NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bayar Instan

Hari itu, cahaya matahari yang masuk melalui pintu kaca minimarket terasa begitu menyengat. Aku berdiri di balik meja kasir, memandangi deretan angka di layar monitor yang terus berkedip, seolah-olah sedang mengejekku. Sebagai mahasiswi beasiswa yang harus membagi waktu antara kuliah dan kerja sampingan, aku sudah terbiasa dengan rasa lelah, tapi hari ini beban itu terasa berkali-kali lipat lebih berat.

Karena sedang tidak ada kelas, aku memutuskan mengambil shift tambahan dari pagi hingga malam. Logikanya sederhana, semakin banyak jam yang aku habiskan di sini, semakin banyak rupiah yang bisa aku kumpulkan untuk Ibu. Namun kenyataannya, seberapa pun sering aku menghitung sisa gajiku di atas kertas struk kosong, hasilnya tetap saja tidak pernah cukup.

Biaya operasi jantung Ibu yang mencapai puluhan juta, tagihan rawat inap yang membengkak setiap harinya, obat-obatan penebus resep, biaya transportasi bolak-balik ke rumah sakit, hingga tunggakan biaya kuliahku sendiri... semua angka itu berputar di dalam kepalaku seperti gasing yang tak mau berhenti. Kepalaku pening, dan dadaku terasa sesak setiap kali memikirkan kemungkinan terburuk jika uang itu tidak terkumpul tepat waktu.

Aku menghela napas panjang, mencoba mengatur napas agar tidak terlihat menyedihkan di depan pelanggan. "Kalau aku kerja tiga shift sehari tanpa tidur pun, hasilnya nggak akan pernah menutup semua biaya itu..." gumamku lirih pada bayanganku sendiri di pantulan kaca etalase rokok.

Saat itulah, mataku tertuju pada sesuatu di luar. Di balik kaca depan minimarket yang bening, aku melihat dua sosok kecil berdiri mematung. Pakaian mereka lusuh, penuh noda tanah yang mengering, dan ukuran bajunya tampak terlalu besar untuk tubuh mereka yang kurus. Di tangan masing-masing, mereka menggenggam karung besar yang sudah setengah penuh. Pemulung cilik sepertinya.

Keduanya berdiri tak bergerak, menatap ke dalam minimarket dengan tatapan yang sangat dalam. Tepatnya, mereka menatap ke arah freezer es krim yang terletak paling dekat dengan pintu masuk. Aku memperhatikan mereka cukup lama dari balik kasir. Ketika aku melihat mata si anak perempuan kecil itu berbinar dengan binar kerinduan yang sangat murni saat menatap gambar es krim cokelat di kaca freezer, hatiku seketika mencelos. Aku tahu persis rasanya menginginkan sesuatu yang sederhana namun terasa sangat mustahil untuk digapai.

Aku keluar dari balik meja kasir dengan terburu-buru. "Mbak, titip sebentar ya, aku mau ke depan dulu," kataku pada teman shift-ku, Sari, yang sedang menata barang di rak depan.

Begitu aku mendorong pintu kaca dan melangkah keluar, anak laki-laki yang lebih tua, mungkin berusia sepuluh tahun langsung tersentak. Ia segera menarik tangan anak di sampingnya, bersiap untuk lari, seolah-olah keberadaan mereka di sana adalah sebuah kesalahan besar yang mengundang kemarahan.

"Hei, tunggu! Jangan takut," panggilku lembut sambil tersenyum sehangat mungkin.

Anak laki-laki itu berhenti, namun ia memalingkan wajahnya, tidak berani menatap mataku. "Enggak apa-apa, Kak. Kami cuma lewat," ucapnya dengan nada suara yang sangat hati-hati dan penuh ketakutan. Seolah-olah hidup di jalanan telah mengajarinya bahwa kebaikan orang asing sering kali memiliki harga yang mahal, atau lebih sering lagi, berubah menjadi makian.

Aku menatap si adik perempuan yang masih kecil. Dan benar saja, meskipun tangannya ditarik oleh kakaknya, matanya masih melirik ke arah freezer es krim dengan tatapan yang memilukan. Hatiku seperti dicubit paksa.

"Kalian tunggu di sini sebentar ya. Jangan ke mana-mana," kataku cepat.

