NovelToon NovelToon
Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Dark Romance
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.

Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.

Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.

Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memulai Dari Nol

Semenjak kejadian memalukan di acara ulang tahun perusahaan Killian Group, internal keluarga Axel benar-benar berantakan. Terlebih lagi, Kakek Dom terus mendapat tekanan dari pihak Morenzo yang menuntut kompensasi pantas atas rasa sakit yang diderita Livia karena terjatuh di acara Killian Grup.

Kakek Dom yang semula berencana mengumumkan pewaris kekayaan Killian di acara ulang tahun tersebut, akhirnya memilih hari ini untuk menyampaikan keputusan besarnya. Meski dilakukan di acara yang lebih privat dan jauh dari sorotan media, seluruh investor utama dan pemegang saham tetap hadir.

Pidato Kakek Dom.

"Hadirin sekalian, kolega, dan rekan bisnis yang saya hormati. Keluarga Killian telah melewati badai yang tidak perlu saya jelaskan lagi. Hari ini, saya berdiri di sini bukan untuk membela diri, melainkan untuk memastikan masa depan Killian Group tetap kokoh di tangan yang tepat. Saya tidak akan membiarkan sentimen pribadi atau hubungan darah mengaburkan logika bisnis. Keputusan yang saya ambil hari ini adalah mutlak, profesional, dan demi integritas perusahaan. Saya harap tidak ada satu pun dari kalian yang mempertanyakan otoritas saya dalam menentukan arah masa depan dinasti ini."

Axel lebih banyak diam, hanya menyimak saja. Entah kenapa hari ini ia merasa enggan mendengarkan pidato itu. Seolah ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.

Benar saja, di penghujung pidatonya, Kakek Dom menjatuhkan bom seperti yang Axel duga.

"Maka dengan ini, saya nyatakan bahwa seluruh warisan dan kendali penuh Killian Group jatuh ke tangan Theo."

Nama itu asing. Theo bukan anggota keluarga, bukan pula darah daging Kakek Dom. Dia hanyalah orang luar.

Daddy Axel langsung berdiri dengan wajah memerah menahan amarah yang mulai menyulut. Namun sebagai pria terhormat, ia mencoba berdebat dengan cara yang bijaksana.

"Papa, maafkan jika saya harus memotong. Kita bicara tentang warisan Killian, sebuah nama yang dibangun oleh keringat keluarga kita selama puluhan tahun. Siapa Theo ini? Bahkan batang hidungnya saja tidak tampak di ruangan ini. Memberikan seluruh kekuasaan kepada orang asing tanpa latar belakang yang jelas bagi keluarga, bukankah itu langkah yang terlalu berisiko dan tidak logis secara hukum keluarga?"

Kakek Dom hanya melirik anaknya dengan malas. "Theo adalah orang paling kompeten yang pernah saya temui dalam mengelola aset sebesar ini. Dia tidak perlu hadir di sini untuk membuktikan nilainya. Angka dan strategi yang ia berikan sudah bicara lebih banyak daripada kehadiran fisik mana pun. Dia akan mewarisi seluruh kekayaan Killian, dan itu sudah final."

Anehnya, para pemegang saham lain yang biasanya vokal, kali ini hanya terdiam. Satu per satu dari mereka justru mengangguk setuju.

Melihat dukungan para investor beralih begitu cepat, Ayah Axel mengepalkan tangannya. Ia marah namun merasa terpojok oleh kesenyapan para pemegang saham.

Sementara itu, Axel tetap pada posisinya. Ia tidak bereaksi apapun.

Siapa pria bernama Theo itu? Bagaimana bisa dia merebut seluruh kekayaan Killian dalam semalam? Batin Ayah Axel terus bertanya-tanya.

...***...

Acara pengumuman berakhir.

Dalam perjalanan pulang, Axel yang menumpang di mobil Daddynya menjadi sasaran kemarahan orang tuanya yang merasa masa depan mereka baru saja hancur.

"Puas kamu sekarang, Axel?! Gara-gara kamu tidak becus mengurus satu wanita saja, kita semua hancur. Livia itu kunci, Axel! Tapi kamu malah membuat kekacauan di pesta itu dan sekarang lihat hasilnya? Kita jatuh miskin. Semua fasilitas, mobil, rumah, saham, semuanya akan ditarik oleh Kakekmu!"

Mommy Axel ikut-ikutan. "Mommy benar-benar tidak habis pikir. Hanya karena satu kesalahan konyolmu, Kakek Dom tega memberikan semuanya pada orang asing bernama Theo itu. Kamu tahu berapa tahun Mommy membangun reputasi di kalangan sosialita? Sekarang semuanya hilang dalam semalam hanya karena kamu tidak bisa menjaga sikap di depan Livia!"

"Lagian, aneh sekali... Kenapa Ayah begitu mengistimewakan Livia? Hanya karena persahabatan lama dengan temannya itu, dia sampai rela mengorbankan keluarga sendiri? Cuma karena kita gagal berbesanan dengan keluarga Livia, kita yang harus menderita sedalam ini?"

Daddy Axel manggut-manggut setuju. Mulai berfikir ke arah sana.

"Iya juga, benar kata kamu. Aneh sekali. Rasanya tidak masuk akal jika hanya karena alasan persahabatan, dia menyerahkan seluruh aset Killian kepada Theo karena tak jadi berbesanan dengan keluarga Livia."

