Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Kemiripan
Agus mundur selangkah, menelan ludah. Rasa panas kemarahan bercampur dengan ketakutan.
“Kau gila?” desis Agus. “Tidak ada dalam perjanjian yang menyebutkan kau boleh menyentuh istriku! Aku sudah membayar tujuh puluh juta tunai! Aku membawa tumbal yang sempurna! Aku tidak akan membiarkanmu—"
“Diam, bocah serakah,” potong Mbah Jari, matanya menyala. “Kau salah paham. Aku tidak bicara tentang kehormatan yang kotor. Aku bicara tentang ikatan spiritual. Raden Titi Kusumo mencari koneksi yang tulus, dan ikatan itu terukir dalam janji suci pernikahanmu. Darah perawan di malam pertama perkawinan adalah simbol dari kejujuran spiritual yang kau janjikan padanya. Itu adalah cakra yang paling murni, yang paling sulit ditiru.”
Agus mencengkeram tas ranselnya, urat di lehernya menegang. “Aku tidak mengerti bahasa gaibmu, Mbah. Katakan saja, apa yang kau butuhkan? Aku tidak akan membiarkanmu melukai Endang!”
Mbah Jari tertawa kecil, suara keringnya menggema di pondok remang-remang itu. Ia meraih mangkuk kuningan besar di depannya, yang kini tampak bergetar.
“Aku hanya butuh penanda,” jelas Mbah Jari, berbicara perlahan seolah kepada anak kecil. “Satu tetes darah yang diambil dengan ikhlas dari titik keperawanan spiritual. Itu akan menjadi penanda untuk ilusi Endang yang kubuat pada Sari. Jika penandaitu tidak ada, ilusi ini akan melayang dan mudah ditarik oleh Mata Jati Raden Titi Kusumo.”
Mbah Jari menatap Endang, yang kini berdiri gemetar di samping Sari. “Aku butuh pengorbanan kecil, Endang. Pengorbanan yang kau berikan dengan tulus, sebagai penebusan atas dosa suamimu.”
Endang mengangkat wajahnya, air mata yang tadi mengering kini mengalir lagi. “Aku harus… melukai diriku sendiri?”
“Tidak melukai, tetapi memberi,” koreksi Mbah Jari. “Berikan dengan niat ikhlas, dan ilusi itu akan menjadi kuat. Berikan dengan paksaan, dan ilusi itu akan berdarah busuk.”
Sari, yang selama ini diam, kini mengangkat kepalanya dan menatap Endang dengan tatapan memohon. “Mbak, jangan lakukan. Jangan korbankan dirimu untuk menipu iblis.”
Agus mengabaikan Sari. Ia menatap Mbah Jari dengan perhitungan dingin. “Bagaimana cara mengambilnya? Di mana? Kapan?”
Mbah Jari tersenyum puas, menyadari bahwa ia telah menemukan titik kelemahan Agus—logistik, bukan moral.
“Tidak bisa di sini. Energi Endang sudah terkontaminasi oleh rasa takut dan kebohonganmu di tempat ini,” ujar Mbah Jari. “Kalian harus kembali ke rumah kalian. Di sana, Endang harus melakukan ritual penyucian. Malam ini, tepat tengah malam. Dia harus mencampurkan darah itu dengan air mawar yang ia siramkan ke cermin kamarnya. Setelah cermin itu menerima darah sucinya, aku akan mengambil energinya secara astral. Itu akan menjadi pengikat sempurna untuk Sari.”
Agus berpikir cepat. Ini adalah rintangan yang jauh lebih besar daripada sekadar mencari Sari. Ini melibatkan Endang secara langsung, secara fisik.
“Dan jika dia menolak?” tanya Agus.
“Maka ilusi akan runtuh sebelum sempat kubangun,” jawab Mbah Jari. “Kau boleh mengambil uangmu kembali, dan bersiaplah menyambut murka Titi Kusumo yang akan datang untuk menagih janji suci yang telah kau ingkari dua kali: janji keintiman dan janji keikhlasan.”
