NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gereja di Tengah Neraka

 

Tiga hari. Tiga hari Florence jadi tahanan di surga buatan iblis.

Mawar dari Lucifer sudah mulai layu di vas kamar. Sama seperti harapan Florence yang dipaksa mati karena “orang tuanya sudah tidak ada”.

Siang itu, dia nekat. Pengawal lengah. Florence lari ke arah hutan kecil di belakang vila. Kalau tidak bisa kabur lewat laut, mungkin dia bisa mati di tempat yang Tuhan masih dengar.

Dan dia menemukannya.

Di tengah hutan, tersembunyi di balik pohon palem dan semak liar, berdiri sebuah bangunan tua. Kecil. Batu-batunya berlumut. Ada salib kayu di atas pintu.

Gereja. Kapel kecil, terbengkalai, tapi nyata.

Florence berlari masuk. Bau kayu lapuk dan lilin tua menyambutnya. Di altar, ada patung Yesus disalib. Retak, tapi masih berdiri. Untuk pertama kalinya sejak di pulau ini, Florence bisa bernapas.

Dia jatuh berlutut. Air mata langsung jatuh. Bukan karena sedih. Karena lega.

“Tuhan... Engkau ada di sini juga,” bisiknya. Tangannya menggenggam salib di leher. “Terima kasih... terima kasih Engkau belum pergi dari saya.”

Dia berdoa. Lama. Khusyuk. Melanggar aturan keempat Lucifer tanpa peduli.

BRAK!

Pintu kapel ditendang terbuka.

Lucifer berdiri di sana. Kemeja hitam, wajah badai. Di belakangnya, 4 pengawal menunduk takut. Mata birunya menyala marah, tapi ada sesuatu yang lain. Keterkejutan? Luka lama?

“Siapa yang izinkan kamu ke sini?!” suaranya menggema, bikin burung-burung di luar terbang. Dia melangkah masuk. Sepatu mahalnya menginjak lantai kayu tua yang berdebu.

Florence berdiri, pasang badan di depan altar. “Ini rumah Tuhan. Kamu nggak punya hak ngusir aku!”

“DI PULAUKU TIDAK ADA RUMAH TUHAN!” Lucifer membentak. Untuk pertama kalinya, topeng dinginnya retak oleh amarah nyata. “Hanya ada punyaku!”

Dia mendekat. Florence bisa lihat urat di rahang Lucifer menegang.

“Kamu melanggar aturanku, Florence. Lagi.” Lucifer mencengkeram lengan Florence, tidak cukup kuat untuk memar, tapi cukup untuk nunjukin siapa yang pegang kuasa. “Kamu kabur. Kamu berdoa tanpa izin. Kamu masuk ke tempat yang harusnya sudah kubakar dari dulu.”

Mata Lucifer melirik altar. Sekilas, sangat cepat, ada rasa sakit di sana. Lalu hilang, diganti es lagi.

“Kamu mau hukuman?” bisiknya berbahaya. Wajahnya begitu dekat, Florence bisa lihat bulu matanya yang lentik — kontras dengan jiwanya yang gelap.

“Aku nggak takut kamu,” Florence berbohong. Dadanya naik turun.

“Oh ya?” Lucifer menyeringai kejam. “Kita lihat.”

Tanpa aba-aba, dia menghukum.

Bibirnya menghantam bibir Florence. Kasar. Dingin. Memaksa. Ini bukan ciuman. Ini klaim. Ini hukuman. Cara iblis bilang ‘kamu milikku’ tanpa kata.

Florence membelalak. Dia dorong dada bidang Lucifer, tapi seperti dorong tembok. Tangan Lucifer pindah ke tengkuknya, menjerat, tidak kasih ruang untuk lepas. Ciumannya dalam, marah, menuntut. Menghukum Florence karena berani mencari Tuhan lain selain dia di pulaunya.

Tapi di tengah amarah itu... ada yang salah.

Bibir Florence lembut. Rasanya seperti sesuatu yang Lucifer lupa pernah ada di dunia. Hangat. Suci. Berbanding terbalik dengan bibirnya yang selalu ucap perintah bunuh.

Dan Florence, di tengah perlawanan, merasakan sesuatu yang menakutkan: ciuman iblis ini tidak terasa seperti neraka. Terasa seperti dijilat api yang anehnya... tidak membakar.

Lucifer yang sadar duluan. Dia melepas Florence dengan kasar, seolah bibir gadis itu menularkan penyakit. Napasnya berat. Mata birunya kacau — marah pada Florence, marah pada dirinya sendiri.

Dia mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Jijik? Atau menghapus bukti?

“Jangan pernah lagi,” desisnya. “Jangan pernah lari ke sini. Jangan pernah buat aku masuk ke tempat sialan ini lagi.”

Florence masih napasnya putus-putus, bibirnya merah, matanya berkaca-kaca antara benci dan bingung. “Kamu... kamu iblis.”

“Dan kamu baru dicium iblis,” balas Lucifer dingin. Topengnya kembali. “Itu hukumanmu. Berikutnya, bukan cuma ciuman.”

Dia berbalik, mau pergi. Tapi berhenti di pintu kapel. Punggungnya masih ke Florence.

Suaranya turun satu oktaf. Tetap dingin, tapi... ada sesuatu yang berbeda. Lebih pelan. Hampir tidak terdengar.

“...Mulai besok, sarapanmu ganti roti dan air putih saja. Steak bikin kamu terlalu berani.”

Florence mengernyit. Itu... hukuman? Kedengarannya seperti...

“Kau juga...” Lucifer melanjutkan, masih tidak menoleh. “Pengawal yang jaga kamu kutambah dua kali lipat. Biar tidak ada tikus atau ular dari hutan yang masuk kamarmu malam-malam.”

Florence diam. Itu bukan hukuman. Itu perhatian. Dibungkus duri, disamarkan sebagai perintah, tapi tujuannya jelas: melindungi.

“Dan satu lagi,” Lucifer akhirnya menoleh sedikit. Sorot matanya menusuk. “Mawar di kamarmu itu. Kalau sudah layu, buang. Aku tidak suka lihat benda mati.”

Dia tidak suka lihat benda mati. Tapi kemarin dia bilang orang tua Florence mati dan dia biasa saja.

Bohong. Semuanya bohong.

Florence menggenggam salibnya erat. Lucifer mungkin Raja Neraka, tapi bahkan raja neraka pun tidak bisa bohong sama mata.

Lucifer pergi, membanting pintu kapel. Meninggalkan Florence dengan bibir yang masih terasa panas, dan kepala yang penuh tanya.

Kenapa iblis punya kapel di pulaunya? Kenapa dia marah saat Florence masuk, tapi marahnya seperti orang yang lukanya diungkit? Dan kenapa ‘hukuman’ ciumannya terasa seperti perang yang Lucifer juga kalah?

Di luar, Lucifer berjalan menjauh dari kapel. Tangannya terkepal. Di saku jasnya, ada rosario tua yang sudah putus. Milik ibunya. Yang dia kubur bersama kapel ini 10 tahun lalu.

Sialan. Gadis itu masuk terlalu jauh. Ke pulaunya, ke kapelnya, ke dalam otaknya.

 

1
Nia Nara
Lanjut thor
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!