Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyesal
HP Raya bergetar diatas meja. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi WA dari nomor Andini lagi.
Raya lupa memblokir nomor Andini dari HPnya. Raya yang tadi sedikit tertidur, kini kembali terbangun.
Raya mengira itu nomor Bagas, jemarinya bergetar saat membuka pesan itu.
Sebuah foto. Bagas. Andini. Ranjang rumah sakit. Bibir mereka menyatu.
Dibawahnya ada chat. " Jangan kira kamu bisa menang,Raya. hahaha"
Dunia Raya berhenti, nafasnya tercekat. Bukan marah. Bukan tangis. Hampa. kosong seperti langit. Mendung seperti langit tadi.
Perlahan Raya letakkan HPnya, ditutupnya lagi selimut Galang yang tersingkap. Diciumnya kening anak sulungnya itu lama sekali, seolah menitipkan semua sakitnya disana.
Lalu Raya berjalan kekamar. Dibukanya lemari, koper berwarna abu abu ditariknya keluar. Raya sudah bisa lagi seperti ini.
Satu, dua,tiga potong baju Galang dan Gilang,Serta beberapa bajunya. Mainan kesukaan anak anaknya. Dokumen dokumen penting: KK, akta, buku nikah. Semua dimasukkan tanpa suara .Airmatanya baru jatuh saat dia melipat daster lusuh yang hampir selalu dipakainya.
Ting.
satu lagi pesan muncul dari nomor Andini." Dia milih aku Raya, kamu sudah kalah."
Raya tersenyum, senyum yang sama pahitnya dengan tawa tadi. bedanya kali ini dia punya tekad.
Diketiknya balasan, jemarinya tidak gemetar lagi." Kamu tidak menang, kamu cuman dapat sisa. Sisa dari laki laki yang sudah aku buang, ambil. Gratis." Kirim. Blokir.
Raya melihat jam di layar HPnya, 22:47. Dia mengambil pulpen dan kertas, lalu menulis cepat di meja rias.
"Bagas, aku sama anak anak pergi dulu, Aku sudah tidak sanggup lagi seperti ini, luka yang kamu torehkan sungguh sangat menyakitkan hatiku, Maaf kalau selama sepuluh tahun ini aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kamu dan terimakasih atas luka yang kamu berikan. " Surat itu diletakkan diatas bantal Bagas, disampingnya cincin kawin yang sudah sepuluh tahun melingkar dijari manisnya.
Digendongnya Gilang yang masih pulas. Dibangunkannya Galang pelan pelan. " Sayang, Ayo bangun, cepat nak!"
Galang mengusap mata, mengangguk pelan." kita mau kemana ma?"
" Kita mau nginep dirumah nenek, Ayo cepat!"
" Baik ma.."
Taksi online yang dipesan Raya sudah datang, untung di jam malam seperti ini masih ada taksi online yang aktif. Raya juga mematikan HPnya, dia sama sekali tidak ingin diganggu oleh siapapun untuk saat ini.
Sementara itu diparkiran UGD. Bagas baru menyalakan mobilnya dan segera menuju rumahnya.
Bagas mengambil HPNYA dan mulai mencari nomor Raya, karena dia ingin menjelaskan semuanya kepada Raya.
" Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. " Operator yang menjawab.
Bagas membanting setir." Sial."
Dia injak gas dalam dalam, melesat pulang. Pikirannya cuman satu: Harus jelasin semuanya ke Raya dan meminta maaf atas semua luka yang dibuatnya dihati Raya dan anak anaknya.
Dua puluh menit kemudian Bagas sudah sampai didepan rumah, tanpa aba aba Bagas keluar dari mobil.
Bagas membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang dulu diberikan Raya, karena Bagas sering lembur. Jadi Raya berinisiatif membuat kunci cadangan rumahnya, jaga jaga kalau Bagas pulang larut malam dan Dia sudah tertidur.
" Raya, Galang, Gilang?"
Sepi.Hanya suara jangkrik yang masih sama. Bagas lari ke kamar. Kosong. lemari sudah terbuka. koper abu abu yang berada diatas lemari juga sudah hilang.
Diatas bantal Bagas melihat Surat dan cincin yang ditinggalkan oleh Raya. Bagas mulai membaca pesan tersebut, kalimat terakhir menamparnya telak.
Dadanya sesak. pandangannya buram. Baru sekarang dia sadar. Dia telah kehilangan istri dan juga anak anaknya malam ini. Dirumahnya sendiri.
