[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kurang Rumah Mewah
Olyvia menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah iklan properti. Gambar rumah minimalis modern dengan dinding kaca, kolam renang infinity, dan taman tropis yang tertata rapi. Ia menghela napas.
Mobil udah. Baju udah. Muka glowing udah. Tapi tempat tinggal gue masih apartemen studio dua puluh empat meter yang bahkan gak muat buat lemari baju baru gue.
Memang, apartemen mungilnya di Green Park sudah tidak lagi merepresentasikan dirinya yang baru. Tiga hari belanja gila-gilaan membuat lemari kecilnya meledak. Paper bag dari butik-butik mahal bertumpuk di sudut ruangan seperti gunung kardus. Belum lagi sepatu-sepatu baru yang tidak punya rak khusus. Setiap pagi ia harus melompati tumpukan belanjaan hanya untuk mencapai kamar mandi.
Gue butuh rumah. Rumah beneran. Bukan kos-kosan berkedok apartemen.
Ia membuka aplikasi properti dan mulai mencari. Filter: rumah dijual, Surabaya, harga tertinggi. Matanya langsung tertuju pada satu iklan.
Royal Garden Estate - The Palace Residence
· Luas tanah: 2.000 m²
· Luas bangunan: 1.200 m²
· 7 kamar tidur utama dengan kamar mandi dalam
· 2 kamar tidur pembantu
· Kolam renang infinity 25 meter
· Home theater 12 kursi
· Gym pribadi lengkap
· Ruang wine bawah tanah
· Taman tropis dengan air terjun buatan
· Garasi untuk 6 mobil
· Harga: Rp420.000,- (nego)
Olyvia membaca spesifikasi itu dengan mata berbinar. Empat ratus dua puluh ribu rupiah. Di dunia normal itu empat koma dua miliar. Di dunia gue? Cukup buat beli nasi Padang sebulan.
Ia langsung menekan tombol "Hubungi Agen".
Royal Garden Estate - Surabaya Barat
Kompleks perumahan mewah itu dijaga ketat oleh satpam berseragam hitam. Gerbang besi tinggi dengan logo kerajaan berlapis emas terbuka otomatis begitu Olyvia menyebut namanya. BMW biru midnight-nya melaju pelan menyusuri jalanan kompleks yang lebar dan mulus, diapit pohon palem raksasa yang tertata rapi.
Gila. Ini perumahan apa taman wisata?
Ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah contoh yang megah. Bangunan dua lantai dengan fasad marmer putih dan kaca-kaca besar. Seorang sales wanita berpenampilan profesional menyambutnya di pintu.
"Selamat siang. Saya Ratna, sales representative Royal Garden Estate. Dengan Ibu...?"
"Olyvia Arabella. Saya sudah hubungi via chat tadi."
Ratna tersenyum lebar. "Ah, betul. Silakan masuk, Mbak Olyvia. Kita bisa lihat rumah contoh dulu sambil diskusi."
Mereka masuk ke dalam. Olyvia langsung terpesona. Ruang tamu luas dengan langit-langit setinggi tujuh meter. Lampu kristal raksasa menggantung di tengah, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang mengilap. Di sisi ruangan, dinding kaca besar menampilkan pemandangan kolam renang infinity yang airnya berwarna biru jernih.
"Rumah ini memiliki luas tanah 2.000 meter persegi dan bangunan 1.200 meter persegi," jelas Ratna sambil berjalan. "Total ada tujuh kamar tidur utama dengan kamar mandi dalam masing-masing. Semua kamar memiliki walk-in closet dan balkon pribadi."
Olyvia mengikuti Ratna menyusuri koridor lebar menuju kamar utama. Pintu ganda dari kayu jati ukir terbuka, menampilkan ruangan seluas apartemennya sendiri. Tempat tidur king size dengan headboard beludru, sofa kecil di sudut, dan jendela besar menghadap taman. Kamar mandinya? Bak mandi pualam, shower hujan dengan lampu LED, dan wastafel marmer ganda.
Ini kamar apa suite hotel bintang tujuh?
Mereka melanjutkan tur. Dapur utama dengan pulau marmer sepanjang empat meter, kompor gas delapan tungku, oven tanam, dan kulkas side-by-side. Ruang makan dengan meja kayu solid untuk dua belas orang. Home theater dengan kursi malas elektrik dan layar 120 inci. Gym pribadi dengan peralatan lengkap. Dan di bawah tanah, sebuah ruang wine dengan rak kayu ek dan meja tasting.
Olyvia nyaris tidak bisa berkata-kata. Ini rumah apa istana?
Ratna mengakhiri tur di tepi kolam renang. "Jadi, Mbak Olyvia tertarik? Harganya Rp420.000,- sudah termasuk semua furnitur dan perabotan seperti yang Mbak lihat di rumah contoh. Tinggal bawa koper."
