NovelToon NovelToon
Penawar Luka Aira

Penawar Luka Aira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Menikahlah dengan saya, Aira."
"A-apa?!"
***
"Saya bukan perempuan solehah."
"Saya pun. Kita akan belajar bersama."
"Saya tidak sempurna."
"Kesempurnaan hanya milik Allah."
"Saya tidak cantik."
"Bagi saya cantik."
"Saya tidak yakin bisa jadi istri yang baik."
"Saya akan bimbing kamu."
"Saya ingin childfree."
"Tidak masalah."
"Saya anak haram."
"Lalu kenapa? Status “anak haram” itu bukanlah identitasmu di hadapan Allah. Itu hanya label dari manusia. Kamu bukan kesalahan. Kamu bukan aib. Kamu adalah manusia yang Allah ciptakan dengan tujuan. Allah tidak pernah salah menciptakanmu.
Aira mendongak, menatap Azzam. "Kata-kata itu..."

***

Aira yang hidupnya penuh dengan kehilangan, dianggap anak haram hingga ia memutuskan untuk tidak menikah. Namun Azzam datang menjadi penawar luka untuk Aira.
Apakah Aira bisa jatuh cinta dengan Azzam?
Tanpa mereka sadari bahwa cinta pertama mereka adalah orang yang sama.
Cerita ini spin off dari Cinta Masa Kecil Ustadz Athar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Uma Arsyila Heboh

Tiga hari berlalu begitu saja.

Abi Athar dan Uma Arsyila akhirnya tiba di rumah siang tadi setelah pulang dari pesantren tempat cucu mereka dikhitan. Rumah besar keluarga Malik kembali ramai dan hangat.

Malam harinya, mereka menikmati makan malam bersama.

Usai makan, seperti biasa Azzam dan Abi Athar duduk di gazebo taman belakang rumah. Angin malam berembus pelan, membawa aroma rumput basah sehabis disiram.

Athar menyeruput teh hangatnya. “Mumpung besok hari libur... gimana kalau besok saja kita ke rumah Aira?”

Azzam yang sejak tadi diam justru mengembuskan napas panjang.

Athar menoleh. “Kenapa? Bukannya ini yang kamu tunggu-tunggu?”

“Iya, Bi...”

“Lalu?”

Azzam menatap kolam kecil di depan gazebo. “Sebelum itu, Abi harus tau satu hal.”

Athar meletakkan cangkirnya. “Apa?”

“Aira... bukan anak kandung Bu Lastri dan Mang Arif.”

Kening Athar langsung berkerut. “Maksudnya bagaimana? Bukannya waktu itu kamu sendiri bilang dia anak mereka?”

“Iya. Itu waktu Azzam belum tau kenyataannya.”

Athar kini memusatkan seluruh perhatian pada putranya. “Baik. Jelaskan dari awal.”

Azzam mengangguk.

Lalu ia mulai menceritakan semuanya. Tentang saat ia melihat Rachel dan Aira makan siang bersama dengan sangat akrab. Tentang rasa curiganya terkait ucapan Aira. Tentang Rachel yang ternyata sepupu Aira. Tentang kenyataan bahwa Aira adalah anak kandung Pak Alfand—rekan bisnis keluarga Malik.

Athar beberapa kali terdiam mendengar nama itu. “Alfand?” ulangnya pelan. “Yang sering kerja sama dengan kita?”

“Iya, Bi.”

“Bukankah dia hanya mengenalkan dua anak selama ini?”

“Itu juga yang membuat Azzam heran.”

Lalu Azzam melanjutkan.

Ia menceritakan kedatangannya ke rumah Bu Lastri dan Mang Arif. Tentang bagaimana pasangan tua itu membuka semua luka masa lalu Aira.

Tentang ibunya yang meninggal saat Aira kecil.

Tentang Pak Alfand yang berubah dingin.

Tentang tuduhan mencuri.

Tentang Aira yang diusir dari rumahnya sendiri.

Tentang bagaimana gadis itu tumbuh dengan trauma pada laki-laki dan pernikahan.

Semakin lama Azzam bercerita, wajah Athar semakin serius.

Pria itu menatap jauh ke depan, rahangnya mengeras.

“Innalillahi...” gumamnya lirih. “Tega sekali.”

Azzam menunduk. “Makanya Azzam takut, Bi.”

“Takut apa?”

“Takut Aira menolak. Bukan karena tidak suka... tapi karena dia sudah terlalu kecewa dengan laki-laki.”

