NovelToon NovelToon
Pendekar Mulut Sampah

Pendekar Mulut Sampah

Status: sedang berlangsung
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.

Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.

Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Pria itu adalah Penatua Penegak Hukum Mo Jian, sosok paling ditakuti di Sekte Teratai Angin yang terkenal karena kekejamannya dalam menghukum murid yang melanggar aturan. Dia baru saja keluar dari pengasingan tertutupnya selama lima tahun, dan langsung disambut oleh laporan hilangnya seluruh petinggi sekte secara misterius.

Mata Penatua Mo Jian yang tajam bagai elang menyapu seluruh lereng gunung, memancarkan aura membunuh yang langsung membekukan embun sore di dedaunan. Dia mengarahkan pedang perunggunya meluncur ke bawah, mendarat dengan suara dentuman dahsyat yang membuat tanah di halaman gubuk Li Zhen berguncang hebat.

Debu merah beterbangan menutupi pandangan, membuat beberapa tetua yang sedang bersujud terbatuk-batuk keras sambil menutupi wajah mereka. Penatua Mo Jian melompat turun dari pedangnya, wajahnya berkerut penuh amarah saat melihat pemandangan memalukan di depan matanya sendiri.

"Kepala Sekte Zhao! Tetua Lin! Apa-apaan lelucon memuakkan ini, mengapa kalian bersujud di tempat kumuh ini layaknya pengemis jalanan?!" raung Penatua Mo Jian dengan suara menggelegar. Urat-urat di leher pria tua berbaju zirah itu menonjol keluar, tangannya mengepal kuat menahan emosi melihat sektenya kehilangan harga diri.

Kepala Sekte Zhao Wuji mendongak dengan wajah pucat pasi, matanya membelalak panik melihat kedatangan sang penegak hukum yang sangat keras kepala tersebut. "Penatua Mo, cepat turunkan senjatamu dan bersujudlah, ini adalah tempat suci dari Senior Alkemis Agung!" teriak Zhao Wuji dengan nada putus asa.

Mendengar peringatan dari pemimpinnya, Penatua Mo Jian justru tertawa keras dengan nada yang sangat merendahkan dan penuh dengan kesombongan mutlak. Dia memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah Li Zhen yang sedang berdiri santai di ambang pintu dengan tatapan mata yang sangat meremehkan.

"Alkemis Agung? Bocah kurus yang bahkan tidak memiliki setitik pun energi spiritual di tubuhnya ini kalian sebut sebagai dewa?" ejek Penatua Mo Jian kasar. Dia meludah ke tanah dengan penuh rasa jijik, mengayunkan pedang perunggunya hingga menciptakan gelombang angin tajam yang memotong rumput di sekitarnya.

Li Zhen sama sekali tidak bergeser dari posisinya, angin tajam itu hanya membuat jubah compang-campingnya berkibar pelan tanpa melukai kulitnya sedikit pun. Pemuda bermulut sampah itu memiringkan kepalanya ke kiri, menatap Penatua penegak hukum itu dengan raut wajah kebosanan yang sangat mendalam.

"Kalian pasti telah terkena sihir ilusi tingkat tinggi dari iblis rendahan ini, biarkan pedang keadilanku yang memutus mantra ini sekarang juga!" aum Penatua Mo Jian. Pria tua itu mengangkat pedang perunggunya tinggi-tinggi ke angkasa, mengumpulkan energi petir kuning yang berderak-derak mengerikan di sepanjang bilah senjatanya.

Melihat niat membunuh yang diarahkan langsung kepadanya, Li Zhen tidak merasa gentar apalagi berniat untuk lari bersembunyi ke dalam gubuk. Dia hanya menghela napas panjang, menatap layar biru neon dari Sistem Pembicara Sampah yang baru saja muncul otomatis di atas kepala Penatua Mo Jian.

Layar itu berkedip memindai sosok garang berbaju zirah tersebut, mencari celah mental paling fatal yang disembunyikan oleh sang hakim sekte yang tak kenal ampun. Sebuah teks merah menyala perlahan muncul, menampilkan deretan kalimat yang membuat Li Zhen harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tertawa meledak.

