Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pak RT menghela napas panjang, gurat kelelahan dan beban moral terpahat jelas di wajahnya yang mulai keriput.
Ia memandang ke arah Zaidan yang masih terduduk lemas, lalu beralih pada Sulfi yang tampak sangat rapuh.
"Neng Sulfi, bagaimana?" tanya Pak RT pelan, seolah berat untuk menanyakan hal itu.
"Saya tidak mau, Pak! Saya benar-benar tidak kenal dengan lelaki ini," jawab Sulfi dengan suara yang mulai serak karena menahan tangis.
"Bagaimana mungkin saya menikah dengan orang yang baru saja menjebol pintu saya?"
"Jangan bohong!!" teriak wanita berdaster bunga-bunga tadi dari kerumunan.
"Bilang saja kalian sudah janjian, tapi aksinya ketahuan warga!"
Suasana kembali memanas. Pak RT sadar bahwa massa di luar sudah tidak bisa diajak bicara logika.
Jika ia melepaskan Zaidan begitu saja, warga mungkin akan melakukan tindakan main hakim sendiri yang lebih parah.
"Neng Sulfi, ikut Bapak sebentar ke dalam," ujar Pak RT sambil memberi isyarat agar Sulfi mengikutinya ke kamar.
Di dalam kamar yang hanya dibatasi oleh sekat kayu tipis, suara riuh warga di luar terdengar seperti dengungan lebah yang mengancam.
Pak RT menutup pintu, lalu menatap Sulfi dengan pandangan kebapakan.
"Sulfi, Bapak tahu kamu wanita baik-baik. Bapak tahu kamu tidak mungkin melakukan hal sehina itu," bisik Pak RT pelan agar tidak terdengar ke luar.
"Tapi situasinya sudah seperti ini. Warga sudah melihat pria itu di dalam saat kamu hanya memakai handuk. Fitnah ini tidak akan pernah hilang kalau tidak diselesaikan sekarang."
Sulfi tertunduk, air matanya mulai luruh membasahi pipi.
"Almarhum kedua orang tuamu juga sudah menitipkan kamu ke saya sebelum mereka tiada," lanjut Pak RT dengan nada yang melunak, hampir memohon.
"Bapak tidak mau melihat kamu diusir secara tidak hormat dari kampung ini atau disakiti warga. Ini demi keselamatanmu, Neng. Menikahlah dengannya, setidaknya sampai keadaan tenang."
Sulfi terisak. Di kepalanya terbayang wajah mendiang ayahnya.
Ia tidak punya pilihan lagi, Jika ia menolak, ia akan dicap sebagai wanita pezina seumur hidupnya di kampung ini.
"Baik, Pak. Kalau itu memang satu-satunya jalan," bisik Sulfi nyaris tak terdengar.
Ia menyeka air matanya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang masih ada.
Sulfi mengangguk pelan, pasrah pada nasib yang melemparkannya ke dalam pelukan seorang pria asing.
Di balik pintu, Zaidan masih sibuk memikirkan cara menjelaskan semua ini pada Maya.
Ia sama sekali tidak menduga bahwa di dalam kamar itu, Sulfi baru saja menyetujui sebuah pernikahan yang didasari ketidaktahuan dimana Sulfi tidak tahu bahwa pria yang akan menikahinya beberapa saat lagi adalah seorang suami yang sudah memiliki komitmen di tempat lain.
Pak RT keluar dari kamar dengan wajah tegang. Ia menatap ke arah warga, lalu ke arah Zaidan.
"Panggilkan penghulu sekarang. Pernikahan siri akan dilakukan malam ini juga."
Zaidan terhenyak. Dunia di sekitarnya seolah runtuh seketika.
Suasana ruang tamu yang tadinya gaduh mendadak senyap, menyisakan ketegangan yang menyesakkan dada.
Pak Bakri, sang penghulu desa yang datang dengan napas sedikit tersengal karena dibangunkan mendadak, kini sudah duduk bersila di atas tikar pandan.
Di samping kiri dan kanannya, Pak RT dan Pak RW duduk sebagai saksi, wajah mereka tampak kaku dan serius.
Zaidan merasa seperti sedang bermimpi buruk. Ia menatap tangannya yang gemetar.
Di dalam benaknya, wajah Maya melintas—wajah istrinya yang sedang menunggunya pulang untuk makan malam. Namun, di depannya kini ada kenyataan pahit yang tak bisa ia hindari.
"Ayo, Mas. Jangan melamun. Genggam tangan saya," instruksi Pak Bakri dengan suara serak.
