NovelToon NovelToon
Immortal Legacy

Immortal Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.

Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Tangisan dalam Bisu

Tiga hari di dasar sumur terasa seperti tiga abad di neraka.

Ketika fajar hari keempat menyingsing dengan warna langit yang masih sekelabu abu mayat, Zeng Niu mulai memanjat naik. Otot-ototnya yang baru saja menembus Penempatan Tubuh Tahap 1 berdenyut nyeri, dipenuhi tenaga yang tak biasa, namun perutnya melilit karena kelaparan yang buas. Jari-jarinya mencengkeram batu bata berlumut, mengelupas kulitnya sendiri hingga berdarah. Ia tidak peduli. Rasa sakit di tubuhnya tidak ada artinya dibandingkan kehampaan di dadanya.

Dengan satu tarikan napas terakhir yang serak, ia menyeret tubuhnya keluar dari bibir sumur dan jatuh tengkurap di atas tanah berlumpur.

Desa Daun Kering sangat sunyi. Tidak ada kokok ayam, tidak ada asap dapur, tidak ada teguran ramah dari Paman Lin sang pandai besi. Yang ada hanyalah bau tembaga yang manis dan memuakkan, lalat hijau yang berkerumun, dan potongan-potongan daging yang berserakan di tanah.

Zeng Niu bangkit perlahan. Ia berjalan dengan langkah terseret menuju pelataran rumahnya. Di sanalah, pertahanannya yang dingin hancur berkeping-keping.

Tepat di dekat pintu yang rusak, tergeletak sisa-sisa tubuh ayahnya. Kepalanya menggelinding jauh di dekat tumpukan kayu bakar, matanya masih terbuka lebar menatap langit, membeku dalam ekspresi horor dan keputusasaan karena gagal melindungi keluarganya. Tidak jauh dari sana, di bawah reruntuhan gerobak, adalah ibunya. Tubuhnya telah diinjak hingga tak berbentuk, namun sebelah tangannya masih menggenggam erat sebuah jimat kedamaian murah yang ia beli di kuil tahun lalu, jimat yang seharusnya diberikan pada Zeng Niu saat ulang tahunnya bulan depan.

Lutut Zeng Niu menghantam tanah berlumpur.

Dunia seakan kedap suara. Angin berhembus menembus pakaiannya yang robek, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, tapi ia tidak merasakannya. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh pipi ayahnya yang kaku dan sedingin es.

Tidak ada air mata yang keluar. Air matanya sudah habis terkuras di dasar sumur. Sebagai gantinya, napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan kasar seolah paru-parunya diisi oleh pecahan kaca. Ia membuka mulutnya, mencoba berteriak, menjerit kepada Surga yang buta, menuntut keadilan dari para Dewa yang sibuk dengan keabadian mereka. Namun yang keluar hanyalah suara rintihan tertahan, serak, dan putus asa bak binatang kecil yang sedang sekarat.

Ia memungut jimat berlumur darah dari tangan ibunya yang hancur, menggenggamnya hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri.

Para kultivator agung di atas sana berlomba mencari keabadian... tapi kami, manusia fana, bahkan tidak diizinkan untuk mati dengan utuh.

Dengan tangan kosong, Zeng Niu mulai menggali tanah. Jari-jarinya patah, kuku-kukunya terlepas, darahnya sendiri bercampur dengan lumpur. Ia menggali dengan keheningan yang mematikan. Tujuh puluh persen dari keberadaannya saat ini adalah penderitaan murni. Ia mengumpulkan potongan tubuh orang tuanya, sepotong demi sepotong, menempatkannya dengan lembut ke dalam lubang dangkal.

Ia tidak mendirikan batu nisan. Di era di mana langit runtuh, nisan hanya akan menarik perhatian para penjarah makam atau anjing liar. Ia hanya meratakan tanah itu, bersujud tiga kali hingga dahinya berdarah, dan menelan dendam yang akan ia bawa hingga jiwanya hancur.

Aku akan hidup. Surga berhutang padaku, dan suatu hari, aku akan menagihnya dari atas awan.

Kretek...

Suara ranting patah menyentak pendengaran Zeng Niu yang kini lebih tajam.

Nalurinya mengambil alih. Kesedihan seketika dikunci rapat di sudut terdalam jiwanya. Ia segera menjatuhkan diri, berguling ke dalam bayangan puing-puing rumahnya, dan melumuri wajah serta lengannya dengan lumpur bercampur darah kering untuk menyamarkan bau tubuhnya.

Seekor Yao Babi Hutan bermutasi memasuki pelataran. Ukurannya sebesar sapi dewasa. Kulitnya telah mengeras menjadi pelat-pelat tulang abu-abu, dan dua taringnya yang melengkung meneteskan liur korosif yang membuat rumput layu seketika. Babi mutan itu sedang mengendus-endus sisa darah di tanah.

Jika ini adalah pahlawan dari klan besar, mereka akan melompat keluar dengan pedang pusaka dan menebas monster itu demi kehormatan.

Zeng Niu tidak bergerak sedikitpun. Nafasnya diperlambat. Matanya yang dingin mengamati monster itu. Itu terlalu besar. Tulangnya seperti baja. Tenaga Tahap 1 Penempatan Tubuhku tidak akan menembusnya. Bertarung langsung sama dengan bunuh diri.

