"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Akad di Bawah Tatapan Sunyi
Pagi itu, kediaman keluarga Adhitama diselimuti suasana khidmat yang sederhana. Tidak ada dekorasi bunga yang megah atau ratusan tamu undangan. Hanya ada penghulu, saksi, dan orang tua Arini yang menyaksikan melalui sambungan video call dari Surabaya dengan isak tangis bahagia.
Arini tampak sangat anggun mengenakan kebaya putih tulang milik almarhumah ibunda Baskara. Di sampingnya, Baskara duduk dengan tegap. Setelan jas hitamnya membuat pria itu tampak dua kali lipat lebih berwibawa. Namun, Arini bisa merasakan betapa kencangnya genggaman tangan Baskara di bawah meja—pria itu gugup, meski wajahnya sedingin es.
"Saya terima nikah dan kawinnya Arini Kusuma binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Sah?"
"SAH!"
Seketika, beban di pundak Arini seolah luruh. Baskara menutup acara itu dengan doa yang tulus, lalu ia berbalik menatap Arini. Tanpa aba-aba, di depan penghulu yang masih merapikan berkas, Baskara menarik tengkuk Arini dan mengecup kening istrinya itu sangat lama.
"Sekarang, tidak ada yang bisa membawamu pergi dariku. Kamu tanggung jawabku sepenuhnya, dunia dan akhirat," bisik Baskara, suaranya parau oleh emosi.
Namun, di tengah momen manis itu, bulu kuduk Arini meremang. Ia melirik ke arah sudut ruangan, dekat pintu jati besar menuju ruang kerja Ayah Baskara.
Di sana, Sari berdiri.
Gadis itu mengenakan seragam pelayan yang rapi namun kusam. Ia tidak menangis kali ini. Sari hanya menatap Baskara dengan tatapan yang sangat dalam—perpaduan antara cinta yang tak tersampaikan dan kesedihan yang membeku. Sari memegang sebuah kunci tua di tangannya, lalu ia menunjuk ke arah lantai atas, tepatnya ke arah kamar kerja Tuan Adhitama.
"Rin? Ada apa?" tanya Baskara, menyadari pandangan istrinya yang teralih.
Arini langsung menggeleng, berusaha tersenyum. "Tidak apa-apa, Bas. Aku hanya... masih merasa seperti mimpi."
Mika muncul di belakang Arini, ia mengenakan cheongsam baru berwarna putih transparan hasil imajinasi gaibnya. "Rin, selamat ya! Akhirnya sah! Tapi... hantu cewek di pojok itu siapa? Auranya beda, sedih banget tapi kayak mau ngomong sesuatu yang besar."
"Nanti kuceritakan, Mika," batin Arini.
Malam harinya, rumah itu menjadi sangat sunyi. Ayah Baskara, Tuan Adhitama, sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis, meninggalkan pasangan baru itu di rumah besar tersebut.
Baskara membawa Arini ke kamar utamanya. Ia mengunci pintu dengan rapat. Suasana mendadak menjadi sangat intim. Baskara melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang kancing atasnya dibuka, memperlihatkan sisi maskulin yang membuat Arini salah tingkah.
Baskara berjalan mendekat, memerangkap Arini di antara tubuhnya dan pintu yang tertutup. Ia menunduk, menghirup aroma melati yang masih tertinggal di rambut Arini.
"Mulai sekarang, kamar tamu itu dilarang untukmu. Kamu tidur di sini, denganku," ucap Baskara dengan nada posesif yang tidak bisa dibantah. Ia mencium leher Arini dengan lembut, membuat Arini memejamkan mata. "Aku tahu kamu masih takut soal kejadian semalam. Tapi sekarang aku suamimu. Apapun yang kamu lihat, ceritakan padaku. Jangan dipendam sendiri."
Arini memeluk pinggang Baskara, merasakan kehangatan yang nyata. "Bas... kalau aku bilang rumah ini menyimpan rahasia tentang Sari, apa kamu mau mendengarku?"
Baskara terdiam. Nama Sari seolah menjadi pemicu memori buruk baginya. Ia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mata Arini dengan serius. "Sari? Anak pembantu yang... bunuh diri itu? Kenapa tiba-tiba bahas dia?"
"Dia tidak bunuh diri, Bas. Dia ada di sini tadi siang, saat kita akad," bisik Arini jujur.
Tiba-tiba, terdengar suara BRAK! dari lantai atas. Suara sesuatu yang berat jatuh tepat di ruang kerja Tuan Adhitama.
Baskara langsung waspada. Ia menarik Arini ke belakang tubuhnya. Insting jaksanya bangkit. Namun, yang membuat mereka merinding bukan hanya suaranya, melainkan suara tangisan Sari yang menggema lewat celah ventilasi udara, menyanyikan lagu nina bobo yang dulu sering ia dengar saat Baskara kecil masih berada di rumah.
"Jangan ke sana, Bas..." cegah Arini.
Baskara justru mempererat pegangannya pada tangan Arini. "Tidak. Jika dia ingin bicara lewat kamu, maka kita akan cari tahu kebenarannya sekarang. Aku tidak ingin ada 'penghuni' lain yang mengganggu ketenangan istriku."
Dengan langkah berani, Baskara membimbing Arini naik ke lantai atas, menuju rahasia gelap yang selama ini terkunci rapat di balik nama besar keluarga Adhitama.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