Zaidan perlahan mengulurkan tangan, menjabat tangan Pak Bakri. Dingin.
Tangannya sedingin es, sementara telapak tangan sang penghulu terasa kasar dan hangat.
Di sudut ruangan, Sulfi duduk menunduk dengan kerudung seadanya yang dipinjamkan tetangga. Ia tak berani mengangkat wajahnya dan merasa dunianya runtuh, namun ia tak punya kekuatan untuk melawan arus massa yang sudah mengepung rumahnya.
Pak RT sibuk mencoretkan sesuatu di atas selembar kertas segel sebagai catatan sementara.
Matanya melirik ke arah Sulfi lalu menuliskan nama dengan guratan pena yang tegas: Sulfi Mentari binti (Alm) Farhan.
"Saksi sudah siap?" tanya Pak Bakri melirik ke arah Pak RT dan Pak RW.
"Siap," jawab mereka serempak.
Pak Bakri kemudian menatap Zaidan dengan tajam, seolah menembus relung hatinya.
"Mas Zaidan, karena tidak ada persiapan, mas kawinnya saya tetapkan sesuai kesepakatan tadi ya. Uang lima ratus ribu rupiah, dibayar tunai."
Zaidan merogoh saku celananya dengan gerakan mekanis.
Di sana ada beberapa lembar uang seratus ribuan—uang yang tadinya ia siapkan untuk membeli hadiah ulang tahun pernikahan mereka minggu depan.
Kini, uang itu harus berpindah tangan untuk alasan yang paling absurd dalam sejarah hidupnya.
"Baik, Mas. Ikuti ucapan saya," ujar Pak Bakri mulai menjabat tangan Zaidan lebih erat.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Zaidan bin..." Pak Bakri menjeda sejenak, menunggu Zaidan menyebut nama ayahnya.
Zaidan menarik napas panjang. Paru-parunya terasa menyempit.
Ia tahu, begitu kalimat ini selesai diucapkan, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia akan menjadi seorang suami dari dua istri, dan salah satunya dinikahi di bawah ancaman balok kayu warga.
"Zaidan bin... Ibrahim," ucapnya lirih.
"Dengan mahar tersebut, dibayar tunai!" suara Pak Bakri meninggi, menggetarkan ruangan itu.
Zaidan memejamkan mata erat-erat. Dengan satu tarikan napas dan suara yang bergetar hebat, ia mengucapkan kalimat yang mengubah takdirnya.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Sulfi Mentari binti almarhum Farhan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?"
"SAHHH!" seru warga di luar jendela dengan nada puas.
Zaidan tertunduk lesu. Di balik pintu yang hancur, ia merasa masa depannya ikut hancur bersamaan dengan kata "Sah" yang diteriakkan warga. S
Sementara itu, Sulfi hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, terisak dalam diam atas pernikahan yang tak pernah ia impikan.
Setelah suasana yang tegang itu perlahan mencair dengan ucapan doa, Pak Bakri membetulkan letak pecinya.
Ia menatap Zaidan dan Sulfi bergantian dengan tatapan yang kini lebih melunak, namun tetap penuh wibawa.
"Mas Zaidan," suara Pak Bakri memecah keheningan.
"Mungkin cara kalian bertemu bukan yang paling indah. Mungkin ini bukan rencana yang Mas susun. Tapi perlu diingat, di dalam agama kita, tidak ada yang namanya kebetulan. Garis tangan sudah membawa Mas ke rumah ini, ke hadapan Neng Sulfi."
Pak Bakri menghela napas pendek, lalu melanjutkan nasehatnya.
"Pernikahan itu bukan cuma soal tanda tangan atau ucapan 'sah'. Itu adalah janji besar kepada Sang Pencipta. Sekarang, Neng Sulfi sudah menjadi tanggung jawabmu. Lindungi dia, nafkahi dia, dan bimbing dia. Jangan karena kejadian malam ini, Mas jadi merendahkannya. Dia sekarang adalah istrimu, pakaianmu, dan kehormatanmu."
Zaidan hanya bisa tertunduk, meresapi setiap kata yang terasa seperti beban berton-ton di pundaknya.
Sementara itu, Pak RT berdeham dan ikut mendekat. Ia menepuk bahu Zaidan dengan tangan yang kasar.
"Mas Zaidan, saya mewakili warga di sini," ujar Pak RT dengan nada bicara yang kini lebih tenang namun sangat serius.
"Saya tahu Mas orang berpendidikan, mungkin orang penting di kota. Tapi di sini, Sulfi adalah warga saya, sudah seperti anak saya sendiri."
