NovelToon NovelToon
PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: DM PERTAMA - "MASIH SUKA KOPI SUSU, RA?"

Hari ke-48 di Ndalem. Status Zahra Almira: Bu Nyai Yang Tiba-tiba Diganggu Hantu Masa Lalu.

Jam 22.00, aku di kamar. Sendirian. Lagi balesin DM TikTok. Isinya: "Bu Nyai, kapan collab sama Ustadz?" "Bu Nyai, adem banget Ndalemnya".

Tiba-tiba, notif Instagram masuk. Dari akun yang udah 2 tahun kubuang dari kepala. @AryaCCBrews.

Isi DM:

"Zah. Ini Arya. Aku tau kamu pasti kaget. Maaf ganggu malem-malem. Aku cuma mau nanya... masih suka kopi susu kayak dulu? Soalnya aku baru racik beans baru. Enak. Keinget kamu."

Dunia berhenti. Jari kaku. Napas sesek.

Arya. Pemilik Cozy Corner Brews. Mantan bos. Mantan pacar. Orang yang ninggalin aku pas aku bela-belain resign dari kafe lain demi bantu dia bangun Cozy Corner dari nol. Orang yang ketahuan selingkuh sama Aila, penyanyi akustik langganan kafe.

Dia udah pernah ke Ndalem. Beberapa bulan lalu. Bawa sekotak masa lalu, foto kita berdua yang akhirnya viral karena dikontenin santri pas aku bakar foto tersebut di Ndalem, dan fotoku dengan Alm ayah yang sekarang aku simpan di album pemberian Tadz Rayan. Tapi Rayan nggak ngasih masuk. Rayan bahkan bicara dengan Arya di luar gerbang.

Sejak itu, aku kira urusan selesai. Ternyata... dia main DM.

Aku mau block. Demi Allah mau block. Tapi jempol berhenti pas baca kata "kopi susu".

Bukan kangen. Tapi... marah. Marah karena dia masih berani nyebut hal yang dulu jadi kode kita.

Aku screenshot. Bukan buat simpen. Tapi buat bukti. Ke Rayan. Nanti. Kalau aku udah siap ngomong.

Aku taruh HP. Tutup mata. Tapi yang kebayang muka Rayan beberapa bulan lalu. Pas ngusir Arya dari gerbang. Mukanya datar. Tapi tangannya ngepal.

 

Jam 00.15, susah tidur. Akhirnya keluar kamar. Mau ke dapur. Ambil air putih.

Lampu ruang tamu masih nyala. Rayan di sana. Duduk. Buka kitab Tafsir Jalalain. Tapi pandangannya... ke pintu gerbang. Kayak nunggu maling.

"Tadz?" panggilku. Pelan. "Kok belum tidur?"

Rayan kaget. Cepet nutup kitab. "Eh, Zahra. Kamu juga? Nggak bisa tidur?"

Aku ngangguk. Jarak kami 1,5 meter. SOP Ndalem. "Kepikiran LPJ Kemenag, Tadz. 75 juta itu berat."

Rayan senyum. Tipis. Tapi matanya waspada. "Kamu pasti bisa, Zahra. Kan... Bu Nyai yang nggak takut wartawan."

Ada jeda. 2 detik.

"Tadz," kataku akhirnya. "Beberapa bulan lalu... pas Arya ke sini. Tadz nggak tanya kenapa aku diem aja?"

Rayan diem. Lama. Terus jawab. Pelan. "Ngapain aku tanya, Zahra. Orang yang pulang ke Ndalem itu kamu. Bukan dia. Itu udah cukup buat aku."

Deg. Jawaban itu... nyakitin sekaligus nyembuhin.

"Kalau... kalau dia nggak nyerah, Tadz?" tanyaku. Suara bergetar. "Kalau dia terus... ganggu?"

Rayan natap aku. Malam-malam. Lampu temaram. Matanya nggak marah. Tapi... terluka.

"Berarti dia nggak ngerti arti kata 'sudah'," jawab Rayan. "Dan kamu... harus ngajarin dia. Kalau 'sudah' itu artinya selesai."

Dari dapur, Bunda Aisyah batuk. Keras. Kode: "Woy, udah malem. Besok ngaji Subuh."

Aku balik kamar. Rayan juga.