Aku masuk kembali ke dalam, mengambil dua buah es krim paling enak, dua bungkus roti isi cokelat, dan dua botol air mineral dingin. Aku menuliskannya di nota agar bisa di potong dengan uang gajiku sendiri, uang yang seharusnya kusisihkan untuk ongkos bus besok pagi.

"Nih, buat kalian," ucapku sambil menyerahkan kantong plastik itu kepada mereka saat kembali ke luar.

Kedua anak itu membelalak kaget. Mulut mereka sedikit terbuka, menatap kantong plastik itu seolah-olah aku baru saja memberikan segepok emas. "Buat kami, Kak?" tanya si kecil perempuan dengan suara yang nyaris berbisik, seakan takut suaranya akan memecahkan mimpi indah ini.

Aku mengangguk mantap. Namun, si kakak laki-laki justru mundur satu langkah, menyembunyikan tangannya di balik punggung. "Kami nggak bisa terima, Kak... Maaf."

"Kenapa? Ini untuk kalian makan," tanyaku heran.

"Kami... kami nggak punya uang buat bayarnya," jawabnya jujur, kepalanya tertunduk dalam.

Aku tersenyum, kali ini mataku ikut berkaca-kaca. "Enggak perlu bayar. Anggap saja ini rezeki kalian hari ini. Kadang-kadang, Tuhan suka kasih kejutan kecil lewat tangan orang lain, kan?" Aku mendorong pelan kantong itu ke pelukannya. "Kali ini Kakak yang bayarin. Dimakan ya, mumpung es krimnya belum cair."

Mata si adik perempuan langsung berbinar luar biasa. Senyumnya melebar hingga memperlihatkan giginya yang tidak rata, namun itu adalah senyum paling tulus yang pernah kulihat tahun ini. "MAKASIH BANYAK, KAKAK CANTIK!" serunya riang.

Aku ikut tersenyum lebar. " Sama-sama adik kecil, nama kalian siapa? Kalian kakak-adik?"

Si kakak laki-laki akhirnya luluh dan mengangguk pelan. "Iya, Kak. Nama saya Farel. Dan ini adik saya, Naya."

"Nama kalian bagus sekali. Nama yang kuat," pujiku tulus. Naya langsung memeluk kantong plastik itu seperti memeluk harta karun yang paling berharga di dunia. "Kak, ayo kita makan es krimnya! Cepat!"

Farel akhirnya tersenyum kecil, sebuah senyum yang tampak sangat lega. "Makasih banyak ya, Kak. Semoga Kakak banyak rezekinya."

Aku mengangguk, melambaikan tangan saat mereka mulai berjalan menjauh. Mereka pergi sambil terus menoleh ke belakang, melambaikan tangan kecil mereka kepadaku hingga hilang di tikungan jalan. Entah kenapa, melihat kebahagiaan sederhana mereka membuat dadaku yang tadi sesak kini terasa hangat dan sedikit lebih ringan.

Aku kembali masuk ke dalam minimarket. Sari langsung menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Zea... kamu tahu kan kalau belanjaan tadi bakal dipotong dari gajimu? Kamu sendiri lagi susah, kenapa malah kasih-kasih begitu?"

Aku tersenyum kecil, kembali berdiri di balik kasir. "Enggak apa-apa, Sar. Aku serius."

"Tapi Ze, kamu kan butuh uang buat Ibu kamu..."

Aku mengangguk pelan, menatap keluar jendela ke arah trotoar tempat Farel dan Naya tadi berdiri. "Justru karena aku sedang susah, aku tahu rasanya. Aku pernah di posisi mereka, Sar. Menatap kaca toko sambil berharap ada keajaiban. Dan aku percaya, kalau kita memberi dengan tulus, apa yang kita lepas akan kembali ke kita dalam bentuk lain suatu hari nanti."

Sari hanya diam, tertegun mendengar ucapanku. Aku melanjutkan sambil merapikan tumpukan uang di laci kasir. "Ayahku dulu selalu bilang, di balik uang yang kita punya, meski hanya seribu rupiah, ada hak orang lain yang lebih membutuhkan di dalamnya. Memberi tidak akan membuat kita miskin."

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang tenang, sampai tiba-tiba ponsel di saku celanaku bergetar hebat. Jantungku seketika berdegup kencang saat melihat layar. Nomor dari Rumah Sakit Pusat.

"Halo? Selamat siang, ini dengan Zea?" suara di seberang sana terdengar sangat formal.