Pak RT beralih menatap Sulfi yang masih terisak pelan, lalu kembali menatap Zaidan.
"Sulfi ini yatim piatu, Mas. Dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk bersandar. Almarhum Pak Farhan itu orang baik. Jadi, saya titipkan Sulfi kepadamu. Saya mohon dengan sangat, tolong jaga dia baik-baik. Jangan sakiti hatinya, jangan sia-siakan dia. Jika suatu saat Mas merasa sudah tidak sanggup, kembalikan dia kepada kami dengan cara yang baik, jangan ditinggalkan begitu saja di tengah jalan."
Zaidan menelan ludah. Kata-kata "titipan" dari Pak RT seolah mengunci rapat pintu pelariannya.
"Dan untuk Neng Sulfi," tambah Pak RT.
"Berbaktilah pada suamimu. Apapun yang terjadi malam ini, mulai detik ini, surga dan ridhomu ada pada Mas Zaidan. Belajarlah untuk saling menerima."
Di tengah nasehat yang menyentuh itu, pikiran Zaidan justru melayang liar.
Ia merasa menjadi pria paling jahat di dunia karena ia tahu satu fakta yang tidak diketahui oleh orang-orang di ruangan itu: di kota sana, ada seorang wanita bernama Maya yang statusnya juga masih sebagai istri sah yang ia cintai.
"Iya, Pak. Insyaallah," jawab Zaidan lirih, sebuah jawaban yang lebih terdengar seperti bisikan pasrah daripada janji suci.
Setelah itu satu per satu warga mulai meninggalkan halaman rumah, meninggalkan keheningan yang terasa asing dan canggung.
Pak RT dan Pak Bakri pun berpamitan setelah kembali memberikan wejangan singkat, menyisakan Zaidan dan Sulfi di tengah reruntuhan pintu yang sudah diganjal seadanya.
Zaidan berdiri mematung di tengah ruangan yang sempit itu.
Ia menatap Sulfi—istrinya, seseorang yang bahkan nama lengkapnya baru ia dengar beberapa menit lalu saat ijab kabul.
Wajah Sulfi tampak sangat letih; matanya sembap dan sisa-sisa air mata masih mengintip di sudut matanya.
"Maaf, Mbak. Saya benar-benar minta maaf," ucap Zaidan dengan suara parau.
"Saya tidak pernah bermaksud membuat hidup Anda berantakan seperti ini."
Sulfi menarik napas panjang, mencoba menghentikan isaknya.
Ia menghapus air matanya dengan ujung daster, namun ia tidak sanggup menatap mata Zaidan terlalu lama.
Rasanya masih seperti mimpi buruk yang enggan usai.
"Sudahlah, Mas. Nasi sudah jadi bubur," sahut Sulfi lirih, suaranya terdengar pasrah namun tidak ada nada dendam di sana.
"Kita istirahat dulu saja, besok baru kita bahas mau bagaimana ke depannya. Mas pasti capek."
Sulfi kemudian berjalan masuk ke dalam kamar, lalu keluar membawa selembar sarung kotak-kotak dan kaos oblong putih yang tampak rapi namun aromanya sudah tercium bau lemari yang lama disimpan.
"Ini, pakaian milik almarhum Ayah. Mungkin sedikit besar di badan Mas, tapi setidaknya lebih bersih daripada baju Mas yang kotor itu," ujar Sulfi sambil menyerahkannya pada Zaidan.
Zaidan menerima pakaian itu dengan tangan sedikit gemetar.
Ada rasa hangat sekaligus sesak di dadanya. Pria itu menunjuk ke arah kamar dengan ragu.
"Lalu, saya tidur di mana?" tanya Zaidan.
Sulfi terdiam sejenak saat mendengar perkataan dari suaminya
"Masuk saja ke kamar. Tidak enak dilihat tetangga kalau Mas tidur di luar, nanti mereka berpikir yang tidak-tidak lagi. Saya tidur di ranjang, Mas bisa di lantai atau terserah Mas saja."
Zaidan mengangguk pelan. Ia mengikuti langkah Sulfi masuk ke dalam kamar.
Kamar itu kecil, hanya ada satu kasur kapuk, sebuah lemari kayu tua, dan meja rias sederhana.
Di sana, Zaidan menyadari satu hal: malam ini ia tidak akan pulang ke rumahnya, tidak akan bertemu Maya, dan harus berbagi ruang dengan wanita yang kini sah menyandang status sebagai istrinya di mata agama dan warga.
Dunia di luar sana mungkin sudah gelap, namun badai di dalam hati Zaidan baru saja dimulai.