Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2--Mafia Sampah Lahan Yang Terambil
Aris berdiri di depan sebuah bengkel motor tua di pinggiran kota. Tabungan sekarang nol hampi kinclong, untuk kembali ke desa itu artinya dia butuh uang, dan sampingnya, motor bebek—satu-satunya kawan setianya selama mengadu nasib—kini berpindah tangan.
"Tiga juta, Ris. Itu sudah harga paling tinggi karena mesinnya sudah sering mati," ucap pemilik bengkel sambil menyerahkan beberapa lembar uang merah.
Aris menghela napas, menatap motor itu untuk terakhir kali. "Nggak apa-apa, Pak. Terima kasih."
Dengan uang itu, Aris membeli tiket kereta kelas ekonomi menuju Desa Sukacita. Sisanya? Hanya cukup untuk makan beberapa minggu ke depan. Untuk membeli bibit unggul, traktor tangan, atau sistem irigasi yang ia impikan, uang itu tidak ada harganya. Ia butuh modal banyak lagi.
Dia agak malu untuk melakukan ini, namun satu-satunya harapan adalah pinjaman dari bank untuk modal usaha. Dia percaya diri dengan kemampuan bertani semoga dengan bantuan pinjaman dia bisa merintis.
"Aku butuh modal bank. Sertifikat lahan ini adalah jaminan terbaikku," gumam Aris sambil mengeratkan pegangan pada tas ranselnya yang berisi surat tanah kakeknya.
Tanah itu lahan yang subur, pasti pihak bank sangat setuju dengan permintaan peminjaman bisnisnya.
Keesokan Harinya, Kantor Bank Cabang Kecamatan.
Setelah menempuh perjalanan panjang dan menginap semalam di stasiun karena dia gak punya uang untuk menginap, Aris tiba di bank saat pintu baru saja dibuka. Tentu saja dengan jalan kaki, sepanjang jalan dia menyeret koper yag isinya baju-baju ganti, jarak antar stasiun dan desa suka cita jauhnya kayak bumi dan bulan.
Butuh beberapa jam. Panas yang menyengat membuat Aris mengumpat mengatakan kata-kata kasar dalam hati. Ponsel dia mati total, dia gak bisa hubungi adiknya Emi untuk membantu mejemput.
Setelah berjalan kurang lebih satu jam, ia sampai di pinggir desa. Sebuah bank, dia datang kesini dulu saja.
Ia mengenakan kemeja terbaiknya—yang meski bersih, tetap terlihat usang.
"Selamat pagi, saya ingin mengajukan kredit usaha rakyat untuk sektor pertanian. Saya punya jaminan lahan satu hektar di blok utara Desa Sukacita," ucap Aris sopan kepada petugas di meja kredit.
Petugas itu, seorang pria dengan kacamata berbingkai emas, mengambil sertifikat tanah yang disodorkan Aris.
Ia memasukkan data nomor lahan tersebut ke komputer. Tak butuh waktu lama sampai dahi petugas itu berkerut, lalu ia menatap Aris dengan tatapan yang sangat familiar bagi Aris Tatapan merendahkan
"Mas Aris... Anda bercanda?" petugas itu terkekeh sinis, lalu memutar layar monitornya ke arah Aris.
Aris tertengun, perasaan tidak ada yang aneh dengan lahan milik kakek dia terus kenapa gerutan si petugas seolah mengatakan bahwa ini tidak layak untuk dipertimbangkan sebagai peminjam bisnis.
"Maksud Bapak?"
"Lihat ini. Lahan yang Anda jaminkan ini masuk dalam red zone. Secara administratif memang lahan pertanian, tapi statusnya saat ini adalah 'Lahan Mati Non-Produktif'. Berdasarkan laporan penilaian terbaru, tanah di sana sudah terkontaminasi limbah kimia berat."
Petugas itu menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada. "Bank tidak akan memberikan pinjaman bahkan seribu rupiah pun untuk tanah yang sudah jadi TPA liar. Mas mau bertani apa di sana? Menanam plastik? Atau memanen ban bekas?"
Beberapa orang di antrean belakang mulai berbisik sambil tertawa.
