NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24. Dibalik Jeruji Hujan

Malam itu, Jakarta seolah sedang meratap. Hujan deras yang mengguyur sejak petang tak kunjung reda, menciptakan tirai air yang menyembunyikan segala aktivitas di balik dinding-dinding beton rumah mewah keluarga Baskara. Di dalam kamarnya, Alea duduk mematung di pinggir tempat tidur, mengenakan gaun tidur satin hitam tipis yang selalu berhasil memancing sisi gelap Bima. Setiap kali guntur menggelegar, ia teringat kejadian di ruang tamu tadi siang; bagaimana Daddy hampir saja memergoki mereka dalam posisi yang sangat tidak pantas.

Kenyataan bahwa Bima tinggal di rumah ini sementara waktu, menunggu rumah barunya siap, membuat setiap napas yang Alea ambil terasa seperti pengkhianatan yang nyata. Pria itu berada hanya beberapa meter dari kamarnya, dipisahkan oleh lorong sunyi yang kini terasa seperti zona perang.

Ponselnya bergetar.

Bima : Keluar sekarang lewat balkon belakang. Jangan sampai Daddy-mu terbangun, atau aku sendiri yang akan masuk ke kamarmu dan menyeretmu keluar di depannya.

Alea tahu Bima tidak pernah menggertak. Dengan tangan gemetar, ia menyambar kardigan panjang dan menyelinap keluar menuju balkon. Ia menuruni tangga darurat belakang, menghindari lantai yang mungkin berdecit, hingga mencapai SUV hitam Bima yang terparkir di area gelap halaman belakang.

Begitu pintu mobil tertutup, aroma cedarwood dan tembakau mahal milik Bima langsung mengunci kesadarannya. Bima duduk di balik kemudi, menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras.

"Kau lama sekali, Little Bird" suara Bima berat dan penuh vibrasi yang mengintimidasi.

"Aku harus memastikan Daddy benar-benar sudah tidur, Uncle," jawab Alea dengan suara yang hampir hilang ditelan deru hujan.

Bima menoleh mendadak, tatapannya tajam seperti pisau yang siap menguliti. "Daddy? Kau masih sangat peduli pada pria yang kau khianati setiap malam bersamaku?" Bima menyeringai nakal. Ia menginjak pedal gas, membawa mobil itu melaju menembus badai menuju area parkir sunyi di pinggir kota agar kegiatan mereka malam ini tidak meninggalkan jejak di rumah Baskara.

Setelah berhenti di kegelapan total, Bima menarik pinggang Alea hingga gadis itu terduduk di pangkuannya. Jarak mereka begitu tipis hingga Alea bisa merasakan detak jantung Bima yang liar.

"Tadi siang, saat Revan memegang tanganmu... apa kau merasa senang?" tanya Bima dingin.

"Tidak, aku—"

"Jangan berbohong!" Bima mencengkeram rahang Alea, memaksanya menatap mata hitam yang penuh obsesi. "Kau adalah milikku yang paling mutlak. Siapa pun yang berani menyentuhmu harus menerima konsekuensinya. Begitu juga denganmu."

Bima membungkam bibir Alea dengan ciuman agresif yang menuntut kepatuhan. Ini bukan sekadar gairah; ini adalah cara Bima menegaskan dominasinya sebelum ia benar-benar pindah dari rumah Baskara beberapa hari lagi. Tangan besarnya bergerak liar di balik pakaian Alea, meremas pinggang gadis itu dengan posesif.

"Lepas pakaianmu," bisik Bima di telinga Alea.

"Bima, di sini? Bagaimana jika ada yang melihat?" Alea menyebut nama pria itu tanpa embel-embel panggilan formal, sebuah tanda penyerahan diri.

"Biarkan saja mereka melihat bagaimana burung kecil ini menyerah padaku," jawab Bima nakal sembari mulai membuka kancing kemejanya, memamerkan tato di dadanya yang bidang.

Malam itu, di dalam mobil yang berguncang pelan di tengah badai, Alea kembali larut dalam dunia gelap Bima. Setiap kali ia mendesah memanggil nama **Bima**, pria itu justru semakin gencar menandai leher jenjangnya dengan kecupan panas yang akan sulit disembunyikan besok pagi. Bima seolah ingin mengukir namanya di setiap jengkal raga Alea sebelum ia pindah ke rumah barunya sendiri.

Beberapa jam kemudian, saat napas mereka mulai beraturan, Alea bersandar lemas di dada bidang Bima.

"Besok aku akan datang lagi untuk makan malam terakhir sebelum aku resmi pindah," Bima memulai, jemarinya membelai bahu polos Alea. "Aku ingin kau duduk di hadapanku, bersikap sebagai putri Daddy yang polos. Tapi di bawah meja, ingatlah setiap detik di mobil ini. Rasakan ketakutan itu, karena itu yang membuatmu semakin bergantung padaku."

Bima menarik dagu Alea, mengunci pandangannya. "Pakai gaun yang paling tertutup. Tutupi semua tanda ini dari Daddy-mu. Kerahasiaan ini ada harganya, Alea. Dan aku akan selalu menagihnya, bahkan setelah aku pindah dari rumahmu."

Saat fajar menyingsing, Bima mengantar Alea kembali ke halaman belakang. Sebelum turun, Bima memberikan kecupan terakhir yang panjang dan posesif.

"Masuklah. Ingat pesan Uncle, Alea... jangan coba-coba lari pada bocah itu lagi," ancam Bima dengan nada manis yang mematikan.

Alea berlari menaiki tangga balkon dengan kaki lemas. Di depan cermin kamarnya, ia melihat jejak kemerahan di lehernya dan bibirnya yang bengkak. Rasa berdosa pada Daddy kembali muncul, namun rasa bahagia karena dimiliki sepenuhnya oleh Bima jauh lebih mendominasi jiwanya. Ia telah menjadi burung kecil di sangkar emas milik sahabat ayahnya sendiri.

1
Niaja
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Niaja
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!