Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 – Makan Malam Keluarga
Keesokan harinya, Alya terbangun dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.
Operasi ibunya berhasil.
Itu saja sudah cukup membuat beban berat di dadanya berkurang.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Karena tepat setelah membuka pintu kamar—
Mira sudah berdiri di depan sana dengan ekspresi hati-hati.
“Nona Alya…”
Alya langsung curiga.
“Ada apa?”
“Makan malam keluarga dipercepat menjadi malam ini.”
Senyum Alya langsung menghilang.
“Oh tidak…”
Mira tertawa kecil.
“Saya sudah menduga reaksi Anda.”
Alya memijat pelipisnya.
Ia benar-benar lupa tentang acara itu karena terlalu fokus memikirkan operasi ibunya.
Dan sekarang kenyataan itu kembali menghantam.
Bertemu keluarga besar Raka.
Yang kemungkinan besar akan menilainya dari ujung kepala sampai kaki.
“Apa aku masih bisa kabur?”
“Tidak bisa.”
Suara lain tiba-tiba terdengar dari ujung lorong.
Alya langsung menoleh.
Raka.
Pria itu baru keluar dari ruang kerjanya dengan kemeja hitam dan ekspresi setenang biasanya.
Alya langsung menghela napas dramatis.
“Kalian semua kompak sekali menolak ide kaburku.”
“Karena itu ide buruk.”
Raka berjalan mendekat sambil menatapnya sekilas.
“Makan malam mulai jam tujuh.”
“Aku tahu…”
“Dan jangan terlalu gugup.”
Alya langsung menatapnya tidak percaya.
“Kamu bilang begitu seolah itu mudah.”
“Memang.”
“Tentu saja mudah untukmu. Itu keluargamu.”
Raka berhenti tepat di depan Alya sekarang.
Tatapannya turun sedikit menatap wajah wanita itu.
“Mereka tidak akan menyentuh Anda.”
Nada suaranya rendah.
Tenang.
Dan lagi-lagi membuat jantung Alya berdetak sedikit aneh.
“Bagaimana kalau mereka tidak suka aku?”
“Bukan masalah.”
“Bagaimana kalau mereka menghina aku?”
Tatapan Raka berubah tajam.
“Coba saja.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Terlalu dingin.
Dan entah kenapa malah membuat Alya sedikit tenang.
Pria ini benar-benar serius kalau menyangkut perlindungan.
Sangat berbahaya.
---
Menjelang malam, mansion besar itu mulai terasa lebih sibuk.
Beberapa pelayan mondar-mandir menyiapkan ruang makan utama, sementara Mira hampir menghabiskan satu jam penuh membantu Alya bersiap.
“Ini terlalu berlebihan…” gumam Alya sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
Ia mengenakan gaun hitam elegan dengan detail sederhana namun mahal. Rambutnya ditata setengah terurai, membuat penampilannya terlihat jauh berbeda dari Alya yang biasa.
“Anda cantik,” kata Mira tulus.
Alya tertawa kecil gugup.
“Aku merasa seperti penyusup.”
“Percayalah, Tuan Raka tidak pernah membawa sembarang orang ke rumah ini.”
Kalimat itu membuat Alya sedikit terdiam.
Dan sebelum ia sempat memikirkan artinya lebih jauh—
Tok tok.
Pintu kamar diketuk.
“Masuk,” jawab Alya.
Pintu terbuka.
Dan Raka muncul di sana.
Pria itu mengenakan setelan hitam rapi yang membuatnya terlihat terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa.
Alya langsung membeku sepersekian detik.
Sementara Raka—
Tatapannya berhenti lebih lama dari biasanya.
Sunyi beberapa detik memenuhi ruangan.
Mira tersenyum kecil diam-diam sebelum akhirnya pamit keluar, meninggalkan mereka berdua.
Dan sekarang suasana mendadak terasa jauh lebih canggung.
“Ada yang salah?” tanya Alya pelan karena Raka terus diam.
Pria itu berkedip pelan seolah baru sadar dirinya terlalu lama memperhatikan Alya.
“Tidak.”
Jawaban cepat.
Namun kali ini Alya tidak percaya.
“Kalau begitu kenapa menatapku seperti itu?”
