NovelToon NovelToon
JALANGKUNG JATUH CINTA

JALANGKUNG JATUH CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cintapertama / Mata Batin
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
​Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Arini Mulai Melihat "Mereka"

Selama ini, hubungan Arini dengan dunia ghaib di SMA Wijaya Kusuma hanyalah sebatas intuisi dan perasaan. Ia merasakan hawa dingin, ia mencium aroma melati, atau ia merasakan tekanan energi yang membuat bulu kuduknya berdiri. Namun, ia tetaplah seorang "manusia biasa" yang membutuhkan Satria sebagai mata untuk melihat apa yang sebenarnya bersembunyi di balik tirai realitas.

​Namun, segala sesuatunya berubah setelah insiden duel garam di kantin. Mungkin karena ia terlalu sering bersentuhan dengan energi murni dari liontin Maria Van De Berg, atau mungkin karena jiwanya telah terlalu sering terseret ke dalam frekuensi Satria, "pintu" di dalam diri Arini mulai terbuka secara paksa.

​Kamis pagi itu dimulai dengan sesuatu yang tidak lazim. Saat Arini sedang membasuh wajahnya di wastafel kamar mandi sekolah, ia melihat pantulan dirinya di cermin. Namun, di samping bahu kanannya, ada bayangan seorang wanita dengan rambut terurai yang sedang asyik membetulkan kuncir rambutnya sendiri.

​Arini mengerjap. Ia mengucek matanya. Bayangan itu masih ada.

​"Mbak... Suryani?" bisik Arini ragu.

​Bayangan itu menoleh. Wajahnya pucat namun cantik, persis seperti yang sering dideskripsikan Satria. Mbak Suryani tampak sama terkejutnya. Ia menjatuhkan sisir ghaibnya hingga menembus lantai.

​“Noni... Arini? Noni bisa lihat saya? Beneran?” suara Mbak Suryani terdengar jelas, bukan lagi sebagai bisikan angin, melainkan suara manusia yang nyata di telinga Arini.

​Arini berteriak kecil dan mundur hingga menabrak pintu toilet. Ia tidak hanya melihat bayangan, ia melihat wujud Mbak Suryani secara utuh, dengan detail kain kebayanya yang sedikit robek di bagian bawah.

Arini lari keluar dari kamar mandi dengan napas tersengal-sengal. Ia berniat mencari Satria, namun koridor sekolah yang biasanya tampak normal kini berubah menjadi panggung sandiwara yang mengerikan sekaligus absurd.

​Di depan mading, ia melihat Pocong Dudung sedang berusaha membaca pengumuman lomba basket dengan melompat-lompat kecil. Di dekat tangga, Suster Lastri sedang memelototi seorang siswa yang membuang sampah sembarangan, sambil memegang botol infus seolah-olah siap menjadikannya senjata.

​"Astagfirullah... Satria! Satria!" Arini berlari menembus kerumunan siswa yang nyata, sambil sebisa mungkin menghindari tabrakan dengan "penduduk" yang transparan.

​Ia menemukan Satria sedang duduk di bangku taman, sedang asyik memberikan potongan roti kepada sesuatu yang tampak seperti ruang kosong di atas meja.

​"Sat! Gue bisa lihat! Gue bisa lihat semuanya!" Arini langsung duduk di samping Satria, wajahnya pucat pasi.

​Satria menoleh, lalu melihat ke arah Ucok yang sedang mengunyah roti di sampingnya. “Loh, Noni Arini lihat saya lagi makan ya? Malu deh!” seru Ucok sambil menutupi mulutnya yang penuh remah ghaib.

​"Rin, tenang dulu. Lo serius bisa lihat Ucok?" Satria memegang pundak Arini yang gemetar.

​"Gue lihat Ucok lagi makan roti, gue lihat Mbak Suryani dandan di kamar mandi, gue lihat Dudung lagi baca mading! Sat, kenapa semuanya jadi kelihatan sekarang? Ini serem banget!" Arini menutup matanya dengan kedua telapak tangan.

​Satria menghela napas panjang. Ia sudah lama khawatir hal ini akan terjadi. "Efek resonansi, Rin. Karena kita sering banget bareng menghadapi serangan ghaib, frekuensi lo pelan-pelan naik dan nyamain frekuensi gue. Pintu indigo lo terbuka secara alami."

