NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tinggal di Sisiku

Bab 27 – Tinggal di Sisiku

“Karena kali ini… aku tidak akan kehilanganmu lagi.”

Suara Kael terdengar rendah, tegas, dan terlalu dekat.

Alya menatap pria yang masih berlutut di hadapannya. Seluruh aula mansion hening seketika, seolah semua orang menahan napas menunggu keputusannya.

Memang benar, semua mata tertuju pada mereka berdua.

Serena berdiri menyilangkan tangan dengan tatapan penasaran.

Riko pura-pura sibuk tapi telinganya tajam.

Ayah Kael menatap dingin dari tangga utama.

Bahkan Darius yang terikat pun menyeringai, seakan sedang menonton tontonan terbaiknya.

Alya mendesis kesal.

“Aku benci jadi pusat perhatian begini.”

Kael tak bergeming.

“Jawab aku.”

“Kamu menyuruh atau mengancam?”

“Keduanya mungkin.”

Alya mendelik jengkel.

“Kamu sama sekali nggak punya romansa.”

Kael memiringkan kepala sedikit.

“Aku sedang berusaha.”

Di sudut ruangan, Serena menutup wajahnya malu.

“Tolong hentikan. Aku malu pernah naksir pria kaku begini.”

Alya menoleh kaget.

“Kamu pernah suka dia?”

“Fokuslah!” seru Serena cepat mengalihkan topik.

Kael kembali menatap Alya tajam.

“Jawab.”

Alya menghela napas panjang.

Ia memang masih marah, masih bingung, dan rasanya ingin menampar pria ini setidaknya tiga kali. Tapi di tengah kekacauan ini, ia sadar satu hal: tempat paling aman untuknya hanyalah di sisi pria menyebalkan ini.

Ia melipat tangan di dada.

“Oke. Aku tinggal.”

Kael tak berkedip, namun sudut bibirnya terangkat tipis—tanda lega yang sulit disembunyikan.

“Tapi,” tambah Alya cepat, “bukan karena kamu. Tapi karena Ibu butuh aku di sini.”

“Bohong.”

“Bisa saja!”

“Kau boleh mencoba mengubah keputusan, tapi ingat… aku tidak akan melepaskanmu.”

Jantung Alya berdetak tak karuhan. Ia benci betapa besar efek pria ini padanya.

 

Beberapa menit kemudian, aula mulai kosong.

Darius diseret ke penjara bawah tanah dengan pengawalan ketat.

Ayah Kael pergi tanpa kata, namun aura dinginnya masih terasa menusuk.

Serena berjalan melewati Alya sambil mengangkat alis.

“Selamat datang di drama keluarga Lorenzo.”

“Aku bisa kabur kan?”

“Sayangnya tidak, kau tokoh utamanya.”

Serena lalu menatap Kael.

“Kalau kau kalah di sidang nanti, aku akan tertawakan kau seumur hidup.”

Kael menjawab datar.

“Kalau aku menang, kau akan kupekerjakan di tempat terpencil paling jauh sampai kau lupa cara tertawa.”

Serena tersenyum manis mendengar ancaman itu.

“Nah, ini alasannya kenapa aku belum bisa move on. Aku suka pria yang tegas dan berbahaya sepertimu.”

Ia pergi sebelum Alya sempat membalas.

Alya menatap punggungnya bingung.

“Dia aneh sekali ya. Maksudnya apa dia bilang belum move on?”

Kael berdiri di sampingnya dengan wajah datar.

“Jangan terlalu dekat dan percaya sama dia.”

“Kenapa? Kamu cemburu dia suka kamu?” tanya Alya menggoda.

“Bukan. Aku hanya bilang, dia itu pengaruh buruk. Jangan sampai pikiran aneh-anehnya menular ke kau.”

Alya tertawa kecil.

“Dasar posesif. Padahal kamu sendiri jauh lebih berbahaya dan menakutkan darinya.”

Kael menoleh sekilas, menatap mata Alya dalam.

“Benar. Aku jauh lebih berbahaya. Tapi bahayaku hanya untuk orang lain, bukan untukmu.”

 

Kael membawa Alya dan Mira ke sayap timur mansion—area paling tenang dan dijaga ketat. Kamar untuk Mira sudah disiapkan.

Sebelum masuk, wanita itu memegang tangan putrinya erat.

“Maafkan Ibu…”

Alya langsung memeluknya.

“Nanti kita bicara panjang lebar. Sekarang Ibu istirahat dulu.”

Mira melirik Kael, tatapannya campuran antara waspada dan berterima kasih.

“Tolong jaga Alya baik-baik, Nak.”

Kael menjawab singkat dan padat.

“Dengan hidupku.”

Tubuh Alya membeku mendengarnya.

“Ibu masuk dulu ya.”

Pintu tertutup.

Kini tinggal mereka berdua di lorong yang remang.

Kael berdiri tenang dengan tangan di saku celana, tatapannya tak lepas dari wajah gadis itu.

“Apa?” tanya Alya gugup.

“Kau cantik saat malu.”

“AKU NGGAK MALU!”

“Wajahmu merah sekali.”

“Itu karena capek habis banyak kejadian!”

“Bohong lagi.”