Agus menimbang-nimbang. Tujuh puluh juta sudah dihabiskan. Sari sudah di tangan. Tidak ada jalan mundur.
“Baik, Mbah,” kata Agus, mengangguk dengan enggan. “Kami akan kembali dan melakukannya malam ini. Kau akan mendapatkan penanda itu. Tapi aku minta satu hal: mulailah ritual Pelet Punggung pada Sari sekarang. Aku mau tahu apakah uangku ini sudah mulai bekerja.”
Mbah Jari mengarahkan pandangannya yang tajam ke Sari, dan kemudian ke mangkuk kuningan. “Tinggalkan Endang. Aku butuh ketenangan untuk memisahkan aura, tetapi aku akan melakukan transfer awal pada Sari. Setelah itu, kalian boleh pergi.”
Agus menarik Endang keluar dari pondok, meninggalkan Sari di hadapan Mbah Jari dan mangkuk kuningan yang memancarkan aura kegelapan.
Di dalam mobil, dalam perjalanan kembali ke kota, Endang tidak menangis. Ia hanya menatap kosong ke luar jendela, seolah-olah jiwanya tertinggal di pondok Mbah Jari.
“Gus,” bisik Endang, suaranya hampir tidak terdengar. “Kau dengar apa yang dia minta? Dia mau aku mengorbankan bagian dari diriku yang paling murni, hanya untuk memuluskan penipuanmu.”
Agus menyentuh tangan Endang, tetapi Endang segera menariknya.
“Itu hanya simbol, Endang,” kata Agus, mencoba merasionalisasi. “Hanya satu tetes darah. Ini demi kita. Demi masa depan kita. Jika kita tidak melakukannya, Sari tidak akan pernah bisa menjadi dirimu, dan kita akan mati.”
“Bukan hanya soal darah, Gus,” balas Endang, akhirnya menoleh, matanya penuh tuduhan. “Ini soal keikhlasan. Mbah Jari bilang aku harus memberikannya dengan tulus. Bagaimana aku bisa ikhlas memberikan bagian dari jiwaku untuk menipu entitas yang haus akan kejujuran?”
Agus menghentikan mobil di pinggir jalan yang sepi. Ia membalikkan badan dan mencengkeram kedua bahu Endang.
“Kau harus ikhlas, Endang! Kau harus ikhlas karena kau mencintaiku! Kau harus ikhlas karena kau ingin kita hidup! Bukankah kau yang bilang kau akan melakukan apa saja agar kita tidak kembali ke jurang kemiskinan?” tuntut Agus.
“Aku bilang aku mencintaimu, tapi aku tidak pernah bilang aku akan mengkhianati Tuhan dan jiwaku sendiri!”
Pertengkaran mereka mereda menjadi keheningan yang dingin. Agus melepaskan Endang. Ia tahu, ia tidak bisa memaksanya secara fisik. Ia harus memanipulasi.
“Dengar,” kata Agus, menyalakan mobil lagi. “Aku akan mencari cara. Aku akan mencari detailnya. Mbah Jari bilang cermin di kamar kita. Malam ini. Kau hanya perlu berada di sana. Aku akan mengurus sisanya.”
Endang hanya menggeleng. “Aku tidak mau. Aku tidak mau melanjutkan ini. Kita harus jujur pada Raden Titi Kusumo. Kita harus hentikan ini sekarang, sebelum kita kehilangan segalanya.”
“Kita sudah kehilangan segalanya, Endang!” bentak Agus, memukul setir. “Kita sudah kehilangan semua uang kita, kita sudah mencuri jiwa Sari, dan kini kita sudah mengikat janji dengan Mbah Jari. Kita tidak punya apa-apa lagi selain rencana ini!”
Mereka tiba di rumah. Endang langsung masuk ke kamar, mengunci diri. Agus duduk di ruang tamu yang gelap, memikirkan cara mendapatkan ‘darah perawan spiritual’ Endang tanpa persetujuan tulusnya.
