Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 22
“Pak Ansel terima kasih,”ucap Jenia menatap Ansel dengan senyum tulusnya.
Ansel mengangguk,“tidak masalah, itu memang sudah tugas saya sebagai seorang guru di sini,”
“Tetap saja pak, jika pak Ansel tidak mengangkat kasus rasis yang terjadi kepada Cwen, mungkin beberapa tahun ke depan, Cwen akan tetap mendapatkan rasis dari gurunya sendiri,”
“Terima kasih pak guru, Cwen senang akhirnya bu guru tidak lagi mengatakan jika Cwen jelek karena tidak sama seperti teman-teman Cwen yang lain,”
Cwen memeluk Ansel senang, senyum lebarnya benar-benar tidak berubah sejak keluar dari dalam ruang BK itu. Cwen senang karena di hari selanjutnya ia tidak perlu takut lagi jika bu guru melakukan hal yang membuat cwen terasa minder di depan teman-temannya.
Ansel mengelus puncak kepala Cwen dengan sayang, rasanya hangat sekali mendapatkan kata terima kasih dari Cwen, dan perasaan itu berbeda dari saat ia mendapatkan ucapan terima kasih dari muridnya yang lain.
“Cwen tidak perlu takut lagi oke, ada pak guru di sini,”
“Tapi pak guru,”
Cwen mendongak tanpa melepaskan pelukannya pada kaki Ansel.
“Pak guru kapan akan menjadi papa untuk Cwen?”tanya Cwen menatap Absel dengan tatapan berharapnya.
“Cwen,”
Jenia langsung menegur putrinya yang mulai membahas hal-hal yang tidak seharusnya Cwen bahas di depan dirinya langsung.
“Mama Cwen hanya tanya pak guru saja kok, tidak aneh-aneh,”ucap Cwen menatap mamanya serius.
Jenia menggelengkan kepalanya pusing, “pertanyaan Cwen itu sudah termasuk aneh-aneh loh,”
“Tidak aneh kok,”
Jenia langsung menoleh terkejut kepada Ansel yang baru mengatakan jika pertanyaan Cwen tidak aneh sama sekali.
“Tuh kan ma, pak guru juga bilang pertanyaan Cwen tidak aneh, mama ini kenapa sih,”
Jenia hanya diam, tidak membalas ucapan putrinya, tapi wajahnya langsung berpaling menatap apa saja yang penting bukan putrinya dan Ansel.
“jadi, pak guru sudah mau jadi papa untuk Cwen?”
Jenia memejamkan matanya mendengar Cwen kembali bertanya hal memalukan untuk dirinya itu, rasanya ia ingin menghilang saja dari hadapan Ansel dan juga putrinya, belum lagi otaknya kembali teringat kejadian dengan Ansel beberapa waktu yang lalu, membuat wajahnya yang putih langsung memerah sempurna.
Ansel melepaskan pelukan Cwen pada kakinya dan langsung mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Cwen.
“Segera,”bisik Ansel membuat Cwen membulatkan matanya senang.
Lalu tanpa mengatakan apapun lagi, Cwen beralih memeluk mamanya,“mama pak guru akan segera menjadi papa untuk Cwen, Cwen senang sekali mama,”
Jenia terdiam kaku, kepalanya menunduk menatap Cwen yang memeluk erat pinggangnya, dengan menyembunyikan wajahnya di perut.
“Cwen,”
“Mama, pak guru loh yang berbisik kepada Cwen," cwen akhirnya melepaskan pelukannya dan menatap mamanya dengan tatapan berbinarnya.
Jenia menoleh kaku pada Ansel yang hanya diam saja memperhatikan Cwen juga dirinya, melihat Ansel yang hanya tersenyum membuat Jenia semakin mati kutu.
“Pak guru tidak bohong, kan?”tanya Cwen kepada Ansel.
Ansel menggelengkan kepalanya, senyumnya masih menghiasi wajahnya, tampak berseri-seri melihat Cwen yang terlihat behagia dengan bisikan yang ia katakan tadi.
***
“Kamu serius, Ansel?”
Ayah dan bundanya tampak terkejut begitu Ansel mengatakan ingin menikah. Itu terlalu tiba-tiba, bahkan belum genap seminggu mereka membatalkan perjodohan Bella dan Ansel, dan hari ini Ansel datang ke rumah untuk meminta restu orang tuanya.