Alya mendecak kesal lalu berjalan cepat menjauh. Kael santai mengikuti dari belakang.

“Kenapa ikut terus?”

“Karena kau sedang menuju kamarku.”

Alya berhenti mendadak.

“APA?!”

Kael menunjuk ujung lorong.

“Itu kamar paling aman di sini. Dijaga ketat, punya akses rahasia, dan sistem pengaman terbaik. Kau harus tidur di sana malam ini demi keselamatan.”

“Aku bisa tidur sendiri kok di kamar lain!”

“Kau bisa saja. Tapi aku tidak bilang kau harus sendirian. Aku akan menemanimu.”

Alya menatapnya ngeri.

“Kamu serius mau tidur satu kamar sama aku?”

“Sangat serius demi keamananmu.”

“TIDAK MAU! Nanti salah paham!”

 

Nyatanya, lima menit kemudian Alya tetap berada di kamar Kael.

Memang benar kata pria itu, tempat itu adalah benteng teraman. Tapi itu tak membuatnya nyaman. Kamar itu luas, megah, terlalu rapi, dan baunya… terlalu wangi seperti pemiliknya.

Kael meletakkan jas hitamnya di kursi lalu menggulung lengan kemejanya, memperlihatkan lengan kekar yang penuh bekas luka.

Alya langsung membalikkan badan.

“Kenapa panik?”

“Kamu buka baju!”

“Baru gulung lengan kemeja kok mau ganti perban.”

“Aku tetap waspada!”

Kael tersenyum samar. Ia duduk dan menyodorkan kotak P3K.

“Bantu aku.”

Alya membelalak.

“Kenapa harus aku?! Panggil saja dokter atau asistenmu!”

“Karena aku ingin kau yang melakukannya. Tanganmu lembut.”

“Aku pernah mengikat perbanmu sampai kamu meringis kesakitan lho!”

“Itu namanya perhatian dan kasih sayang.”

“ITU BUKAN! ITU BALAS DENDAM!”

Meski mengomel, Alya tetap duduk dan mulai membuka perban lama di bahu Kael. Lukanya ternyata lebih dalam dari dugaan.

“Ini parah sekali. Kenapa tadi bohong bilang cuma lecet?”

“Aku sengaja. Aku suka rasanya kalau kau khawatir dan memperhatikanku begini.”

Alya menatapnya tajam.

“Kamu ini memang manipulatif.”

“Tapi cara ini efektif kan supaya kau mau dekat-dekat aku.”

Alya menghela napas lalu membersihkan dan membalut luka itu dengan hati-hati. Kael diam saja, tak bersuara sedikit pun. Hal itu justru membuat Alya sadar… pria ini terlalu pandai menahan sakit dan beban hidup sendirian.

“Kenapa diam?” tanya Kael memecah keheningan.

“Aku sedang berpikir.”

“Itu berbahaya.”

“Aku berpikir… kamu pasti kesepian banget selama ini sampai jadi sekeras dan sedingin ini. Nggak ada yang nemenin atau peduli sama kamu ya?”

Kael terdiam. Untuk pertama kalinya, ekspresi dinginnya goyah dan terlihat lembut.

Alya sendiri kaget dengan ucapannya sendiri. Ia buru-buru merapikan perban.

“Aku asal ngomong kok, lupakan saja.”

Kael menatapnya lama.

“Tidak. Kau benar. Aku memang sendirian… sampai kau datang.”

Ruangan mendadak hening. Jantung Alya berdetak kencang.

Setelah selesai, Alya berdiri cepat.

“Sudah selesai. Aku tidur di sofa saja.”

“Tidak.”

“Apa lagi?!”

“Kau tidur di ranjang. Itu empuk dan aman.”

“Aku nggak mau!”

“Aku yang mau kau tidur di sana.”

“Ini bukan demokrasi ya?”

“Tidak pernah. Di sini aku yang atur aturannya demi keselamatanmu.”

Alya hendak protes lagi saat tiba-tiba…

BLURRR!!!

Seluruh lampu kamar padam total! Gelap gulita!

“ASTAGA!”

Kael langsung menarik tubuh Alya ke dalam pelukannya erat-erat.

“Diam dan jangan bergerak.”

“AKU NGGAK BISA LIHAT APA-APA!”

“Itu memang tujuannya dimatikan supaya musuh tidak bisa melihat kita juga.”

Suara langkah kaki samar terdengar dari luar koridor.

Kael sigap mengeluarkan pistol dari laci meja.

Alya mencengkeram bajunya ketakutan.

“Ada orang di luar?”

“Ya. Ada penyusup.”

“Siapa yang berani masuk sini?”

Kael menatap pintu yang gelap dengan tatapan membunuh.

“Orang yang cukup bodoh dan nekat berani masuk ke sarang harimau malam ini.”

Tangan pegangan pintu bergerak perlahan.

Klik.

Pintu terbuka sedikit. Sosok bayangan menyelinap masuk dengan pisau terhunus di tangan.

Kael berbisik tepat di telinga Alya.

“Pegang aku erat-erat. Jangan lepas.”

“AKU SUDAH PEGANG SANGAT KUAT!”

“Bagus.”

Dan tanpa ragu…

DORRR!!!

Ia menembak tepat dalam kegelapan!

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!