NovelToon NovelToon
Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.

Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.

Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.

Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Di dunia ini, patah hati seorang ibu adalah saat melihat anaknya sakit. Jika boleh meminta pada Sang Pencipta, ia akan rela menukar rasa sakit itu, memindahkannya ke tubuhnya sendiri, asalkan anaknya tidak perlu menderita.

Itulah yang kini dirasakan Inara.

Ia sadar, dirinya bukan ibu kandung Zidan. Namun empat tahun bersama bukan waktu yang singkat. Ikatan itu sudah terlanjur tumbuh, mengakar begitu dalam hingga tak bisa dilepaskan begitu saja. Apa pun yang terjadi antara dirinya dan Reno, itu tidak pernah menjadi alasan untuk membenci anak itu. Lagi pula, Zidan masih kecil, perasaannya mudah goyah, mudah dipengaruhi.

"Zidan, cepat sembuh ya, sayang. Mama selalu ada di sini buat kamu," ucap Inara lirih sambil membelai lembut rambut pendek Zidan.

Setelah kejang tadi, Zidan sudah mendapat pertolongan dari dokter, dan kini kondisinya kembali stabil. Dokter berpesan agar ia terus menjaga kondisinya, memastikan suhu tubuhnya tidak kembali naik. Meski waktu hampir subuh, Inara sama sekali tidak berniat memejamkan mata. Ia tetap duduk di samping ranjang, sesekali mengompres kening Zidan dengan penuh hati-hati.

Harapannya hanya satu, Zidan segera sembuh dan melewati masa-masa ini.

Tanpa sadar, jemarinya menelusuri wajah kecil itu, dari kening, pipi, hingga berhenti di bibir mungilnya. Sentuhan itu menariknya pada satu kenangan lama, saat pertama kali ia menyusui Zidan.

Hari itu bukan hari kelahiran, melainkan sekitar satu minggu setelah Zidan dilahirkan. Namun kondisinya saat itu jauh dari kata baik. Tubuh kecil itu terus menangis, suaranya serak, seolah kelelahan menahan lapar dan ketidaknyamanan yang tak bisa ia ungkapkan. Suasana rumah terasa tegang karena bayi itu tak kunjung tenang meski sudah digendong bergantian.

Inara yang saat itu baru dibawa Reno ke rumah hanya bisa berdiri ragu, hingga akhirnya bertanya pelan, "Apa dia belum minum?"

Tidak ada jawaban pasti, hanya tangisan yang semakin melemah, membuat perasaannya semakin tidak enak. Ia pun mendekat, menatap wajah kecil yang sudah memerah, dengan bibir yang bergerak pelan seolah mencari sesuatu.

"Aku… coba ya?" ucapnya lirih.

Dengan tangan yang masih canggung, Inara menggendong Zidan. Tubuh itu terasa hangat, tetapi terlalu ringan untuk bayi seusianya. Tangisnya tersendat, seperti kehabisan tenaga. Saat Inara mendekatkannya ke dada, sempat ada keraguan yang menahan, namun detik berikutnya refleks itu muncul begitu saja. Bibir kecil itu langsung mencari, lalu menempel, dan untuk pertama kalinya Zidan menyusu darinya.

Inara membeku sesaat. Napasnya tertahan, matanya tak lepas dari wajah kecil itu. Perlahan, tangisan Zidan mereda, berganti dengan gerakan lembut dan napas kecil yang mulai teratur. Di saat itulah sesuatu dalam dirinya berubah. Apa yang dulu ia anggap sebagai kesalahan kini terasa seperti anugerah.

Ia tidak tahu harus menyebutnya apa, tetapi ada rasa hangat yang memenuhi dadanya, membuatnya tanpa sadar mengeratkan pelukan, seolah tubuh kecil itu memang sudah seharusnya berada di sana.

Sejak hari itu, semuanya berjalan begitu saja. Zidan mulai mengenal pelukannya, mencari kehangatannya, dan setiap kali menangis, hanya tenang saat berada di dekatnya.

Kembali ke masa kini, Inara menatap wajah Zidan yang masih terlelap. Matanya perlahan memanas, karena sejak awal hubungan itu tidak pernah sederhana, dan mungkin memang tidak akan pernah bisa dilepaskan begitu saja.

"Zidan sayang, Mama tidak tahu bagaimana hubungan kita ke depannya nanti. Tapi kamu harus tahu… Mama sayang sama kamu, Nak," ucapnya lirih.

Ucapannya menggantung di udara, seolah hanya didengar oleh dinding dan malam yang hampir habis. Ia kembali mengompres kening Zidan dengan hati-hati, memastikan suhu tubuh anak itu tetap stabil.

Beberapa saat kemudian, Zidan sedikit bergerak. Keningnya berkerut, napasnya berubah, dan bibir kecilnya tampak bergetar. Inara langsung siaga, tubuhnya condong mendekat.

"Zidan?" panggilnya pelan.

Kelopak mata anak itu perlahan terbuka, meski masih setengah sadar. Pandangannya kosong sesaat sebelum akhirnya berhenti pada wajah Inara.

"Bunda Oya," gumamnya pelan.

Deg.

Jemari Inara yang menggenggam tangan kecil itu perlahan mengendur. Napasnya tertahan, dadanya terasa seperti ditekan sesuatu yang tak terlihat. Dalam kondisi setengah sadar seperti ini, nama yang keluar dari bibir Zidan bukan dirinya.

