Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Empat Jalan Pedang
Perjalanan pun dimulai, dan mereka mengikuti Lin Feng menyusuri jalur batu yang berliku, menanjak perlahan di sepanjang lereng gunung yang menjulang tinggi. Setiap langkah membawa mereka semakin jauh dari dunia yang mereka kenal, menuju pusat kekuatan yang selama ini hanya mereka dengar dalam cerita.
Semakin tinggi mereka mendaki, udara di sekitar terasa berubah.
Tekanan aura mulai terasa.
Bukan sesuatu yang terlihat, namun cukup nyata untuk dirasakan oleh tubuh mereka, menekan dada dan membuat napas sedikit lebih berat. Setiap langkah menjadi lebih sulit, seolah gunung itu sendiri sedang menguji siapa pun yang berani mendekatinya.
Han Li mulai mengerutkan kening, Ye Fan memperlambat langkahnya tanpa sadar, sementara Xiao Yan tetap tenang meski tatapannya menjadi lebih serius. Di sisi lain, Long Chen tidak mengatakan apa pun, namun langkahnya tetap maju, seolah tekanan itu justru menguatkan tekadnya.
Kabut semakin tebal di sekeliling mereka, menyelimuti jalur yang mereka lalui hingga hanya menyisakan jalan di depan.
Lalu perlahan, kabut itu terbelah.
Di hadapan mereka, Aula Besar Sekte Pedang Langit berdiri megah di puncak, menjulang di antara awan dengan aura yang menekan namun agung.
Dan tak lama kemudian—
mereka udah tiba di depan aula.
Long Chen terdiam begitu melangkah ke dalam, matanya perlahan menyapu seluruh ruangan dengan napas yang tertahan. “Ini… lebih besar dari yang kubayangkan…” gumamnya pelan, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan aula yang luas itu.
Aula Besar berdiri dengan kemegahan yang sulit dijelaskan, pilar-pilar tinggi menjulang seolah menopang langit, masing-masing dipenuhi ukiran naga dan pedang yang tampak hidup di bawah cahaya lembut yang menyinari ruangan. Setiap detail terasa dibuat dengan ketelitian luar biasa, memancarkan aura kuno dan kekuatan yang menekan tanpa perlu diperlihatkan secara langsung.
Xiao Yan berlutut sedikit dan menyentuh lantai dengan ujung jarinya, ekspresinya berubah serius saat ia merasakan material di bawahnya. “Ini… batu giok,” ucapnya pelan, menyadari bahwa bahkan lantai tempat mereka berdiri pun bukan sesuatu yang biasa.
Di belakangnya, Ye Fan dan Han Li hanya bisa berdiri terpaku.
Mata mereka terus bergerak ke segala arah, mencoba memahami tempat yang begitu megah ini, namun semakin mereka melihat, semakin terasa betapa kecilnya mereka di dalam ruang sebesar ini.
Dan begitu mereka melangkah lebih dalam, suasana di dalam aula langsung berubah drastis, seolah tekanan tak kasatmata turun dari atas dan menyelimuti seluruh ruangan.
Di hadapan mereka, delapan sosok duduk di kursi tinggi yang tersusun rapi.
Ketua Sekte berada di tengah, diikuti oleh tujuh pemimpin divisi di sisi kiri dan kanan.
Aura yang terpancar dari mereka tidak terlihat, namun terasa nyata.
Berat.
Menekan.
Mencekik.
Seolah setiap napas menjadi lebih sulit diambil, dan setiap langkah terasa diawasi tanpa celah.
Keringat langsung muncul di dahi keempat anak itu.
Han Li menelan ludah dengan susah payah, Ye Fan menegang tanpa sadar, Xiao Yan tetap berusaha tenang meski tatapannya menjadi lebih serius, sementara Long Chen hanya diam, menahan tekanan itu dengan tekad yang semakin mengeras di dalam dirinya.
Di depan mereka, Lin Feng segera menunduk dengan hormat, sikapnya jauh lebih formal daripada sebelumnya. “Yang Mulia… inilah empat anak yang selamat dari Desa Daun Maple,” ucapnya dengan nada penuh penghormatan.
Lalu ia sedikit menoleh dan berbisik pelan kepada mereka, “Tunduk.”
Tanpa ragu, keempat anak itu segera menundukkan kepala.
Ketua Sekte akhirnya membuka suara, dan begitu ia berbicara, seluruh aula seakan ikut diam, seolah tidak ada satu pun yang berani mengganggu setiap kata yang keluar darinya. “Mulai hari ini, tempat ini adalah rumah kalian,” ucapnya dengan nada dalam dan berwibawa, setiap katanya terasa berat namun jelas.
Tatapannya menyapu keempat anak itu, memastikan mereka benar-benar mendengar.
“Kalian akan menjadi bagian dari sekte ini,” lanjutnya dengan tenang, namun penuh kepastian.
Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi kata-katanya untuk meresap, sebelum kembali berbicara.
“Kami telah berdiskusi,” ujarnya, kali ini dengan nada yang lebih serius.
“Dan telah menentukan… di divisi mana kalian akan ditempa.”
Satu per satu, para pemimpin divisi mulai berdiri dari tempat duduk mereka, aura mereka yang semula tertahan kini terasa semakin jelas memenuhi seluruh aula.
Qin Tian bangkit lebih dulu.
Tatapannya hangat, seperti cahaya matahari yang menyinari, namun di balik itu tersimpan kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Ia melangkah sedikit ke depan, lalu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Xiao Yan.
