NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Rahang Usman mengeras pelan. Tatapannya turun penuh rasa bersalah. Karena entah bagaimana ia merasa ikut berdosa.

Sementara Amira masih menangis pelan. “Saya pindah…”

“Saya berubah…”

“Saya belajar diam…” Air matanya jatuh tanpa henti. “Karena saya takut jadi Aisyah lagi.”

Tidak ada yang mampu bicara. Bahkan angin sore yang berembus terasa begitu berat. Lalu perlahan Usman akhirnya melangkah mendekat. Sangat hati-hati. Seolah takut perempuan itu kembali hancur. “Ais…” Kali ini suaranya begitu lirih. Dan sebelum Amira sempat menolak lagi Usman melanjutkan dengan mata yang mulai memerah, “Kalau begitu…” napasnya bergetar pelan, “biar saya yang mengingat Aisyah itu.”

Amira buru-buru menghapus air matanya. Napasnya masih bergetar. Namun ia memaksa dirinya kembali tenang. “Saya minta maaf…” Suaranya serak karena terlalu banyak menangis. Tatapannya tidak sanggup lagi melihat rumah besar itu. “Saya enggak bisa masuk ke sana.”

Umi Salma langsung menggenggam tangannya erat penuh pengertian. “Mira…”

Amira cepat-cepat menggeleng kecil. “Saya tunggu di mobil saja, Umi.” Ia menunduk dalam. “Saya enggak mau mengganggu acara.”

Suasana kembali hening. Sementara Usman masih berdiri dengan rahang mengeras. Tatapannya terus tertuju pada Amira. Ada terlalu banyak pertanyaan di kepalanya sekarang. Tentang luka yang selama ini dipendam perempuan itu sendirian. “Ais, saya mohon.”

Amira memotong cepat. Tatapannya memohon sekarang. “Jangan bahas sekarang.”

Usman terdiam. Ia jelas ingin meminta penjelasan. Ingin tahu semuanya. Tetapi kondisi Amira benar-benar tidak baik.

Dan sebelum lelaki itu kembali bicara, Umi Salma lebih dulu menahan putranya dengan tatapan lembut namun tegas. “Usman.”

Usman menoleh pada ibunya.

“Bersabar.” Suara beliau pelan. “Biarkan Amira tenang dulu.” Tatapan beliau lalu jatuh penuh iba pada Amira yang masih pucat dan gemetar. “Apalagi kita mau ada acara.”

Rahang Usman kembali mengeras pelan. Namun akhirnya ia menarik napas panjang lalu mengangguk kecil. Meski jelas sekali lelaki itu masih sulit menerima kenyataan yang baru diketahuinya. Bahwa perempuan yang selama ini dirindukannya ternyata menyimpan luka yang begitu mengerikan.

Tak lama kemudian, Tiur turun sambil menggendong Habibi. “Mbak… Habibi?”

Amira langsung menatap bayi itu. Dan untuk sesaat wajahnya kembali melembut.

Namun sebelum Amira sempat mengulurkan tangan, Umi Salma berkata pelan, “Biar Habibi ikut dulu.” Beliau mengusap kepala Amira lembut. “Kamu istirahat saja.”

Amira sebenarnya ingin menolak. Tetapi tubuh dan pikirannya benar-benar lelah sekarang. Akhirnya ia hanya mengangguk kecil. Satu per satu mereka turun dari mobil. Tiur. Khadimat. Umi Salma. Lalu Usman.

Namun sebelum benar-benar meninggalkan mobil, lelaki itu sempat berhenti sebentar di dekat pintu. Tatapannya kembali jatuh pada Amira. Penuh rasa sakit yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. Dan pelan sekali hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri Usman berkata, “Maaf…”

Amira langsung menunduk lagi. Sementara Usman akhirnya berjalan masuk ke rumah itu bersama yang lain. Meninggalkan Amira sendirian di dalam mobil.

Dan begitu pintu mobil tertutup perempuan itu akhirnya kembali menangis dalam diam. Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun masa lalu yang selama ini ia kubur akhirnya benar-benar menemukan jalannya kembali.

Sendirian di dalam mobil, Amira memeluk dirinya sendiri. Tangisnya perlahan mereda. Namun dadanya masih terasa sakit. Sangat sakit.

Tatapannya kembali jatuh ke arah rumah besar itu. Rumah yang dulu membuat hidupnya berubah selamanya. Dan perlahan kenangan malam itu kembali datang lebih jelas dari sebelumnya.

