Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Langit di atas Akademi Starfell masih dipenuhi retakan mana hitam. Angin malam berputar liar membawa debu, abu, dan sisa corruption yang belum sepenuhnya menghilang. Cahaya merah Crimson Flame bercampur dengan kilatan sihir para profesor membuat seluruh area akademi terlihat seperti medan perang yang keluar dari mimpi buruk.
Freya Valencia Vane berdiri di tengah halaman dengan napas tidak stabil.
Tangannya menggenggam Crimson Valkyrie begitu erat sampai jarinya terasa sakit. Di atas mereka, retakan gerbang itu masih terbuka. Dan sesuatu di baliknya terus bergerak.
SKRRRREEEEEE...
Suara makhluk itu membuat seluruh tubuh Freya merinding.
Profesor Rowan berdiri beberapa meter di depan dengan lingkaran sihir besar di bawah kakinya. Wajah pria tua itu lebih pucat dari biasanya.
"Freya," katanya serius. "Kita tidak punya banyak waktu."
Freya langsung refleks menunjuk dirinya sendiri. "Aku lagi?"
Ares yang berdiri sambil mengisi ulang Eclipse Howl mengangguk santai. "Selamat. Kau resmi jadi harapan akademi."
"Aku maunya jadi murid biasa yang stres karena tugas."
"Itu terlalu realistis."
"AKU SERIUS."
Namun tidak ada yang benar-benar tertawa karena retakan di langit itu semakin besar.
Mana hitam turun seperti hujan tipis. Dan setiap detik berlalu, tekanan di udara semakin berat.
Freya menelan ludah pelan. "...Kalau gagal gimana?"
Hening sebentar. Profesor Rowan tidak langsung menjawab.
Dan itu justru membuat Freya makin panik. "KENAPA DIAM?"
"Karena kemungkinan gagal memang ada," jawab Rowan jujur.
"ASTAGA PROFESOR ANDA GAK BISA BOHONG DIKIT?"
Ares menepuk bahu Freya santai. *Tenang saja."
Freya langsung menoleh penuh harapan. "Kamu akhirnya mau memberi dukungan emosional?"
"Kalau kita mati, setidaknya tugas minggu depan batal."
Freya menatapnya datar. "Kamu benar-benar manusia paling gak membantu yang pernah aku kenal."
"Terima kasih."
Di sisi lain, Felix mengusap wajahnya kasar sambil terus memperhatikan retakan gerbang di langit.
Aura santainya sejak tadi hampir hilang total. Dan Freya menyadarinya.
"Kak..."
Felix menoleh kecil.
Freya menggigit bibir bawahnya sebelum berkata pelan, "Aku harus coba."
Hening. Angin malam berembus di antara mereka. Felix tertawa kecil, namun kali ini terdengar lelah.
"Sejak kecil kau memang selalu keras kepala."
"Aku belajar dari keluarga ini."
"Kesalahan besar berarti."
Freya sedikit tersenyum tipis. Namun ekspresi Felix kembali serius beberapa detik kemudian.
"Aku cuma gak mau tragedi lama terulang." Nada suaranya jauh lebih pelan sekarang. Dan itu membuat dada Freya terasa sedikit sesak.
Karena untuk pertama kalinya malam itu, Felix terdengar benar-benar takut. Bukan takut pada monster. Tapi takut kehilangan seseorang lagi.
Freya akhirnya menghela napas panjang. "Aku juga takut."
Felix langsung menatapnya.
Freya tertawa kecil kaku. "Banget malah."
"Bagus."
"Hah?"
"Kalau kau masih takut, berarti kau masih berpikir jernih."
DEG.
Freya langsung diam beberapa detik. Sial. Kadang keluarganya bisa bijak secara mendadak dan itu menyebalkan.
Di dekat mereka, Zevian akhirnya melangkah maju. Tatapan biru gelapnya langsung tertuju pada Freya.
"Kau tidak sendirian."
Kalimat itu sederhana. Pendek namun entah kenapa langsung membuat jantung Freya jungkir balik lagi.
DEG.