“Anak ini telah dipilih oleh Ketua bahwa...,” ucapnya dengan suara tenang namun penuh wibawa.
Tatapannya tetap tertuju pada Xiao Yan saat ia melanjutkan, “....Mulai hari ini, kau akan ditempatkan di Divisi Pedang Matahari.”
Kata-kata itu jatuh dengan jelas di dalam aula.
“Di sana, kau akan berlatih dan tinggal di Puncak Pilar Matahari Abadi,” lanjutnya, nada suaranya sedikit menguat, seolah menegaskan bahwa jalan yang akan Xiao Yan tempuh bukanlah jalan yang mudah.
Berikutnya, Bai He berdiri dari tempatnya dengan sikap tenang namun kokoh, auranya stabil seperti gunung yang tak tergoyahkan. Tatapannya langsung tertuju pada Han Li, membuat anak itu tanpa sadar menegakkan tubuhnya.
“Mulai hari ini, kau akan bergabung dengan Divisi Pedang Gunung,” ucapnya dengan suara dalam dan mantap.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sama tegasnya, “Kau akan berlatih dan tinggal di Tebing Karang Penahan Langit.”
Kata-kata itu jatuh berat di dalam aula.
Han Li menelan ludah, matanya sempat membelalak sebelum perlahan berubah menjadi serius, menyadari bahwa jalan yang akan ia tempuh juga telah ditentukan.
Kemudian, Wei Wuxian berdiri dari tempatnya dengan ekspresi dingin dan tak terbaca. Auranya terasa sunyi namun menekan, seperti bayangan yang menyelimuti tanpa suara. Tatapannya langsung tertuju pada Ye Fan, membuat suasana di sekitarnya seakan meredup.
“Mulai hari ini, kau akan berada di Divisi Pedang Bayangan,” ucapnya datar, tanpa emosi.
Ia tidak memberi jeda, langsung melanjutkan dengan nada yang sama tajamnya, “Kau akan tinggal dan berlatih di Paviliun Hutan Kabut Hitam.”
Kata-kata itu terdengar sederhana, namun membawa kesan yang berat.
Ye Fan terdiam sejenak.
Tatapannya sedikit berubah, dari santai menjadi serius, menyadari bahwa jalannya tidak akan ringan. Namun alih-alih ragu, ia justru menghela napas pelan, lalu mengangguk kecil, menerima keputusan itu tanpa protes.
Terakhir, Meng Wu berdiri dari tempatnya, langkahnya berat dan penuh tekanan, seolah setiap pijakan membawa gema kekuatan yang tersembunyi. Auranya seperti petir yang tertahan, tenang di permukaan namun siap meledak kapan saja.
Ia berjalan mendekati Long Chen.
Tatapannya tajam, menembus tanpa ragu, membuat udara di sekitar terasa lebih tegang.
“kau telah dipilih,” ucapnya perlahan, suaranya dalam dan berat.
Ia berhenti tepat di depan Long Chen, lalu melanjutkan dengan tegas, “untuk berada di Divisi Pedang Petir.”
Kata-kata itu jatuh seperti sambaran.
“kau akan tinggal dan berlatih di Hutan Bambu Ungu,” tambahnya, nadanya tidak berubah, tetap kokoh dan tanpa emosi.
Long Chen terdiam.
Tatapannya sedikit bergetar, bukan karena takut, tetapi karena menyadari bahwa inilah
awal dari jalan yang akan ia tempuh sendiri.
Keputusan telah dibuat, dan suasana di dalam aula kembali tenggelam dalam keheningan yang berat, seolah setiap kata yang baru saja diucapkan masih menggema di udara.
Ketua Sekte kemudian mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat yang sederhana namun penuh makna. “Lin Feng,” panggilnya dengan suara tenang namun berwibawa.
Lin Feng segera melangkah maju dan menunduk hormat. “Ya, Yang Mulia.”
“Bawa mereka keluar dan tunggu di depan aula,” lanjut Ketua Sekte, nadanya tidak memberi ruang untuk penundaan.
“Perintah diterima,” jawab Lin Feng tegas.
Ia kemudian berbalik dan memberi isyarat kepada keempat anak itu untuk mengikutinya. Tanpa banyak bicara, mereka melangkah keluar dari aula besar, meninggalkan para pemimpin sekte di belakang.
Beberapa saat kemudian, mereka berdiri di luar aula besar, di mana angin pegunungan berhembus pelan membawa kesejukan yang kontras dengan tekanan yang baru saja mereka rasakan di dalam. Langit di atas tampak luas dan tenang, namun suasana di antara mereka justru dipenuhi keheningan yang berat.
Long Chen akhirnya membuka suara, nadanya pelan namun jelas, “…jadi… kita akan dipisah?”
Lin Feng mengangguk tanpa ragu. “Iya,” jawabnya tenang. “Sesuai keputusan Ketua Sekte, kalian akan tinggal dan berlatih di divisi masing-masing. Namun tenang saja, kalian masih bisa bertemu, hanya saja mungkin tidak akan sesering sebelumnya.”
Kata-kata itu jatuh perlahan, namun maknanya terasa dalam.
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Empat anak yang sebelumnya selalu bersama, yang tumbuh, berlatih, dan tertawa di desa yang sama, kini harus berjalan di jalan yang berbeda, menempuh takdir masing-masing yang telah ditentukan.
End Chapter 12