​"Gue nggak mau, Sat! Gue mau normal!" tangis Arini pecah.

​Menjadi indigo bukan sekadar bisa melihat hantu. Bagi Arini yang baru pertama kali merasakannya, dunia mendadak menjadi terlalu "berisik". Ia bisa melihat setiap emosi yang tertinggal di dinding sekolah, setiap sisa energi dari siswa-siswa yang stres, dan yang paling parah, ia harus melihat wajah-wajah pucat yang muncul di mana-mana.

​Tiba-tiba, Meneer Van De Berg muncul di depan mereka. Kali ini, Arini bisa melihat detail medali di seragamnya dan warna matanya yang biru kelabu yang dalam.

​“Selamat datang di sisi lain dari kenyataan, Noni Maria—ah, Arini. Jangan takut. Cahaya di dalam dirimu adalah pelindungmu. Mereka tidak akan bisa menyentuhmu jika kau tidak mengizinkannya,” ujar sang Meneer dengan nada kebapakan.

​"Tapi Meneer... mereka ada di mana-mana!" keluh Arini.

Tantangan sesungguhnya dimulai saat jam pelajaran Geografi. Arini mencoba fokus pada penjelasan Bu Endang tentang tektonik lempeng, namun di kursi kosong paling belakang, ia melihat seorang siswa laki-laki dengan seragam tahun 90-an yang sedang menangis diam-diam sambil mencorat-coret mejanya.

​Arini tidak bisa berhenti menatap siswa itu. Perasaan sedih dan putus asa dari hantu siswa itu merembes masuk ke dalam hati Arini.

​"Arini? Kamu kenapa melamun terus? Ada yang salah dengan peta di depan?" tegur Bu Endang.

​"Eh, nggak Bu... maaf," jawab Arini gugup.

​Satria, yang duduk dua baris di belakang Arini, melemparkan gumpalan kertas kecil ke arah Arini. Di dalamnya tertulis: "Fokus ke suara Bu Endang. Jangan tatap matanya. Anggap mereka cuma pajangan."

​Namun, itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Saat istirahat, Arini melihat Suster Lastri sedang mengomel pada tukang bakso karena saosnya terlalu merah. Ia melihat arwah kucing sekolah yang sudah mati sedang mengejar tikus ghaib di bawah meja kantin.

​"Gue capek, Sat. Otak gue kayak mau meledak," bisik Arini saat mereka bertemu di belakang perpustakaan.

Satria mengajak Arini ke atap sekolah, tempat paling tenang di mana angin berhembus kencang dan gangguan ghaib biasanya lebih sedikit.

​"Rin, dengerin gue. Menjadi indigo itu kayak punya radio yang volumenya nggak bisa dimatiin, tapi lo bisa milih mau dengerin siaran yang mana," Satria menjelaskan sambil menggenggam tangan Arini untuk menstabilkan energinya.

​"Gimana caranya?"

​"Tutup mata lo. Jangan liat pake mata fisik. Rasain energi di sekitar lo. Bedain mana yang 'hidup' dan punya detak jantung, sama mana yang cuma 'bayangan'. Fokus ke detak jantung lo sendiri. Fokus ke suara gue."

​Arini mengikuti instruksi Satria. Perlahan, kerumunan bayangan yang tadi menghantuinya mulai memudar. Suara-suara ghaib yang berisik berubah menjadi gumaman yang tidak jelas di latar belakang.

​"Bagus. Sekarang buka mata lo pelan-pelan. Liat gue, jangan liat ke belakang gue," pinta Satria.

​Arini membuka matanya. Ia hanya melihat Satria. Ia tahu di belakang Satria ada Meneer yang sedang mengawasi, tapi ia memilih untuk tidak memfokuskan pandangannya ke sana.

​"Gue bisa, Sat... tapi ini butuh energi besar banget," Arini menghela napas lega.

​Kedamaian itu tidak bertahan lama. Sore harinya, saat Arini hendak pulang, ia melihat seorang anak kecil perempuan menangis di dekat gerbang sekolah. Anak itu tampak sangat nyata, mengenakan baju terusan putih yang kotor.

​Biasanya Arini akan menganggap itu anak salah satu warga, tapi sekarang ia tahu. Anak itu tidak punya bayangan di bawah kakinya yang telanjang.