Zeng Niu memilih untuk menghindar, merayap mundur dengan hati-hati. Namun, ekor matanya menangkap sesuatu yang berkilau di bawah puing kayu itu adalah belati berburu milik ayahnya, terbuat dari besi dingin, satu-satunya pusaka keluarga mereka. Sedikit keberuntungan. Ia membutuhkannya untuk bertahan hidup di hutan nanti.

Ia harus mengambilnya, tapi belati itu berjarak hanya tiga langkah dari babi mutan tersebut.

Zeng Niu memutar otak. Dua puluh persen kemenangannya bergantung pada momen ini. Ia mengambil sebuah batu seukuran kepalan tangan dan merobek sepotong kain dari bajunya yang paling bau darah. Ia mengikat kain itu pada batu.

Dengan ayunan yang penuh perhitungan, ia melempar batu itu jauh ke arah rumah tetangga yang atapnya sudah setengah runtuh.

Tuk! Klotak!

Babi mutan itu mendengus marah, matanya yang merah menyala menoleh ke arah suara dan bau darah dari kain. Ia menyeruduk ke arah rumah tetangga dengan kecepatan mengerikan. Brakk! Ia menabrak tiang penyangga utama rumah tersebut.

Atap rumah yang rapuh itu langsung runtuh menimpa sang monster, menguburnya di bawah puluhan balok kayu dan genteng tanah liat. Babi itu melolong marah, meronta-ronta di bawah reruntuhan.

Zeng Niu tidak membuang sedetik pun. Ia melesat dari tempat persembunyiannya, mengambil belati ayahnya dari tanah. Namun, ia tidak lari.

Ia tahu monster itu tidak mati hanya karena tertimpa kayu. Jika ia lari sekarang, monster itu akan mengejarnya dan mencabiknya di hutan terbuka.

Dengan langkah seringan kucing, Zeng Niu melompat ke atas reruntuhan kayu yang mengubur monster itu. Babi mutan itu baru saja memecahkan balok kayu di atasnya, mendongakkan kepalanya ke atas, matanya membelalak melihat manusia kecil di hadapannya.

Zeng Niu tidak ragu. Dengan ekspresi sedingin es, ia mengerahkan seluruh tenaga Penempatan Tubuh Tahap 1 ke lengannya, dan menancapkan belati besi itu tepat ke mata kiri monster tersebut satu-satunya titik yang tidak terlindungi pelat tulang.

CRAAAATT!

Belati itu menembus mata, merobek saraf, dan menancap hingga ke otak. Babi itu menjerit dengan suara melengking yang memekakkan telinga, meronta dengan gila. Sebuah balok kayu terlempar dan menghantam rusuk Zeng Niu.

Krak!

Dua tulang rusuknya patah. Darah segar menyembur dari mulutnya saat ia terlempar ke tanah bergulingan. Penderitaan kembali merenggut kesadarannya, pandangannya berkunang-kunang.

Namun dari kejauhan, ia melihat babi mutan itu ambruk, kakinya menendang-nendang udara beberapa kali sebelum akhirnya tak bernyawa.

Zeng Niu terbatuk sambil memegangi dadanya yang memar parah. Ia merangkak menuju bangkai monster itu. Dengan sisa tenaga, ia membelah leher monster tersebut, menadahkan mulutnya, dan meminum darah hangatnya untuk memulihkan energinya yang terkuras. Ia memotong sebagian paha monster itu yang dagingnya masih bersih, membungkusnya dengan kain basah, lalu tertatih-tatih meninggalkan Desa Daun Kering.

Ia tidak menoleh ke belakang. Tidak ada rumah yang tersisa. Perjalanannya menentang surga yang kejam baru saja dimulai dengan langkah yang pincang, berlumur darah, dan tanpa simpati.

1
.
absen Thor
Sang_Imajinasi: siap lanjutkan
total 1 replies
eka suci
si gendut SDN gadis ilusi di ajak ngga🤔
eka suci
paling brutal woy🤭
Xiao Bar
lnjut
Xiao Bar
ada kaitan nya kah ini? pedang Zhao xuan
Xiao Bar
ngeri 💪
eka suci
ini perpaduan Shen yu yg merangkak dari nol juga Zhao xuan yg di yg di hinggapi jiwa licik dan arogan 👍
eka suci
Lei Ling kau itu nasibnya ngga lebih baik dari kakek gu yg dulu bersemayam di Zhao xuan😄
saniscara patriawuha.
lanjutttt keunnnnn....
i
jangan kendor
i
gas niu
k
gasss
k
lanjut thor😍
p
lanjut thor👍
1
lanjut kan thor👍
eka suci
MC mu semuanya di luar nurul😄 lanjutkan 💪
p: kwkwk
total 1 replies
eka suci
pedang nya masuk cincin kah🤔
saniscara patriawuha.
gasssds keunnnnn...
eka suci
pedang yg angkuh 😄 takut Zhao xuan tapi nyari pewaris 😥
saniscara patriawuha.
gasssdddd polllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!