Sebelum Olyvia menjawab, suara tawa renyah seorang perempuan terdengar dari arah pintu masuk. Ia menoleh dan melihat dua orang berjalan mendekat. Seorang perempuan muda sebayanya, cantik dengan riasan tebal dan gaun ketat berwarna merah menyala. Di sampingnya, seorang pria paruh baya dengan perut buncit, kemeja batik yang kancingnya nyaris meledak, dan jam tangan emas yang mencolok.
Olyvia mengenali perempuan itu. Cindy Amara, teman sekelasnya di jurusan Artificial Intelligence. Gadis cantik yang selalu datang ke kampus dengan tas branded dan mobil mewah. Tapi yang membuat Olyvia mengernyit adalah siapa yang berjalan di sampingnya.
Itu... om-om? Serius? Dia bawa om-om perut buncit ke sini?
Cindy langsung mengenali Olyvia. Matanya menyipit, lalu bibirnya melengkung membentuk senyum sinis. "Lho? Olyvia? Kamu ngapain di sini?"
Olyvia menatap Cindy dengan datar. "Lihat rumah."
Cindy tertawa kecil, lalu menatap pria di sampingnya. "Om, kenalin. Ini Olyvia, temen sekelasku. Dia anak beasiswa lho. Pinter banget."
Pria itu, yang dipanggil Om Broto, menatap Olyvia dari atas ke bawah dengan tatapan yang membuat bulu kuduknya berdiri. Matanya berhenti lama di bagian dada dan pinggul Olyvia, lalu ia menjilati bibirnya pelan.
Mual. Gue mual banget liat om-om mesum ini.
Om Broto tersenyum lebar. "Wah, cantik juga temennya Cindy. Kuliah jurusan apa, Mbak?"
"Artificial Intelligence," jawab Olyvia singkat.
Cindy mendengus. "Pinter sih pinter, Om. Tapi ya gitu, anak beasiswa. Paling ke sini cuma lihat-lihat doang. Mana mampu beli rumah di sini. Paling juga numpang mimpi."
Olyvia mengangkat alis. Mulai. Mulai nyinyir.
Ratna, sales yang tadi melayani Olyvia, ikut menimpali dengan nada sedikit meremehkan. "Oh, Mbak Olyvia tadi memang hanya lihat-lihat rumah contoh. Mungkin Mbak Cindy dan Bapak mau lihat juga? Ada unit yang lebih kecil, harganya lebih terjangkau. Mulai dari Rp120.000,-."
Cindy tersenyum penuh kemenangan. "Tuh, denger sendiri kan, Vy? Rumah di sini mahal-mahal. Gak kayak kos-kosan lo yang di Green Park. Itu juga ukurannya cuma sebesar kandang ayam."
Om Broto ikut tertawa. "Sabar, Cindy. Mungkin Mbak Olyvia punya rezeki lain. Siapa tau dapat beasiswa lebih. Atau..." ia melirik tubuh Olyvia lagi, "...dapat rezeki dari tempat lain."
Olyvia merasakan kemarahan mulai memanas di dadanya. Rezeki dari tempat lain? Maksud lo gue jual diri kayak si Cindy ini?
Ia menatap Cindy dan Om Broto bergantian. Cindy memang cantik, tapi ada sesuatu yang murahan dari caranya berpakaian dan bersikap. Gaun merah ketat yang terlalu pendek, sepatu hak tinggi dengan sol merah yang terlalu mencolok, dan perhiasan emas berlebihan. Sementara Om Broto? Pria pendek dengan perut buncit, rambut mulai menipis, dan cincin emas di setiap jari. Pasangan yang sempurna untuk drama sinetron.
Cantik tapi lont , batin Olyvia
Ia menarik napas panjang dan tersenyum manis. Senyum yang sama seperti saat ia menghadapi wanita modis di mall. "Cindy, Om Broto. Kalian belum selesai?"
Cindy mengerutkan kening. "Selesai apa?"
"Nyinyirnya. Dari tadi gue dengerin. Katanya gue anak beasiswa, gak mampu beli rumah, kosan kayak kandang ayam. Ada lagi? Atau mau tambahin gue dapet duit dari hasil oyo?"
Cindy terbelalak. Om Broto malah nyengir. "Lho, Mbak Olyvia kok malah ngomong gitu. Kita kan cuma bercanda."
Olyvia tidak menggubrisnya. Ia menoleh pada Ratna. "Mbak Ratna, tadi Mbak bilang rumah ini Rp420.000,- ya?"
Ratna mengangguk, sedikit bingung. "Iya, Mbak. Tapi itu harga untuk tipe The Palace. Ada tipe lain yang lebih kecil kalau Mbak mau."
"Saya ambil yang ini. The Palace. Cash."
Suasana mendadak hening. Cindy menatap Olyvia dengan mata membelalak. Om Broto berhenti tersenyum. Ratna terpaku dengan mulut sedikit terbuka.
"Mo-mohon maaf, Mbak? Cash? Rp420.000,-?" suara Ratna bergetar.