Athar terdiam cukup lama. Lalu ia menoleh pada putranya. “Kamu mencintainya?”

Azzam menjawab tanpa ragu. “Iya.”

“Siap menerima masa lalunya?”

“Iya.”

“Siap menerima keras kepalanya?”

Azzam tersenyum tipis. “Itu bonus, Bi.”

Athar terkekeh kecil. “Siap kalau nanti dia belum bisa percaya sama kamu?”

Azzam menarik napas panjang. “Itu yang sedang Azzam pelajari.”

Athar mengangguk perlahan. “Nak... perempuan yang pernah terluka itu bukan sulit dicintai.”

Azzam menatap abinya.

“Mereka hanya butuh bukti lebih lama.”

Kalimat itu menancap dalam di dada Azzam.

Athar lalu menepuk bahu putranya. “Kalau begitu, besok kita tetap datang.”

“Kalau dia menolak?”

“Kita datang bukan memaksa diterima.” Athar tersenyum tenang. “Kita datang menunjukkan bahwa masih ada laki-laki yang datang dengan cara terhormat.”

Mata Azzam sedikit memanas. “Abi...”

“Dan satu lagi.”

“Apa?”

“Kalau dia menolak besok, jangan menyerah.”

Azzam mengernyit.

Athar tertawa kecil. “Khitbah itu meminta izin. Bukan membeli barang sekali datang langsung dapat.”

Azzam ikut tertawa. “Abi ini...”

“Yang penting niatmu lurus.”

Tak lama langkah lembut terdengar mendekat.

Uma Arsyila datang membawa sepiring pisang goreng hangat. “Dari tadi bisik-bisik berdua ngomongin apa?”

Athar dan Azzam saling pandang.

Athar tersenyum lebar. “Ngomongin calon menantu.”

“Calon menantu?” Uma Arsyila menatap keduanya bergantian dengan bingung. “Calon menantu siapa?”

“Siapa lagi?” Abi Athar menunjuk putranya dengan lirikan mata.

Seketika mata Uma Arsyila membelalak lebar. Tangannya spontan menutup mulut sendiri, benar-benar tak percaya.

Azzam menghela napas panjang. “Ekspresi Uma bisa biasa aja gak? Kayak lihat berita gempa.”

“Ya Allah!” seru Arsyila heboh. “Kamu seriusan, Zam? Mau kasih Uma menantu?”

“Iya, Uma-ku sayang,” jawab Azzam datar.

Namun justru jawaban santainya membuat Arsyila makin heboh. “Siapa namanya? Rumahnya di mana? Kerja apa? Kok bisa kamu dapetin dia? Uma baru pergi sebentar aja udah dapat kabar kamu punya calon? Gimana ceritanya? Ya ampun, Uma kaget banget tapi seneng! Ih, Uma enggak sabar pengen tau calon menantu Uma!”

Azzam hanya geleng-geleng kepala.

Inilah alasan kenapa sejak awal ia hanya bercerita pada abinya.

Athar menahan tawa melihat istrinya. “Duduk dulu, sayang. Kasihan anakmu diinterogasi.”

“Mana bisa santai!” Arsyila langsung duduk di samping Azzam sambil memegang lengan putranya. “Cepat cerita!”

Azzam menatap langit malam sebentar, seolah sedang menyiapkan kesabaran. “Lima tahun lalu, Azzam gak sengaja melihat seorang gadis polos yang masih memakai seragam sekolah.”

Arsyila langsung fokus penuh. “Lalu?”

“Dia turun ke selokan buat nolong seekor kucing.”

“Hah?” Arsyila menoleh ke Athar. “Serius?”

Athar mengangguk sambil tersenyum.

Azzam melanjutkan. “Tanpa jijik. Tanpa ragu. Bajunya kotor, tangannya belepotan... tapi dia malah ketawa senang waktu kucing itu berhasil diangkat.”

Suara Azzam terdengar lebih lembut. “Entah kenapa, cuma dari kejadian kecil itu Azzam bisa lihat kalau dia baik... dan tulus.”

Arsyila tersenyum haru. “Masya Allah... Lima tahun lalu?” tanyanya lagi.

Azzam mengangguk. “Lalu Azzam ketemu dia lagi setelah lima tahun. Kali ini dia lagi nolong kucing lain yang terluka di tengah jalan.”

Athar tertawa kecil. “Berarti calon mantu kita langganan penyelamat kucing.”