Penasaran itu kembali berganti menjadi marah kembali saat melihat wajah kusut Axel.

"Tapi tetap saja, kalau kamu tidak berulah, Ayah tidak akan punya alasan untuk menghukum kita!"

Axel akhirnya merasa telinganya mulai panas. Pusing karena terus-menerus menjadi bulan-bulanan kemarahan yang tidak berujung, ia akhirnya menjawab dengan suara yang tenang.

"Cukup, Dad... Mom. Aku tahu aku salah, tapi menyalahkan aku terus-menerus tidak akan mengembalikan aset itu," Axel menarik napas panjang. "Mulai sekarang, aku akan mandiri. Aku akan berdiri di atas kakiku sendiri. Aku akan mulai semuanya dari nol tanpa nama Killian."

Mendengar itu, Daddy Axel justru tertawa mencemooh. "Mandiri? Mau mulai dari mana kamu, hah?! Makan saja masih dipilihkan, tidur masih di kamar mewah. Tanpa kartu kredit dari Kakekmu, kamu itu bukan siapa-siapa. Kamu pikir membangun bisnis itu semudah membalikkan telapak tangan?"

"Kamu jangan mimpi, Axel. Kamu tidak akan bertahan satu minggu pun di jalanan." tambah Mommynya.

Axel tidak membalas hinaan itu dengan kata-kata lagi. "Kalau begitu, biarkan aku membuktikannya. Turunkan aku di sini."

"Apa kamu bilang?" Daddy Axel mengerem mobilnya dengan mendadak di pinggir jalan yang cukup sepi.

"Turunkan aku di sini. Sekarang," tegas Axel tanpa ragu sedikit pun.

Karena situasi sudah terlanjur memanas dan tidak ada lagi yang bisa berpikir jernih, Daddy Axel langsung membuka kunci pintu. "Bagus! Silakan! Pergi dan buktikan omong kosongmu itu. Jangan mengemis pulang kalau kamu sudah kelaparan!"

Axel turun dari mobil tanpa membawa apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuhnya. Pintu mobil dibanting keras, dan sedetik kemudian, kendaraan mewah itu melesat pergi meninggalkannya.

Bagaimana caranya memulai dari nol?

Jangankan untuk berbisnis, ia bahkan tidak tahu apakah ia masih punya cukup uang di dompet digitalnya untuk sekadar memesan taksi.

​Getaran di saku jasnya membuyarkan lamunan pahit itu. Axel merogoh ponselnya. Di layar, notif rentetan pesan masuk bertubi-tubi.

​Elena: Axel, kamu di mana? Ini aku Elena.

Elena memakai nomor baru.

Elena: Kamu baik-baik saja? Tolong angkat teleponku. Maafkan aku atas kejadian di malam acara ulang tahun perusahaan Killian Grup. Maaf sudah membuat kabar palsu tentang kehamilan, karena sejujurnya aku terdesak pada saat itu. Tolong jangan perkarakan aku. Kita bisa bahas ini secara baik-baik.

​Seulas senyum kecil akhirnya terbit di bibir Axel. Ia tahu harus memulai dari mana. Ia akan minta bantuan Elena untuk tinggal di apartemen yang dirinya belikan untuk wanita itu yang kini sedang ketakutan dituntut oleh Axel atas pencemaran nama baik.

Bersambung.

1
Tevina Anggita
iyaa ih,lanjutt thorr
Ariany Sudjana
kirain beneran akan mulai dari nol, ternyata masih minta bantuan si pelacur murahan itu 😂😂 kamu yakin si pelacur murahan itu akan membantu kamu, setelah tahu kamu jatuh miskin Axel?
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
poin apaan ini? semuanya hanya menguntungkan sepihak /Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
itu bukan ancaman. tapi bukti jika kamu telah di buang
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
emang kamu pikir, kamu sepenting itu bagi livia /Proud//Proud/
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
ingin apa hayooo /Chuckle//Chuckle/
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
aku tahu, moren pasti berharap jika livia mengobatinya dengan kembali menciumnya kan 🤭🤭
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
hooh, kayaknya percuma juga bicara di tempat lain. karena pada kenyataannya udara dan tembok pun, bisa menjadi mata-mata untuk moren
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
langsung dapat yang lebih baik, walaupun di perkirakan akan sangat amat posesif 🤭
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
wajarkan takut dan berpikir macam-macam /Facepalm/
Tevina Anggita
fiksssss udahh kecintaan bgtt inii pasutri baruu😍😍😍🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aslinya mah kau mau jejingkrakan kan
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyk film kartun dng 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
untung bukan tuk tik tak tik tuk
〈⎳ FT. Zira
sling serang mereka/Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
said NOooo...
Ariany Sudjana
wah habis kamu Axel 😄
Tevina Anggita
lanjuttt🤣🤣💪
Zenun: siyaaap
total 1 replies
aleena
Saya Baru tau mallah
jika melompT di pagi hari bisa menggugurlan kecebong 🤣🤣🤣🤭🤭
Zenun: Gatau tuh Livia dapet referensi darimana. Makanya Morenzo mengumpat sambil ketawa
total 1 replies
Tevina Anggita
lanjutt💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!