Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 24 — Harga Diri dan Cinta
Darah segar dari mayat Tetua Songqian mengalir perlahan di lantai podium kehormatan, menciprat hingga mengenai jubah Qin Chukai yang kini basah dan lengket.
Qin Chukai merasakan tetesan cairan amis itu menempel di lengan kirinya, namun ia terlalu kaku untuk sekadar mengibaskan jubahnya. Pikirannya kosong, diliputi oleh rasa takut yang luar biasa. Ia sangat mengenal reputasi Songqian; di dunia luar, wanita itu dikenal luas sebagai kultivator kejam dari Sekte Segitiga Hitam yang berjulukan Serigala Tenang. Pengaruhnya cukup besar di dataran tengah Provinsi Nanlai.
Namun, sosok yang tak tertandingi di matanya itu mati dalam sekejap tanpa sempat mengeluarkan setetes jurang kekuatan kultivasinya sama sekali.
"Gila... ini benar-benar gila," batin Qin Chukai dengan tubuh yang gemetar tak terkendali. Ia menyadari sepenuhnya kebodohan di balik rencananya.
Menggandeng kekuatan luar untuk merebut kekuasaan? itu hanyalah ilusi belaka ketika mereka berhadapan dengan sosok yang berada di luar batas kultivator rendahan sepertinya.
Ia tidak mengerti mengapa sosok kultivator agung bisa berada di wilayah pinggiran seperti Kota Huzhou.
Qin Chukai menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani melirik sedikit pun ke arah wanita misterius yang melayang di udara.
Di tengah arena yang porak poranda, napas Qin Feiyan terengah-engah. Darah masih menetes dari luka-lukanya, tetapi tekad di dalam dadanya tidak sedikit pun padam.
Meskipun Luo Yan baru saja menolong dan memperingatkannya agar berhenti, sifat keras kepala serta harga diri seorang Patriark membuatnya tidak ingin berdiam diri di bawah bayang-bayang orang lain.
"Aku adalah kepala Keluarga Qin! Sudah menjadi tugasku untuk melindungi tempat ini! Sudah sepantasnya bagiku melindungi semua orang! Aku tidak akan mengulangi dosaku menginggalkan klan ini yang membuat ayah meninggal dunia." gumam Qin Feiyan dengan suara berat yang menahan rasa sakit.
Qin Feiyan mengalirkan seluruh sisa energi spiritual miliknya ke dalam Lonceng Emas. Artefak itu semakin membesar, menciptakan proyeksi cahaya keemasan yang menutupi langit yang sebelumnya tertutup oleh formasi segel bumi.
Luo Yan, yang melayang anggun di udara, hanya bisa menghela napas pelan.
"Benar seperti yang dikatakan Guru," gumam Luo Yan pelan, senyuman tipis tersungging di bibirnya.
"Tuan Qin Feiyan memang pria perkasa yang ceroboh... Pria yang sangat mencintai keluarganya."
Luo Yan tahu bahwa ia tidak bisa menghentikan tekad pria itu di saat seperti ini.
Qin Feiyan melesat kencang, bertumpu pada sisa-sisa reruntuhan batu di lapangan, dan melancarkan serangan dahsyat langsung ke langit-langit yang dibatasi oleh Formasi Segel Bumi.
Drrrt!
Fwosh!
BOOM!
Sebuah ledakan yang memekakkan telinga mengguncang seluruh area arena yang luas. Segel Formasi Tingkat 5 yang mengelilingi tempat itu hancur berkeping-keping seperti cermin yang pecah dalam sekali hantaman danhsyat Lonceng Emas.
Cough! Cough! Cough!
Qin Feiyan terbatuk keras, memuntahkan segumpal darah segar. Proyeksi nyata Lonceng Emas perlahan meredup, kembali menjadi harta lonceng emas kecil.
Di sudut lain arena, Tetua Pertama, Qin Xuanyu, berdiri dengan napas yang teratur meskipun terdapat banyak luka di pakaiannya. Di dekatnya, tergeletak tubuh tak bernyawa dari Tetua Kedua, Qin Chong.
Pertarungan sengit antara keduanya telah berakhir. Setelah Qin Chong menelan pil terlarang untuk meningkatkan energi spiritualnya secara paksa.
Awalnya Qin Xuanyu tampak terdesak, namun ketenangannya menjadi bantuan yang sangat bagus ketika Qin Chong bertarung dengan kemarahan yang meluap-luap akibat efek dari penggunaan Pil Merah Banteng Api yang memiliki kualitas lebih tinggi...
Bukan sekedar Pil Banteng Merah Api khusus praktisi biasa yang digunakan Qin Zhang.
Qin Chong terus melancarkan serangan destruktifnya tanpa pandang bulu, hingga meridian utama di tubuhnya tidak mampu menahan beban energi spiritual yang meluap-luap dan mulai melemah.
Disaat-saat terakhir Qin Xuanyu memanfaatkan celah tersebut dengan menggunakan Teknik Embun Langit gerakan terakhir untuk menyudahi perlawanan, yang diakhiri dengan tusukan pedang api yang dingin secepat kilat menembus jantung Qin Chong.