Malam ketika semuanya terjadi.

Malam ketika tubuh kecilnya gemetar ketakutan setelah diselamatkan kakeknya dari hutan jati. Kerudungnya hilang. Bajunya kotor. Tubuhnya penuh luka. Dan ia menangis tanpa henti dalam pelukan Ustad Hasyim.

Amira ingat kakeknya marah besar malam itu.

Untuk pertama kalinya lelaki tua lembut itu datang ke rumah kepala desa dengan wajah penuh amarah. Beliau menuntut penjelasan. Menuntut keadilan. Karena cucu kecilnya hampir dihancurkan.

Tetapi yang Amira ingat paling jelas justru bukan itu. Melainkan bagaimana semua orang memandang dirinya malam itu. Tatapan jijik. Tatapan menyalahkan. Bisik-bisik yang menyakitkan.

“Anak perempuan kok dekat-dekat laki-laki.”

“Pasti dia juga genit.”

“Kalau enggak, mana mungkin sampai begitu.”

Padahal ia korban. Ia korban. Tetapi tidak ada yang benar-benar peduli.

Karena yang menangis malam itu hanyalah cucu ustad miskin yang tinggal di rumah kayu ujung kampung.

Sementara Alya adalah putri kepala desa. Cantik. Terhormat. Disayang semua orang.

Air mata Amira kembali jatuh deras. Ia masih ingat bagaimana akhirnya justru dirinya yang harus pergi dari kampung itu. Bukan para pelaku. Bukan orang-orang yang menyakitinya. Tetapi dirinya.

Ustad Hasyim membawa Amira pindah diam-diam beberapa hari setelah kejadian. Karena beliau tahu cucu kecilnya tidak akan pernah bisa hidup tenang lagi di kampung ini.

Dan yang paling menghancurkan Amira kecil sempat berpikir semua itu memang salahnya. Bahwa mungkin ia memang anak perempuan buruk seperti kata orang-orang. Mungkin ia memang membawa malu. Mungkin ia memang pantas dibenci.

Perempuan itu menutup wajahnya sambil menangis lagi. Karena baru sekarang, setelah dewasa ia mulai benar-benar memahami sesuatu. Bahwa dulu ia hanyalah anak kecil yang tidak dilindungi siapa pun selain kakeknya sendiri.

Dan luka paling besar bukan hanya kejadian di hutan itu. Tetapi kenyataan bahwa setelahnya ia diusir dari kampungnya sendiri seolah dirinya lah sumber masalahnya.

Amira sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri ketika, tok tok tok.

Suara ketukan pelan terdengar dari jendela mobil. Amira tersentak. Ia cepat-cepat menghapus sisa air matanya lalu menoleh ke samping. Dan seketika tubuhnya membeku.

Di luar sana berdiri seorang perempuan muda seusianya. Cantik. Berpenampilan rapi. Dengan senyum tipis di wajahnya.

Namun Amira tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenalinya. Tidak seperti saat melihat foto Alya di kamar Habibi dulu. Kali ini ingatannya datang secepat kilat. Erika. Adik Alya. Orang yang dulu menjemputnya dengan pura-pura baik. Yang berkata ada seseorang ingin bertemu dengannya di hutan jati.

Lalu meninggalkannya di sana bersama anak-anak lain yang sudah menunggu.

Dada Amira langsung terasa sesak. Tangannya dingin seketika. Sementara di luar, Erika masih tersenyum lembut seolah tidak terjadi apa-apa.

Ketukannya terdengar lagi. Pelan. Amira sempat diam cukup lama. Napasnya memburu. Bagian dalam dirinya ingin mengunci pintu dan pura-pura tidak melihat. Namun akhirnya dengan tangan gemetar ia membuka sedikit jendela mobil.

Amira akhirnya membuka pintu mobil perlahan lalu turun. Begitu pintu terbuka, perempuan di luar langsung tersenyum lebar. Namun senyum itu perlahan memudar. Tatapannya bergerak naik turun memperhatikan wajah Amira cukup lama. Jelas sekali ia tidak mengenali perempuan di hadapannya.

“Eh, maaf…” perempuan itu tersenyum canggung. “Aku kira Umi Salma.” Ia melirik ke dalam mobil sekilas. “Kamu siapa ya? Pengasuh Habibi?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!