"I-iya, saya sendiri. Selamat siang, Suster. Ada apa ya? Soal operasi Ibu saya..." Aku sudah bersiap mendengar permintaan uang muka yang harus dibayarkan segera.

"Mbak Zea, kami menelepon untuk menginformasikan bahwa seluruh tagihan atas nama Ibu Anindhita sudah dilunasi siang ini."

Aku membeku. Seluruh tubuhku terasa kaku seperti tersengat listrik. "Apa? Maaf, Suster bilang apa?"

"Biaya rawat inap, seluruh tunggakan bulan lalu, hingga biaya operasi besar besok pagi... semuanya sudah dibayar penuh. Status pasien sudah 'Lunas' di sistem kami."

Tanganku gemetar hingga ponsel itu hampir jatuh ke lantai. "Tapi... siapa yang bayar? Saya belum setor uang apa pun."

"Kami tidak bisa memberikan detail identitasnya karena pihak pembayar meminta anonimitas. Di catatan kami hanya tertulis pembayaran dilakukan melalui sebuah yayasan sosial."

Air mataku jatuh begitu saja tanpa bisa kutahan. Dadaku naik-turun karena napas yang sesak oleh rasa haru yang luar biasa. "Yayasan? Yayasan apa, Sus?"

"Kami kurang tahu detailnya, Mbak. Yang jelas, Mbak Zea tidak perlu pusing lagi soal biaya. Silakan datang besok jam tujuh pagi untuk proses persiapan operasi ya."

Setelah telepon ditutup, aku berdiri mematung di tengah minimarket. Aku tidak bergerak, seolah-olah sedang berusaha mencerna apakah ini nyata atau hanya halusinasi akibat stres berkepanjangan. Lalu, pertahananku runtuh. Isak tangis pecah begitu saja dari bibirku.

Aku menangis sesenggukan di tengah minimarket yang sedang sepi, menutupi wajahku dengan kedua tangan. Sari panik dan langsung menghampiriku. "ZEA?! KENAPA?! ADA APA SAMA IBU?!"

Aku tertawa di sela-sela tangisku yang hebat, sebuah pemandangan yang mungkin terlihat gila. "Sar... tagihan Ibu... operasinya... semuanya lunas! Ada yang bayar, Sar!"

"Apa?! Serius kamu?! Kamu nggak lagi bercanda kan?"

Aku mengangguk berkali-kali, masih dengan air mata yang terus mengalir deras. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berada di dalam kegelapan yang pekat, aku merasa Tuhan benar-benar mendengar bisikan doaku. Aku menatap langit-langit minimarket dengan pandangan kabur oleh air mata.

"Terima kasih... terima kasih banyak..." bisikku pelan. Aku tidak tahu harus berterima kasih pada siapa secara spesifik. Pada Tuhan yang menggerakkan hati seseorang, pada yayasan itu, atau pada siapa pun malaikat tanpa nama yang telah menyelamatkan nyawa ibuku hari ini.

Namun satu hal yang pasti, harapan yang tadi pagi hampir padam sepenuhnya, kini menyala kembali dengan cahaya yang jauh lebih terang. Aku baru saja menyadari bahwa di dunia yang kadang terasa sangat dingin dan kejam ini, keajaiban masih punya cara tersendiri untuk menyapa mereka yang tidak pernah berhenti berusaha.

1
Faiz Utama
gws hp
Fatma
Kasian hp nyaa
Nadia Julia
Enaknya punya temen kyk Rian
M. ZENFOX: Author kak💪
total 1 replies
Nadia Julia
Semangat thorr, aku tunggu updatenya ;)
M. ZENFOX: Siapp
total 1 replies
Nadia Julia
Jail amat
Nadia Julia
Perbedaan kael & Erlangga :)
M. ZENFOX: Apatuh?
total 1 replies
Nadia Julia
Jangan pernah pelit untuk memberi intinya, bolee
Nadia Julia
Semangat Thorrr>
M. ZENFOX: Makasih kakkk💪
total 1 replies
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
M. ZENFOX: Makasihh kakk🤩
total 1 replies
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
M. ZENFOX: Tau ya, ngapain diem 😄
total 1 replies
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
M. ZENFOX: hehe🙄😁
total 1 replies
Nessa
gimna nasib zea
M. ZENFOX: Di tunggu ya kakk
total 1 replies
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
M. ZENFOX: Sama kak🥲
total 1 replies
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
M. ZENFOX: Ending tamatnya cepet kak😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!