Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Beberapa menit kemudian, Rani akhirnya selesai merangkai pesanan Clara. Mawar merah dipadukan dengan lavender ungu muda terlihat elegan dalam balutan kertas putih dan pita satin lembut.
“Sudah selesai, Mbak,” ujar Rani sambil menyerahkan rangkaian bunga itu.
Clara langsung tersenyum senang saat menerimanya.
“Cantik banget,” pujinya tulus.
“Terima kasih,” jawab Sahira pelan.
Clara masih memperhatikan bunga di tangannya dengan puas.
Sementara Saga berdiri di dekat meja kasir dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana, namun tatapannya sesekali kembali jatuh pada vas mawar putih dan tulip yang masih berada di tempatnya.
Seolah pikirannya tertahan di sana.
“Berapa semuanya?” tanya Saga akhirnya.
Sahira menyebutkan nominalnya singkat.
Tanpa banyak bicara, Saga langsung mengeluarkan kartu dari dompetnya lalu memberikannya pada Rani untuk pembayaran.
Clara melirik Saga sekilas lalu tersenyum kecil.
“Harusnya aku yang bayar.”
Saga menggeleng tipis.
“Nggak apa,”
Sahira hanya berdiri diam memperhatikan semuanya. Melihat pria yang dulu begitu dekat dengannya kini membelikan bunga untuk wanita lain, entah kenapa tetap terasa menyakitkan.
Padahal lima tahun sudah berlalu. Namun, rupanya beberapa luka memang tidak pernah benar-benar sembuh. Setelah pembayaran selesai, Clara memeluk rangkaian bunganya dengan wajah senang.
“Kalau begitu kami pergi dulu,” ucapnya ramah pada Sahira.
Sahira mengangguk kecil.
“Iya.”
Saga tidak langsung bergerak.
Tatapannya sempat kembali bertemu dengan Sahira sesaat. Namun, kali ini tak ada yang mengatakan apa pun. Hanya keheningan panjang yang terasa semakin sulit dijelaskan.
Sampai akhirnya,
“Doktel tampan!”
Suara kecil Sahir memecah suasana.
Anak itu berdiri di dekat pintu toko sambil melambaikan tangan kecilnya semangat.
“Dateng lagi ya!”
Saga menoleh, dan tanpa sadar, ekspresi dingin di wajahnya sedikit melunak saat melihat bocah itu.
“Iya,” jawabnya pelan.
Sahir langsung tersenyum lebar.
“Sahel, tunggu!”
Clara memperhatikan interaksi itu sambil tersenyum tipis, meski jauh di dalam hatinya ada rasa aneh yang sulit dijelaskan.
Sementara Sahira justru semakin tidak tenang. Karena semakin sering Saga datang, semakin sulit baginya menyembunyikan kebenaran yang selama ini ia jaga sendiri.
Beberapa menit berlalu.
Mobil Saga memasuki area parkir Rumah Sakit Kasih Ibu tepat ketika sebuah mobil hitam lain berhenti tidak jauh dari mereka.
Seorang pria paruh baya turun dari mobil itu sambil melepas kacamata hitamnya. Wajahnya tampan dan berwibawa meski usianya sudah tidak muda lagi. Dia adalah Dokter Mario. Paman Saga sekaligus pemilik Rumah Sakit Kasih Ibu.
Begitu melihat Saga dan Clara turun dari mobil, Dokter Mario langsung tersenyum tipis.
“Pagi,” sapanya hangat.
“Paman,” balas Saga sambil mengangguk hormat.
Clara ikut tersenyum sopan.
“Selamat pagi, Om Mario.”
“Pagi juga, Clara.” Tatapan Dokter Mario beralih pada bunga yang dibawa Clara, lalu tersenyum samar. “Wah, pagi-pagi sudah dapat bunga.”
Clara terkekeh malu.
“Beli di jalan tadi.”
Dokter Mario mengangguk kecil sebelum akhirnya menatap Saga lagi.
“Kebetulan kamu datang. Paman memang mau ngobrol sama kamu.”
Saga sedikit mengernyit.
“Sekarang?”
“Iya.” Dokter Mario memasukkan kedua tangannya ke saku jas dokternya. “Ada hal penting yang mau dibahas.”
Lalu pria itu menoleh pada Clara.
“Kalau Clara nggak keberatan, tunggu di ruang tunggu dulu, ya.”
Clara langsung mengangguk.
“Tentu, Om.”