'YA TUHAN KENAPA DIA SELALU BICARA KAYAK ADEGAN PENUTUP DRAMA ROMANTIS.'
Crimson Valkyrie langsung berkomentar datar. "Fokusmu payah."
'AKU MULTITASKING.'
Profesor Rowan mengangkat tongkat sihirnya tinggi. "Seluruh profesor, pertahankan penghalang!"
Lingkaran sihir besar langsung menyala di berbagai sisi akademi. Mana biru, emas, dan putih memenuhi udara malam.
Para murid yang masih berada di area luar buru-buru dievakuasi ke bangunan utama. Sedangkan corruption terus bermunculan dari bayangan.
Ares langsung mengangkat Eclipse Howl lagi.
DOR.
Satu corruption hancur.
DOR. DOR.
Dua lagi lenyap.
"Kalau malam ini selesai," gumamnya santai, "aku mau makan tiga porsi steak."
Freya langsung melotot.
"ITU PRIORITASMU?"
"Aku menghadapi trauma dengan makanan."
"Itu sebenarnya cukup relatable."
Felix mendengus kecil sebelum akhirnya melirik Freya lagi. "Dengar."
Freya langsung menoleh.
"Kalau situasinya mulai gak terkendali..."
"Aku kabur?"
"Kita kabur."
Freya langsung tertawa kecil. Dan itu cukup membuat ketegangan di dadanya sedikit berkurang. Namun detik berikutnya...
SKRRRREEEEEEEEE...
Makhluk di balik gerbang meraung lebih keras. Retakan hitam di langit langsung membesar.
Profesor Rowan membentak. "SEKARANG, FREYA...!"
Freya refleks menegang. Crimson Valkyrie di tangannya mulai menyala merah terang. Api kecil muncul di sekeliling tubuhnya. Begitu panas, liar, namun berbeda dari sebelumnya.
Kali ini Freya bisa merasakan sesuatu di balik api itu. Ada kesedihan, kesepian, dan rasa lelah yang sangat dalam.
DEG.
Freya langsung memejamkan mata sesaat.
Lyra...
Tanpa sadar, nama itu muncul di kepalanya lagi. Lalu perlahan...Freya mengangkat Crimson Valkyrie ke arah langit.
BOOOOOOM.
Api merah meledak besar. Seluruh halaman akademi langsung dipenuhi cahaya merah menyala.
Para murid yang melihat dari kejauhan langsung membelalak kagum dan takut bersamaan.
Rantai api mulai muncul di udara. Berputar. Melingkari retakan gerbang.
Profesor Rowan langsung mengaktifkan lingkaran sihirnya. "Itu dia..."
Namun semakin besar Crimson Flame keluar, semakin sakit kepala Freya.
FLASH.
Api.
Jeritan.
Langit merah.
FLASH.
Seorang gadis berambut hitam berdiri sendirian di depan gerbang raksasa. Tangannya gemetar namun ia tetap berdiri.
FLASH.
"Segelnya mulai rusak."
FLASH.
"Lyra, mundur..!"
FLASH.
"Kalau aku mundur sekarang... semuanya selesai."
"UGH..."
Tubuh Freya langsung goyah.
"Freya..." Felix refleks bergerak maju.
Namun ledakan mana panas membuat semua orang mundur.
BOOOOM.
Api Crimson Flame langsung membesar liar. Tanah halaman retak, udara bergetar, dan untuk sepersekian detik, Freya merasa dirinya bukan Freya - atau siapapun dia - lagi.
Suara-suara mulai memenuhi kepalanya. Monster. Kutukan. Bencana. Pembunuh.
Tangannya mulai gemetar lebih hebat. 'Aku...'
Crimson Valkyrie langsung menyala terang. "Kendalikan dirimu."
'Aku lagi mencoba.'
"Usahamu buruk."
'KAMU ARTEFAK PALING TOXIC YANG PERNAH AKU TEMUI.'
Namun suara-suara itu semakin keras. Dan di tengah semua kekacauan itu, Freya mulai takut.
