Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Rena memesan dua gelas teh hangat, karena suasana toilet yang dingin, ia yakin teh hangat akan membuat Cery lebih tenang dan bisa mengatur ulang pikiran dan perasaan nya yang sempat down beberapa jam lalu.
"Ayo di minum, mumpung masih anget, gak usah malu-malu,gue yang traktir, Lo mau makan apa?" lagi-lagi Rena terlihat sangat ramah dan baik setelah memesan teh, dirinya lagi-lagi menawarkan makan untuk Cery.
Rena adalah ketua OSIS di sekolah Mawar Mekar, dia juga berasal dari keluarga berada dan cukup pintar, namun ia masih berada di bawah Linus, jika Linus mendapatkan juara satu, Rena adalah juara dua nya karena mereka sekelas, ya Rena juga kakak kelas nya Cery.
"Nggak kak, nggak usah, aku gak mau makan," ujar Cery dengan tangan gemetar menyeruput teh yang ada di tangan nya.
"Lihat deh si culun, udah bikin malu diri sendiri ples malu-maluin Linus, sekarang malah deketin Rena, tujuan nya apa coba?" beberapa orang melewati Cery dan Rena yang sedang minum teh, dan mereka terdengar sedikit membicarakan Cery.
Rena yang mendengar itu berdiri dari tempat duduknya dan kemudian menghentikan langkah mereka yang sudah membicarakan Cery.
"Berhenti!" ujar nya sambil berjalan mendekati mereka.
Beberapa perempuan itu berhenti sambil menatap bingung ke arah Rena.
"Kalian adik kelas sepuluh kan? Ngapain kalian keluyuran dan malah ke kantin? Sekarang masuk kalau engak siap-siap terima hukuman!" ujar Rena dengan tegas, ia menatap tajam wajah adik-adik kelasnya dan kemudian mengusir mereka dari kantin.
Tidak berani melawan Rena si ketua OSIS, para adik kelas itu segera pergi dari kantin tampa sepatah kata pun.
Cery hanya bisa diam melihat bagaimana Rena memarahi mereka, dia tau Rena pasti mendengarkan ucapan mereka tadi dan memutuskan untuk mengusir mereka dari sana.
Cery berdiri dari duduknya dan kemudian menghampiri Rena.
"Lah, Lo mau ke mana? Kita masih belum makan," ujar Rena kepada Cery.
"Kak Rena, makasih banyak udah belain aku, kalau gak ada kakak, mungkin aku bakal di toilet sampai jam pulang sekolah," Cery memegang tangan Rena sambil menundukkan kepalanya.
"Udah gue bilang, gak perlu makasih, jangan sedih gue juga gak punya balon buat ngehibur Lo, sebaiknya sekarang Lo pulang soal izin biar gue aja yang lapor ke guru entar," lagi-lagi Rena memberikan saran kepada Cery agar ia pulang.
"Beneran boleh kak?" tanya Cery dengan mata berbinar.
Rena mengangguk-angguk kan kepala nya, setelah itu Cery pun akhirnya memutuskan untuk pulang, karena Rena berjanji akan membantu nya untuk ijin kepada guru.
Ini hal paling berharga bagi Cery, karena setidaknya dia terselamatkan dari hiruk pikuk nya kelas yang akan mengejeknya jika ia masuk sekarang.
Cery menyauh sepedanya dengan cepat, karena ia pulang awal, hari ini Cery tidak menemukan kalau ban sepeda nya kempes, lagi-lagi ia sangat bahagia karena itu semua berkat bantuan Rena dia bisa terbebas dari malu meskipun sementara saja.
Setengah jam kemudian, ia pun tiba di rumah, setelah meletakkan sepeda nya, ia melihat kalau di dalam rumah bi Suni sedang memasak di dapur. Ia pun langsung melangkah kan kaki nya menuju kamar, lalu kembali mengurung diri.
