Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12--Pelunasan Dan Naik Level?
Sore harinya, setelah jam shif kerjanya berakhir, Naufal tidak langsung bersantai. Ia berpamitan pada Siska dan Amel dengan terburu-buru. Siska sempat ingin menanyakan sesuatu, mungkin mengajaknya makan malam sebagai perayaan, namun urung melihat wajah Naufal yang tampak serius.
"Gue duluan ya, Siska, Amel dan dirimu Rengga! Ada urusan mendadak," pamit Naufal singkat.
"Dih, sombong banget sekarang! Mentang-mentang jualan!" cibir Siska, padahal dalam hati ia ingin tahu urusan apa yang membuat Naufal secepat itu pergi.
Naufal segera menuju parkiran
Di saku celananya, ia meraba kunci berat berlogo Ducati. Begitu sampai di titik koordinat yang dikirimkan sistem, jantungnya nyaris berhenti. Sebuah Ducati Panigale V2 Black yang legam mengkilap berdiri gagah di sana, mengintimidasi motor-motor lain di sekelilingnya.
“ASTAGA … ini benar-benar motor impian para cowok.” Tanpa basa-basi Naufal menghidupkan mesin yang menggelegar itu dan membelah jalanan Yogyakarta. Ia adalah cowo kendati tidak memiliki motor bukan berarti dia tidak ajar kendaraan, dia punya kenalan yang pakai motor kopling disanalah dia ajar kemampuan naik motor.
Tujuan adalah menuju rumah sakit. Ibunya sudah menunggu di sana untuk kontrol rutin penyakit ginjal yang selama ini menjadi beban pikiran Naufal. Rara yang pulang lebih awal sudah dia suruh untuk membawa dan menjaga ibu disana.
Sesampainya di loket administrasi Rumah Sakit swasta ternama itu, Naufal melihat Ibunya sedang duduk di kursi tunggu bersama Rara—adik bungsunya yang masih mengenakan seragam sekolah. Rara tampak sedang memijat pelan tangan Ibu yang terlihat pucat.
Naufal melangkah masuk, suara sepatu ketsnya beradu dengan lantai rumah sakit yang dingin. Begitu melihat kakaknya datang, mata Rara langsung berbinar. Ia tampak sedang memijat tangan Ibu yang pucat di kursi tunggu.
“Kak Naufal!" seru Rara sambil melambaikan tangan.
Ibu menatap Naufal dengan raut cemas. "Nak, tadi Ibu sudah tanya ke loker, katanya biayanya besar sekali. Tunggakan bulan lalu sama biaya kontrol sekarang... Ibu takut tabunganmu nggak cukup. Kita pulang saja ya? Ibu sudah agak mendingan kok."
Naufal berjongkok di depan Ibunya, menggenggam tangan yang mulai keriput itu dengan lembut.
"Ibu tenang saja. Naufal hari ini dapat rejeki nomplok, gajiku udah cair sama insetifnya dan lain-lain. Ibu nggak usah mikirin biaya lagi, fokus sehat saja ya."
Naufal berdiri dan melangkah mantap menuju loket pembayaran. Di sana, seorang petugas administrasi wanita paruh baya dengan kacamata yang melorot di hidungnya menatap Naufal dengan pandangan meremehkan. Maklum, seragam sales OMNI Naufal sedikit kusut dan wajahnya tampak lelah.
Seorang sales bisa apa, cih miskin, cibirnya dalam hati
"Keluarga Ibu Sarah? Ini total biaya pengobatan, obat rutin, dan tunggakan rawat jalan bulan lalu. Totalnya 12 juta rupiah. Kalau tidak dilunasi sekarang, jadwal kontrol minggu depan harus ditunda," ucap petugas itu dengan nada ketus.
Beberapa orang yang mengantri di belakang Naufal mulai berbisik. Seorang pria paruh baya berpakaian necis di belakangnya bahkan berdehem keras. "Dek, kalau belum siap uangnya mending minggir dulu. Kasihan yang lain antre."
Rara menunduk malu, ia tahu kondisi keuangan kakaknya biasanya pas-pasan. Andai saja dia juga sudah lulus sekolah, dia ingin kerja dan membantu kakaknya. Namun, Naufal tidak goyah sedikit pun. Ia mengeluarkan sebuah kartu debit platinum dari dompetnya.
"Saya mau melunasi semuanya. Ditambah deposit untuk prosedur cuci darah dua bulan ke depan," ucap Naufal dengan suara berat yang tenang.
Petugas itu tertegun, tangannya yang tadi sibuk mengetik langsung berhenti. "Mas, deposit cuci darah dua bulan itu tidak murah. Total semuanya bisa jadi 35 juta rupiah. Yakin kartu ini ada isinya?"
Beberapa orang di antrean langsung melongo. 35 juta? Untuk seorang sales tingkat bawah? Gak mungkin, terlebih pakaiannya kaya kotor banget … Mereka tertawa kecil.
"Silakan dicoba saja, Mbak," jawab Naufal singkat sambil menyodorkan kartunya ke mesin EDC.
Suasana antrean mendadak sunyi senyap saat mesin EDC mengeluarkan bunyi bip panjang. Petugas itu terbelalak melihat tulisan APPROVED di layar mesin. Ia menatap Naufal seolah-olah baru saja melihat sultan yang sedang menyamar.
[Ding!]
[Saldo berkurang sebesar 35 juta]
[ Saldo tersisa 15 juta.]
"I-ini struknya, Pak... eh, Mas. Silakan ditandatangani. Maaf tadi... Ibu Sarah sudah kami masukkan ke kategori pasien prioritas, silakan langsung menuju ruang dokter," ucap petugas itu, nada bicaranya berubah drastis jadi sangat sopan.
Pria necis di belakang Naufal langsung terdiam seribu bahasa, pura-pura sibuk melihat ponselnya karena malu sudah meremehkan Naufal.
Rara yang melihat kejadian itu dari jauh hanya bisa melongo. "Kak ... itu tadi beneran lunas? Kak Naufal nggak dapet uang dari pinjol kan?" bisik Rara saat Naufal menghampiri mereka.
Naufal terkekeh pelan sambil mengacak rambut adiknya. "Bukan pinjol, Ra. Ini murni hasil keringat kakak. Yuk, kita pulang. Ibu sama Rara naik taksi online aja ya, kakak kawal dari belakang."
Begitu sampai di parkiran, Rara kembali dibuat syok. Di depan deretan motor matic, terparkir sebuah monster hitam legam yang sangat mencolok.
"Kakak ... ini motor siapa? Keren banget kayak di film-film!" tanya Rara takjub saat Naufal mengeluarkan kunci Ducati-nya.
"Motor baru Mas. Udah, yuk naik taksinya, Mas udah pesen."
“yaampun, fal … ini beneran motormu, le?”
“iya, bu … aku udah bilang, aku dapat banyak bonus bulan ini.”
Naufal memakai helm *fullface*-nya, menghidupkan mesin Ducati Panigale V2 yang suaranya menggelegar memenuhi parkiran rumah sakit. Semua mata tertuju padanya. Di balik visor helmnya, Naufal tersenyum. Akhirnya, dia bisa memberikan kenyamanan yang layak untuk keluarganya.
[Ding!]
[Misi Rahasia: 'Kebahagiaan Keluarga' Berhasil!]
[Hadiah: Poin Karisma +10
Saldo RP 20.000.000 telah masuk ke rekening anda
Selamat anda naik level!
Naufal menatap layar. Naik level?
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN