detail hidup Adella jauh sebelum pertemuan pertama mereka di kelas.
Tiba-tiba, terdengar suara erangan pelan dari balik tumpukan kotak kayu di pojok ruangan. Adella mematikan senternya dan bersembunyi di balik pilar beton.
"Tolong... siapa pun..."
Itu suara pria. Suara yang parau dan lemah.
Adella mendekat dengan waspada. Di sana, tergeletak seorang pria dengan jaket gelap yang sudah robek-robek. Tangannya terikat ke pipa besi. Wajahnya lebam, namun matanya masih menyiratkan amarah. Itu adalah kakak Nadia.
"Sstt! Jangan berisik," Adella membekap mulut pria itu pelan. "Saya Adella. Saya yang mengirim pesan tadi."
Pria itu menatap Adella dengan tidak percaya. "Kamu... kamu kembali? Kamu gila? Dia akan membunuhmu!"
"Dia tidak akan membunuhku di sini, setidaknya belum sekarang," jawab Adella sambil mencoba membuka ikatan tali pria itu dengan pisau lipat kecil yang ia temukan di kotak perkakas dekat sana. "Kita harus keluar sekarang. Dia punya kuasa atas polisi, kita harus membawa bukti ini ke luar kota."
"Tidak bisa," kakak Nadia terbatuk darah. "Dia punya rekaman kamera di mana-mana. Begitu kita keluar dari pintu ini, orang-orangnya akan mencegat kita. Satu-satunya alasan aku masih hidup adalah karena dia ingin aku melihatmu... melihatmu menjadi koleksi barunya."
Adella berhenti menarik tali itu sejenak. Otaknya yang pandai mulai menyusun rencana baru. Jika Pak Adwan adalah arsitek dari sistem ini, maka Adella harus merusak fondasinya, bukan hanya lari dari pintunya.
"Dia bilang dia punya 'kuasa'," ujar Adella dengan tatapan dingin yang belum pernah dilihat siapa pun. "Tapi kuasa itu berdasarkan nama baik keluarga. Bagaimana jika kita hancurkan nama baik itu dalam satu malam?"
"Caranya?" tanya kakak Nadia lemas.
Adella mengambil ponsel milik kakak Nadia yang tadi dilempar Pak Adwan di dasbor (yang ternyata sempat Adella ambil kembali saat ia melompat keluar mobil, sebuah detail kecil yang luput dari penglihatan Pak Adwan yang sedang kesakitan).
"Kita tidak akan lari ke polisi. Kita akan melakukan live streaming dari dalam sini," ujar Adella. "Biarkan seluruh kota melihat apa yang ada di bawah gedung yang kakeknya bangun ini."
Namun, tepat saat Adella hendak menyalakan koneksi internet, suara langkah kaki sepatu pantofel yang sangat familiar terdengar dari tangga di atas mereka.
Tak. Tak. Tak.
Irama yang tenang. Irama yang berkuasa.
"Adella... saya tahu kamu akan kembali. Kamu terlalu cerdas untuk sekadar lari, tapi terlalu polos untuk menyadari bahwa saya selalu membiarkanmu merasa menang," suara Pak Adwan bergema melalui sistem pengeras suara di ruangan bawah tanah itu.
Lampu neon di langit-langit berkedip dan menyala satu per satu, menyilaukan mata Adella. Di ujung ruangan, di balik pintu besi yang kokoh, Pak Adwan berdiri dengan pakaian yang sudah kembali rapi, memegang sebuah remot kontrol kecil.
"Selamat datang di bab terakhir dalam pendidikanmu, Adella," ujar Pak Adwan sambil tersenyum lebar.
Adella menyipitkan mata, berusaha menghalau cahaya neon yang menghujam pupilnya. Di bawah pendar putih yang dingin itu, sosok Pak Adwan tampak hampir seperti malaikat jika saja senyumnya tidak memancarkan kegelapan yang begitu pekat. Pria itu berdiri dengan tenang, tidak ada lagi sisa-sisa kemarahan akibat semprotan merica di wajahnya. Hanya ada kepuasan seorang kurator yang melihat barang jarahannya kembali ke dalam etalase.
"Bapak sengaja membiarkan kunci pintu mobil itu terbuka, kan?" suara Adella bergetar, tapi bukan karena takut. Itu adalah getaran amarah yang murni. "Bapak membiarkan saya lari agar saya punya alasan untuk kembali ke sini."
Pak Adwan bertepuk tangan pelan, suaranya bergema di antara dinding-dinding beton. "Sepuluh untuk analisismu, Adella. Kamu tidak akan pernah merasa memiliki tempat ini jika kamu tidak memilih untuk datang sendiri. Kamu bukan lagi tawanan; kamu adalah penghuni yang sukarela."