Azzam ikut tersenyum tipis. “Azzam masih ingat wajah itu. Wajah yang selalu khawatir sama makhluk kecil di saat orang lain enggak peduli.”

Arsyila menatap putranya lama. “Dan perasaan kamu masih sama?”

“Iya, Uma.”

“Kalau begitu Uma setuju.”

Azzam mengernyit. “Secepat itu?”

“Loh kenapa? Apa yang salah?”

“Tidak sesederhana itu, Uma. Kehidupannya... dan—”

Arsyila memotong tegas.

“Uma gak peduli apa pun itu, Zam.”

Azzam terdiam.

“Uma bukan orang yang menilai seseorang dari status, fisik, atau hal lain. Yang penting hatinya.” Suara wanita itu melembut. “Dan Uma percaya sama pilihan kamu. Selama ini kamu gak pernah membicarakan perempuan. Baru kali ini kamu cerita sejauh ini.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Uma percaya sama putra Uma. Tugas Uma cuma mendoakan kamu... dan pilihan kamu.”

Mata Azzam ikut memanas.

Ia maju dan memeluk ibunya erat. “Makasih, Uma.”

Arsyila mengusap kepala putranya seperti saat kecil dulu. “Doa Uma selalu buat kamu.”

“Itu memang yang Azzam butuhkan.”

Athar tersenyum melihat keduanya. “Kalau gitu besok jadi ke rumahnya?”

Azzam mengangguk. “Jadi.”

Arsyila langsung semangat lagi. “Jam berapa? Aku harus pakai baju apa? Bawa buah? Kue? Aduh, aku harus kelihatan cantik sebagai calon mertua.”

Azzam memijat pelipis. “Uma... santai.”

“Enggak bisa!”

Athar tertawa kecil. “Udah, nanti aku jelasin detailnya di kamar.”

Azzam menoleh cepat. “Abi aja ya yang cerita ke Uma. Azzam takut kalau Uma udah tau semuanya malah berubah pikiran.”

Arsyila mengerutkan kening. “Ada apa sih? Kok jadi misterius begitu?”

Athar berdiri lalu menggandeng tangan istrinya. “Nanti aku ceritain di kamar, sayang. Sekarang kita istirahat dulu.”

“Tapi—”

“Besok kita mau menengok calon mantu kita.”

Seketika Arsyila diam, lalu tersenyum lebar. “Yaudah.”

Azzam geleng-geleng kepala melihat perubahan mood ibunya yang secepat kilat.

Saat keduanya berjalan masuk ke rumah, Athar sempat menoleh pada putranya dan mengedipkan mata.

Azzam hanya tersenyum kecil.

Besok... mungkin akan menjadi hari yang mengubah hidupnya.

***

Sesampainya di kamar, Arsyila langsung berbalik menghadap suaminya dengan kedua tangan bersedekap di dada. “Nah, sekarang cerita.”

Athar yang baru saja menutup pintu menoleh santai. “Cerita apa?”

Arsyila melotot. “Jangan pura-pura lupa deh abaaangg. Tentang calon menantu kita. Jelas ada sesuatu yang aku gak tau.”

Athar berjalan mendekat sambil tersenyum tipis. “Sabar dong, adek sayang.”

“Enggak ada sabar-sabar!” Arsyila menunjuk suaminya. “Kamu pasti udah tau duluan, tapi abang gak cerita sama aku. Aku ini istri kamu, bang. Umanya Azzam juga. Aku berhak tau, tapi kalian malah diem-dieman. Men-"

Ucapan Arsyila terputus ketika Athar tiba-tiba menarik pinggang istrinya dan mengecup bibirnya singkat namun dalam.

Arsyila memukul lengan suaminya begitu Athar menjauh. “Kebiasaan!”

Athar justru terkekeh. “Nyerocos terus sih.”

“Kamu kelamaan!”

“Baiklah.” Athar mengangkat kedua tangan menyerah. “Aku cerita. Tapi kamu cukup dengerin dulu sampai selesai.”

Arsyila langsung duduk di tepi ranjang dengan rapi. “Iya.”

Athar ikut duduk di sampingnya, lalu wajahnya berubah lebih serius. “Nama gadis itu Aira.”

Arsyila tersenyum. “Cantik namanya.”

“Tapi hidupnya enggak semudah namanya.”

Senyum Arsyila perlahan memudar.

Athar mulai menjelaskan semuanya. Tentang Aira yang ternyata bukan anak kandung Bu Lastri dan Mang Arif. Tentang ayah kandungnya, Alfand. Tentang ibunya yang meninggal saat ia masih kecil. Tentang bagaimana Aira tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh.