​"Sat... ada anak kecil. Dia kayaknya beneran butuh bantuan," bisik Arini.

​Satria melihat ke arah yang ditunjuk Arini. "Itu arwah tersesat dari luar sekolah, Rin. Dia masuk karena ngerasain cahaya lo yang baru terbuka. Hati-hati, kadang mereka cuma mau nyedot energi lo."

​Arini merasakan dorongan empati yang kuat. "Tapi dia nangis, Sat. Dia bilang dia kehilangan bonekanya."

​Arini mendekati anak itu. "Dek... kamu kenapa?"

​Anak kecil itu mendongak. Wajahnya perlahan berubah menjadi retak-retak seperti tanah kering. “Kakak... bonekaku ada di bawah pohon beringin tua itu... tolong ambilin...”

​"Rin, jangan! Itu jebakan!" Satria mencoba menarik Arini.

​Benar saja, dari balik pohon beringin itu muncul aura hitam yang sangat pekat. Ternyata anak kecil itu adalah umpan dari entitas yang lebih besar—sebuah Genderuwo yang mencoba memanfaatkan kepolosan Arini yang baru bisa melihat.

Genderuwo itu menampakkan wujudnya, tinggi besar dengan bulu hitam lebat. Ia menggeram, suaranya membuat kaca-kaca jendela kelas bergetar.

​Arini sempat mematung ketakutan. Namun, ia teringat semua latihan dan semua kejadian yang ia lewati bersama Satria. Ia tidak lagi hanya bergantung pada Satria.

​"Lo... pergi dari sini!" teriak Arini. Ia mengangkat liontinnya. Kali ini, ia bisa melihat aliran energi putih yang keluar dari liontin itu menuju ke tangannya.

​Satria segera berdiri di depan Arini, mengeluarkan garam dapur yang selalu ia bawa di saku celananya sekarang. "Rin, kasih cahaya dari liontin lo ke garam gue!"

​Arini memfokuskan seluruh pikirannya pada butiran garam di tangan Satria. Garam itu mendadak berpijar seperti berlian. Satria melemparkan garam itu ke arah si Genderuwo.

​BLAAAARR!

​Ledakan energi suci menghantam makhluk hitam itu hingga ia terpental dan menghilang menjadi asap hitam yang berbau busuk. Anak kecil tadi pun lenyap, kembali ke tempat asalnya.

Arini terduduk lemas di aspal gerbang sekolah. Satria segera memeluknya.

​"Gue tadi... gue tadi beneran ngelakuin itu?" tanya Arini tidak percaya.

​"Lo hebat, Rin. Lo nggak cuma liat, tapi lo juga bisa ngendaliin energi lo sendiri," puji Satria tulus.

​Meneer Van De Berg muncul dan memberikan hormat. “Keturunan Van De Berg memang tidak pernah mengecewakan. Noni Arini, sekarang kau bukan lagi hanya sekadar pengamat. Kau adalah bagian dari keseimbangan ini.”

​Malam itu, saat perjalanan pulang, Arini melihat dunia dengan cara yang berbeda. Ia masih bisa melihat "mereka", tapi rasa takutnya sudah jauh berkurang. Ia menyadari bahwa menjadi indigo bukan hanya sebuah kutukan atau beban, tapi sebuah tanggung jawab untuk membantu mereka yang tidak bisa bicara bagi diri mereka sendiri.

​"Sat," panggil Arini saat mereka berhenti di depan rumahnya.

​"Ya?"

​"Makasih ya udah jadi guru indigo gue hari ini."

​Satria tersenyum, mengacak rambut Arini pelan. "Sama-sama. Tapi mulai besok, jadwal piket ghaib kita bagi dua ya? Capek juga kalau gue sendiri yang harus ngusir hantu di toilet."

​Arini tertawa, sebuah tawa yang kini terasa lebih berani. Dunia mungkin menjadi lebih ramai bagi Arini, tapi selama ada Satria yang berjalan di sampingnya, ia tahu ia tidak akan pernah tersesat dalam kerumunan bayangan.

​Bab 29 ditutup dengan Arini yang melambaikan tangan pada Satria, dan sesaat sebelum masuk rumah, ia menyempatkan diri melambaikan tangan kecil pada Ucok yang sedang duduk di atas lampu jalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!