“Apaan itu?”
“Orang miskin yang mencoba beradu nasib?”
“Sungguh merusak suasana, coba panggil petugas keamanan, sudah membuat antrean panjang menganggu suana pula.”
Aris merasakan terhina. Ini semua salah, dia terpaku dan membantah. "Tapi Pak, itu lahan subur... kakek saya dulu—"
"Dulu itu beberapa tahun yang lalu, Mas!" potong petugas itu kasar
. "Sekarang lahan itu ladang sampah!”
Ladang sampah? Mustahil. Dia punya sertifikatnya dan meski dia tidak mejaga untuk waktu lama, masih ada keluarganya di sana. Emi dan ibu, gak mungkin ada orang yang berani main-main.
Kecuali jika itu selevel orang bos dan pejabat korup!
Aris menyambar sertifikatnya. Ia tidak percaya dengan perkataan pemilik bank karena dia rasa gak mask akal sama sekali!
Aris melangkah keluar dari bank dengan napas yang memburu. Tawa para nasabah di dalam tadi masih terngiang, menusuk-nusuk harga dirinya yang sudah compang-camping.
"Penipu! Mana mungkin tanah Kakek jadi ladang sampah!" maki Aris tertahan.
Ia kembali menyeret kopernya di atas jalanan aspal yang panas. Kakinya yang lecet tidak lagi ia rasakan. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: rumah. Ia ingin melihat Ibu dan Emi, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bank bisa berkata sekeji itu tentang tanah mereka?
Langkah Aris melambat saat ia memasuki gapura Desa Sukacita. Namun, ada yang aneh. Desa yang dulu asri dan sejuk itu kini terasa pengap.
“Apa-apaan bau ini!?!”
Bau menyengat seperti karet terbakar dan amonia tercium samar di udara. Beberapa warga yang duduk di depan rumah menatap Aris dengan pandangan iba, seolah mereka dia melihat hantu yang baru pulang dari kubur.
"Aris? Itu kamu, le?" tanya seorang tetangga tua, Wak Darmo, dengan suara gemetar.
"Iya, Wak. Aris pulang," jawabnya singkat. Aris ingin bertanya, tapi wajah Wak Darmo tampak ketakutan seolah ada yang mengawasi mereka.
Pria tua itu segera masuk ke rumah dan mengunci pintu. “Maaf, nak. Kurasa saya gak bisa bicara panjang lebar dengan kamu, le maaf. Nanti kamu bakal paham sendiri.”
Ha!? Apaan coba absurd juga ada batasnya. Wak darmo terkenal dengan orang paling ramah di desa dan sekarang bersikap gini?
Aneh sesuatu makin gak beres!
Perasaan tidak enak itu makin menjadi-jadi. Aris mempercepat langkahnya menuju rumah peninggalan Kakek yang berada tak jauh dari batas lahan satu hektar tersebut. Begitu sampai di depan pagar, jantung Aris mencelos.
Rumahnya tampak kusam. Kaca jendela samping pecah dan hanya ditutup dengan karton bekas. Di teras, ibunya duduk di kursi bambu dengan kain basah yang menutupi hidung dan mulutnya. Dia berdarah dan penuh luka. Tubuhnya jauh lebih kurus dari terakhir kali mereka melakukan panggilan video.
"Ibu!" Aris melemparkan kopernya dan berlari memeluk wanita tua itu.
"Aris? Kamu... kamu pulang, Nak?" Ibu Aris terbatuk hebat, suaranya parau. "Kenapa nggak kabar-kabar?"
"Ponsel Aris mati, Bu. Ada apa ini? Kenapa Ibu sakit? Dan tadi di bank..." Aris menggantung kalimatnya, matanya memerah menahan amarah. "Mereka bilang tanah Kakek jadi ladang sampah? APA MAKSUDNYA IBU!?”
Ibunya hanya bisa menunduk, air mata jatuh mengenai punggung tangan Aris. Tepat saat itu, pintu rumah terbuka. Emi, adik perempuannya, keluar dengan wajah yang kusam karena debu. Matanya yang dulu ceria kini redup dan penuh rasa lelah.
