"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi meja makan
Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden kamar Lara, membawa suasana baru yang terasa berbeda dari hari-hari biasanya. Lara turun ke lantai bawah dengan seragam kemeja putih dan rok hitamnya yang rapi.
Di ruang makan yang luas, aroma kopi dan roti panggang sudah memenuhi ruangan. Papa dan Mamanya sudah duduk di posisi masing-masing, tampak elegan seperti biasa.
"Pagi, Sayang. Sini sarapan dulu," sapa Mamanya dengan senyum lembut sambil mengoleskan selai ke sepotong roti.
Lara menarik kursi dan duduk di hadapan Papanya. "Pagi, Ma. Pagi, Pa."
Papa Lara meletakkan tablet yang sedang digunakannya untuk membaca berita bisnis pagi itu. Beliau menatap putrinya dengan tatapan menyelidik namun penuh kasih. "Gimana tidurmu? Nyenyak? Papa dengar semalam ada yang senyum-senyum sendiri setelah terima pesan di ponsel?"
Wajah Lara mendadak panas. Ia menunduk, pura-pura sibuk mengambil sereal. "Apa sih, Pa... Itu cuma urusan kampus kok."
"Urusan kampus atau urusan sama tetangga dua blok dari sini?" goda Papanya lagi.
Mama Lara yang baru mendengar cerita dari sang suami semalam ikut menimpali. "Mama baru tahu kalau kamu pulang bareng Baskara. Dia anak yang sopan ya, Lara. Keluarga Langit itu sangat disegani di dunia bisnis, dan Baskara sendiri punya reputasi yang sangat bagus di kampus sebagai mahasiswa berprestasi."
"Iya, Ma. Dia cuma bantu antar karena Lara nggak dapat ojek semalam," jawab Lara pelan, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil.
Tepat saat Lara hendak menyuapkan sereal ke mulutnya, sebuah pesan masuk di ponsel yang diletakkan di atas meja. Layarnya menyala, memperlihatkan notifikasi dari nama yang sudah ia simpan semalam.
Baskara Langit:
Lima menit lagi saya di depan pagar rumahmu. Jangan terlambat, kaki saya masih sedikit sakit buat nunggu lama.
Lara tersedak pelan. Ia buru-buru meminum air putihnya dan langsung berdiri, membuat Papa dan Mamanya saling pandang penuh arti.
"Lho, sarapannya belum habis, Lara?" tanya Mama heran.
"Lara... Lara harus berangkat sekarang, Ma! Ada janji di kampus lebih awal," Lara menyambar tasnya dan mencium pipi kedua orang tuanya dengan tergesa-gesa.
Kejutan kembali menanti Lara di depan gerbang. Alih-alih deru mesin motor sport yang gahar, kali ini sebuah mobil sport mewah dengan desain aerodinamis yang elegan sudah terparkir manis di depan rumahnya.
Lara menghentikan langkahnya tepat di depan pagar. Matanya membelalak melihat mobil sport dua pintu yang mengkilap di bawah sinar matahari pagi. Kaca jendela mobil yang gelap perlahan turun, memperlihatkan wajah Baskara yang tampak jauh lebih segar, meski gurat kelelahan sisa pertandingan semalam masih sedikit terlihat.
"Kak? Kok... ganti mobil?" tanya Lara bingung.
Baskara membukakan kunci pintu dari dalam. "Kaki saya terkilir, Lara. Susah kalau harus menyeimbangkan motor besar. Sudah, cepat masuk, nanti kita terlambat ke klinik."
Lara segera masuk dan duduk di kursi penumpang yang sangat nyaman. Aroma parfum maskulin yang khas langsung memenuhi indra penciumannya. Ini pertama kalinya ia berada di ruang yang begitu sempit dan tertutup bersama Baskara.
"Nggak apa-apa kan kalau saya jemput pakai ini?" tanya Baskara sambil mulai melajukan mobilnya dengan halus.
"Nggak apa-apa, Kak. Justru saya yang nggak enak jadi merepotkan terus," gumam Lara sambil menarik sabuk pengamannya.
Baskara melirik kecil ke arah Lara yang tampak mungil di kursi mobil sportnya. "Nggak merepotkan kalau itu kamu. Lagipula, Papa kamu tadi melihat dari balkon, kan? Dia sepertinya sudah memberikan izin tidak tertulis untuk saya menjagamu."
Wajah Lara kembali memerah. "Papa memang suka bercanda, Kak. Jangan dimasukkan ke hati."
"Siapa yang bilang saya memasukkannya ke hati? Saya memasukkannya ke dalam rencana," jawab Baskara santai dengan senyum miring yang membuat Lara kehilangan kata-kata.
Mobil mewah itu melesat membelah jalanan komplek menuju kampus. Di dalam kabin yang kedap suara itu, hanya ada alunan musik lo-fi pelan dan debaran jantung Lara yang semakin tidak beraturan.