Raka berjalan mendekat perlahan.
Tatapannya masih sulit dibaca.
“Gaun itu cocok.”
Jantung Alya langsung berdetak lebih cepat.
Oh.
Oh tidak.
Pria ini baru saja memberi pujian.
Dan yang lebih parah—
Nada suaranya terdengar tulus.
“Terima kasih,” jawab Alya pelan.
Untuk sesaat, tak ada yang bicara.
Sampai akhirnya Raka mengulurkan tangan.
“Ayo.”
Alya menatap tangan itu sebentar sebelum akhirnya menerimanya.
Dan lagi-lagi—
Sentuhan kecil itu terasa terlalu alami sekarang.
---
Ruang makan utama mansion malam itu terlihat jauh lebih hidup dibanding biasanya.
Beberapa orang sudah duduk di sana saat Alya dan Raka masuk bersama.
Dan seketika—
Semua mata langsung tertuju pada mereka.
Alya langsung menegang.
Ia mengenali seorang wanita elegan berusia sekitar lima puluhan yang duduk di ujung meja. Wajahnya cantik dan tenang, dengan aura berkelas yang kuat.
Ibunya Raka.
Di sisi lain ada pria paruh baya dengan ekspresi tegas, lalu beberapa anggota keluarga lain yang Alya belum kenal.
Dan semuanya sekarang sedang memperhatikannya.
“Akhirnya datang juga,” kata pria paruh baya itu.
Nada suaranya tidak ramah.
Raka tetap tenang.
“Mama,” sapanya singkat sambil mengangguk pada wanita di ujung meja.
Wanita itu tersenyum tipis.
“Alya, kan?”
Alya langsung membungkuk sopan.
“Iya, Tante.”
“Duduklah.”
Nada suaranya lembut.
Dan Alya sedikit lega karenanya.
Namun rasa lega itu hanya bertahan beberapa menit.
Karena begitu makan malam dimulai—
Pertanyaan demi pertanyaan mulai datang.
“Kamu bekerja di mana sebelumnya?” tanya salah satu wanita.
“Aku freelance desain,” jawab Alya pelan.
“Freelance?”
Nada itu terdengar seperti penilaian.
“Menarik sekali,” kata pria paruh baya tadi. “Raka biasanya dekat dengan wanita dari kalangan atas.”
Suasana langsung sedikit canggung.
Alya memaksakan senyum kecil.
“Paman.”
Suara Raka terdengar datar.
Namun cukup membuat pria itu berhenti bicara.
“Kenapa?” pria itu mengangkat alis. “Aku hanya penasaran.”
Raka menatapnya dingin.
“Rasa penasaran Anda tidak penting.”
Alya langsung menoleh cepat.
Sementara beberapa anggota keluarga lain tampak terkejut.
Ibunya Raka bahkan diam memperhatikan mereka.
“Wah,” gumam salah satu sepupu pelan. “Protektif sekali.”
Alya langsung makin salah tingkah.
“Tidak perlu dibela seperti itu,” bisiknya pelan pada Raka.
Namun pria itu tetap tenang.
“Saya tidak suka orang ikut campur.”
Kalimat itu terdengar dingin.
Namun entah kenapa justru membuat dada Alya terasa hangat.
Berbahaya.
Sangat berbahaya.
Makan malam berlanjut dengan suasana yang sedikit lebih hati-hati setelah itu.
Sampai akhirnya ibunya Raka bicara untuk pertama kalinya sejak tadi.
“Kalian terlihat dekat.”
Alya hampir tersedak minumannya.
“Apa?”
Wanita itu tersenyum kecil sambil memperhatikan putranya.
“Raka tidak pernah membawa siapa pun pulang sebelumnya.”
Suasana mendadak hening.
Dan Alya langsung bisa merasakan beberapa tatapan penasaran tertuju pada mereka lagi.
“Apa kalian benar-benar saling mencintai?”
Pertanyaan itu menghantam tepat ke jantung Alya.
Tangannya langsung sedikit menegang di bawah meja.
Karena untuk pertama kalinya—
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Dan yang paling mengganggu—
Sebagian kecil dari dirinya mulai takut mendengar jawaban Raka.