[Target: Mo Jian (Penatua Penegak Hukum). Kelemahan Mental: Menampilkan citra pria keras dan tanpa ampun, namun dia memiliki fobia gelap yang parah dan diam-diam mengoleksi puluhan boneka kelinci spiritual berwarna merah muda berbulu lebat. Dia sering mengajak boneka-boneka itu berbicara setiap malam sebelum tidur karena merasa kesepian dan kurang kasih sayang.]

Membaca rahasia paling absurd yang pernah dia temui hari ini, Li Zhen tidak bisa lagi menahan kekehannya yang perlahan berubah menjadi tawa iblis. Suara tawa pemuda itu terdengar sangat tidak wajar di tengah ketegangan yang mengancam nyawa tersebut, membuat Penatua Mo Jian semakin murka.

"Apa yang kau tertawakan, bocah iblis?! Bersiaplah untuk mati di bawah pedang keadilan ini!" bentak Penatua Mo Jian sambil melangkah maju dengan niat membunuh yang memuncak. Tanah di bawah kaki pria berbaju zirah itu retak menjalar akibat tekanan spiritual yang sengaja dia lepaskan secara maksimal untuk mengintimidasi.

Li Zhen mengusap air mata tawa di sudut matanya, mengangkat tangan kanannya untuk memberikan isyarat agar pria tua itu menghentikan langkahnya. "Aku hanya sedang membayangkan sesuatu yang sangat lucu, Penatua Mo yang Agung," ucap Li Zhen dengan nada yang sangat meremehkan dan menyebalkan.

Penatua Mo Jian menghentikan langkahnya sejenak, alisnya berkerut tajam karena merasa ada sesuatu yang sangat aneh dengan ketenangan pemuda fana di depannya ini. "Ilusi dan kata-kata manismu tidak akan mempan terhadap keteguhan Dao Heart milikku yang telah ditempa ratusan tahun!" tegas pria tua itu sombong.

Li Zhen mendecakkan lidahnya berkali-kali, menggelengkan kepalanya dengan gerakan dramatis seolah sedang melihat orang gila yang berbicara sendiri di pinggir jalan. "Keteguhan Dao Heart katamu? Apakah itu jenis keteguhan yang membuatmu menangis ketakutan jika lampu di paviliunmu padam di malam hari?" ejek Li Zhen telak.

Energi petir kuning di bilah pedang perunggu Penatua Mo Jian mendadak berkedip tidak stabil, seolah baru saja kehilangan suplai tenaganya secara tiba-tiba. Mata pria tua berbaju zirah itu melebar seketika, tangannya yang memegang pedang mulai bergetar pelan karena rahasia tergelapnya baru saja disinggung.

Para tetua sekte yang masih bersujud di tanah perlahan mengangkat kepala mereka dengan raut wajah penuh tanda tanya yang sangat besar. Mereka menatap Penatua Penegak Hukum yang selama ini terkenal tidak pernah takut pada apa pun, namun kini terlihat sangat pucat dan terkejut.

"J-jangan bicara omong kosong, iblis kotor!" bantah Penatua Mo Jian dengan suara yang mulai melengking karena panik yang menjalar di dadanya. Dia memaksakan dirinya untuk membusungkan dada, mencoba menutupi kegugupannya di balik topeng kemarahan yang kini terlihat sangat dipaksakan.

Li Zhen tidak memberikan ruang sedikit pun bagi lawannya untuk bernapas, dia melangkah maju menuruni anak tangga gubuk dengan senyum predator yang kejam. "Omong kosong? Lalu apa sebutanmu untuk puluhan boneka kelinci spiritual berwarna merah muda yang kau sembunyikan di dalam cincin spasialmu itu?" serang Li Zhen semakin dalam.

Keheningan yang luar biasa canggung langsung menyelimuti halaman gubuk itu, suara desiran angin bahkan terasa sangat memekakkan telinga. Kepala Sekte Zhao Wuji dan Tetua Lin saling berpandangan dengan mulut terbuka lebar, rahang mereka nyaris jatuh menyentuh tanah karena syok berat.

