Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Asya dan Rara tengah bersiap-siap menuju ke sekolah. Terlihat Asya sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Sedangkan Rara tengah memakai jilbabnya. Saat ini mereka menduduki bangku akhir madrasah aliyah yang setara dengan SMA. Sebentar lagi akan menjalani tahap perkuliahan. Meninggalkan masa putih abu-abu. Banyak yang bilang jika masa putih abu-abu itu masa-masa yang paling mengesankan.
"Rencananya kamu mau lanjut kuliah di mana setelah ini, Sya?," tanya Rara mengawali pembicaraan
"Sebenarnya sih aku nggak mau lanjut kuliah. Aku maunya fokus sama ngaji aja sih. Tapi lihat ke depannya aja gimana deh Ra," jawab Asya enteng
"Wah padahal kamu itu kan termasuk murid yang pinter. Masak nggak mau lanjut kuliah sih Sya?," ucap Rara heran
"Lihat nanti aja deh Ra," ucap Asya singkat
"Iya juga sih. Semua hal yang kita lakukan itu tergantung niat dari hati kita masing-masing," ucap Rara sambil tersenyum
"Kalo kamu mau lanjutin kuliah di mana nantinya?," tanya Asya dengan alis bertaut
"Kayaknya di kampus sekitar pesantren sini aja Sya. Sekalian mau mengabdi di pesantren ini," jawab Rara sambil tersenyum membuat Asya mengangguk-anggukkan kepalanya
"Ya udah, ayo berangkat. Udah jam segini nanti keburu bel masuk bunyi," ucap Asya sambil melirik jam di pergelangan tangannya
"Ya udah, cus berangkat," jawab Rara
Mereka pun berangkat menuju sekolah. Sepanjang perjalanan Rara berceloteh ria membuat Asya terkekeh karena tingkah sahabatnya itu.
Di sepanjang koridor banyak yang menyapa mereka. Karena memang Asya dan Rara termasuk murid kesayangan ustadz dan ustadzah di madrasah aliyah. Ditengah-tengah perjalanan tiba-tiba Asya kebelet. Lalu ia berpamitan kepada Rara.
"Ra, aku ke toilet dulu ya. Kamu duluan aja ke kelasnya," ucap Asya sambil menahan sesuatu
"Hah? Kamu mau ngapain?," tanya Rara heran
"Biasa kebelet banget ini. Lagian belnya berbunyi masih 10 menit lagi kan?," ucap Asya memastikan
"Iya sih. Kamu nggak mau aku temenin aja?," ucap Rara sambil menatap Asya
"Nggak usah deh. Aku sendirian aja lagi pula cuma sebentar kok. Lebih baik kamu ke kelas duluan aja," ucap Asya membujuk Rara untuk ke kelas duluan
"Ya udah deh. Aku duluan ya," ucap Rara yang mendapat anggukan dari Asya
Setelah itu, Asya langsung berlari ke kamar mandi. 10 menit kemudian. Setelah selesai dari toilet, Asya langsung berjalan menuju ke kelasnya. Asya berjalan dengan sedikit berlari karena koridor madrasah yang sudah kosong. Bel masuk sudah berbunyi.
Sesampainya di depan kelas, ia heran karena kelasnya yang begitu ramai. Langsung aja Asya masuk dan ternyata belum ada guru yang masuk. Lalu Asya berjalan ke meja duduknya.