“Dengan gadis mana kamu akan menikah?” tanya sang Ayah menatap Ansel serius.
“Dia bukan gadis lagi, yah,”beritahu Ansel semakin membuat bundanya terkejut.
“Maksud kamu apa Ansel, sudah tidak gadis lagi? Kamu sudah melakukan hubungan lebih dengan gadis itu?”tanya Lasmaya, sang bunda dengan tatapan tajamnya kepada Ansel.
Ansel menghela napas, bagaimana cara menjelaskan kepada orang tuanya jika perempuan yang ingin ia nikahi sudah memiliki satu anak.
“Bukan begitu maksud Ansel bunda, tapi perempuan yang ingin Ansel nikahi sudah memiliki anak,”
Semakin terkejut lah sang Bunda, bahkan sang ayah yang sejak awal bersikap tenang, ikut terkejut mendengar penuturan sang putra yang ingin menikahi perempuan yang sudah beranak.
“Apa maksudmu Ansel?”tanya Dani menatap putrnya sedikit tajam.
“Bunda tidak setuju Ansel, mana mungkin bunda membiarkan putra bunda ini menikahi wanita janda yang sudah memiliki anak, masih banyak gadis di luar sana yang bisa kamu nikahi, tidak perlu janda, umur kalian sudah pasti terpaut sangat jauh, bunda tidak setuju," tegas Lasmaya menatap tajam putranya.
“Usia kami tidak terpaut jauh bunda, hanya berbeda dua tahun, Jenia masih berumur 25 tahun, itu bukan usia yang tua,”sangkal Ansel.
“Jadi anaknya masih bayi?”tanya sang bunda lagi.
Ansel menggeleng,“umur tujuh tahun, murid Ansel sendiri di tempat Ansel mengajar,”
“Apa? Umur 7 tahun?”teriak sang bunda.
Ansel dan Dhani reflek memejamkan matanya mendengar teriakan Lasmaya yang begitu nyaring, benar-benar sanggup merusak gendang telinga kedua orang itu.
“Tidak perlu berteriak bunda, telinga ayah sakit loh ini,”
Lasmaya langsung menatap sinis suaminya, lalu kembali menatap Ansel dengan tatapan tidak percayanya.
“Bunda masih pusing ini Ansel, coba kamu jelaskan sejelas-jelasnya, mengapa juga kamu ingin menikahi janda anak satu itu?”
Ansel menarik napasnya, bersiap untuk menceritakan alasan ia ingin menikahi Jenia.
Berawal dari Cwen yang menjodoh-jodohkan dirinya dengan sang mama saat Jenia masih bersuami, lalu kedekatan Jenia dan dirinya dari waktu ke waktu, sampai ia mulai merasakan perasaan gelisah juga perasaan tertarik terhadap ibu dari anak satu itu.
“Ansel juga masih memegang KTP Jenia, jika ayah dan bunda tidak percaya dengan Ansel,”
“Mana, biar bunda lihat, bunda curiga jika kamu yang memudakan umurnya Ansel,”
Ansel mendengus pelan mendengar sang bunda sampai curiga jika dirinya yang sengaja memudakan umur Jenia demi mendapatkan restu sang ayah dan bunda.
Ansel menggeleng,“Ansel belum mendapatkan izin dari Jenia untuk menunjukkan KTPnya, jadi lebih baik, tidak Ansel tunjukkan,”
Lasmaya mendengkus,“Bunda tahu kamu berbohong, kamu sengaja mangatakan umurnya 25 tahun agar kami merestui pernikahan kalian, kan?”tanya sang bunda.
Ansel menggeleng,“Ansel tidak bohong bun,”
“Kalau memang tidak bohong, besok malam, bawa perempuan itu, bunda dan ayah ingin memastikan seperti apa perempuan yang membuatmu sampai ingin menikahinya,”
Ansel mengangguk, menyanggupi permintaan sang bunda untuk membawa Jenia ke hadapan orang tuanya. Tapi Ansel sedikit ragu, apakah Jenia juga akan menerima dirinya jika ia melamarnya? Karena dari ucapan Ansel kemarin saat di dalam mobil, Jenia hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaan Ansel.
“Kenapa?”tanya Lasmaya melihat Ansel yang malah melamun.
Ansel menggeleng,“tidak ada apa-apa bunda, kalau begitu Ansel pamit, masih banyak yang harus Ansel persiapkan untuk membawa Jenia ke rumah ini.”
seru ceritanya