Semakin Athar bercerita, wajah Arsyila semakin sendu.

“Ya Allah...” lirihnya.

Athar melanjutkan tentang tuduhan mencuri, tentang Aira yang diusir dari rumahnya sendiri, dan tentang bagaimana gadis itu akhirnya kehilangan kepercayaan pada laki-laki dan pernikahan.

Arsyila menutup mulutnya dengan tangan, matanya mulai berkaca-kaca. “Anak sekecil itu ngalamin semuanya sendiri?”

Athar mengangguk pelan. “Mungkin gak sepenuhnya sendiri. Masih ada Bu Lastri dan Mang Arif. Tapi luka dari keluarganya tetap membekas.”

Air mata Arsyila jatuh tanpa bisa ditahan. “Pantesan Azzam bilang aku bisa berubah pikiran...” suaranya bergetar. “Dia pikir aku bakal menilai Aira dari masa lalunya.”

Athar menoleh menatap istrinya lembut. “Dan?”

Arsyila langsung menghapus air matanya cepat. “Justru aku makin pengen peluk anak itu.”

Athar tersenyum. “Aku tau.”

“Bayangin, bang...” Arsyila terisak kecil. “Dia pasti kelihatan kuat di luar, padahal di dalamnya capek banget.”

Athar meraih tangan istrinya dan menggenggamnya. “Itulah kenapa Azzam jatuh hati.”

Arsyila mengangguk pelan. “Dan itulah kenapa aku setuju.”

Ia menoleh pada suaminya. “Besok kita datang bukan cuma buat ngelamar. Tapi buat kasih tau dia... kalau masih ada keluarga yang datang dengan niat baik.”

Athar tersenyum bangga. “Istriku memang paling lembut hatinya.”

Arsyila menyipitkan mata. “Jangan gombal.”

“Aku serius.”

“Kalau serius...” Arsyila menyandarkan kepala di bahu suaminya. “Besok kamu jangan banyak ngomong. Biar aku yang ambil hati calon menantu.”

Athar tertawa pelan. “Takutnya kamu terlalu heboh.”

“Aku bisa kalem.”

“Kita lihat nanti.”

Arsyila mencubit pinggang suaminya. “Abang!”

Suara tawa keduanya memenuhi kamar malam itu.

Sementara di luar sana, tak ada yang tau bahwa esok hari akan menjadi awal pertemuan baru bagi seorang gadis bernama Aira.

1
Shabrina Darsih
pasti kenasl Arsyla smnmama nya aira
Syti Sarah
kn mma nya Aira itu shbat umma arsyila wktu masih di jkarta kn ya
Fegajon: betul. sahabat arsyila waktu sekolah sebelum mondok
total 1 replies
syora
apa kalau nggak slh sahabat umma arsyila waktu skolah si desi desi itu kah
ya allah/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Fegajon: iya betul babget😭
total 1 replies
Anak manis
seru, bagus, lucu
anakkeren
inget thor
Nifatul Masruro Hikari Masaru
semoga cepat terungkap kebenaran nya gak ada drama tes dna ditukar kayak di dracin
Syti Sarah
ayo zam,semangat untuk membuktikan smua nya
Shabrina Darsih
bagus Azam bujtiin air anak nya alfrand sebel bangt kihta yesi sm jesika
Shabrina Darsih
wkwkwkwkwk malu dah jesica bukan fia yg d lamar
Syti Sarah
aduh,ksian bnget ya yg udh trllu tinggi brmimpi 🤭🤭
Ayu Oktaviana
kasihan kamu jes.. sudah dandan cantik cetar membahana mlh yang dilamar aira ank kandung pak alfand😂😂
anakkeren
lope buat authornya 😘
anakkeren
sukurin lu jes😡
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kasihan deh kamu jes. kamu kan bukan anaknya pak alfand
just a grandma
ceritanya Azzam lebih berat ya daripada adiknya tapi tetep suka 😍
cutegirl
dr cerita cila, trus azzua dan sekarng Azzam aku suka. semangat tes Thor🥰🥰
Syti Sarah
ayo dong Aira,lihat prjuangan Azzam untuk kamu
Syti Sarah
lnjut lgi thor.ayo dong Thor cpetan buat Aira bisa nrima Azzam spnuh nya 😊
anakkeren
baper😭
just a grandma
lnjut Thor. bikin tiga bab dong😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!