Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Aroma lemak daging yang terbakar menyatu dengan asap tebal di bawah naungan tenda plastik berwarna biru kusam. Suasana Warung Tenda Seleraku malam itu sangat bising oleh suara gesekan sudip pada wajan penggorengan dan deru kendaraan yang melintas di jalan raya depan SMA Nusa Bangsa. Arga duduk di sudut bangku kayu yang panjang, berusaha menenggelamkan diri dalam keremangan cahaya lampu bohlam kekuningan yang sesekali berkedip. Di sampingnya, Dimas sedang sibuk memilah kerupuk dari dalam kaleng, sementara Satria tampak mendominasi pembicaraan di depan Nala.
Satria tertawa lepas setelah menceritakan pengalamannya saat bertanding basket melawan sekolah tetangga pekan lalu. Cowok itu memiliki aura yang cerah, tipe orang yang bisa mencairkan suasana hanya dengan satu kalimat seloroh. Di sisi lain, Nala tampak mendengarkan dengan saksama, sesekali tersenyum tipis yang membuat jantung Arga berdenyut nyeri. Sejak identitasnya sebagai Aga terungkap, Arga merasa hubungan mereka bukannya semakin sederhana, melainkan justru semakin rumit karena tumpukan masa lalu yang belum selesai.
"Nal, lo itu kan tipe cewek yang perfeksionis banget kalau soal nilai," ujar Satria sambil memutar-mutar gelas teh manisnya.
Nala menoleh, memberikan perhatian penuh pada Satria. "Masa sih? Perasaan biasa aja, Sat."
"Buktinya lo selalu jadi yang terbaik di kelas. Nah, gue jadi penasaran. Kalau soal cowok, kriteria lo seberat nilai matematika lo nggak?" tanya Satria dengan nada menggoda yang sangat kentara.
Rara yang duduk di sebelah Nala langsung ikut menyambar. "Nah, ini pertanyaan menarik. Sejujurnya gue juga pengen tahu, tipe cowok seperti apa yang bisa masuk radar Nala Anindita."
Arga merasa jemarinya mendingin di bawah meja. Dia pura-pura sibuk mengaduk nasi gorengnya yang sudah mendingin, namun telinganya menangkap setiap getaran suara yang keluar dari mulut Nala. Di seberang meja, Tania sempat melirik Arga sejenak. Ada gurat kekhawatiran di wajah gadis itu, seolah dia tahu bahwa jawaban Nala akan menjadi hantaman keras bagi Arga.
Nala tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat jujur dan ringan. "Kriteria ya? Sebenarnya simpel banget."
"Simpel versi Nala itu biasanya tetap sulit buat orang awam," celetuk Dimas yang disambut tawa oleh yang lain.
Nala menggelengkan kepala, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi plastik. "Nggak kok. Gue suka cowok yang apa adanya. Yang berani ngomong langsung kalau dia punya kemauan. Gue paling nggak suka ditebak-tebak."
Arga menghentikan gerakan sendoknya. Kalimat itu terasa seperti sindiran halus yang menusuk tepat ke ulu hatinya. Dia adalah definisi dari seseorang yang sulit ditebak, yang lebih suka memendam perasaan selama delapan tahun dalam diam daripada mengungkapkannya secara jantan.
"Terus, lo suka yang kayak gimana lagi?" tanya Satria, suaranya kini terdengar lebih serius namun tetap santai.
"Gue suka cowok yang aktif, yang dunianya nggak cuma soal dirinya sendiri. Pokoknya yang bisa bawa suasana jadi seru dan nggak kaku. Gue nggak terlalu suka tipe cowok pendiam yang terlalu banyak mikir sampai lupa buat bertindak," lanjut Nala dengan nada bicara yang sangat realistis.
Satria langsung membusungkan dada dengan gaya bercanda. "Wah, itu mah deskripsi gue banget, Nal. Gue aktif, nggak kaku, dan lo tahu sendiri kan kalau gue tipe orang yang langsung bertindak?"
Nala hanya membalasnya dengan tawa santai, tidak mengiyakan namun juga tidak menolak pernyataan itu. Mereka berdua kemudian terlibat dalam percakapan yang lebih akrab, meninggalkan Arga dalam keheningan yang menyesakkan. Setiap kriteria yang disebutkan Nala adalah antitesis dari kepribadian Arga. Arga adalah pengamat, Arga adalah si pendiam yang terjebak dalam memori, dan Arga adalah pengecut yang butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk menunjukkan identitas aslinya.
Dimas menyenggol bahu Arga pelan, mencoba memberikan dukungan tanpa kata. Namun, Arga hanya bisa menatap bayangan dirinya di atas permukaan meja yang berminyak. Dia merasa seperti sebuah buku tua yang berdebu di pojok perpustakaan, sementara Nala adalah pembaca yang kini lebih tertarik pada majalah populer yang penuh warna dan energi.
"Lo oke, Ga?" tanya Tania dengan suara lembut, hampir tak terdengar di antara kebisingan tenda.
Arga hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Dia tidak ingin terlihat lemah, namun kenyataan bahwa Nala menginginkan sosok yang sangat berbeda darinya terasa lebih menyakitkan daripada saat Nala melupakan namanya dahulu. Di sana, di bawah lampu kuning yang temaram, Arga menyadari bahwa jarak delapan tahun yang mereka lalui bukan hanya soal waktu, melainkan soal perubahan jiwa yang mungkin sudah tidak lagi saling bersinggungan.
Satria terus bercerita, membuat Nala tertawa berkali-kali. Arga hanya bisa menjadi penonton dari kebahagiaan itu. Dia melihat bagaimana Nala menatap Satria dengan binar mata yang jernih, sebuah tatapan yang tidak pernah dia dapatkan meskipun mereka telah menghabiskan masa kecil bersama. Arga menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang kian menghimpit dadanya, sementara sate di atas piringnya tetap tak tersentuh.