Ia mengambil ponselnya, mencari informasi tentang ritual ‘Cakra Suci’ yang disebut Mbah Jari. Hasil pencariannya gelap dan mengerikan. Ritual itu biasanya dilakukan oleh para dukun untuk mengikat tumbal perempuan ke majikan gaib mereka.
“Air mawar yang dicampur darah murni harus disiramkan ke cermin, yang berfungsi sebagai portal. Jika darah diberikan tanpa kerelaan hati, portal itu akan menjadi keruh, dan entitas akan mencium bau kepalsuan…”
Agus mengusap wajahnya. Kepalsuan. Itu adalah kata kunci Titi Kusumo.
Ia harus membuat Endang merasa ikhlas, atau setidaknya, membuatnya tidak berdaya saat ritual itu terjadi.
Agus bangkit. Ia pergi ke dapur, mengambil pisau kecil yang tajam. Ia menyembunyikannya di balik ikat pinggang.
Lalu, ia mulai mencari air mawar. Ia harus menyiapkan cermin di kamar mereka.
Ia mengetuk kamar Endang. “Endang, aku butuh bicara. Ada Sari yang harus kita urus.”
Pintu terbuka sedikit. Endang menatap Agus dengan mata waspada.
“Sari sudah di rumah Mbah Jari. Dia sudah mulai menjalani transfer aura. Kita harus menyiapkan cerminnya sekarang, Endang. Tolong, jangan sia-siakan pengorbanan kita.”
Endang mundur ke dalam kamar. Agus melihat ke sekeliling. Cermin rias kuno Endang berada di sudut, tertutup debu.
“Aku akan mencari air mawar,” kata Agus, meraih kunci mobilnya lagi. “Kau, siapkan dirimu. Tengah malam, Endang. Kita harus melakukannya.”
Agus pergi. Endang hanya berdiri di sana, menatap cermin riasnya sendiri. Ia mulai menyadari bahwa ‘pencarian kemiripan’ yang dilakukan Agus bukan hanya fisik, tetapi kini sudah mencapai tahap pencurian spiritual yang fatal. Agus ingin membuat Sari mirip dengannya, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara jiwa. Dan ia butuh bagian jiwanya yang paling murni sebagai jaminan.
Saat Agus mengemudi, ia tidak mencari air mawar. Ia mencari sesuatu yang lain: obat penenang dosis tinggi. Ia tidak bisa mengambil risiko Endang memberontak saat tengah malam.
Ia kembali ke rumah tepat sebelum senja. Endang sudah mandi, wajahnya lebih tenang.
“Aku sudah mencari air mawar,” kata Agus, tersenyum paksa. “Aku juga sudah menyiapkan makan malam. Ayo, kita makan dulu.”
Di balik punggungnya, Agus mencampurkan dua butir pil penenang dosis tinggi ke dalam teh Endang.
Endang meminum teh itu perlahan. Mereka makan dalam keheningan yang panjang.
Tepat pukul 23.30, Endang mulai merasa kantuk yang tak tertahankan. Matanya berat, pikirannya berkabut.
“Gus,” panggil Endang, suaranya serak. “Aku… aku tidak enak badan.”
“Kau hanya lelah, Endang,” kata Agus, membimbingnya ke tempat tidur. “Berbaringlah. Aku akan menyiapkan ritualnya.”
Agus membaringkan Endang di tempat tidur. Ia menunggu sepuluh menit, memastikan Endang sudah tertidur pulas.
Ia kemudian bangkit. Ia mengambil air mawar dan menyiramkannya ke cermin rias Endang. Ia menyalakan lilin, dan pondok Mbah Jari terasa seolah-olah berada di ruangan itu.
Agus mengeluarkan pisau kecil dari balik ikat pinggangnya. Ia menatap istrinya yang tertidur pulas.
“Maafkan aku, Endang,” bisik Agus. “Tapi kita harus hidup.”