Dengan hancurnya formasi segel bumi, langit-langit memperlihatkan matahari yang akan segera terbenam.
Di sisi keramaian para anggota keluarga. Akibat tewasnya pasukan berjubah hitam dari luar Keluarga Qin, suasana di lapangan yang tadinya hiruk-pikuk perlahan-lahan mereda.
Sisa-sisa anggota faksi pemberontak di podium kehormatan terdiam, menyadari bahwa mereka telah kalah total.
Qin Chukai mencoba mengambil kesempatan emas ini untuk melarikan diri dari arena lapangan utama.
"Sial... sial... Apa-apa semua hal ini!" batin Qin Chukai menengok kanan kiri.
Qin Chukai melangkah mundur secara perlahan dan berencana kabur ke luar gerbang...
Namun, belum sempat ia mengambil langkah ketiga, sebuah benang spiritual tak kasat mata meluncur dengan presisi mengerikan.
Sring!
Kepala Qin Chukai, beserta kepala beberapa tetua pemberontak lainnya, terpenggal secara bersamaan dan menggelinding di atas lantai batu podium kehormatan.
Qin Mu hanya bisa terkagum-kagum dengan bagaimana cara pembunuhan yang dilakukan Luo Yan dengan gerakan tangan yang anggun.
"Teknik apa yang sebenarnya Senior itu gunakan?" batin Qin Mu.
"Mu'er... Terimakasih. Kau tak perlu lagi menjaga pandanganku." ujar Qin Lian pelan memecah konstentrasi Qin Mu.
Qin Lian pikir, ia harus memberanikan diri pada setiap peristiwa seperti ini. Agar kedepannya ia tak menyusahkan Qin Mu untuk selalu menjaga pandangannya pada darah maupun kematian seseorang. Tidak mungkin kan Mu'er selalu bersama denganku?!
"Benarkah? Tapi..."
"Punggung Mu'er mau ku gigit?"
"Jangan...!"
"Kalau begitu biarkan aku melihat."
Akhirnya Qin Mu melepaskan Qin Lian, ia benar-benar tak bisa untuk tidak luluh.
Qin Chen hanya bisa memasang wajah masam, "Di situasi seperti ini... Berani-beraninya kedua bocah ini bermesraan. Saudara Mu... huft..."
Qin Mu, Qin Lian dan Qin Chen akhirnya melangkah maju dengan instruksi Tetua Kelima, Qin Changin.
Mereka berjalan melewati puing-puing arena lapangan untuk mendekati posisi Patriark Qin Feiyan yang duduk bersimpuh, ia dalam keadaan bermeditasi tinggi, mencoba menstabilkan kembali energi spiritualnya yang terguncang hebat sehabis menggunakan seluruh kekuatannya dalam sekali jalan.
Qin Mu menatap ayahnya dengan perasaan lega namun juga cemas, melihat luka-luka yang menghiasi tubuh perkasanya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke atas, menatap sosok Luo Yan yang masih melayang di udara.
"Siapa sebenarnya Senior itu?" pikir Qin Mu dalam hati.
Berbagai pertanyaan berkecamuk di benaknya. Mengapa seorang kultivator agung setingkat itu rela turun tangan melindungi keluarganya di saat-saat terakhir?
Ketika Luo Yan mendekat kearah mereka. Qin Mu membungkuk hormat, diikuti oleh Qin Lian dan yang lainnya.
"Terima kasih, Senior Luo Yan, atas bantuan Anda yang tak ternilai harganya hari ini," ucap Qin Mu dengan suara yang tulus.
Luo Yan tersenyum lembut dan perlahan mendarat di tanah, berdiri tidak jauh dari Qin Mu.
"Tidak perlu sungkan, Tuan Muda Qin Mu," jawab Luo Yan dengan tatapan yang penuh makna.
"Ada alasan di balik semua ini, dan cepat atau lambat, kau akan mengetahui kebenarannya."
Suara Luo Yan yang lembut namun berwibawa masih menggantung di udara. Udara dingin yang semula menindas perlahan-lahan menghilang seiring dengan hancurnya Formasi Segel Bumi. Namun, suasana di lapangan yang porak poranda itu masih menyisakan ketegangan yang mendalam.
Luo Yan menolehkan pandangannya pada luka-luka di sekujur tubuh Qin Feiyan. Guratan di wajahnya yang anggun menunjukkan ekspresi serius. Ia melangkah mendekati Patriark, menatap pria itu dengan pandangan yang sarat akan rasa simpati sekaligus peringatan.
"Kalian tidak boleh berdiam diri terlalu lama," ucap Luo Yan kepada Qin Mu dan Tetua Kelima, Qin Changin. Suaranya terdengar jelas meski diucapkan dengan nada pelan.
"Kalian harus segera membawa ahli pengobatan kemari atau memanggil ahli alkemis sekarang juga. Jika tidak segera ditangani, fondasi di dalam tubuhnya bisa runtuh sepenuhnya, dan nyawanya tidak akan tertolong."