NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Seperti yang sudah disepakati, Gilang datang lebih awal ke hotel mewah itu, ini baru pertama kali Gilang masuk ke tempat megah bak istana.

Langkahnya sempat ragu saat melewati lobi, takut dikira nyasar karena penampilannya jauh dari orang-orang yang mondar-mandir dengan jas rapi dan gaun mahal. Dia menegakkan badan, mencoba terlihat percaya diri meski tangannya terus meremas ujung tas ranselnya.

Sambil melirik jam di ponsel, Gilang menarik napas. “Ya sudah, tunggu aja dulu. Toh janjiannya di sini,” gumamnya pelan sebelum duduk di salah satu kursi dekat pintu masuk.

Tak lama kemudian, suara hak sepatu terdengar jelas dari arah pintu. Gilang menoleh. Valeria berjalan masuk dengan dress hitam sederhana tapi elegan. Wajahnya datar, dingin, sama sekali tidak menoleh ke kanan atau kiri.

Gilang buru-buru berdiri. “Bu Valeria…” ucapnya agak canggung.

Valeria hanya melirik sekilas, lalu berkata datar, “Ikut saya.”

Valeria berjalan cepat tanpa banyak bicara, langkah hak sepatunya terdengar jelas di lantai marmer hotel. Gilang mengikutinya dari belakang, sedikit kikuk karena jadi pusat perhatian beberapa orang yang melirik mereka.

Tanpa henti, Valeria menekan tombol lift, lalu masuk begitu pintunya terbuka. Gilang ikut masuk, berdiri kaku di sampingnya. Hening, hanya suara lift yang bergerak naik.

Begitu sampai di lantai atas, Valeria melangkah keluar duluan. Tangannya langsung meraih kartu kamar dari dalam tas, lalu membuka pintu salah satu kamar yang sudah direservasi.

“Masuk,” katanya singkat, tanpa menoleh.

Gilang menarik napas dalam, lalu melangkah masuk ke kamar hotel yang mewah itu.

Valeria duduk menyilangkan kaki di ranjang ukuran king size yang dibaluti sprei putih. “Duduk,” perintahnya singkat.

Gilang menurut, menarik kursi dekat meja rias dikamar itu, lalu menatap Valeria dengan canggung.

Valeria menghela napas pelan sebelum akhirnya berkata, “Sebelum kamu melakukan tugasmu, saya ada beberapa pertanyaan untuk kamu."

Gilang mengangguk pelan. “Silakan, Bu.”

Valeria menatap Gilang lama seolah ingin membaca isi kepalanya. "Romeo, kamu sudah punya pacar?"

Gilang refleks mengerutkan kening, jelas nggak nyangka dengan pertanyaan itu. “Hah? Pacar?” tanyanya balik, suaranya terdengar kikuk.

Valeria menyilangkan tangan di dada, tatapannya tetap menusuk. “Iya. Kamu kan masih muda. Biasanya laki-laki seusiamu udah punya seseorang, kan?”

Gilang menunduk sebentar, lalu tersenyum kecut. “Nggak ada, Bu. Hidup saya udah ribet sama urusan lain. Pacar malah bikin tambah ribet.”

Valeria mengangkat sebelah alis, ada senyum tipis yang nggak jelas artinya. “Oh begitu…”

Valeria menyandarkan punggung ke headboard ranjang, matanya tetap tertuju ke Gilang. “Terus… kenapa kamu bisa sampai terjerumus ke dunia ini? Jadi gigolo di usia segini… masih muda banget.”

Gilang terdiam. Pertanyaan itu terasa seperti hantaman keras. Tangannya meremas celana, mencari kata-kata yang pas.

“Bukan keinginan saya, Bu,” jawabnya pelan. “Saya nggak punya pilihan lain. Ada tanggungan di rumah, utang juga numpuk. Kalau saya nggak cari jalan… keluarga saya yang jadi korban.”

Valeria mengamati wajah Gilang, seolah menilai apakah jawaban itu jujur atau cuma alasan basi. “Jadi… semua ini demi uang?”

Gilang mengangguk tanpa menatap balik. “Iya, demi mereka.”

Valeria tertawa pelan, matanya menyipit menatap Gilang. “Jadi kamu ambil jalan simpel dan cepat untuk dapat uang… plus kenikmatan juga?”

Gilang menunduk, rahangnya mengeras. “Kalau Ibu pikir begitu, silakan. Tapi buat saya nggak ada kenikmatan di sini. Yang ada cuma beban.”

Valeria berhenti tertawa. Ekspresinya sedikit berubah, seolah terkejut dengan jawaban Gilang.