"Apakah kau masih memeluk kelinci berbulu lebat yang kau beri nama 'Putri Fluffy' setiap malam sambil menceritakan keluh kesahmu karena tidak punya teman?" lanjut Li Zhen tanpa ampun. Kata-kata itu meluncur bagaikan belati beracun yang menusuk tepat ke jantung pertahanan mental sang penegak hukum sekte yang paling ditakuti.

Wajah Penatua Mo Jian langsung berubah warna menjadi seputih kertas, bibirnya bergetar hebat tak mampu mengeluarkan satu patah kata pembelaan pun. Rahasia paling memalukan yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun di dunia ini kini dibongkar di depan seluruh jajaran petinggi sekte.

Membayangkan tatapan merendahkan dari rekan-rekannya yang mengetahui bahwa hakim paling kejam ini ternyata menggemari boneka kelinci merah muda membuat pikirannya kacau balau. Dao Heart Penatua Mo Jian yang diklaimnya setebal baja itu hancur berkeping-keping layaknya vas porselen murahan yang dibanting ke lantai batu.

Energi spiritual di dalam meridiannya berbalik menyerang dengan sangat brutal, menghancurkan organ dalamnya dari dalam karena penolakan psikologis tingkat ekstrim. Pria berbaju zirah perak itu memuntahkan darah hitam dari mulutnya, menodai janggut putih panjang kebanggaannya dengan cairan kental yang menjijikkan.

Pedang perunggu raksasa itu terlepas dari genggamannya, jatuh berdebum menghantam tanah merah dan kehilangan seluruh kilatan energi petirnya seketika. Penatua Mo Jian jatuh berlutut di tanah, kedua tangannya menutupi wajahnya sendiri sambil menangis tersedu-sedu layaknya anak perempuan yang mainannya direbut.

[Ding! Target Penatua Mo Jian mengalami kehancuran harga diri tingkat kaisar dan syok sosial parah. Mendapatkan +25.000 Poin Sampah.]

Li Zhen tersenyum puas melihat notifikasi poin yang masuk, mengusap dagunya dengan lagak seorang jenderal yang baru saja memenangkan peperangan besar. Dia menatap tumpukan manusia-manusia elit yang kini semuanya berada di bawah kendali ketakutan absolut yang diciptakan oleh mulut berbisanya.

Kepala Sekte Zhao Wuji kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuhnya bergetar semakin parah melihat Penatua Penegak Hukum mereka tumbang hanya dalam hitungan detik. Kekaguman dan ketakutan yang mendalam kini mengakar kuat di hati seluruh petinggi sekte, meyakini bahwa Li Zhen adalah entitas dewa yang maha tahu.

"Sekarang setelah kau selesai bermain dengan pedang perunggumu yang norak itu, bangun dan cari kapak untuk membelah kayu bakar," perintah Li Zhen dengan suara dingin. Dia menunjuk ke arah tumpukan kayu utuh di sudut halaman yang belum sempat dipotong oleh para budak tetuanya yang lain.

Penatua Mo Jian yang masih terisak pelan langsung menganggukkan kepalanya dengan patuh, sisa-sisa arogansinya sebagai penegak hukum telah musnah tanpa sisa. Pria berbaju zirah itu merangkak bangkit dengan susah payah, berjalan gontai mencari kapak tumpul layaknya seorang tawanan perang yang pasrah pada nasibnya.

Li Zhen menghela napas panjang, berbalik badan untuk kembali masuk ke dalam gubuk reyotnya demi menikmati secangkir teh melati yang masih hangat. Benua Awan Surgawi kini memiliki seorang kaisar baru yang memerintah bukan dengan kekuatan sihir, melainkan dengan senjata rahasia berupa ancaman aib sosial.

1
Bambang Slamet
m
T28J
mantap kakak 👍 like dan hadiah💪
Kalong Super
💪💪💪💪👍👍 mantul
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!