“Nanti Aldi juga datang ke rumah sakit,” lanjut Dokter Mario santai. “Kalian kan dulu satu sekolah waktu SMA.”
Clara tersenyum kecil saat mendengar nama itu.
“Iya, udah lama nggak ketemu Aldi.”
“Ya sudah, nanti ngobrol saja.”
Setelah itu Dokter Mario mengajak Saga berjalan menuju ruangannya. Sementara Clara melangkah ke arah ruang tunggu dengan bunga di pelukannya. Ruangan Dokter Mario berada di lantai khusus dokter senior. Luas, rapi, dan dipenuhi aroma kopi yang samar.
Begitu masuk, Saga langsung duduk di sofa depan meja kerja pamannya. Sementara Dokter Mario berjalan mengambil dua cangkir kopi sebelum menyerahkan salah satunya pada Saga.
“Gimana kerja beberapa hari ini?” tanyanya santai.
Saga menerima kopinya pelan.
“Lumayan berat.”
“Tapi?”
Saga tersenyum tipis samar.
“Aku akan berusaha semaksimal mungkin.”
Dokter Mario mengangguk puas.
“Bagus.”
Hening sejenak memenuhi ruangan. Tetapi, beberapa detik kemudian, ekspresi Dokter Mario perlahan berubah lebih serius.
“Sebenarnya…” ujarnya pelan sambil menyandarkan tubuh ke kursi, “Paman mau tanya soal Sahira.”
Tangan Saga yang memegang cangkir kopi sedikit berhenti. Tatapannya perlahan terangkat. Dokter Mario melanjutkan dengan tenang.
“Kemarin Paman nggak sengaja lihat dia datang lagi ke rumah sakit.”
Saga diam.
“Anaknya sakit, ya?”
“Iya,” jawab Saga singkat. “Demam tinggi.”
Dokter Mario memperhatikan wajah keponakannya beberapa saat sebelum kembali bertanya,
“Dan kebetulan kamu yang merawat anaknya?”
Saga mengangguk kecil.
“Iya.”
“Udah bicara sama mereka?”
Saga tersenyum hambar.
“Sedikit.”
“Gimana?”
Pria itu terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pelan,
“Nggak seakrab dulu.”
Kalimat itu terdengar sederhana, jelas sekali ada sesuatu yang masih tertinggal di baliknya. Dokter Mario menghela napas pelan. Ia memang tahu tentang hubungan Saga dan Sahira dulu. Tahu seberapa besar Saga mencintai gadis itu. Dan tahu bagaimana hancurnya Saga setelah perpisahan mereka lima tahun lalu. Tetapi, ada satu hal yang sejak kemarin terus mengganggu pikirannya.
“Saga,” panggilnya serius.
“Hm?”
“Apa kamu nggak curiga?”
Kening Saga sedikit berkerut.
“Curiga apa?”
Dokter Mario menatapnya dalam.
“Anak itu.”
Tatapan Saga langsung berubah.
“Paman lihat sendiri kemarin,” lanjut Dokter Mario pelan. “Sahir … mirip banget sama kamu waktu kecil.”
Ruangan mendadak terasa sunyi, Saga menunduk pelan. Jemarinya perlahan menggenggam cangkir kopi lebih erat.
“Aku juga bingung,” gumamnya lirih.
Tatapan Dokter Mario semakin tajam memperhatikan perubahan ekspresi keponakannya.
Saga menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya berkata,
“Kenapa dia bisa semirip itu sama aku…” Suara pria itu terdengar jauh lebih pelan sekarang.
“Padahal aku bukan ayahnya.”
Dokter Mario tetap diam.
Sementara Saga melanjutkan dengan nada bingung,
“Lima tahun lalu … aku dan Sahira nggak pernah melakukan hubungan sejauh itu.”
Tatapan Dokter Mario langsung berubah. Kening pria itu perlahan berkerut.
“Kalian nggak pernah?” ulangnya pelan.
Saga menggeleng.
“Kami pacaran seperti biasa.”
“Jadi maksudmu…” Dokter Mario menatapnya lebih dalam, “kalian benar-benar nggak pernah tidur bersama?”
Saga mengangguk pasti. Tetapi, anehnya Dokter Mario justru menatapnya dengan ekspresi tidak puas. Seolah jawaban itu malah membuat sesuatu terasa semakin janggal. Dan tatapan itu perlahan membuat jantung Saga ikut berdetak tidak tenang.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.