Valeria menyilangkan tangannya di dada, menatap Gilang tajam. “Banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk dapat uang. Apalagi sekarang era digital. Kamu tampan, jadi content creator pun sudah bisa sangat menghasilkan. Atau kamu mau pilih jalur lain seperti… merampok, misalnya?” Valeria mengangkat alisnya. “Kenapa kamu pilih jalan ini kalau bukan karena kamu menikmatinya juga?”

Gilang menghembuskan nafas kasar, sedikit terusik dengan pertanyaan Valeria “Content creator?” ia mendengus pelan. “Saya nggak punya modal, Bu. Kamera aja nggak ada, laptop pun pinjem. Lagi pula, siapa juga yang mau nonton saya? Ntar ujung-ujungnya cuma jadi bahan ejekan.”

Ia mengangkat wajahnya sebentar, sorot matanya keras. “Dan soal merampok, saya masih punya otak, Bu. Saya nggak sebodoh itu. Jalan ini… mungkin kotor, tapi setidaknya saya nggak bikin orang lain celaka.”

Valeria terdiam sejenak, lalu tersenyum miring. Tatapannya tidak lagi sekadar meremehkan, melainkan lebih… tertarik. “Hm, ternyata kamu bisa ngomong juga, ya. Saya kira cuma nurut aja.”

Ia sedikit memiringkan kepala, meneliti wajah Gilang dari ujung rambut sampai dagunya. “Kamu punya cara pandang sendiri. Itu yang bikin saya penasaran.”

Valeria lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang, masih menatap Gilang dengan senyum tipis. “Baiklah, Romeo. Mungkin saya ingin mengenal kamu lebih jauh, bukan cuma… pakai jasamu.”

Belum sempat Gilang menanggapi, Valeria tiba-tiba condong ke depan. Tangannya menahan bahu Gilang, lalu tanpa aba-aba ia mel*mat bib*r Gilang dengan penuh agresi.

Gilang sempat terkejut, tubuhnya menegang. Tapi tatapan tajam Valeria membuatnya tak punya pilihan. Perlahan, ia mulai membalas, meski dalam hati masih ada rasa ragu yang menekan.

Gerakan Valeria semakin berani, seolah ingin menguji seberapa jauh Gilang bisa mengimbangi. Napas mereka saling berpacu, panas ruangan mendadak bertambah. Gilang akhirnya menyesuaikan ritme, berusaha mengambil kendali walau jelas ia masih canggung.

" Kita selesaikan malam ini," bisik Valeria ditengah ciumannya.

Dalam beberapa detik, suasana berubah total. Yang tadinya hanya obrolan serius, kini bergeser menjadi permainan fisik yang memaksa Gilang menyingkirkan pikirannya sendiri dan fokus pada peran yang harus ia jalani.

Valeria semakin dalam menekan ciumannya, tangannya mencengkeram leher Gilang agar tidak bisa mundur. Gilang sempat ingin menahan, tapi tubuhnya justru membeku. Seolah Valeria sedang menguji, menantang sisi lain dalam dirinya.

Dengan sedikit ragu, Gilang akhirnya mulai mengimbangi. Gerakannya pelan, tapi pasti. Ia tahu kalau terlalu pasif, Valeria tidak akan puas. Detak jantungnya berpacu kencang, bukan karena gairah, tapi karena rasa campur aduk yang menggerogoti pikirannya.

Di balik setiap sentuhan yang ia balas, ada bayangan wajah ibunya dan adik-adiknya yang menunggu di rumah. Itu membuat dadanya sesak, tapi di saat bersamaan ia harus terus memainkan peran Romeo yang dituntut darinya.

Valeria melepaskan ciumannya sebentar, menatap Gilang dengan senyum miring. “Nah… itu baru Romeo yang saya mau.”

Gilang hanya menarik napas kasar, matanya kosong. Dalam hati ia tahu, semakin jauh melangkah, semakin ia terjebak.

Malam itu Valeria terus menarik Gilang, tidak hanya sekali. Beberapa ronde mereka jalani sampai tubuh Gilang benar-benar kehabisan tenaga.

" Saya ingin full service hari ini, kamu akan...sttt... mendapatkan tip setelah ini, ahh...," desah Valeria disela kegiatan itu.

Setelah beberapa waktu, Valeria akhirnya terlelap dengan senyum puas di wajahnya.

Sementara itu Gilang masih menatap langit-langit kamar hotel. Matanya berat, badannya capek, tapi pikirannya tetap kacau.

Akhirnya, karena terlalu lelah, Gilang ikut tertidur di samping Valeria.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!