Olyvia mengangguk tenang. "Iya. Cash. Sekarang juga. Saya mau proses administrasinya."
Ia mengeluarkan kartu debit hitamnya dari dompet dan menyerahkannya pada Ratna. "Ini. Bisa gesek di kantor pemasaran?"
Ratna menerima kartu itu dengan tangan gemetar. "Ba-baik, Mbak. Silakan ikut saya ke kantor."
Cindy akhirnya menemukan suaranya. "Tunggu! Itu pasti bohong! Mana mungkin lo bisa beli rumah semahal itu! Lo anak beasiswa! Duit lo dari mana?!"
Olyvia menoleh dengan senyum tipis. "Emang lo pikir cuma lo yang bisa dapet duit dari om-om?"
Wajah Cindy memerah padam. Om Broto ikut tersinggung. "Mbak, jaga omongan ya! Saya ini pengusaha sukses!"
Olyvia menatap Om Broto dengan tatapan jijik. "Oh ya? Pengusaha sukses tapi gayanya kayak debt collector. Dan tolong, jangan liat-liat tubuh gue kayak gitu. Gue bukan menu di restoran Padang."
Om Broto tersedak. Cindy mencengkeram lengan om-omnya dengan marah. "Om! Dia ngatain kita!"
Olyvia tidak peduli. Ia sudah berjalan mengikuti Ratna menuju kantor pemasaran. Di sana, ia duduk dengan tenang sementara Ratna menyiapkan dokumen dengan tangan masih sedikit gemetar.
"Totalnya Rp420.000,-, Mbak. Itu sudah termasuk biaya balik nama, pajak, dan administrasi. Furnitur dan perabotan sesuai rumah contoh."
Olyvia mengangguk. "Gesek."
Mesin EDC berbunyi. Olyvia memasukkan PIN-nya. Tut... tut... tut... Transaksi berhasil.
Ratna menatap layar mesin dengan mata nyaris keluar. "Pembayaran berhasil, Mbak. Selamat. Rumah ini resmi milik Mbak Olyvia Arabella."
Olyvia tersenyum puas. Ia menandatangani beberapa dokumen dan menerima kunci rumah dengan gantungan kunci emas berlogo kerajaan.
Saat ia keluar dari kantor pemasaran, Cindy dan Om Broto masih berdiri di dekat kolam renang dengan wajah kusut. Seorang sales lain sedang berusaha menawarkan rumah tipe lebih kecil, tapi Cindy terus menolak dengan nada ketus.
Olyvia berjalan melewati mereka sambil memutar-mutar kunci rumah di jarinya. "Cindy, Om Broto. Gue duluan ya. Mau survey istana baru. Kalian lanjutin aja lihat-lihat rumah yang 'terjangkau'. Bye!"
Ia melangkah pergi dengan anggun, meninggalkan Cindy yang melotot marah dan Om Broto yang masih menatapnya dengan mata tidak percaya.
Begitu masuk ke dalam BMW-nya, Olyvia akhirnya tertawa terbahak-bahak.
GILA! PUAS BANGET! Muka mereka tadi priceless! Cindy sama om-om mesumnya kena batunya!
Ia menstarter mobil dan melaju keluar kompleks mewah itu. Di kaca spion, ia masih bisa melihat Cindy berdiri dengan tangan di pinggang, jelas-jelas sedang mengomel pada Om Broto.
Itu om-om pasti kena marah sekarang. Salah sendiri bawa cewek matre ke rumah mewah. Kalah sama anak beasiswa.
Ponselnya bergetar. Grup sahabat.
Karina: Vy, lo di mana? Tadi gue denger dari anak kampus, lo ketemu Cindy di perumahan mewah?
Sela: Cindy? Si lonte yang suka bawa om-om itu?
Olyvia menyengir dan membalas.
Olyvia: Iya. Gue barusan beli rumah di Royal Garden Estate. Tipe The Palace. Cash. Dia sama om-omnya cuma bisa melongo.
Karina: ASTAGFIRULLAH. LO BELI RUMAH ISTANA?!
Sela: Gue pengen pingsan. Tapi sebelum pingsan, gue harus bilang: LO KEREN BANGET, VY!
Olyvia: Tenang. Nanti kalo udah jadi, gue undang kalian berenang di kolam infinity. Ada home theater juga. Sama ruang wine.
Karina: Gue nangis. Lo beneran jadi sultan sekarang.
Olyvia tertawa kecil. Ia menatap jalanan kota yang mulai gelap. Rumah mewah. Mobil mewah. Penampilan mewah. Tapi hatinya tetap sama. Ia masih Olyvia yang dulu suka makan nasi Padang di pinggir jalan dan nonton drama China sampai subuh.
Cuma sekarang, gue nonton drama China di home theater pribadi. Sambil minum wine dari ruang bawah tanah.
Ia melajukan BMW-nya menuju apartemen untuk terakhir kalinya. Besok ia akan mulai pindahan. Istana barunya sudah menunggu.