Takut kalau semua orang benar. Takut kalau suatu hari dirinya benar-benar akan berubah menjadi monster seperti yang mereka katakan tentang Lyra.
Api merah di sekelilingnya langsung mengamuk lebih liar.
Profesor Rowan membelalak. "Jauh dari dia..."
Beberapa profesor langsung mundur. Bahkan Felix ikut menegang sekarang.
"Freya..."
Namun sebelum siapa pun bergerak, seseorang berjalan masuk ke dalam badai api itu.
Freya samar-samar melihat sosok hitam mendekat. Dan beberapa detik kemudian, sebuah tangan menyentuh pipinya.
"Freya.”
DEG.
Freya perlahan membuka mata. Zevian berdiri tepat di depannya.
Api Crimson Flame berputar liar di sekitar tubuh mereka. Namun pria itu tetap berdiri tenang. Tatapan biru gelapnya lurus menatap Freya.
"Fokus padaku."
Freya membeku kecil. Karena di tengah seluruh kekacauan ini, tatapan Zevian terasa sangat stabil. Sangat tenang.
"Z-Zevian...? Kau masih di sini." Nada suaranya rendah.
Dan anehnya, suara-suara kacau di kepala Freya mulai mereda sedikit.
"Aku..." napas Freya masih gemetar. "Aku takut kehilangan kendali."
"Kau tidak akan."
"Kamu terlalu percaya diri."
"Kau terlalu panik."
Freya hampir tersedak. "Ini bukan waktu buat debat."
"Kalau begitu berhenti berisik dan fokus."
DEG.
Freya langsung bengong sesaat.
'YA TUHAN DIA BARUSAN NGOMONG KAYAK MALE LEAD NOVEL FANTASY.'
Crimson Valkyrie langsung berkomentar. "Memalukan."
'AKU LAGI KRISIS IDENTITAS OKE.'
Namun Zevian tetap menatapnya tanpa berpaling. "Kau bukan monster."
Kalimat itu membuat Freya langsung diam. Benar-benar diam. Karena mungkin... Ini pertama kalinya seseorang mengatakan itu tanpa ragu sedikit pun.
"Kau Freya."
DEG.
Jantung Freya berdetak keras. Dan entah kenapa kalimat itu terasa jauh lebih kuat dibanding seluruh pidato heroik mana pun.
Freya menggigit bibir bawahnya pelan lalu tertawa kecil lemah. "Kalau aku selamat malam ini..."
"Hm?"
"Aku bakal minta kompensasi emosional."
Sudut bibir Zevian bergerak tipis. "Kita lihat nanti."
DEG.
'ASTAGA DIA SENYUM LAGI.'
Di kejauhan, Ares langsung menoleh pada Felix. "Menurutmu mereka sadar suasananya sekarang masih kiamat?"
Felix memegangi dahinya. "Aku mulai ingin mengusir putra mahkota dari radius tiga meter adikku."
"Setuju."
Freya menarik napas panjang. Lalu menggenggam Crimson Valkyrie lebih erat.
"Oke."
Api merah kembali menyala besar. Namun kali ini lebih stabil dan lebih terkendali. Rantai Crimson Flame langsung bergerak ke arah retakan gerbang. Makhluk di baliknya meraung marah.
SKRRRREEEEEEEE...
Namun rantai merah mulai melilit retakan hitam itu satu demi satu.
Profesor Rowan langsung membentak. "SEKARANG...!"
Seluruh profesor mengalirkan mana mereka bersamaan. Lingkaran sihir akademi menyala terang.
BOOOOOOOM.
Langit malam bergetar keras. Freya mengangkat Crimson Valkyrie lebih tinggi. Tangannya sakit, dadanya terasa terbakar. Namun ia tetap berdiri.
FLASH.
Lyra muncul lagi dalam penglihatannya. Namun kali ini perempuan itu tidak menangis. Ia hanya berdiri diam di depan gerbang. Dan terlihat sangat lelah.
Dan untuk pertama kalinya Freya benar-benar memahami sesuatu. Lyra tidak menghancurkan dunia. Dia menahannya sendirian.
DEG.
Mata Freya langsung memanas.