"Cery? Mengapa dia pulang awal? Bukan kah seharusnya jam setengah tiga atau empat?" bi Suni mengerutkan keningnya, Cery tidak mengatakan apa-apa kepada bi Suni dan malah langsung masuk ke kamar.
Bi Suni yang khawatir, buru-buru mematikan kompor nya dan kemudian berjalan cepat menuju kamar Cery.
Pintu kamar terlihat sedikit rengang, Cery sedang memganti pakaian sekolah dengan pakaian rumahannya.
Setelah menunggu beberapa menit, bi Suni pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar dan bertanya.
"Cery, kenapa kau pulang awal? Bukan kah seharusnya ini masih dalam jam pelajaran ya?" Bi Suni duduk di kursi meja belajar Cery sambil memeprhatikan nya.
Cery duduk di ranjang, mereka kini saling berhadapan.
"Aku gak apa-apa kok bi, cuma gak enak badan aja, jadi aku ijin pulang," Cery terpaksa berbohong, karena dia tidak mau kalah bi Suni tau dirinya sedang ada dalam masalah.
"Benarkah? Yaampun kalau begitu istirahat ya, bibi akan buatkan sup dan mengantarkan nya ke kamar untuk mu," bi Suni polos, dia percaya dan segera membantu Cery untuk merebahkan diri di ranjang, setelah itu menyelimuti tubuh Cery dengan selimut.
Setelah itu bi Suni kembali ke dapur untuk membuat sup hangat.
Sementara itu Cery berbaring sambil memainkan ponselnya.
Ia melihat bahwa seluruh video yang beredar telah terhapus begitu cepat tampa sisa, padahal baru beberapa jam yang lalu itu menjadi viral di sekolah, tapi tiba-tiba sudah hilang saja.
Cery kaget bercampur senang, dia bangun dari tempat tidur dan melompat kegirangan, awalnya dia berencana untuk libur sekolah beberapa hari untuk menghilangkan rasa malu, namun ternyata dia tidak perlu melakukan itu sebab mendapat bantuan dari seseorang.
"Siapa yang bantuin gue ya? Apa dia kak Rena atau engak ... Ah sudahlah, besok bakal cari tau siapa yang bantuin dan gue harus terima kasih banyak sama dia," ujar Cery, ia menggenggam erat ponsel nya dengan suasana hati yang sudah mulai tenang.
Setelah merasa lega, Cery kini di selimuti rasa penasaran, dia berfikir siapkah yang membantu nya menghilangkan semua video itu dengan sangat cepat, namun ia hanya bisa menunggu hari esok untuk menjawab rasa penasaran nya.
Beberapa puluh menit kemudian, bi Suni pun datang ke kamar Cery sambil membawa semangkuk sup hangat.
Segera saja ia menyuapi Cery, dia terlihat sangat peduli dan tidak ingin Cery sampai sakit parah.
Segera saja satu hari berlalu dengan begitu cepat, hari ini pun telah menjadi hari kemarin.
Seperti biasa nya Cery berangkat sekolah pukul setengah enam, namun saat ini ia memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu, semalam perutnya tidak enak dan sama sekali tidak makan setelah minum sup.
"Eh, Cery? Kenapa sekolah? Kan masih sakit," bi Suni yang melihat Cery duduk di kursi meja makan kebingungan.
"Gak apa-apa bi, gak lama lagi kan ujian, aku gak mau libur, lagian setelah minum sup buatan bibi semalam, badan jadi enakan," begitu pintar Cery menjawab nya sehingga bi Suni terlihat lega.
Mereka pun sarapan bersama, dalam sepuluh menit Cery pun selesai makan, setelah makan ia bergegas pergi ke sekolah.
Jarak dari rumah nya ke sekolah lumayan jauh jika di tempuh mengunakan sepeda itu akan memakan waktu tiga puluh menit, jika jalan kaki maka akan lebih dari satu jam, namun kalau pakai mobil mungkin lima belas menit saja sudah sampai.
