NovelToon NovelToon
PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: GODAAN KEDUA - WARTAWAN DATANG

Hari ke-46 di Ndalem. Status Zahra Almira: Bu Nyai Viral Yang Hari Ini Didatengin Wartawan. Dag-dig-dug-nya beda.

Jam 08.00, gerbang Ndalem diketok. Keras. Bukan santri. Bukan calo sarung.

Kang Jono lari ke ruang tamu. "Bu Nyai, Tadz! Ada wartawan! Bawa kamera gede! Katanya dari PortalJatim!"

Aku langsung kesedak kopi. "Wartawan? Ngapain?"

Rayan yang lagi baca LPJ angkat kepala. "Tabayyun. Kemarin TikTok kita FYP. Pasti kecium media."

Bunda Aisyah panik. "Nak, Nduk! Daster Bunda belum ganti! Humairah, cepet sembunyi! Nanti masuk TV!"

Humairah malah nongol. Pake sarung, bawa toya. "Aku mau masuk TV, Bunda! Biar jadi Bu Nyai Avengers beneran!"

Aku tepuk jidat. "Wis. Terima aja. Bismillah."

---

Jam 08.30, dua wartawan masuk. Cowok-cowok. Satu namanya Mas Dimas, kameramen. Satunya Mas Revan, reporter. Klimis. Wangi parfumnya sampe ke mihrab.

"Assalamualaikum, Ustadz Rayan, Bu Nyai Zahra," kata Mas Revan. Senyum. Terlalu lebar. "Kami dari PortalJatim. Mau liput Ndalem Al-Hikmah. Soalnya viral. 'Bu Nyai Barista Lawan Fitnah'. Unik banget."

Aku sama Rayan duduk jejer. Jarak 70 cm. Agak jauh. Soalnya ada orang asing. Jaga adab.

"Waalaikumsalam, Mas," jawab Rayan. Tenang. "Silakan. Mau liput apa?"

"Profil Bu Nyai," jawab Mas Revan. Matanya malah ke aku terus. "Pembaca kami penasaran. Mantan barista kok bisa jadi Bu Nyai? Terus... bener nggak sih kabar Ndalem ini hampir bubar gara-gara poligami?"

Nah. Kalimat terakhir. Nadanya... nggak bener.

Aku senyum. Senyum barista ngadepin customer komplain. "Mas Revan, Ndalem nggak hampir bubar. Buktinya Mas bisa duduk di sini, ngopi gratis. Kalau mau poligami, yang bubar itu rumah tangga saya. Bukan Ndalem."

Mas Dimas langsung ngerekam. Lampu merah nyala.

Rayan nyikut kursiku. Pelan. Kode: Hati-hati.

Mas Revan lanjut. "Bu Nyai, boleh jujur? Banyak netizen bilang, Bu Nyai nikah sama Ustadz Rayan itu... downgrade. Dari kota, dari kafe, ke Ndalem. Nggak nyesel, Bu?"

JEDER.

Satu ruangan diem. Bunda Aisyah berhenti ngipas. Humairah ngumpet.

Aku liat Rayan. Dia diem. Rahangnya kenceng. Tapi nggak motong. Dia nunggu jawabanku. Percaya aku bisa.

Aku tarik napas. "Mas Revan," kataku. Pelan. Tapi jelas. "Nyesel itu kalau saya nikah sama orang yang nggak bisa bikin saya tenang. Ustadz Rayan mungkin nggak punya kafe kayak mantan saya. Tapi dia punya Ndalem. Tempat saya bisa nangis tanpa dihakimi. Tempat saya bisa belajar tanpa direndahin. Jadi... saya nggak downgrade. Saya upgrade. Dari capek... jadi tentram."

KLIK.

Bukan suara kamera. Tapi suara hati Rayan. Aku tau. Soalnya dia natap aku. Lama. 4 detik. Rekor baru.

Mas Revan ketawa kaku. "Wah... dalem, Bu Nyai. Boleh saya kutip ya?"

"Boleh," jawabku. "Asal jangan dipotong. Nanti netizen salah paham. Saya capek klarifikasi."

---

Sesi foto. Mas Dimas minta aku sama Rayan berdiri depan Ndalem.

"Bisa deketan dikit, Ustadz, Bu?" katanya. "Biar keliatan harmonis."