Bukan Mama.

Melainkan Zoya.

Padahal sejak tadi ia tidak beranjak sedikit pun dari sisi ranjang. Ia yang menahan kantuk, yang berkali-kali mengganti kompres, yang memastikan suhu tubuh anak itu perlahan turun. Namun tetap saja… bukan dirinya yang diingat.

Inara menunduk, menyembunyikan gejolak di wajahnya. Dadanya sesak, tetapi ia menahannya rapat. Ia tidak ingin menangis, tidak di depan anak itu. Tangannya kembali bergerak, mengusap lembut rambut Zidan seperti sebelumnya.

"Iya… istirahat ya, sayang," ucapnya pelan, suaranya tetap lembut meski ada yang retak di dalamnya.

Setelah memastikan Zidan kembali terlelap, Inara perlahan bangkit. Ia melangkah keluar dari ruangan, memberi ruang pada dirinya sendiri untuk menenangkan perasaan yang mulai tak terkendali.

Namun saat pintu terbuka, Zoya sudah berdiri tak jauh dari di sana. Wanita itu tidak berkata apa-apa. Tatapannya hanya mengikuti langkah Inara yang menjauh, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

"Bagus… kamu memang tidak pernah mengecewakanku, Inara," gumamnya pelan.

Zoya menarik sudut bibirnya, senyum tipis itu perlahan memudar saat matanya beralih ke sisi lain lorong. Di sana, Reno baru saja datang dengan langkah cepat.

Dalam hitungan detik, ekspresi Zoya berubah. Wajahnya kembali tenang, bahkan sedikit pucat, seolah ia baru saja kelelahan menjaga seseorang semalaman.

Ia segera melangkah masuk ke dalam ruang rawat.

"Zidan…" panggilnya lirih sambil mendekat ke ranjang.

Reno yang masuk beberapa detik kemudian langsung menghampiri. "Gimana keadaannya?"

"Sudah lebih tenang," jawab Zoya pelan. Tangannya terulur, menyentuh kening Zidan sekilas, lalu ia mengembuskan napas lega. "Tadi sempat gelisah sedikit, tapi sekarang panasnya sudah turun."

Reno mengangguk, wajahnya masih menyisakan kekhawatiran. Ia tidak banyak bertanya, hanya berdiri di sisi ranjang, menatap anak itu seolah memastikan semuanya benar-benar baik-baik saja.

Di sampingnya, Zoya kembali duduk perlahan. Tatapannya tertuju pada wajah Zidan yang mulai tenang, lalu jemarinya mengusap rambut anak itu dengan lembut.

"Zidan semakin membaik… Bunda senang," ucapnya lirih. Ia berhenti sejenak, seolah menahan lelah yang baru terasa, sebelum melanjutkan, "meskipun harus begadang semalaman, semua rasanya terbayar lihat kondisi kamu sekarang."

Nada suaranya terdengar tulus, cukup untuk menghangatkan suasana dan perlahan menyita simpati Reno. Namun kehangatan itu tidak bertahan lama. Pandangan Reno yang semula tertuju pada Zidan dan Zoya perlahan bergeser, hingga akhirnya berhenti pada sebuah termos yang terletak di atas nakas.

Keningnya sedikit berkerut. Ada sesuatu yang terasa janggal. Ia melangkah mendekat, menatap benda itu sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangan pada Zoya.

"Zo…" panggilnya pelan, nada suaranya berubah, tidak lagi sepenuhnya lembut. "Kamu yakin sudah menjaga Zidan semalaman?"

1
Anonim
Ambil aja reno sama kamu zoya,inara mah sama altaf aja.buat inara sama altaf thor biar bisa bareng baba
Anonim
Semangat inara tinggalkan reno,ayo gas altaf pepet terus inara
Anonim
Lanjut up thor banyakan dong seru ,semangat thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, masih satu bab 1 lagi tapi review
total 1 replies
Dew666
🩵🩵🩵🩵
Anonim
Dih jangan mau inara emang maaf doang bakal kelar gitu aja laki g jelas
Anonim
Lah emang si zoya belum cerai sama di reno?aneh banget si reno mau ngawinin si inara tapi belum cerai laki laki g jelas
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: nah iya, 4 th pergi jadi udh cerai belum ya 🤭
total 1 replies
Anonim
Jangan bikin inara balik sama reno y thor biarin aja si szidan sama emak bapak nya
A'ra
Cepet up lagi yah kak dan semangat nulisny 🥰🫶🏻💪🏻💪🏻
Anonim
Jangan sampe inara balik sama reno ya thor g iklas aku,biar inara jadi ibu sambung baba aja
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: 🤭🤭🤭 coba tanya inara apa dia mau atau gak kak
total 1 replies
Dew666
💝💝💝
Anonim
Inara ko bloon sih menye menye banget jadi cewe,laki masih demen ama mantan ko masih aja di pikirin
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: sabar kak, dia gak bodoh, hanya terbawa perasaan🤭
total 1 replies
Dew666
👄👄👄👄
Dew666
Pigi aja drpd jd bulan bulanan mereka huffff
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: hooh, mending pergi ya kak
total 1 replies
Dew666
☀️☀️☀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!