Setibanya Cery di sekolah, ia masih punya waktu beberapa puluh menit lagi untuk beristirahat sebelum bel masuk berbunyi, ia pun memutuskan untuk menemui Rena di kelas.
Namun ternyata Rena belum tiba ke di sekolah, Cery pun menunggu nya di parkiran, tempat biasanya Rena memarkirkan mobil nya.
Benar saja, tidak lama kemudian, terlihat mobil si ketua OSIS itu masuk dan akhirnya terparkir.
Segera saja Cery menghampiri Rena, yang pada saat itu masih berada di dalam mobil, Cery mengetuk-ngetuk jendela kaca mobil beberapa kali agar Rena membuka nya.
Rena yang melihat itu segera turun dari mobil ia tersenyum melihat Cery ada di hadapannya.
"Cery, gimana? Lo udah lebih baik kan hari ini?" basa-basi Rena.
Tidak peduli beberapa siswa dan siswi melirik ke arah mereka, namun tidak ada yang berani nyinyir karena Cery bersama dengan ketua OSIS.
"Aku udah lebih baik kak, makasih banyak ya atas bantuan nya, maaf aku udah ngerepotin kakak buat bantuin aku ngilangin video itu," Cery langsung masuk ke topik penghilangan video.
Rena yang mendengar itu, mengerut kan keningnya, dia merasa tidak pernah susah payah untuk membantu Cery, apalagi menghilangkan video yang tengah viral di sekolah itu tidak mungkin bagi Rena.
Ia belum mengubris ucapan Cery, buru-buru dirinya mengambil ponsel yang ada di dalam tas nya dan kemudian benar saja, Rena sungguh-sungguh tidak melihat video itu lagi.
"Kenapa kak?" Cery yang bingung karena melihat Rena diam, kembali angkat bicara.
Rena memasukkan ponselnya ke dalam tas, ia tersenyum dan kemudian memegang pundak Cery. "Cery, kayaknya Lo salah paham deh, yang ngilangin video itu bukan gue, tapi Linus, kayaknya Linus juga gak mau Lo di buli, apa dia juga suka sama Lo ya?"
Lagi-lagi hal ini membuat Cery berdebar, dia salah mengira, ternyata yang membuat semua video itu hilang adalah Linus, bukan Rena.
"Apa benar kak?" Cery terlihat gugup sampai membenarkan kacamata nya.
Rena segera mengangguk kan kepala mengiyakan pertanyaan Cery. "Lo mungkin ada kesempatan buat deketin Linus, gak perlu peduliin siapapun yang nyinyir dan ngejek Lo, cukup percaya diri aja, soalnya setau gue Linus emang suka tipe cewek imut kayak Lo,"
"Ce-cewek imut?" Cery menujuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk nya.
"Iya, dan gue bakal support Lo, gue bakal selalu bantu Lo jadi Lo jangan khawatir, ingat kata-kata gue, Lo itu cukup percaya diri aja udah," terlihat begitu kekeh. Rena memberikan semangat untuk Cery.
Api cinta di hati Cery yang semulanya telah padam, kini kembali menyala bahkan lebih besar dari sebelumnya.
"Tap-tapi kak, apa kakak gak marah? Kata mereka kan kak Rena sama kak Sean lebih co-cok," lagi-lagi Cery bicara dengan gugup.
"Gue? Ya gak mungkin lah, soalnya gue udah ada orang yang gue suka, jadi Lo gak perlu khawatir oke," Rena kembali tersenyum sambil memegang tangan Cery.
Cery yang mendengar itu tentu saja lebih bahagia, karena ternyata Rena tidak mengejar Linus, melainkan cowok lain.
Setelah mengobrol panjang lebar, Cery pun memutuskan untuk berpamitan dengan Rena, karena ia harus masuk ke kelas duluan dengan hati yang berbunga-bunga. Setelah mendapatkan kata iya dari Rena, Cery pun berlari kecil dengan bahagia masuk ke dalam kelasnya.
Ia seolah sudah lupa dengan insiden yang terjadi semalam di kelas itu.
Bersambung ....