"Kak Aris sudah tahu?" tanya Emi pelan. "Emi mau cerita, tapi Ibu melarang. Ibu takut Mas Aris nekat pulang dan malah celaka di tangan mereka."
"Mereka siapa, Mi?!" bentak Aris, tidak sabar.
Emi menunjuk ke arah belakang rumah, ke arah lahan satu hektar milik Kakek. “Kalau kakak lihat sendiri, mungkin kakak tahu maksudku.”
"Mafia sampah, kak. Sejak setahun lalu, truk-truk besar datang setiap seminggu sekali. Mereka menyuap orang-orang penting di sini. Saat Ibu dan aku protes, mereka melempari rumah kita dengan batu, bahkan ibu dihajar kak!. Mereka mengancam akan membakar rumah juga kalau kita lapor polisi. Tapi Mau lapor juga percuma orang kayak kita sejak awal gak punya kuasa, kak! Polisi mah gampang banget disuap sama duit.”
Aris tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia berlari menuju lahan yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari sana. Begitu melewati pagar pembatas, langkah Aris terhenti total.
Dunianya serasa runtuh.
Lahan hijau yang dulu penuh dengan pohon buah dan rumput segar kini telah lenyap. Berganti menjadi lembah limbah yang mengerikan. plastik setinggi dua meter berjejer. Di tengahnya, terdapat kubangan air hitam pekat yang mengeluarkan asap tipis berbau kimia menyengat. Tanah itu tidak lagi cokelat, melainkan hitam berminyak dan mati.
"Woi! Siapa itu?! Dilarang masuk!"
Sebuah bentakan keras datang dari sebuah gubuk beton permanen yang berdiri di sudut lahan. Tiga pria kekar dengan tato di lengan dan wajah sangar keluar sambil membawa balok kayu berlubang paku. Di belakang mereka, sebuah truk tangki sedang membuang cairan keruh langsung ke tanah Aris.
"Ini tanah saya!" teriak Aris dengan suara parau, urat lehernya menegang. "Keluar kalian dari sini!"
Salah satu preman itu maju, meludah tepat di depan kaki Aris. "Tanahmu? Telat, Tong! Tanah ini sudah dikontrak oleh Boss Malik untuk kepentingan 'pembangunan'. Kalau kamu pemiliknya, mana bukti kamu bisa bayar uang keamanan selama lahan ini kami jaga?"
"Persetan dengan Boss Malik! Siapa pula dia! Saya tidak pernah mengizinkan sampah ini ada di sini!"
*Brakk!*
Sebuah dorongan keras di dada membuat Aris terjungkal ke belakang, jatuh tepat di atas tumpukan botol plastik dan cairan limbah yang lengket.
"Dengar ya, bocah miskin," preman itu berjongkok di depan Aris, menatapnya dengan pandangan buas. "Polisi sudah kami suap, pejabat desa sudah makan uang kami. Keluarga kamu itu cuma debu. Pergi sekarang, atau besok Ibu dan adikmu akan kami timbun hidup-hidup di bawah sampah ini!"
Aris terdiam di tengah genangan limbah. Bau busuk plastik terbakar seolah membakar otaknya. Di kota ia menjadi sampah, dan di sini pun hartanya dijadikan tempat sampah. Rasa benci dan keputusasaan yang luar biasa mendidih di dalam dadanya.
Kenapa orang besar selalu bertindak seenaknya ini tanah dia! Bakan penjabat dan orang orang penting disuap, keluarga dia yang miskin bahkan gak punya kausa untuk melawan.
Aris merasa sangat gagal. Di kota dia gak berhasil mengadu nasib, disini pun gak bisa? Asw emang. Dunia gak ada keadilan sama sekali!
*Kakek... maafkan Aris... Aris benar-benar tak berguna...*
Tepat saat ia meremas tanah hitam yang beracun itu, sebuah kilatan cahaya biru terang menyambar penglihatannya. Suara mekanis yang dingin namun berwibawa bergema di kepalanya.
[Ding! Mendeteksi Kondisi Inang yang Mencapai Titik terendah...]
[Sinkronisasi Sistem 'Petani Sultan' Proses penggunaan sistem: 20 % … 40%]