Bagas jatuh berlutut di lantai kamar, Surat Raya remuk di genggamannya.
Diluar, mendung akhirnya tumpah. Hujan deras. Sama derasnya dengan penyesalan yang baru dia rasakan.
Dan didalam kamar UGD. Andini tertawa sambil menatap layar HPnya. Centang satu. Diblokir.
Hujan deras mengguyur. Taksi online berhenti di depan pagar rumah yang bercat mint.Rumah masa kecil Raya. Rumah ibunya.
" Udah sampai, bu" kata supir pelan, melirik spion kebelakang, ibu dengan dua anak, koper besar, pergi malam malam.
Raya mengangguk." Makasih, pak." Dibayarnya ongkos dengan uang pas yang sudah dia sediakan di dalam tas kecilnya. Tidak mau ada basa basi lagi.
Gilang masih terlelap di dada Raya. Galang mengandeng tangan Raya erat, seolah tahu Mamanya sekarang butuh dukungan. Anak sembilan tahun yang sudah sering melihat mamanya menangis.
Hujan membasahi Raya dan anak anaknya semenjak tadi turun dari taksi.
Raya membuka pintu pagar rumah ibunya, untung saja belum dikunci.
tok. tok. tok.
Raya dan anak anaknya kini sudah ada didepan pintu masuk.
Cukup lama, Sampai pintu kayu itu dibuka, Wanita seumuran Raya membuka pintu dengan baju daster bunga bunga yang dipakainya.
" Raya? ya Allah dek,, ibu..ibu.." Wanita itu berteriak memanggil ibunya. Melihat Raya yang kini berada di ambang pintu. Hujan hujan bersama kedua anaknya.
Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah." Ada apa sih, Nisa? kenapa teriak teriak?"Rambutnya yang sudah putih tampak acak acakkan.
" Ibu..!" Raya berlari memeluk ibunya dengan Gilang masih terlelap dalam dekapannya.
" Ya Allah nak..kamu kenapa? Ayo masuk dulu..!" wanita itu mengajak Raya masuk.
Wanita yang dipanggil Nisa itu langsung memegang tangan Galang dan mengajaknya masuk kedalam rumah.
Raya tidak sanggup jawab. Bibirnya kelu. Yang keluar cuman isak yang sedari di tahan didalam taksi.
Ibu Raya seolah tahu apa yang terjadi dengan putri kesayangannya itu.
" Aku hancur bu..hancur..!" Isak Raya yang membenamkan wajahnya ke dada ibu yang sembilan bulan mengandungnya.
Ibu menenangkan Raya dalam pelukannya.
" Gilang, Ayo sama bude ..!" Nisa mengambil Gilang dalam pelukan Raya. Galang juga diajak Nisa ke kamar untuk mengganti baju dan istirahat.
Nisa memberikan ruang untuk Raya bersama dengan ibunya tanpa dilihat oleh Galang dan Gilang.
" Menangislah nak, tumpahkan semua sesakmu, Ibu ada disini untuk kamu," Dibelainya rambut Raya lembut. Hangat. Dan penuh kasih.
Meskipun Raya seorang ibu. Tapi didalam jiwanya juga butuh sosok seorang ibu yang bisa dijadikan tempat mengadu tanpa menghakimi.
Galang dan Gilang kini sudah berganti baju dengan baju kering yang dikeluarkan Nisa dari dalam koper abu abu.
" Kalian berdua tidur ya, Istirahat biar besok bisa main sama nenek!" Hibur Nisa.
Galang dan Gilang yang memang sangat mengantuk akhirnya tertidur tanpa banyak tanya .
Nisa kembali kedepan dan melihat Raya yang masih berada dalam pelukan ibu.
" Galang dan Gilang sudah tidur. kamu ganti baju dulu Raya, Nanti kamu masuk angin, kasihan anak anakmu nanti kalau mamanya sakit!" Nisa memberikan handuk kepada Raya.
" Terimakasih Mbak.." Raya mengambil handuk tersebut.
" Sama sama.."
kamar depan yang dulu menjadi kamar Raya waktu gadis. Sprey bunga bunga, lemari jati dan meja belajar. Anak anaknya sudah tertidur pulas disana.
Bagas masih termenung dikamarnya dengan surat Raya yang masih dalam genggamannya.
ditunggu upnya ya semoga bagas masih punya kesempatan balik sama keluarganya lagi...💪🙏