Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
Tangan itu masih di lenganku.
Aku masih berlutut di atas jembatan, napas tidak karuan, dan laki-laki paruh baya itu berdiri di belakangku, tidak melepaskan pegangannya.
"Berdiri, Nak."
Suaranya bukan marah. Bukan panik. Tenang dengan cara yang aneh, tenang orang yang pernah melihat sesuatu seperti ini sebelumnya atau tenang orang yang imannya sudah sangat kokoh, aku tidak tahu yang mana.
Aku berdiri dengan lutut yang masih lemah.
Dia menuntunku menjauh dari pilar. Duduk di trotoar pinggir jembatan, di bawah lampu yang redup itu, dan dia duduk di sebelahku.
Wajahnya baru aku lihat jelas sekarang. Paruh baya, mungkin enam puluhan. Peci hitam. Jenggot pendek yang sudah putih sebagian. Mata yang tidak menghakimi.
"Namamu siapa?"
"Satria."
"Ustadz Arifin." Dia mengulurkan tangan. Aku menjabatnya. Tangannya dingin tapi genggamannya kuat.
Dia merogoh tas kecil di sampingnya. Mengeluarkan botol air mineral kecil. Membukanya, lalu bibirnya bergerak pelan, sangat pelan, membaca sesuatu yang tidak aku dengar tapi aku tahu apa yang dilakukannya.
Dia doakan airnya.
Lalu menyerahkan ke aku.
"Minum dulu."
Aku minum. Satu teguk, dua, tiga. Dingin. Dan ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan secara akal, tapi setelah minum itu ada sesuatu di dalam dadaku yang sedikit mereda. Sedikit saja. Tapi nyata.
"Apa yang kamu lakukan tadi itu dosa besar, Satria." Suaranya tetap pelan. Tidak menghardik. Tapi kata-katanya masuk dengan cara yang tidak bisa aku tangkis. "Nyawa itu amanah dari Allah. Bukan milikmu untuk dikembalikan sesukamu."
Aku tidak menjawab.
"Kamu pikir dengan pergi, masalahnya selesai?"
"Saya sudah tidak sanggup, Ustadz."
"Aku tahu." Dia mengangguk. "Kelihatan dari matamu sudah dari tadi. Tapi tidak sanggup bukan berarti boleh menyerah. Tidak sanggup itu artinya kamu butuh sandaran yang lebih kuat dari dirimu sendiri."
Aku menunduk.
"Ada yang menunggumu di rumah?"
Wajah Aini muncul sendiri di kepalaku. Aini yang tidur. Aini yang pagi-pagi akan mencari wajahku.
"Ada," bisikku. "Anak saya. Tiga tahun."
Ustadz Arifin diam sebentar.
"Sekeliling kamu masih banyak yang peduli, Satria. Kamu mungkin tidak melihatnya sekarang karena terlalu gelap di dalam. Tapi mereka ada. Ibumu ada. Anakmu ada." Dia berhenti. "Allah ada. Dan Allah tidak pernah memberi beban melebihi kemampuan hambanya. Kalau kamu masih hidup sampai malam ini, itu artinya kamu masih kuat. Meskipun kamu sendiri tidak percaya itu."
Kami duduk di sana cukup lama.
Lalu Ustadz Arifin berdiri. "Ayo, aku antar pulang."
Kami jalan kaki. Beliau tidak banyak bicara di perjalanan. Sesekali mengingatkan untuk istighfar, untuk bernapas, untuk tetap melangkah. Dan aku ikuti saja karena tidak ada sisa tenaga untuk melakukan hal lain.
Di depan gang rumah, beliau berhenti.
"Shalat, Satria. Sekarang. Apapun kondisinya. Shalat dulu." Tangannya di bahuku sebentar. "Jangan ulangi apa yang tadi."
Aku mengangguk.
Beliau pergi.
Aku masuk gang sendirian.
Nirmala ada di ruang tengah, berdiri waktu aku masuk, mukanya campur antara khawatir dan sesuatu yang lain.
"Dari mana? Sudah berapa jam kamu pergi, aku—"
"Bukan urusanmu."
Tiga kata. Datar. Aku masuk kamar tanpa menoleh.
Malam itu aku shalat Isya dengan kepala yang masih berat dan hati yang masih remuk. Tapi aku shalat. Karena Ustadz Arifin bilang shalat dulu, dan karena itu satu-satunya instruksi yang masih bisa aku jalankan malam itu.
Besok, keesokan harinya.
Dan lusanya.
Aku coba terus jalan.
Sampai malam itu.
Aku sedang buat adonan cilok di dapur. Jam delapan malam, Aini sudah tidur, rumah agak sunyi. Tanganku menguleni tepung, ritme yang sudah sangat aku hafal, gerakan yang sudah seperti napas.
Pintu depan dibuka keras.
