Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Coretan Dinding & Senyum Polos Balqis
Siang itu, matahari bersinar terik menembus celah jendela kamar kami. Udara terasa panas, tapi aku sedang asyik-asyiknya menyusun ide untuk Bab 12 di kepalaku. Balqis, putri kecilku yang berusia dua tahun, sedang bermain tenang di sudut kamar dengan balok-balok susunannya. Atau setidaknya, begitu pikirku.
Aku terlalu fokus pada laptop hingga tidak menyadari keheningan yang mencurigakan selama sepuluh menit terakhir. Biasanya, Balqis akan terus mengoceh, tertawa, atau meminta digendong. Tapi hari ini, ia sangat sunyi.
“Balqis?” panggilku pelan, menoleh ke arah sudut kamar.
Kosong. Kursi kecilnya kosong. Balok-balok susunan berserakan di lantai.
Jantungku berdegup kencang. “Balqis? Di mana kamu, Nak?”
Aku berusaha bangkit dari kursi, meski lututku masih terasa lemah. Aku merangkak pelan menyusuri ruangan, mencari sosok mungil itu. Lalu, terdengar suara cadel dari balik pintu kamar mandi yang terbuka sedikit.
“Bah… yah… gambar!”
Aku mendorong pintu itu perlahan. Dan apa yang kulihat membuat darahku seketika naik ke kepala.
Balqis berdiri di depan dinding kamar mandi yang baru saja dicat putih bersih bulan lalu. Di tangannya, tergenggam erat sebuah spidol hitam milikku yang seharusnya tersimpan rapi di laci meja kerja. Dari ujung spidol itu, garis-garis hitam tebal telah menghiasi dinding putih tersebut. Ada lingkaran besar yang tidak beraturan, garis-garis zigzag, dan beberapa titik acak.
“Balqis!” teriakku tanpa sadar, suaraku lebih keras dari yang kurencanakan.
Balqis kaget. Tubuhnya menciut, matanya membulat takut melihat ayahnya yang tiba-tiba marah. Spidol itu jatuh dari tangannya, menggelinding ke lantai keramik.
“Ayah… marah?” bisiknya lirih, bibirnya mulai tremble.
Aku ingin sekali memarahinya lebih lanjut. Dinding itu butuh cat ulang, dan uang kami pas-pasan untuk beli cat lagi. Rasa frustrasi karena sakit, ditambah kelelahan menulis, membuat emosiku sulit dikendalikan. Aku menarik napas panjang, bersiap memberi nasihat keras tentang tidak boleh mencoret dinding.
Tapi kemudian, Balqis melangkah mendekatiku. Dengan mata berkaca-kaca, ia menunjuk ke arah coretan-coretan di dinding itu.
“Itu… Ayah,” katanya sambil menunjuk lingkaran besar yang aneh.
Lalu ia menunjuk garis-garis kecil di sampingnya. “Ini… Balqis.”
Dan di pojok bawah, ada coretan bengkok yang agak panjang. “Ini… tangan Ayah. Pegang Balqis.”
Nasihat keras yang tadi sudah siap di ujung lidahku mendadak hilang. Tenggorokanku tercekat.
Aku menatap dinding itu lagi. Bukan sebagai kerusakan cat yang mahal. Tapi sebagai kanvas pertama putriku. Lingkaran besar itu memang tidak sempurna, tapi baginya, itulah wajah ayah yang ia cintai. Garis-garis itu adalah representasi dirinya yang selalu ingin dekat. Dan coretan di bawah itu… itu adalah tanganku yang lumpuh, yang dalam imajinasinya, masih bisa menggenggam tangan mungilnya.
Air mataku mendesak keluar. Marahku berubah menjadi rasa bersalah yang luar biasa. Bagaimana bisa aku memikirkan dinding kotor, sementara anakku sedang mencoba menggambar keluarganya dengan cara satu-satunya yang ia bisa?
Aku berlutut pelan, mengabaikan nyeri di lututku, dan membuka kedua tanganku. “Sini, Dek. Maafkan Ayah tadi marah ya.”
Balqis langsung berlari kecil dan memeluk leherku erat. “Jangan marah, Yah. Balqis sayang Ayah.”
Aku membalas pelukan itu, mencium rambut halusnya yang berbau sabun bayi. “Ayah juga sayang Balqis. Coretannya bagus sekali. Tapi nanti kita gambar di kertas ya, bukan di dinding. Kalau di dinding, nanti dindingnya sedih lho.”
Balqis mengangguk patuh, meski masih sesenggukan. “Iya, Yah. Dinding sedih.”
Sore itu, aku tidak segera membersihkan coretan itu. Aku membiarkannya dulu sebagai pengingat. Bahwa kadang, sebagai orang tua, kita terlalu cepat melihat kesalahan, sampai lupa melihat niat baik di baliknya. Balqis tidak berniat merusak. Ia hanya ingin berbagi dunia imajinasinya, dan sayangnya, ia memilih media yang salah.
Setelah Balqis tertidur siang, aku mengambil lap basah. Perlahan, aku menghapus coretan itu. Setiap usapan lap terasa seperti menghapus jejak kenangan, tapi aku tahu ini perlu agar rumah tetap rapi. Namun sebelum hilang sepenuhnya, aku mengambil foto coretan itu dengan HP-ku.
Foto itu kusimpan di folder khusus bernama “Karya Pertama Balqis”. Suatu hari nanti, saat ia dewasa, aku akan menunjukkan foto ini. “Lihat, Dek. Waktu umur dua tahun, kamu pernah ‘menghias’ dinding kamar mandi. Ayah sempat marah, tapi потом Ayah sadar, itu adalah gambar cinta paling indah yang pernah kamu buat.”
Saya harus menulis bab ini.
Saya harus merekam momen ketika ego seorang ayah runtuh oleh kejujuran seorang anak.
Supaya dunia tahu, bahwa mendidik anak bukan soal mencegah kesalahan, tapi soal memahami hati mereka di balik kesalahan itu.
Satu bab lagi selesai.
Sebelas bab sudah terangkai.
Target 20 bab semakin dekat! Kontrak sudah di depan mata!
Aku tidak sendirian.
Kita tidak sendirian.
Coretan di dinding mungkin hilang, tapi cinta Balqis akan abadi selamanya.