"Sial..." gumamnya kecil. "Itu menyedihkan banget."
"Freya..." Suara Zevian menariknya kembali.
Freya langsung mengangkat kepala. Lalu...
"MENUTUPLAH, GERBANG SIALAN..."
BOOOOOOOOOOM.
Crimson Flame meledak besar ke langit. Rantai merah menyala terang. Retakan hitam mulai menutup perlahan. Makhluk di baliknya meraung marah. Tangan raksasa itu mencoba keluar. Namun rantai api langsung menariknya kembali.
SKRRRRAAAAAA...
Dan akhirnya...
KRAAAAAAK.
Retakan gerbang tertutup sepenuhnya.
Ledakan mana besar mengguncang seluruh Starfell. Angin panas menyapu halaman akademi. Lalu... Sunyi. Benar-benar sunyi.
Mana hitam menghilang. Langit malam kembali gelap normal. Hanya tersisa sisa cahaya merah kecil yang perlahan memudar di udara.
Freya berkedip pelan. "…Hah." Tubuhnya langsung limbung.
"Freya..." Zevian refleks menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke tanah.
Freya megap-megap kecil. Seluruh tubuhnya terasa lemas. "…Aku mau pensiun jadi heroine."
Ares langsung mengangkat tangan. "Aku dukung."
"KAMU BAHKAN BUKAN PIHAK TERKAIT."
Felix akhirnya mengembuskan napas panjang lega. Lalu tanpa peringatan...
PLAK.
Ia menjitak kepala Freya pelan.
"Aduh..."
"Itu karena bikin aku hampir kena serangan jantung."
"Kakak masih hidup kan?"
"Sayangnya iya."
Freya tertawa kecil tapi tidak dipungkiri tubuhnya terasa sangat lemah.
Dan untuk pertama kalinya malam itu...Semua terasa sedikit lebih ringan. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Karena beberapa detik kemudian, seluruh murid yang melihat dari kejauhan mulai berbisik.
"Itu dia..."
"Dia benar-benar menutup gerbangnya..."
"Crimson Flame..."
Freya langsung memegangi wajahnya sendiri. "…Astaga."
Ares mengangkat alis. "Kenapa?"
"Aku jadi urban legend lagi."
"Maksudmu?"
"Aku jadi tokoh menakutkan yang akan beredar dari rumor."
"Kalau begitu selamat."
"INI BUKAN PRESTASI."
Profesor Rowan berjalan mendekat sambil terlihat sangat lelah. Namun ada kelegaan jelas di wajahnya.
"Kau melakukannya dengan baik."
Freya langsung menunjuk dirinya sendiri. "Profesor, saya nyaris meledak tiga kali."
"Dan tetap berhasil."
"…Poin bagus."
Felix mendesah kecil sebelum akhirnya melirik Zevian. Dan baru sekarang ia sadar sesuatu. Putra mahkota itu masih memegang Freya.
Hening. Tatapan Felix langsung berubah tipis. "…Kenapa kau masih menggendong adikku?"
Freya langsung membeku. Zevian melirik Felix tenang.
"Karena dia hampir jatuh."
"Itu bukan jawaban yang membuatku tenang."
Ares langsung tertawa kecil. "Wah. Aura kakak overprotective mulai keluar."
Freya langsung stres. 'AKU MASIH DI SINI WOI.'
Namun sebelum percakapan makin absurd, kelelahan akhirnya menghantam Freya sepenuhnya.
Penglihatannya mulai buram. Suara di sekelilingnya perlahan menjauh. Dan tepat sebelum kesadarannya hilang, ia melihat seseorang berdiri di tengah lautan api merah.
Lyra.
Kali ini perempuan itu tersenyum kecil dengan lembut. Meskipun ada sedikit kelelahan yang tersirat, tapi itu bukan kesedihan.
"Kau jauh lebih berisik dariku."
Freya langsung bengong. "…Hah?"
Namun Lyra hanya tertawa kecil pelan. Lalu tubuhnya perlahan memudar bersama cahaya merah.
Dan dunia Freya akhirnya berubah gelap.