Tapi sebelum pintu ketutup, Rayan ngomong pelan. "Zahra. Kalau dia hubungi kamu lagi... cerita. Jangan hadapin sendirian. Di sini... kita tim. Bukan lawan."

Aku nggak jawab. Cuma angguk. Pintu ketutup.

 

Jam 01.00, HP bunyi lagi. DM kedua dari Arya.

"Zah, aku tau kamu udah nikah sama Ustadz itu. Aku liat dia jagain kamu banget. Dia nggak ngasih aku masuk. Nggak papa. Aku paham. Aku emang salah dulu. Cuma... aku denger dari temen, Ndalem kamu lagi butuh dana..Aku mau bantu, Ra, Nggak ada maksud lain. Anggap aja... aku bayar utang. Dulu kamu bantu aku bangun Cozy Corner sampe rame. Sekarang giliran aku. Tanpa syarat. Kita profesional. Kita pernah satu tim, kan?"

Lihat? Manipulatif. Dia bawa kejadian beberapa bulan yang lalu. Dia bawa info "Ndalem butuh dana". Padahal cuma Mbak Yuni sama Kang Jono yang tau. Berarti ada yang bocor. Atau dia nebak.

Pake kata "bayar utang". Pake kata "profesional". Pake "satu tim". Biar aku ngerasa nggak enak nolak.

Jempolku gatel mau ketik: "Nggak usah. Urusan Ndalem bukan urusanmu."

Tapi aku hapus. Soalnya kalau aku bales, berarti aku kasih dia panggung. Aku kasih dia celah.

Aku matiin HP. Taruh di bawah bantal.

Tapi tidurku... isinya mimpi Cozy Corner. Mimpi Aila nyanyi. Mimpi Arya bilang, "Kamu terlalu bar-bar, Ra, Aku butuh cewek kalem, tenang."

 

Pagi, jam 06.00. Rayan ketok pintu kamarku.

"Zahra, sarapan."

Aku buka pintu. Mata sembab. Kurang tidur. "Iya, Tadz."

Rayan ngernyit. "Kamu... semalem nangis?"

"Enggak, Tadz," jawabku cepet. Kebohongan kedua. "Mata kelilipan. Semalem AC kotor."

Rayan diem. Nggak percaya. Aku tau. Tapi dia nggak maksa. Cuma bilang, "Nasi uduknya keburu dingin. Bunda masak pake santan baru."

Pas aku mau ke meja makan, HP di kasur bunyi. Notif DM.

Rayan nengok. Nggak sengaja. Tapi layar nyala. Kebaca nama: "AryaCCBrews" + preview: "Aku transfer 50 juta dulu ya, Zah. Buat..."

Dia diem. Sedetik. Terus jalan duluan ke meja makan. Punggungnya... tegak. Tapi dingin. Kayak tembok Ndalem.

Aku ambil HP. Mau jelasin. "Tadz, aku nggak..."

Rayan motong. Pelan. Sambil narik kursi. "Dingin, Zahra. Nasinya. Juga kopinya."

Nggak marah. Nggak nuduh. Tapi... "kopinya" juga. Dia nyindir.

Di meja makan, sarapan hening. Bunda Aisyah ngerasa.

"Nak, Nduk," katanya. "Kalian... ada masalah?"

"Enggak, Bun," jawabku sama Rayan. Kompak. Tapi suaranya... beku.

Humairah nyuap nasi. Polos. "Tadi malem Ustadz Rayan ngaji di teras sampe Subuh, Bu. Terus liatin HP. Terus ngapus sesuatu."

Plak. Gelasku jatuh. Pecah.

Rayan berdiri. "Aku... kenyang." Terus pergi ke ndalem.

Aku nunduk. Pecahan gelas... kayak hati.

Di dalem hati aku teriak: "Tadz, aku nggak minta dia transfer! Aku mau cerita! Tapi kamu udah nutup pintu duluan!"

Tapi mulutku... terkunci.

1
hasatsk
setelah di baca terus menerus ternyata ceritanya seru.....💪💪
wanudya dahayu: makasi kak 🙏. lagi nyari ide lagi, biar bisa menuhi syarat kontrak. doain ya kak. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Di Dia
tokoh aryanya cpt"di singkirin ...
Titik Sofiah
awal yang menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
wanudya dahayu: iya kak, semoga suka, mohon dukungannya 😍🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!