"Kok lama banget sih Sya?," tanya Rara heran
"Ya namanya juga kebelet banget Ra. Kalo nggak dituntaskan ya bisa sakit perut nantinya," jawab Asya sambil mengeluarkan buku pelajarannya
"Kamu tau nggak?," ucap Rara girang
"Nggak," sahut Asya singkat
"Mulai hari ini gus Kafka menggantikan Ustadz Hafiz buat ngajar akidah akhlak," ucap Rara antusias
"Loh emangnya Ustadz Hafiz kemana?," tanya Asya bingung
"Katanya sih Ustadz Hafiz mau lanjutin S2 di Yaman gitu deh. Aku tadi nggak sengaja denger ustadzah yang lagi gosip," jawab Rara menjelaskan
"Oh gitu ya," ucap Asya sambil menganggukkan kepalanya
Tap tap tap
Suara langkah kaki memasuki kelas membuyarkan lamunan Asya. Kelas 12 IPA-2 yang tadinya ramai menjadi hening seketika. Seorang lelaki tampan berjalan menuju meja guru. Wajahnya yang tampan membuat semua siswi terpesona. Dia adalah gus Kafka, putra pengasuh pondok pesantren yang menjadi idola.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam gus Kafka lalu tersenyum menatap semua siswi di depannya
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab seluruh siswi kompak
"Apa saya harus memperkenalkan diri dulu? Masak sih nggak ada yang kenal sama saya?," ucap gus Kafka terkekeh sambil menatap semua siswinya
'Tak kenal maka tak sayang gus'
'Hafalin nama saya gus buat ijab kabul kita nanti'
'Akhirnya kita dipertemukan gus'
'Aku padamu gus'
'Ayah dari anak-anakku kelak'
Asya memutar bola matanya malas saat mendengar celetukan beberapa temannya. Gus Kafka tersenyum geli mendengar celetukan siswinya. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan gadis itu. Gadis cantik bernama Asya yang mengganggu pikirannya dari semalam. Gadis yang tak antusias seperti teman-temannya saat melihat gus Kafka.
'Ternyata dia ada di kelas ini' batin gus Kafka
"Baiklah untuk formalitas. Perkenalkan nama saya Kafka Ahmad Al-Farizi. Saya di sini akan menggantikan Ustadz Hafiz untuk mengajar akidah akhlak," ucap gus Kafka sambil tersenyum
"Gus mau nanya dong," ucap siswi bernama Vanya yang mengangkat sebelah tangannya
"Iya ukhti, silakan!," ucap gus Kafka tersenyum tipis
"Jika Mim Mati bertemu Ba itu disebut apa gus?," tanya Vanya membuat semua temannya menatap ke arahnya saat ini
"Ini bukan waktunya pelajaran tajwid Vanya," celetuk Rara kesal yang tak ditanggapi oleh Vanya
"Em ikhfa syafawi," jawab gus Kafka sambil menatap Vanya heran
"Berarti jika Vanya bertemu gus Kafka itu disebut cinta," jawab Vanya tersenyum membuat gus Kafka menggelengkan kepalanya pelan
"Huuuuuuuu," sorak semua siswi di kelas membuat Vanya tersenyum miring
"Sudah-sudah jangan ribut. Lebih baik sekarang kita mulai pelajarannya," ucap gus Kafka melerai sorakan siswinya
"Sekarang giliran saya yang tanya kepada kamu Vanya," ucap gus Kafka sambil menatap Vanya
"Siap lahir batin gus," ucap Vanya terkekeh
"Sebutkan contoh-contoh dari sikap optimis," ucap gus Kafka
"Contohnya itu kayak saya optimis bahwa nanti gus Kafka akan menjadi ayah dari anak-anak saya," jawab Vanya cengengesan membuat gus Kafka menggelengkan kepalanya
"Sudah, kamu jangan main-main sama saya. Nanti kalo diseriusin malah berabe urusannya," ucap gus Kafka terkekeh
"Huhu meleleh hati adek, gus," ucap Vanya membuat gus Kafka terkekeh
"Coba kamu saja yang berikan contohnya. Em 3 contoh gitu," ucap gus Kafka sambil menunjuk Asya
"Saya?," ucap Asya sambil menunjuk dirinya
"Iya. Siapa nama kamu, ukhti?," ucap gus Kafka sambil menatap Asya
"Asya," jawab Asya singkat dan cuek
"Baiklah, Asya. Sekarang coba sebutkan 3 contoh sikap optimis," ucap gus Kafka
"Yakin akan lulus ujian karena sudah berusaha keras, selalu meyakini diri sendiri bahwa akan ada jalan terbaik dari setiap permasalahan, dan jika kehilangan sesuatu, selalu yakin bahwa Allah SWT akan menggantinya dengan sesuatu yang lain," jawab Asya dengan santai
"Nah jawaban seperti itu yang saya harapkan. Sekarang saya akan menjelaskan lebih rinci tentang optimis," ucap Kafka sambil membuka buku tebal akidah akhlak itu
Semua siswi mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan dari gus Kafka. Ia mengajar dengan berwibawa sehingga membuat semua siswi berdecak kagum. Apalagi pesonanya yang tak dapat diragukan lagi.