Aku sama Rayan jalan. Berhenti. Jarak 35 cm. Nggak sadar.

"Cieee," bisik Humairah dari belakang. "Udah deket-deketan.

Aku langsung mundur 10 cm. Rayan juga. Balik jaga jarak lagi. Malu, padahal sudah halal.

Mas Revan ngakak. "Wah, Ustadz sama Bu Nyai jaim banget. Udah sah, kan?"

"Udah, Mas," jawab Rayan. Dingin. "Tapi adab tetap dijaga. Apalagi di depan kamera."

Skak. Mas Revan diem.

---

Jam 11.00, wartawan pamit. Pas di gerbang, Mas Revan nyamperin aku sendirian. Rayan lagi nganter Mas Dimas ke mobil.

"Bu Nyai," bisiknya. "Maaf ya kalau pertanyaan saya tadi nyinggung. Tapi... saya penasaran. Beneran nggak nyesel? Soalnya... saya kenal mantan Bu Nyai."

Dunia berhenti muter.

"Maksud Mas?" tanyaku. Dingin.

"Arya," jawab Mas Revan. Senyum. "Dia pemilik kafe Cozy Corner Brews, kan? Lagi Booming, beberapa waktu lalu Saya sempat wawancara, tentang pemuda inspiratif dan produktif, kebetulan kafe punya Mas Arya lagi terkenal banget, jadi dipilih buat dijadiin berita utama, dari situ Saya tahu Bu Nyai, soalnya masih ada foto Bu Nyai di sana,"

Deg. Darahku naik ke kepala. Tapi mulutku senyum.

"Mas Revan," kataku. Pelan. "Zahra udah nggak jualan kopi. Jadi nggak ada hubungannya lagi dengan Arya, Zahra sekarang jualan ketenangan.

Mas Revan kaget. Mau jawab. Tapi Rayan udah balik. Berdiri di belakangku. Nggak nyentuh. Tapi jaraknya... 20 cm. Paling deket seumur-umur.

"Ada apa, Zahra?" tanya Rayan. Matanya ke Mas Revan. Dingin. Kayak es batu.

"Ngga ada, Tadz," jawabku. Tenang. "Mas Revan cuma pamit."

Mas Revan salting. "I-iya, Ustadz. Pamit. Makasih liputannya."

Mobil wartawan pergi. Ninggalin debu sama... nama Arya.

Aku diem. Rayan juga.

"Tadz," kataku akhirnya. "Tadi... Mas Revan bawa nama..."

"Aku denger," potong Rayan. Suaranya rendah. "Arya."

Aku nengok. "Tadz nggak tanya?"

Rayan geleng. "Ngapain? Kamu di sini. Sama aku. Udah cukup."

Tapi tangannya ngepal. Aku liat.

"Tadz," kataku lagi. "Kalau... kalau dia beneran dateng gimana?"

Rayan natap aku. Lama. Terus jawab. "Terserah kamu, Zahra. Pintu Ndalem selalu kebuka. Mau keluar... mau masuk. Aku nggak akan ngunci. Soalnya... yang dipaksa tinggal, nggak akan tenang."

Aku diem. Air mata mau keluar. Tapi kutahan.

Soalnya aku tau jawabannya. Dari dulu.

"Yang bikin aku tenang bukan pintu, Tadz," kataku. Pelan. "Tapi yang nungguin di dalem pintu."

Rayan nggak jawab. Tapi... ujung bibirnya naik. 1 mm. Tapi itu senyum paling mahal se-Ndalem.

Dari dalem, Bunda Aisyah teriak: "NAK, NDUK! KALAU JAUH-JAUHAN TERUS, KAPAN BUNDA GENDONG CUCU?!"

Aku sama Rayan kaget. Langsung balik ke jarak 1 meter.

"BUNDAAA!" teriak kita kompak.

1
hasatsk
setelah di baca terus menerus ternyata ceritanya seru.....💪💪
wanudya dahayu: makasi kak 🙏. lagi nyari ide lagi, biar bisa menuhi syarat kontrak. doain ya kak. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Di Dia
tokoh aryanya cpt"di singkirin ...
Titik Sofiah
awal yang menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
wanudya dahayu: iya kak, semoga suka, mohon dukungannya 😍🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!