Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.
Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.
Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.
Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.
Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat pulang sekolah
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Siswa-siswi berhamburan keluar gerbang seperti semut.
Suasana di luar sangat ramai, tapi hati Zea justru terasa berat. Sepanjang hari, bayangan kejadian di kantin terus berputar di kepalanya.
''Cewek secantik dan sesempurna Kak Nayla aja ditolak mentah-mentah sama Kak Bara...'' pikir Zea sambil berjalan sendirian.
''Terus apa harapanku? Aku kan cuma cewek biasa, tomboy, dan jauh dari kata elegan. Mending sadar diri deh, jangan bawa perasaan.''
Zea menghela napas, lalu menyalakan motor bebeknya dan melaju pelan meninggalkan sekolah.
Jalanan menuju rumah cukup sepi dan teduh. Matahari mulai terbenam, angin sore berhembus sejuk. Zea mencoba bersenandung pelan untuk menghibur diri.
Namun, perjalanannya terhenti saat melihat sesuatu yang tak biasa.
Sebuah motor sport hitam mengkilap diparkir sembarangan. Dan di sebelahnya... ada seseorang yang sedang berjongkok dengan wajah kesal.
Jantung Zea seketika berhenti berdetak.
''Itu... Kak Bara?!''
Zea langsung mengerem mendadak. Awalnya ia ingin lewat saja, tapi rasa penasaran dan kepedulian mengalahkan segalanya. Ia pun turun dan mendekat pelan.
Benar saja, itu Bara.
Cowok itu sedang berjongkok memeriksa ban belakangnya yang kempes total. Wajahnya yang biasanya keren dan cool, sekarang terlihat berantakan. Kemejanya digulung memperlihatkan lengan kekar, dan tangannya penuh oli serta debu. Terlihat jelas kalau dia sama sekali tidak paham mekanik.
"Dasar sialan... Kenapa harus bocor di tempat sepi begini sih?!" gerutu Bara kesal.
Zea berdiri mematung.
'Astaga... Kenapa aku harus nemuin dia di saat kayak gini?' batinnya panik. 'Dia kan cowok dingin. Pasti nggak mau diganggu. Mending pergi aja deh...'
Tapi terlambat. Bara menoleh ke belakang.
Mata mereka bertabrakan.
"Eh...!" seru Zea kaget.
"Kamu?" ucap Bara datar, menyeka tangannya ke celana.
Satu kata itu membuat Zea gemetar. Ia berusaha tenang meski jantungnya mau copot.
"I-iya... Kak Bara. Kebetulan banget gue lewat. Kok berhenti di sini? Motornya rusak?" tanya Zea tersenyum kaku.
"Bocor." jawab Bara singkat menunjuk ban dengan dagunya.
Zea melirik ban yang kempes, lalu menatap Bara yang terlihat gelisah. Tiba-tiba rasa percaya dirinya muncul. Soal motor, dia memang jagonya!
"Oalah, ban bocor. Wajar sih, jalanan sini banyak paku. Ini bocornya lumayan besar, harus ditambal panas atau ganti ban dalem." ucap Zea tenang & profesional.
Bara terlihat sedikit terkejut melihat cewek ini berani bahas masalah mesin begitu fasih.
"Kira-kira bengkel masih jauh gak ya?" tanya Bara nada sedikit lebih lembut.
"Jauh kak, lumayan kalau harus dorong." jawab Zea.
Suasana hening. Bara mengecek HP-nya, wajahnya makin masam.
"Sinyal nggak ada. Telepon teman juga nggak nyambung." keluh Bara.
Zea menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
'Ya ampun... Cewek secantik Kak Nayla aja ditolak, masa sekarang gue yang harus pusing mikirin dia?'
Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak tega melihat Bara kesusahan.
"Ya udah gini aja deh..." ucap Zea cuek & santai.
Bara menatapnya menunggu penjelasan.
"Motor Kak Bara ditinggal dulu aja di sini, taruh di bawah pohon biar aman. Nanti aku antar ke bengkel deh, terus aku kabarin kang tambalnya. Atau... aku boncengin Kakak cari tukang tambal?" tawar Zea berani.
Jantung Zea berdegup kencang. 'Ya Allah... seriusan nih aku mau boncengin dia?! Jantung gue mau copot nih!'
Bara berpikir sejenak, lalu mengangguk pasrah.
"Baiklah, ayo."
"Ahh, ehhh iyaa iyaa!" seru Zea semangat sampai salah tingkah.
BARA MEMUTUSKAN MENINGGALKAN MOTORNYA
Dengan berat hati, Bara memindahkan motor besarnya ke tempat yang lebih aman dan menguncinya. Wajahnya terlihat sangat tidak rela meninggalkan 'kuda besi'-nya kesayangannya sendirian di tempat sepi.
Setelah itu, dia berjalan menuju motor Zea yang jauh lebih kecil dan sederhana.
"Yuk naik! Tangan pegang yang bener ya! Jangan pegang bahu atau apa, nanti aku kaget nyetirnya! Pegang di jok belakang atau ujung bajunya aja!" instruksi Zea sudah duduk di depan, mesin menyala.
Bara mengangguk pelan, lalu naik dengan hati-hati. Joknya sempit, membuat tubuh mereka otomatis berdekatan cukup dekat.