Bimo masuk.
Jalannya tidak lurus. Matanya merah. Bau yang masuk bersamaan dengan dia masuk tidak perlu aku tebak lagi.
Mabuk berat.
Dia berdiri di ambang dapur, menatapku dengan cara orang yang sedang mencari sesuatu untuk dilampiaskan dan baru saja menemukannya.
"Masih di sini juga lo."
Aku tidak menjawab. Terus menguleni.
"Lo denger gak?"
"Aku lagi kerja, Bim."
"Kerja." Dia tawa. Tawa yang tidak ada lucunya. "Cilok. Kerjaannya cilok. Laki-laki macam apa."
Aku tetap diam.
"Eh, lo denger gak waktu gue ngomong?"
Piring di rak sebelah tangannya diambil.
Aku baru sempat mendongak waktu piring itu sudah di udara.
Menghantam kepalaku tepat di dahi kiri.
Bukan sakit yang datang duluan. Tapi suara. Suara keras yang memenuhi kepala sedetik, lalu panas menyebar dari titik benturan, lalu sesuatu yang hangat mengalir pelan di pelipis kiriku.
Aku pegang dahi. Tanganku merah.
Bimo tertawa.
Tertawa keras, tawa orang mabuk yang tertawa di tempat yang salah, dan dari arah kamarnya Wida muncul di ambang pintu, melihat ke arahku, lalu ke Bimo, lalu wajahnya datar.
Tidak kaget. Tidak takut. Datar.
Dari kamarnya, suara tangisan.
Aini.
Tangisan Aini yang kaget terbangun karena suara keras. Aku langsung ke kamar, tanganku masih merah di pelipis, dan Aini sudah duduk di kasurnya dengan mata panik mencari wajahku.
"Ayah."
"Ini Ayah. Aman."
Aku angkat dia. Tanganku yang bersih kupakai menggendong, tangan yang merah aku sembunyikan ke belakang badan, tapi Aini sudah melihat. Matanya ke dahiku. Ke merahnya.
Dari ruang tengah, suara Bimo dan Wida masuk ke kamar Bimo. Lalu tawa.
"Hahaha lucu ya Om?"
Wida. Kelas lima SD. Tertawa.
Aku mengunci pintu kamar dari dalam.
Duduk di lantai, punggung bersandar ke daun pintu. Aini di pelukanku, masih menangis pelan, tangannya menggenggam kaosku.
Darah dari dahiku menetes ke lantai. Satu tetes. Dua.
Aini mengangkat kepalanya dari dadaku.
Tangannya yang kecil, tiga tahun, jari-jarinya yang masih gembul dan belum sepenuhnya lurus, menyentuh dahiku. Pelan sekali. Seperti takut menyakiti. Menyentuh luka itu dengan ujung jarinya, satu kali, dua kali.
Dia tidak tahu apa yang terjadi di luar pintu itu. Tidak tahu tentang Bimo yang mabuk atau piring yang melayang atau tawa Wida dari kamar sebelah. Tidak tahu tentang jembatan dua malam lalu atau uang berobat Ibu yang ludes atau semua yang sudah terlalu panjang untuk diceritakan ke anak tiga tahun.
Dia hanya tahu satu hal.
Ayahnya kesakitan.
Dan caranya merespons itu adalah dengan menyentuh lukanya sepelan yang dia bisa dengan jari-jari kecil yang tidak cukup untuk menyembuhkan apa-apa tapi entah kenapa terasa seperti lebih dari cukup.
Aku menatap wajahnya.
Mata yang menatapku balik dengan ekspresi yang tidak punya nama yang tepat. Bukan kasihan. Bukan takut. Sesuatu yang lebih dalam dari keduanya, sesuatu yang tidak seharusnya ada di wajah anak tiga tahun tapi ada, sesuatu yang bilang dia tahu lebih banyak dari yang bisa diucapkannya.
Aku tersenyum.
Senyum yang paling pahit dan paling tulus yang pernah ada di wajahku dalam waktu yang sama.
Pahit karena ini nyata dan ini tidak seharusnya terjadi dan lukanya tidak hanya di dahi.
Tulus karena di hadapanku ada satu-satunya hal di dunia ini yang membuat semua itu masih bisa ditanggung.
"Aini sayang Ayah," dia bisik dengan lidah cadelnya.
Bukan pertanyaan. Pernyataan. Dengan cara anak tiga tahun yang tidak tahu cara berbohong karena belum ada yang mengajarinya.
Aku peluk dia.
Erat.
Di balik pintu yang terkunci, dengan kepala yang masih berdarah dan tawa dari kamar sebelah yang masih bisa terdengar, aku peluk anak tiga tahun yang lebih paham tentang kesakitan Ayahnya dari siapapun yang ada di rumah ini malam itu.
Dan itu yang paling menyayat dari semuanya.
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain